Back to Kompasiana
Artikel

Edukasi

Pengajar di Universitas Jember, pernah menjadi konsultan Proyek SEQIP dan DAPS yang merupakan kerjasama antara selengkapnya

Metode Pembelajaran IPA di SD

OPINI | 01 December 2012 | 23:09 Dibaca: 3924   Komentar: 0   2

Prestasi siswa di mata pelajaran IPA tidak memuaskan. Sebagian besar siswa justru menganggap IPA sebagai pelajaran yang sulit dan menjadi momok. Apalagi para guru IPA dalam menyampaikan pelajaran justru menggunakan metode yang mendukung opini tersebut di atas. Hal ini bisa dilihat dari jawaban siswa ketika kepada mereka ditanya mata pelajaran apa yang dirasa sulit, maka jawabannya adalah IPA.

Pelajaran IPA yang di dalamnya mencakup biologi dan fisika untuk siswa tingkat SD sebenarnya tidak sulit. Hal ini disebabkan karena obyek yang dibahas dalam pelajaran tersebut ada di sekitar kita. Tinggal sekarang para guru mau atau tidak menggunakan lingkungan tempat kita hidup sebagai media pembelajaran. Pelajaran IPA bila diberikan dengan cara ceramah akan menjadi sangat sulit. Daya nalar anak tingkat sekolah dasar belum cukup untuk membayangkan dan merasionalisasikan cerita yang disampaikan bapak dan ibu guru. Para guru sebenarnya menyadari bahwa metode pembelajaran yang mereka gunakan tidak cocok namun para guru dibatasi oleh tugas lain sehingga tidak ada waktu untuk membuat persiapan menggunakan metode pembelajaran yang lebih berpusat pada siswa. Akibatnya hasil belajar siswapun cenderung hanya sebatas menghafal konsep yang diajarkan oleh guru, mereka tidak mempunyai keberanian melakukan inovasi dan rekonstruksi apa yang mereka terima dari guru. Kalau toh kemudian pada akhir semester mereka mendapatkan nilai yang baik bahkan sempurna (100) bukan berarti prestasi tersebut menunjukkan keberhasilan metode pembelajaran guru namun lebih pada tingkat hafalam mereka pada konsep.

Saya menawarkan kembali metode yang selama ini sudah dilakukan oleh Direktorat TK/SD Kemendikbud melalui Proyek SEQIP (Science Education Quality Improvement Project) suatu peroyek peningkatan kualitas pendidikan IPA di SD yaitu melalui metode penemuan terbimbing. Secara singkat struktur pembelajaran terdiri dari tiga tahapan, tahap 1 adalah apersepsi/motivasi. Waktu yang diperlukan sekitar 5 menit untuk memberikan kesempatan kepada siswa fokus pada topik yang akan dibahas. Langkah yang bisa dilakukan antara lain dengan bercerita singkat, menyanyi, demonstrasi, eksperimen singkat, ataupun simulasi yang diakhiri dengan penulisan tentang masalah yang akan diselesaikan melalui topik ini. Tahap 2 adalah kegiatan inti, berupa penyajian fakta melalui demostrasi/ekserimen untuk melatih siswa melakukan pengamatan. Kegiatan ini akan menghasilkan data yang kemudian siswa dilatih untuk mengkontruksi konsep yang dipelajari. Tahap 3 adalah pemantapan (+/- juga 5 menit), dapat berupa pemberian tugas, PR, atau resume dari pelajaran hari ini. Apabila pembaca adalah guru IPA SD yang pernah mengikuti pelatihan IPA SEQIP akan segar kembali ingatannya untuk kembali menggunakan metode ini. Metode ini sangat cocok untuk topik IPA yang manapun dari kurikulum SD, karena disini peran guru akan NGAJARI IPA dan bukan NGABARI IPA kepada siswa. Sayang kegiatan ini belum tuntas untuk seluruh wilayah Indonesia karena terbentur pelaksanaan OTODA sehingga kebijakan pendidikan menjadi kewenangan para kepala daerah. Sementara kualitas pendidikan belum banyak yang dijadikan sebagai prioritas dalam program pembangunan di daerah.

Tidak ada metode pembelajaran yang akan berhasil diserap siswa 100%, namun cara belajar sangat menentukan daya serap siswa. Siswa yang hanya belajar dengan cara mendengar maka daya serapnya hanya mencapai maksimal 20%, melihat 30%, mendengar dan melihat 50%, merumuskan sendiri 70% dan melakukan sendiri 90%. Jadi metode apapun yang digunakan sebaiknya dipilih yang paling banyak mengaktifkan siswa. Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) menganjurkan untuk mengubah paradikma mengajar bukan TCL (berpusat pada guru) melainkan secara SCL (berpusat pada siswa). Namun hal ini tidak berarti kemudian siswa dilepas sendiri tanpa ada pengarahan dalam menggali konsep-konsep yang dipelajari. Membelajarkan siswa dengan baik dan benar akan membuat mereka menjadi insan yang cerdas dan berakhlaq mulia. Penyertaan siswa dalam proses pembelajaran memang memerlukan waktu lebih banyak untuk membuat persiapan, pelaksanaan, dan evaluasi. Namun pengorbanan para guru itu akan dibayar dengan keberhasilan bangsa ini dalam meraih kejayaan dikemudian hari karena dipimpin oleh para siswa yang dulu belajar sungguh-sungguh di sekolah. Prestasi mereka adalah prestise buat para guru. Tiada kebanggaan yang lebih tinggi yang dirasakan oleh seorang guru selain menyaksikan anak didiknya berhasil dalam membangun bangsa ini ke depan. Kita mulai sekarang karena kalau besokĀ  berarti sudah terlambat. Mengutip salah satu syair lagu “janganlah kita baru mengenakan celana sementara bangsa lain sudah berlari meninggalkan kita”

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Catat, Bawaslu Tidak Pernah Merekomendasikan …

Revaputra Sugito | | 23 July 2014 | 08:29

Kado Hari Anak; Berburu Mainan Tradisional …

Arif L Hakim | | 23 July 2014 | 08:50

Jejak Digital, Perlukah Mewariskannya? …

Cucum Suminar | | 23 July 2014 | 10:58

Apakah Rumah Tangga Anda dalam Ancaman? …

Agustinus Sipayung | | 23 July 2014 | 01:10

Punya Pengalaman Kredit Mobil? Bagikan di …

Kompasiana | | 12 June 2014 | 14:56


TRENDING ARTICLES

Seberapa Penting Anu Ahmad Dhani buat anda? …

Robert O. Aruan | 3 jam lalu

Sampai 90 Hari Kedepan Belum Ada Presiden RI …

Thamrin Dahlan | 6 jam lalu

Membaca Efek Keputusan Prabowo …

Zulfikar Akbar | 6 jam lalu

Prabowo Lebih Mampu Atasi Kemacetan Jakarta …

Mercy | 16 jam lalu

Kalah Karena Dicurangi? Belajarlah pada …

Ipul Gassing | 16 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: