Back to Kompasiana
Artikel

Edukasi

Pakdar

Guru SMP 1 Wonokerto,Kabupaten Pekalongan,Provinsi Jawa Tengah

Apa Kelebihan Kurikulum 2013?

HL | 06 December 2012 | 00:27 Dibaca: 8837   Komentar: 0   6

135474256777577136

Ilustrasi/Admin ( http://kurikulum2013.kemdikbud.go.id/)

Setelah digulirkannya Uji Publik Kurikulum 2013 yang akan menggantikan KTSP dan akan efektif diberlakukan mulai tahun ajaran baru 2013, sudah lebih dari lima kali saya membaca bahan Uji Publik tersebut karena saking pensarannya ingin mengetahui Apa Kelebihan Kurikulum 2013?

Sebatas kemampuan dan kebodohan saya, ada pemikiran yang mendorong saya untuk merasa perlu menulis disini :

1. Perlunya sebuah evaluasi sebelum mengganti.

Saya dan semua bapak ibu guru pasti masih ingat betul, pada Tahun 2006 begitu “dicaci makinya”  Kurikulum 2004 dan “satria piningit”nya adalah KTSP, metode ceramah dianggap barang “haram”dan “tabu”. Bukankah keadaan itu berulang? dengan calon “Batman”nya adalah Kurikulum 2013.

Evaluasi kurikulum tentu sangat diperlukan dengan alat ukur yang pasti dan disepakati kemudian disampaikan kepada publik keberhasilan dan kegagalannya. Saya misalkan hasil evaluasi seperti ini : Dengan menggunakan KTSP ternyata 30 % lulusan SD menjadi pencuri, 60 % menjadi tukang bohong dan hanya 10 % yang berperilaku baik. Kesimpulannya perlu merubah KTSP.

Setiap ganti kurikulum sudahkah dilakukan seperti itu?

2. Guru dan sekolah bukan satu-satunya pembentuk karakter anak atau siswa.

Kalau alokasi APBN untuk pendidikan 20 % itu bisa jadi guru dan sekolah juga memilki andil hanya 20 % dalam pembentukan karakter seorang anak/siswa.

Yang cukup menarik pada bahan uji publik : Alasan Pengembangan Kurikulum (Slide 17)

Fenomena Negatif yang Mengemuka

  • Perkelahian pelajar
  • Narkoba
  • Korupsi
  • Plagiarisme
  • Kecurangan dalam Ujian (Contek, Kerpek..)
  • Gejolak masyarakat (social unrest)

Apakah Kurikulum atau KTSP atau guru selama ini menjadi bagian dari penyebab Fenomena tersebut? Jika ada guru memukul siswa pastilah bukan dalam konteks mengajari siswa untuk berkelahi.

Fenomena tersebut menurut saya bukanlah hasil dari kurikulum dan hasil pekerjaan guru, tetapi lebih pada konteks pribadi dan masyarakat. Saya yakin seyakin-yakinnya tidak ada guru mengajari berbohong, menyontek, dan perbuatan keji lainnya.

Guru bagi anak bukan hanya guru riil di sekolah, melainkan orang tua, teman dekat, masyarakat, pejabat, artis, tokoh idola, youtube, facebook, twitter, google, handphone,dan lain-lain. bermain PS pasti lebih mengasyikkan dibanding duduk tafakur di dalam kelas. Dan tidak ada satupun guru di sekolah yang mampu memainkan peran untuk kesemuanya itu.

Jadi apa Kelebihan Kurikulum 2013? sampai saat saya menulis ini, saya belum bisa menemukan Kelebihan Kurikulum 2013 yang akan segera diberlakukan itu. Mungkin saya harus membaca 5 kali lagi untuk bisa menemukan Kelebihan Kurikulum 2013.

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Taman Balekambang, Bukti Cinta Orangtua …

Agoeng Widodo | | 30 September 2014 | 15:39

Gedung DPR Dijual …

Hendra Budiman | | 30 September 2014 | 11:55

Bahkan Macan Asia pun Butuh Demokrasi …

Yudhi Hertanto | | 30 September 2014 | 12:16

Langkah Kecil, Meninggalkan Jejak yang …

Ngesti Setyo Moerni | | 30 September 2014 | 15:07

Kamukah Pemenang Sun Life Syariah Blog …

Kompasiana | | 29 September 2014 | 09:44


TRENDING ARTICLES

Kumpulan Berbagai Reaksi Masyarakat …

Elvis Presley | 7 jam lalu

UU Pilkada, Ahok dan Paham Minoritas …

Edi Tempos | 10 jam lalu

People Power Menolak Penghapusan Pilihan …

Daniel Setiawan | 10 jam lalu

Hobi Berbahaya Anak Muda di Saudi …

Umm Mariam | 11 jam lalu

Inilah Cara SBY Membatalkan UU Pilkada …

Rullysyah | 12 jam lalu


Subscribe and Follow Kompasiana: