Back to Kompasiana
Artikel

Edukasi

Peran Sekolah Dalam Pendidikan Karakter

OPINI | 06 December 2012 | 11:43 Dibaca: 847   Komentar: 0   0

Pendahuluan

Akhir-akhir ini, banyaknya kasus kriminal (korupsi, pembunuhan, penganiayaan dll.) dikaitkan dengan kurangnya pendidikan karakter. Sekolah-sekolah dituding terlalu mengutamakan pendidikan akademis sehingga sangat kurang dalam memberikan porsi untuk pendidikan karakter anak.  Banyak sudah tulisan di koran maupun jejaring sosial (facebook, tweeter, blog) mengemukankan pentingnya pendidikan karakter anak sejak dini baik secara secara formal di sekolah maupun secara informal di rumah oleh orang tua mereka. Namun mereka sangat menyayangkan bahwa pada kenyataannya pendidikan karakter yang diberikan oleh sekolah masih jauh dari cukup dan orang tua pun tidak memiliki kemampuan dan waktu untuk melakukannya.  Memang harus diakui bahwa kurikulum pendidikan nasional dalam dua dekade ini benar-benar  telah berhasil membawa anak didik pada tingkat kepintaran dalam hal ilmu pengetahuan yang jauh lebih tinggi kalau dibanding kurikulum pendidikan sebelumnya. Namun, dalam hal tingkat kecerdasan sosial atau emosionalnya dianggap masih jauh ketinggalan. Demikian pula, dalam hal moralitas, hasil pendidikan saat ini dianggap masih jauh dibawah harapan masyarakat. Akibatnya, seperti yang terjadi saat ini, ketika anak didik ini akhirnya menjadi pemimpin, mereka banyak melakukan tindakan yang tidak terpuji seperti korupsi dan bentuk kecurangan-kecurangan lainnya.  Bahkan anak yang tidak terdidik karakternya akan menjadi “boomerang” bagi orang tuanya. Setelah dibiayai pendidikannya hingga menjadi “pintar” secara ilmu pengetahuan dan menjadi “sukses” secara fianansial, orang tuanya yang telah melahirkan dan membesarkan mereka mungkin justru akan dipindahkan ke rumah jompo karena “mengganggu kesibukan” mereka. Sungguh tragis bukan kalau hal ini terjadi pada kita?

Menyikapi hal diatas, penulis ingin menyampaikan buah pikirannya mengenai bagaimana sekolah dapat berperan dan ikut bertanggung jawab dalam hal pendidikan karakter anak. Memang, pendidikan karakter bukan hanya tanggung jawab sekolah. Orang tua dan orang  yang “dewasa” karakternya juga harus ikut bertanggung jawab. Namun, pada kesempatan ini penulis hanya akan membahas peran sekolah dalam pendidikan karakter anak didiknya.

Bukan Lagi Waktunya Untuk Berpolemik

Kalau kita membaca uraian Wikipedia mengenai “Character Education”, maka kita akan dibawa pada polemik mengenai susahnya merancang dan melaksanakan pendidikan karakter di sekolah. Bahkan kalau dianggap sebagai salah satu kurikulum, maka dikatakan oleh para pakar bahwa nantinya akan sulit untuk melakukan evaluasi hasil belajar pendidikan karakter. Oleh karena itu, tidak mengherankan kalau hampir semua sekolah, baik yang di Indonesia maupun di luar negeri, saat ini “menghindari” memasukkan pendidikan karakter sebagai salah satu mata pelajaran.

Penulis sendiri memahami sikap para pakar dan penyelenggara sekolah tersebut.  Hanya saja,  memahami bukan berarti menerimanya. Penulis tetap berkeyakinan keras bahwa sekolah justru dapat berperan besar dalam mendidik karakter anak didiknya. Tugas dan tanggung jawab yang tidak mudah bukan berarti lalu boleh diditinggalkan begitu saja, bukan? Tugas mulia pada umumnya memang berat untuk dilaksanakan, tapi toh kita tetap harus melakukan demi kemuliaanNya, bukan?  Sebagai konsekuensi atas keyakinan penulis bahwa pendidikan karakter perlu dan bisa dijalankan di sekolah, maka penulis akan memberikan contoh metoda pendidikan karakter di sekolah.

Karakter dan Pendidikan Karakter

Untuk memulai pembahasan, ada baiknya kita memahami dan menyamakan persepsi dahulu arti Karakter  dan Pendidikan Karakter.

Karakter dapat diartikan kepribadian (personality) seseorang yang diekspresikan dalam bentuk tingkah lakunya (behavior) sehari-hari dalam menanggapi (responding) dan menghadapi (facing) situasi atau pihak diluar dirinya. Jadi karakter seseorang baru kelihatan nyata ketika dia bersikap dan bertindak saat menanggapi dan menghadapi berbagai situasi, khususnya situasi yang sulit. Misalnya, ketika dia sedang bergegas ke sekolah dia melihat orang lain mendapat musibah di jalan, apakah dia membiarkannya dan meneruskan perjalananya ataukah dia berhenti lalu menolongnya?

Apakah Karakter itu diturunkan oleh orangtuanya  atau dipelajari oleh anak tersebut? Jawabnya, 5% diturunkan oleh orang tuanya, 95% dipelajari (angka 5% dan 95% semata-mata hanya untuk mewakili besar kecilnya porsi masing-masing dan bukan merupakan hasil penelitian.) Artinya, ketika anak itu lahir, tentunya akan ada sifat-sifat genetik bawaan dari orang tuanya. Namun, yang diturunkan hanyalah “bakal karakter” bukan karakternya. Bakal karakter itu akan menentukan kompatibilitas (kecocokan) dengan rangsangan tertentu. Misalnya, ada anak balita yang memiliki kecenderungan “keras kepala” (stubborn), namun kalau dia dididik dengan benar untuk bisa memahami dan menerima pendapat orang lain dan membedakan kapan dia harus “keras kepala” (persistent) dan kapan dia harus menerima pendapat orang lain (understanding) maka ketika dewasa dia justru bisa menjadi orang yang berkarakter baik. Anak keras kepala yang terdidik dengan baik akan menanggapi dan menghadapi suatu tantangan berat tanpa kenal lelah dan pantang menyerah (berkemauan keras dan pantang menyerah untuk mencapai tujuan yang mulia justru baik, bukan?) Contohnya adalah Thomas Alva Edison, seandainya dia tidak “keras kepala”, maka mungkin kita masih hidup dalam remang-remang cahaya lilin.

Pendidikan Karakter adalah suatu usaha untuk membentuk karakter anak mulai dari balita hingga dewasa atau bahkan selama hidupnya (longlife education) secara berkesinambungan dan konsisten dengan memberikan materi dan menggunakan metoda dan program yang disesuai dengan perkembangan kejiwaan seseorang.

Mengapa kita perlu mengembangkan (mendidik) karakter sepanjang hidup? Karena dengan bertambahnya umur anak hingga menjadi dewasa, mereka akan menghadapi situasi yang makin kompleks sehingga mereka perlu terus belajar untuk menanggapi dan menghadapinya. Misalnya, ketika masih balita, anak akan menghadapi situasi dimana dia bermain-main dengan temannya. Pendidikan karakter anak balita difokuskan antara lain pada bagaimana agar anak dapat berbagi mainan atau mau bergantian dalam bermain. Ketika sudah bertambah umur dan masuk usia 5-12, maka dia perlu dididik antara lain menjadi rajin belajar dan beribadat, berempati pada teman, membantu orang tuanya dirumah dan bersikap hormat dan sopan terhadap orang lain yang lebih tua. Ketika usia remaja, maka dia perlu dididik antara lain untuk beretika dalam bersikap dan bertindak, bertoleransi kepada yang berbeda kepercayaan ataupun keyakinan, mengendalikan emosi, merumuskan tujuan hidup atau cita-cita yang luhur dengan jelas dan pantang menyerah untuk mencapainya. Ketika memasuki usia dewasa, dia perlu dididik bagaimana menghadapi persoalan hidup yang semakin kompleks dengan menggunakan pegangan norma agama,  etika dan moralitas kehidupan. Demikian seterus hingga sepanjang hidupnya.

Agar lebih efektif, metoda penyampaiannya dan penyelengaraannya hendaknya disesuaikan dengan perkembangan  jaman. Anak-anak sekarang tidak bisa terlepas dari dunia multimedia seperti TV, Video/Music Player, Handphone,  Tablet,  Komputer dan Games. Dengan makin terjangkaunya sarana komunikasi dan peralatan audio-visual tersebut dan hampir semua orang sudah memiliki dan menggunakannya, pendidikan karakter dapat memanfaatkan dan menggunakan sarana yang sama untuk menyampaikan  dan menyelenggarakannya. Misalnya, sebarkan kata-kata mutiara atau pesan moral (quotes) yang mendidik karakter melalui pesan singkat elektronik (SMS). Buatlah game komputer yang memberikan pesan moral yang baik. Tayangkan cuplikan video yang memberikan pesan moral yang menggugah. Ciptakan atau tayangkan lagu-lagu yang berisi semangat dan nasehat yang baik. Tentunya ini membutuhkan usaha dan kerjasama dengan pihak-pihak yang ahli di bidangnya dan yang terpercaya untuk diajak bekerjasama.

Program Pendidikan Karakter

Sekolah hingga tingkat menengah atas dapat membuat program pendidikan karakter dengan menggunakan metoda berikut:

1. Menayangkan pesan moral yang baik melalui poster, spanduk, majalah dinding atau buletin sekolah dan sarana multimedia yang telah disebutkan diatas. Maksudnya agar pesan-pesan tersebut lama kelamaan merasuk dalam alam bawah sadar para murid. Karena sebagian besar tindak tanduk manusia digerakan oleh alam bawah sadarnya, maka diharapkan pesan-pesan moral tersebut akan membentuk karakter yang baik dari para murid.

2. Pemberian penghargaan khusus untuk murid yang baik karakternya. Di Singapura hal ini sudah diterapkan di sekolah-sekolah mereka. Memang ada kemungkinan murid hanya mau bertingkah laku baik dengan maksud mengejar hadiah (uang). Namun, bukankah penghargaan tidak harus bersifat material tapi juga bisa berupa pembebasan uang sekolah atau piagam yang akan menambah kredibilitas murid tersebut ketika melamar kerja atau masuk ke sekolah di tingkat lanjut?

3. Menhafalkan pesan moral secara terus menerus dan intensive. Memang diyakini bahwa dengan menghafal, maka kalimat atau  kata-kata yang dihafal akan merasuk ke alam bawah sadar murid. Hal ini akan membentuk karakter murid yang baik.

4. Meminta para murid mengikuti peraturan di sekolah (contoh: datang tepat waktu, bersikap sopan dan hormat dll.). Bagi yang melanggar akan diberikan tugas yang akan menyadarkan kesalahan mereka, bukan hukuman yang tidak bermakna.

5. Menyediakan konseling bagi murid yang membutuhkan bantuan khusus. Mungkin tidak akan cukup hanya satu guru konseling pada tiap tingkatan (SD, SMP, SMA). Setiap kelas mungkin perlu minimal satu guru konseling. Hal ini untuk memberikan bantuan kusus untuk murid yang karena faktor genetik memiliki “daya tangkap” dan response yang kurang baik terhadap program diatas.

6. Selipkan pesan moral dalam setiap pelajaran ilmu pengetahuan. Misalnya, waktu pelajaran sejarah, sampaikan pesan moral dari pengorbanan para pahlawan dan tanyakan juga sebagai salah satu soal ujian. Waktu pelajaran biologi, sampaikan pesan moralnya bahwa betapa dahsyatnya ciptaan Tuhan itu.

7. Berikan porsi yang lebih banyak untuk pelajaran Agama hingga 2 x seminggu. Selalu ingatkan dan jelaskan makna hukum Cinta Kasih yang utama yaitu “KasihilahTuhan Allahmu dengan segenap hatimu, dengan segenap jiwamu, dengan segenap akal budimu dan dengan segenap kekuatanmu. Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.” (Mrk: 12, 30-31)  Uraikan makna dari hukum ini dan jelaskan penerapannya dalam kehidupan sehari-hari. Tunjukkan bagaimana murid harus bersikap terhadap sesamanya dan kepada Tuhan.

8. Mendidik dengan memberikan contoh (Teaching by Example). Sebagai pendidik, tentunya mereka sangat berpengaruh pada anak didiknya. Maka para guru dan pendidik wajib memberikan contoh yang baik dalam bersikap, berbicara dan bertingkah laku. Hal ini sangatlah penting. Penulis sendiri, setelah 45 tahun berlalu, masih ingat benar bagaimana para suster dan guru SD memberikan nasehat dan mendidik penulis dengan penuh kesabaran dan kasih sayang. Demikian pula sebaliknya,  guru yang tidak mampu memberikan pendidikan dengan tepat pun masih ada dalam ingatan penulis.

Tentunya masih banyak cara atau metoda lain yang belum disebutkan di sini. Silakan dikembangkan sendiri oleh masing-masing sekolah. Yang penting adalah memberikan porsi yang lebih besar untuk pendidikan karakter dan memberikannya setiap ada kesempatan. Yang jangan sampai dilupakan adalah para guru pun harus mau terus belajar untuk mampu memberikan pendidikan karakter pada anak didiknya dengan kasih sayang.

Rangkuman dan Penutup.

Perkembangan sosial akhir-akhir ini menuntut peran sekolah dalam memberikan pendidikan karakter. Meskipun tidak mudah dan perlu usaha luar biasa, memberikan pendidikan karakter di sekolah mulai dari balita hingga dewasa adalah sangat penting. Karakter yang baik itu bukanlah berasal dari keturunan (faktor genetika), akan tetapi merupakan hasil pendidikan secara berkelanjutan dan konsisten. Pendidikan karakter di sekolah dapat dilakukan dengan berbagai cara  dan materinya disesuikan dengan perkembangan kejiwaan seseorang. Pemanfaatan tehnologi multimedia sangat disarankan dan hendaknya diberikan dalam setiap kesempatan agar akhirnya merasuk dalam jiwa (alam bawah sadar) para murid. Tujuan pendidikan karakter adalah membangun keluarga dan masyarakat yang bahagia karena bisa berdamai dan saling mengasihi baik dengan sesamanya maupun lingkungan hidupnya (ekosistem), masyarakat yang sejahtera karena pimpinannya bermoral tinggi, bertujuan hidup mulia dan bertahwa kepada Tuhan Yang Maha Esa sesuai harapan Sang Pencipta. Biarlah anak-anak kita belajar ilmu pengetahuan dan mengembangkan karakternya baiknya secara berimbang. Pandai tapi berkarakter buruk akan jauh lebih berbahaya daripada kurang pandai tapi berkarakter baik.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Pecahnya “Kapal” PPP dan Upaya …

Irham Wp | | 20 April 2014 | 03:26

Bisakah Membangun Usaha Tanpa Uang? …

Maskal Novessro | | 20 April 2014 | 08:52

Ketika Rupiah Tidak Lagi Dianggap sebagai …

Dhita Arinanda | | 20 April 2014 | 05:10

Musafir; Aku Pasti Pulang …

Elkhudry | | 20 April 2014 | 06:29

[Puisi Kartini] Petunjuk Akhir Event Puisi …

Fiksiana Community | | 20 April 2014 | 09:25


TRENDING ARTICLES

Gara-gara Amien Rais Mental Prabowo dan …

Mas Wahyu | 3 jam lalu

PDI P Sudah Aman, tapi Belum Tentu Menang …

El-shodiq Muhammad | 5 jam lalu

Rapor TimNas U-19 Usai Tur Timur Tengah dan …

Hery | 17 jam lalu

Nasib PDIP Diujung Tanduk …

Ferry Koto | 17 jam lalu

Alumni ITB Berkicau, Demo Mahasiswa ITB …

Hanny Setiawan | 18 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: