Back to Kompasiana
Artikel

Edukasi

Tengku Bintang

Pencak silat, binatang buas. biola.

Putih Hitam Rhoma Irama

OPINI | 01 December 2012 | 15:11 Dibaca: 3645   Komentar: 0   14

13543493291030042580

Rhoma Irama, kacamata siang-malam, televisi malam kamera malam, tapi dok. milik pribadi

Ketika Rhoma Irama menyatakan rencananya ikut bertarung dalam Pilpres 2014 mendatang, sontak perbincangan hangat menyeruak di media massa, termasuk di Kompasiana. Satu hal, Rhoma Irama dianggap tak pantas mengikuti pilpres jika hanya bermodalkan reputasinya sebagai penyanyi dangdut plus juru dakwah. Sifat rasialisnya menjadi batu sandungan lain lagi. Dari sudut pandang itu maka rencana Rhoma Irama ini hanyalah dagelan politik, mimpi di siang bolong, masyarakat sekarang ini tak lagi bodoh. Akan tetapi persoalannya adalah, ia memiliki peluang. Dengan proses pemilu yang sangat demokratis seperti sekarang - one man one vote - tak sulit bagi Rhoma Irama meraih dukungan suara. Menurut survey yang dilakukan pada tahun 1984 silam, Si Raja Dangdut memiliki penggemar fanatik tak kurang dari 15 juta orang di Seluruh Indonesia.

Penggemar sebanyak ini bisa membuat yang tak mungkin menjadi mungkin. Dengan dipoles kampanye sedikit saja, jangan-jangan….! Para pesaingnya yang mulai melihatnya sebagai ancaman serius, merancang berbagai strategi untuk menjegalnya. Salah satunya adalah menguliti kehidupan pribadinya, pengalaman politiknya, dan ceramahnya yang rasialis pada Pilkada DKI Jakarta beberapa waktu lalu.

Khusus mengenai Wagub DKI, pandangan Rhoma Irama masih tetap, atau bolehlah dikatakan sedikit mencair. Ia berkata berpendirian sama dengan para ulama - entah ulama yang mana. Itu pun terpaksa diucapkannya karena terus didesak oleh Najwa Shihab. Tampak Rhoma Irama jengah dengan pertanyaan itu, tapi tak kuasa menghindarinya!

Tetapi sebenarnya Rhoma Irama tidaklah sedangkal itu. Soal pengalaman politik, ia bukan lagi anak bawang. Ia sudah malang melintang di beberapa partai, mulai dari PPP, Golkar dan PKS. Ia pernah diboikot oleh TVRI karena pendirian politiknya yang kukuh berseberangan dengan pemerintah. Ia juga pernah menjadi Anggota DPR dari Utusan Golongan. Soal sentimen keagamaan, fakta juga yang menunjukkan bahwa Rhoma Irama memiliki keluarga besar yang plural. Isteri pertamanya Veronica, dan isteri keduanya Ricca Rahim, berasal dari keluarga Nasrani. Tentunya Rhoma Irama hingga kini membaur secara harmonis dengan keluarga mertuanya. Apa ada orang berani jual kecap kepada Bapak Mertua? Hehehe…, apa tak diboikot oleh isteri tercinta? Opo tumon?

Tentang pernyataannya bahwa perekonomian nasional telah dikuasai oleh etnis tertentu, itulah salah satu yang tak patut diucapkan seorang politisi. Tetapi diucapkan pun, tak sedikit orang yang menyetujui kebenaran di dalamnya. Bukan hanya etnis tertentu sebenarnya, tetapi sekalian pemodal asing. Semua kekayaan alam negeri ini telah lama menjadi incaran pemilik modal; perkebunan, pertambangan, industri manufaktur, dan lain-lainnya. Sementara pemiliknya yang sah hanya kebagian peran sebagai kuli panggul, buruh paling murah sedunia, antara sebentar berdemo menuntut kenaikan upah. Jika ini yang dimaksudkan Rhoma Irama mesti segera diperbaiki, maka tak ayal, dua jempol untuknya!

Tentang kapabilitas seorang presiden pun, persis seperti dikatakan Rhoma Irama dalam acara Mata Najwa, seorang pemimpin tak perlu menguasai semua masalah sampai sedetil-detilnya. Toh, pemimpin itu dikelilingi sejumlah pembantu. Yang diperlukan adalah pemahaman komprehensif terhadap potensi bangsanya, cita-cita perjuangannya dan tahu cara mencapainya. Pemimpin hanya perlu menghimpun kekuatan untuk bergerak serentak mencapainya. Dengan rencana-rencana yang jelas dan target yang jelas.

Tak ada yang lebih berbahaya bagi suatu bangsa kecuali mendapati pemimpin yang tak punya pendirian, meski ia berhati mulia. Sama halnya dengan pemimpin yang menutupi kelemahannya dengan pencitraan, dengan kepura-puraan, sekali waktu belangnya akan ketahuan juga.

Dari sudut pandang kejujuran mengakui kelemahan, yang hakekatnya adalah kekuatan, Rhoma Irama sedikit meraih nilai tambah. Ia tampil dalam acara siaran langsung Mata Najwa dengan kacamata hitamnya, seperti orang pilon, dengan segala kebingungannya. Tetapi apa yang begejolak di hatinya tak ada yang tahu kecuali dirinya sendiri dan Tuhan-nya.

Tetapi apa pun situasinya, di desa-desa yang pemuda/pemudinya keranjingan pesta dangdut organ tunggal, nama Rhoma Irama memang melekat kuat. Tak salah-salah jika ada yang memperingatkan, Jangan Remehkan Si Raja Dangdut!

Tulisan ini dibuat bukan sebagai bentuk dukungan kepadanya, melainkan sebagai persiapan menerima kenyataan. Jika benar-benar Rhoma Irama mengikuti Pilpres dan memenangkan kursi Presiden 2014 nanti, maka kita semua harus menerimanya sebagaimana mestinya. Tak ada gading yang tak retak, tak ada manusia yang sempurna, tak ada rotan, akar pun jadi!

Menurut hemat penulis, dari semua capres yang mulai muncul ke permukaan sekarang ini, Rhoma Irama bukanlah yang terbaik, tetapi bukan pula yang terjelek. Masih ada yang lebih jelek dari Rhoma Irama, tetapi mendapat dukungan bertubi-tubi…

Setidaknya manuver Rhoma Irama ini membuat capres lainnya tak berani gegabah.

Sekian saja, selamat berakhir pekan bagi para pegawai!

Bagi kami petani, tak ada istilah akhir pekan itu!

*****

http://www.youtube.com/watch?v=9ahguQ05-xA&feature=share

Konser Darah Muda Soneta Group, Washington DC.

Tags: capres rhoma

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Pesona Pasar Legi Kotagede: Kerukunan …

Sulfiza Ariska | | 19 December 2014 | 17:43

Jangan Mau Mengajar Mahasiswa …

Giri Lumakto | | 20 December 2014 | 00:33

(Maaf) Ngupil Pun Ada Etikanya …

Find Leilla | | 19 December 2014 | 14:04

Sang Penabuh Kabar …

Muhammad Armand | | 19 December 2014 | 10:18

Kompasiana Drive&Ride: “Tantangan …

Kompasiana | | 16 December 2014 | 17:35


TRENDING ARTICLES

Mau Lihat Orang Jepang Panik Antri Bensin? …

Weedy Koshino | 8 jam lalu

Talangi Lapindo, Trik Jokowi Jinakan …

Relly Jehato | 9 jam lalu

Mengapa Fuad Harus di Dor Sampai Tewas? …

Ibnu Purna | 10 jam lalu

Kenapa Steve Jobs Larang Anaknya Bermain …

Wahyu Triasmara | 11 jam lalu

Media Online, “Pelahap Isu Hoax” …

Ajinatha | 12 jam lalu


Subscribe and Follow Kompasiana: