Back to Kompasiana
Artikel

Edukasi

Bink Bintang Samawy

membumikan nilai dan norma yang kian terserak

Peran Perempuan dalam Pendidikan

OPINI | 03 December 2012 | 15:58 Dibaca: 2307   Komentar: 1   1

Dunia pendidikan dewasa ini menjadi momok yang penuh dengan problema yang mengitari. Sistem pendidikan yang konyol, nilai UAN yang terus dipertanyakan, mahalnya biaya pendidikan, fasilitas kurang, dan setumpuk problema lain dengan jumlah yang tidak sedikit. Dan, sebagai tonggak barometer sebuah bangsa, dewasa ini wanitia kurang mendapat porsi dalam dunia pendidikan.

Pendidikan adalah milik semua lapisan masyarakat, tak ada pengecualian disini. Seorang perempuan pun, yang secara syar’i memiliki keterbatasan-keterbatasan juga wajib untuk menikmati dan memperoleh pendidikan. Sebagaimana dawuh Nabi SAW “ Menuntut ilmu itu hukumnya wajib bagi semua Muslim dam Muslimat”. Hadist di atas secara eksplisit menggunakan qoyd wajib, Islam sangat menekankan kepada umatnya untuk tidak tersesat dalam jurang kejahilan. Siapapun itu dan dalam kondisi bagaimanapun. Kemudian ditegaskan dalam akhir hadist tersebut, bahwa kewajiban menuntut ilmu itu juga tidak hanya bagi kaum Adam an sich.

Hal senada juga dituangkan dalam Pasal 31 UUD ’45, (1) Tiap-tiap Warganegara berhak mendapat pengajaran. (2) Pemerintah mengusahakan dan menyelenggarakan suatu sistem
pengajaran nasional, yang diatur dengan Undang-undang.
Namun, fakta berbicara lain, perempuan seolah termarjinalkan dalam dunia pendidikan. Terlebih paradigma yang menyebutkan bahwa perempuan hanya akan kembali ke dapur saja.

Kenapa perempuan???

Masalah perempuan selalu menjadi sebuah masalah yang pelik dan kompleks, mulai dari mengenai sejarahnya, keberadaannya, kedudukannya, sampai pada ketidakadilan yang selalu dialaminya. Semua ini bagai lilitan seutas benang merah yang tak pernah berhenti melilitnya sepanjang zaman. Mengapa di sepanjang sejarah perempuan selalu diperlakukan tidak adil?

Keterhinaan, ketertindasan dan ketersiksaan merupakan fenomena yang sering kita lihat dalam sejarah hidup perempuan, terlebih sebelum munculnya agama Islam. Dan fenomena semacam itu mungkin saja masih bisa didapati setelah munculnya Islam, meskipun tidak separah sebelum kemunculannya.

Islam membawa nilai-nilai kemanusiaan yang tinggi, menempatkan perempuan sesuai dengan kodratnya. Sejarah berkata, pada masa Yunani, yang mana notabennya pada masa itu merupakan masa keemasan peradaban Barat, di mata mereka perempuan adalah makhluk yang sangat hina, hanya sebagai pemuas nafsu birahi belaka sebagai bentuk penjelmaan syaitan. Pada masa Romawi , perempuan dianggap makhluk yang tidak memiliki ruh, mereka mempermainkannya seperti barang.

Namun, setelah cahaya Islam datang, semua paradigma semacam itu perlahan lenyap. Islam tidak mengenal adanya pembagian kasta atau diskriminasi yang bersifat gender. Tradisi jahiliyah perlahan luntur dan perempuan kembali menemukan prestise. Islam membawa cahaya untuk menerangi seluruh alam. Hingga dalam berbagai kasus juga perempuan mendapatkan porsi yang istimewa dibanding laki-laki, sebagaimana contoh perempuan yang sedang hamil diperbolehkan meninggalkan puasa ramadlan. Hali ini karena memandang terhadap aspek pribadi yang ada dalam diri perempuan.

Robiah Adewiyah, Siti Aisyah, RA Kartini merupakan sosok kuat yang mampu melampaui kodratnya. Mereka membuka mata dunia, kalau perempuan juga tidak menjadi halangan untuk tetap menikmati dunia pendidikan dan menjadi orang yang terdidik. Meski rasa haus akan dunia pendidikan belum terpenuhi, mereka sudah bisa menjadi tolak ukur untuk perempuan modern zaman sekarang. Keberhasilan mereka tidak akan tercapai kalau mereka mengesampingkan pendidikan.

Bergeser ke perempuan Indonesia, ternyata perempuan menjadi sorotan dari berbagai pihak pengamat pendidikan. Karena dari hasil survey yang dilakukan, perempuan Indonesia yang buta huruf memiliki jumlah yang cukup besar. “Berdasarkan data BPS, pada 2001 persentase perempuan buta huruf sebesar 14,54%, sedangkan laki-laki hanya 6,87%. Pada 2002 angka buta huruf perempuan pada kelompok 10 tahun ke atas secara nasional mencapai 12,69% dan laki-laki hanya 5,85%. Setahun berikutnya, angka buta huruf perempuan turun menjadi 12,28% sementara laki-laki 5,84%. kata anggota DPR, yang juga aktivis perempuan Nadrah Azahari dalam talk show Kartini’s Day bertema “Kartini, Mahasiswa, 2014” di Kampus IAIN Walisongo Semarang,kemarin.

Dewasa ini, lembaga pendidikan yang notabennya khusus untuk perempuan mulai dilirik, sebut saja Akademi Kebidanan, dan keperawatan, lembaga ini memberikan keluasan bagi kaum hawa utuk menikmati pendidikan. Dari tahun ke tahun peminatnya kian bertambah. Dan penulis yakin angka buta huruf wanita Indonesia akan terus menurun. Semoga saja.

Peran perempuan

Dalam kehidupan ini, perempuan sebenarnya memegang peran yang cukup besar. Namun, peran tersebut bersifat abstrak. Sebagaimana sang pelatih yang mengatur para pemainnya, perempuan pun memiliki peran yang signifikan untuk mencetak generasi yang cerdas dan berakhlak.

Kehidupan dalam keluarga merupakan titik awal untuk menuju kehidupan bernegara. Anak yang terlahir dalam keluarga yang terdidik tentu akan berbeda nilainya dibandingkan anak tanpa perhatian orangtuanya, khususnya ibu. Hal ini karena secara psikologis perempuan memiliki sifat kasih sayang yang tinggi.

Seorang perempuan, mampu mencetak putra bangsa sekaliber Bung Karno. Ini berarti perempuan menjadi central dalam menentukan keberhasilan suatu bangsa. Perannya sangat berarti, kiprahnya tak bias dipandang sebelah mata. Benar sekali sabda nabi SAW, perempuan menjadi tolak ukur kemajuan suatu bangsa.

Berawal dari pendidikan di keluarga, permpuan mulai mengepakkan sayapnya. Start yang sempurna akan mempengaruhi hasil ahir dalam suatu perlombaan. Di bawah ini poin yang perlu menjadi catatan bagi seorang ibu untuk mencetak anak emas :

  1. Akidah

Pengetahuan yang pertama kali di kenalkan ke anak-anak kita adalah seputar tauhid, yakni upaya sang anak untuk mengetahui dan meyakini akan Tuhan semesta alam. Mereka harus memahami siapa yang memberinya kehidupan, yang menciptakan mereka.

Akidah merupakan factor yang paling urgen dalam kehidupan ini. Wajar saja jika Islam lebih memprioritaskannya. Karena iman merupakan fundamental sekali. Oleh karenanya, dilandasi oleh akidah yang kuat, anak kan mengerti akan kebenaran dan benteng akidah tidak akan goyah begitu saja di tengah liarnya aliran yang muncul ke permukaan.

Anak harus diperkenalkan akidah secara ijmali (global) dulu, yakni berupa penjelasan tentang akidah 50 yang harus diketahui oleh setiap Mu’min dan rukun iman yang lainnya. Dengan harapan semoga sifat kemanusiaan tidak semena lepas dari tubuhnya.

  1. Akhlak

Anak balita memiliki tingktat kecerdasan yang cukup tinggi untuk menagkap sesuatu di lingkungannya. Kepekaan dan daya tangkap yang dimiliknya mampu menirukan apa yang dilihat olehnya. Perilaku yang baik dari orang tua dalam keseharian bisa menjadi factor utama dalam pengembangan karakter dan kpribadian yang baik si balita.

Mulailah dari hal kecil, semisal membiasakan uluk salam ketika hendak pergi dan bersalaman dengan orang tua, membaca basmalah sebelum makan, mengggunakan tangan kanan ketika mengambil dan memegang sesuatu.

Akhlak merupakan sebuah karakter yang melekat dalam hati, kebiasaanlah yang akan membentuknya. Maka, kondisi yang harmonis dalam lingkungan keluarga diharapkan sekali demi terbentuknya senerasi yang bermoral dan bermartabat.

  1. Sholat

Ibadah adalah hal yang paling urgen dalam menjalin komuniksi dengan sang Ilahi Rabbi, disamping kita juga tidk boleh mengesampingkan kehidupan social. Ibadah yang paling mendasar adalah pengenalan tentang sholat di usia dini dan diperlukan juga pembelajarang yang intens sejak dini. Dengan tujuan melatih supaya terbiasa dan tidak terlalu berat ketika kita sudah dewasa.

Perhatian orang tua diharakan tidak hanya focus dalam pendiikan umum an sich, pendidikan agama juga haru bisa diimbangi untuk membentuk generasi yang bermoral seperti diatas. Diatas merupakan pondasi umum untuk mendidik sang buah hati, diharapkan bias mencetak generasi yang berkpribadian Islam. Di samping itu, pendidikan lainnya juga diperlukan.

Sekolah Gratis

Masyarakat Indonesia telah lama mengidamkan pendidikan yang tidak perlu mengeluarkan biaya sepeserpun, namun realita berbicara lain. Maish banyak teman-teman kita yang putus sekolah, atau bahkan di usir dari sekolahnya hanya karena tidak mampu membayar biaya wajib bulanan. Sungguh tragis memang, pendidikan seyogyanya bisa dinikmati semua lapisan masyarakat. Tak terkecuali mereka yang kurang mampu.

Namun, pendidikan gratis itu menurut penulis hanya bia di peroleh dalam lingkungan keluarga saja. Tidak perlu mahal untuk menggaji guru, yakni Bapak atau Ibu kita. Mereka juga layik dijadikan pahlawan tanpa jasa. Terutama yang paling urgen adalah bagaimana dan seperti apa ibu memberikan pendidikan kepada sang anak. Karena rumah merupakan tempat ideal bagi para pendidik sejati, dari situlah terlahir generasi yang diharapkan kehadirannya di bumi pertiwi ini.

Pendidikan yang setara semoga menjadikan permpuan bisa menunjukkan kiprahnya dalm ranah pendidikan, saat ini kita kurang menyadari betapa besarnya peran perempuan untuk mengubah bangsa. Pendidikan dan perempuan harus bisa satu garis lurus dalam setiap langkahnya. Semoga apa yang telah diberikan perempuan untuk mecetak generasi emas mendapatkan apresiasi dari berbagai pihak dan perempuan mampu menyulap anak menjadi sosok yang berpengaruh bagi kemajauan bangsa tercinta ini.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

[Wisata Purbalingga] Sepotong Kisah Lingga …

Kandar Tjakrawerdaj... | | 22 December 2014 | 16:24

Percuma Merayakan Hari Ibu! …

Wahyu Triasmara | | 22 December 2014 | 11:58

Tumbangnya Pohon Beringin Tanda Bencana …

Cariefs Womba | | 22 December 2014 | 20:33

Berani Duduk di Bangku Paling Depan—Cupu …

Frida Kurniawati | | 22 December 2014 | 18:22

Melatih Anak Jadi Kompasianer …

Muslihudin El Hasan... | | 22 December 2014 | 23:47


TRENDING ARTICLES

Penyelidikan Korupsi RSUD Kota Salatiga …

Bambang Setyawan | 5 jam lalu

Akankah Nama Mereka Pudar?? …

Nanda Pratama | 7 jam lalu

Kasih Ibu dalam Lensa …

Harja Saputra | 8 jam lalu

Hebatnya Ibu Jadul Saya …

Usi Saba Kota | 9 jam lalu

Gabung Kompasiana, Setahun Tulis 8 Buku …

Gaganawati | 10 jam lalu


Subscribe and Follow Kompasiana: