Back to Kompasiana
Artikel

Edukasi

Fitri Ruaidah

hidup itu penuh dengan pilihan, ketika telah memilih maka pelajarilah makna yang terjadi dalam kehidupan selengkapnya

Haji Mabrur, Bukan Haji Kabur

OPINI | 04 December 2012 | 10:09 Dibaca: 120   Komentar: 0   0

Kewajiban melaksanakan ibadah Haji merupakan rukun Islam yang ke lima, itu pun jika mampu. Namun jika tidak mampu juga tidak mendapatkan dosa, alias tidak apa-apa. Itu berarti haji memiliki dua hukum antara Wajib dan Sunnah, wajib bagi yang mampu melaksanakannya dan sunnah bagi yang tidak mampu melakukannya. Kemudian apa yang di maksud dengan mampu melaksanakannya?, yaitu mampu dari segi jasmani dan rohani. Jika jasmaninya telah siap melaksanakan haji, namun rohaninya masih ragu berarti belum diwajibkan melaksakan ibadah haji.

Pada zaman dulu (jadul) setiap orang yang telah melaksanakan ibadah haji sangat disegani oleh masyarakat, maksud dari disegani adalah sangat di hormati karena ia sangat menjaga wibawanya (betaqwa, mejaga hijab, menjaga sikap, dan lain-lain). Orang yang telah melaksanakan ibadah haji mempunyai nilai kemuliaan dalam lingkungan masyarakat, selain itu pula banyak orang yang mengeruk ilmu atau menimba ilmu sebanyak-banyaknya dari seorang haji tersebut, karena masyarakat menganggap seorang haji juga merupakan sumber ilmu. Mungkin itu yang dinamakan haji mambrur, yakni haji yang diterima Allah swt. karena senantiasa menjaga kemuliaan yang telah diberikan Allah dan meningkatkan kualitas keimanannya di manapun dan kapanpun ia berada . Namun apa yang terjadi dengan haji zaman sekarang (modern) ini?, terutama di tempat-tempat perantauan.

Sungguh sangat menyedihkan, para “Haji Modern” yang berada di perantauan hanya sedikit yang masuk dalam kategori “Mambrur”, rata-rata pada “Kabur”. Maksudnya kabur dari syariat Allah, sholatnya dilalaikan. Padahal selain suatu kewajiban sholat juga merupakan kebutuhan utama, setiap hari yang dikejar adalah uang. Berlomba-lomba mencari kekayaan dunia, hingga zakat maal-nya pun juga terlupakan. Ada pula orang yang telah menyandang gelar hajjah namun kurang menjaga hijab (tidak menggunakan krudung, bedak semakit tebal, bahkan menggunakan pakaian yang praktis, lengan baju hanya setengah, baju dan celana yang pass di badan). Astaghfirullaah….. ternyata “haji” menurut mereka adalah “gelar” yang istimewa dalam lingkungan masyarakat, namun gelar tersebut jika ditimbang tidak ada bobotnya. Karena yang seharunya “Haji Mabrur” malah menjadi “Haji Kabur”. Wallahu a’lam bish-showwab…..

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

(Foto Essai) Menyambut Presiden Baru …

Agung Han | | 20 October 2014 | 20:54

Inilah Reaksi Mahasiswa Australia untuk …

Tjiptadinata Effend... | | 20 October 2014 | 19:16

[PALU] Kompasiana Nangkring Bareng BKKBN di …

Kompasiana | | 01 October 2014 | 15:12

Najwa Shihab Jadi Menteri? She Is A Visual …

Winny Gunarti | | 21 October 2014 | 07:08

Ikuti Kompasiana-Bank Indonesia Blog …

Kompasiana | | 02 October 2014 | 10:39


TRENDING ARTICLES

20 Oktober yang Lucu, Unik dan Haru …

Alan Budiman | 2 jam lalu

Tangisan Salim Said & Jokowi’s …

Iwan Permadi | 4 jam lalu

Off to Jogja! …

Kilian Reil | 6 jam lalu

Antusiasme WNI di Jenewa Atas Pelantikan …

Hedi Priamajar | 9 jam lalu

Ini Kata Koran Malaysia Mengenai Jokowi …

Mustafa Kamal | 12 jam lalu


HIGHLIGHT

Trans TV, Raffi Is Not Our Prince! …

Gilang Parahita | 8 jam lalu

Merencanakan Anggaran untuk Pesta Pernikahan …

Cahyadi Takariawan | 8 jam lalu

Koalisi Akal Sehat Mengawal Pelantikan …

Effendi Siradjuddin | 8 jam lalu

Selamat Bertugas Pak Jokowi …

Toni Pamabakng | 8 jam lalu

Misteri Hantu Rumah Tua …

Raphael Jose Riberu | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: