Back to Kompasiana
Artikel

Edukasi

Barnawi Athar

pendidik & pedagang yang senang nulis-nulis

Keluarga sebagai Pilar School of Love

OPINI | 08 December 2012 | 08:00 Dibaca: 88   Komentar: 0   0

Cinta merupakan tema yang tidak pernah habis dikupas. Ribuan bahkan jutaan lagu memilih cinta sebagai temanya. Begitu juga film layar lebar, apalagi sinetron dan telenovela. Namun hakikat cinta tidaklah sekedar romantisme dua anak manusia, lebih dari itu.

Setiap kebaikan sesungguhnya bertolak dari rasa cinta (loving the good). Rasa hormat, patuh, peduli, empati, toleransi, humanis dan sederet sifat terpuji lainnya baik dalam hubungan horizontal maupun vertikal bersumber pada rasa cinta. Dan sebaliknya, hilangnya rasa cinta membuat kekerabatan kehilangan daya kohesifnya. Kejadian ethnic cleansing (pembantaian antar suku/pembersihan suku) atau maraknya clash of ignorance (bencana karena ketidakpedulian) disebabkan oleh tercerabutnya rasa cinta dalam alam bawah sadar manusia.

Uraian di atas menegaskan bahwa menanamkan cinta pada setiap anak manusia mutlak dilakukan. Dan menanamkan rasa cinta pada kebaikan (loving the good) merupakan tugas pertama dan utama orang tua terhadap anaknya. Hal tersebut ditegaskan dalam Al-Quran surat At-Tahrim ayat 6 yang artinya “Wahai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu“. Orang tua harus menjaga anaknya agar jauh dari segala sifat, sikap, dan perbuatan haram atau tercela sehingga apabila perbuatan itu dilakukan akan terperosok ke dalam neraka. Penjagaan melalui proses pendidikan tersebut dilakukan dengan cara memberikan pengarahan baik dalam bentuk nasihat, perintah, larangan, pembiasaan, pengawasan maupun pemberian ilmu pengetahuan. Intervensi dan habituasi di atas paling efektif dilakukan dengan pendekatan rasa kasih sayang sebagai substansi school of love.

Menanamkan cinta pada kebaikan (loving the good)

Dalam psikologi kognitif kita mengenal ranah kognitif, afektif, dan psikomotorik. Dalam konteks penanaman nilai cinta pun kita mengenal knowing the good (bersifat kognitif), loving the good (masuk dalam ranah afektif), dan doing the good (ranah psikomotorik).

School of love dibangun atas tiga ranah di atas, dengan demikian tugas pertama orang tua adalah mengenalkan kepada anak mana yang baik dan buruk. Dalam proses internalisasi nilai tersebut ada beberapa cara yang dapat dilakukan antara lain dengan indoktrinasi, pendekatan perkembangan moral, analisis nilai, klarifikasi nilai, dan belajar melalui perbuatan. Namun pada usia dini, indoktrinasi merupakan metode yang paling sering digunakan. Indoktrinasi dapat dilakukan melalui banyak cara, missal cerita/dongeng sebelum tidur, nyanyian yang mengandung unsur edukatif, syair-syair, dan pantun.

Pengetahuan tentang kebaikan (knowing the good) yang terpatri dan diajarkan dengan penuh cinta orang tua terhadap anaknya maka akan menumbuhkan rasa cinta pada kebaikan (loving the good). Proses tumbuhnya loving the good dapat berpijak dari kajian psikoanalitik Sigmund Freud. Dalam psikoanalitik kita diajarkan bagaimana membangun superego yang baik. Perkembangan moral menurut teori psikoanalitik mendeskripsikan bahwa anak-anak dalam mengurangi rasa cemas, bersalah dan malu, menghindari hukuman serta mempertahankan kasih sayang orang tua, mereka melakukan identifikasi diri terhadap orang tua, menginternalisasi standar nilai tentang benar-salah dari orang tua, untuk kemudian membangun superego yang merupakan elemen moral dari kepribadian anak. Kesimpulan lain dari ajaran psikoanalitik Sigmund Freud adalah; bahwa untuk mengembangkan moral anak, mereka perlu ditumbuhkan rasa cemas, bersalah, dan malu apabila melakukan kesalahan, serta diajarkan mengambil sudut pandang orang lain untuk mengembangkan rasa empati agar dapat merespon perasaan orang lain dengan reaksi emosional yang memadai.

Setelah knowing the good dan loving the good melekat dalam alam bawah sadar anak-anak maka akan berdampak pada perilaku dan perbuatan yang sejalan dengan prinsip nilai yang dipegang. Anak-anak akan senantiasa berbuat dan beraktifitas dengan melandaskan sistem nilai yang dianut, dan disinilah doing the good itu ada. Tiga ranah tersebut jika sudah teraktualisasi dalam kehidupan anak maka apa yang kita idam-idamkan tentang khusnul khuluq akan terwujud. Jadi terkonstruksinya kepribadian dan perilaku yang baik harus dibangun dengan rasa cinta dan kasih sayang. Para ilmuwan terdahulu seperti Jean Piaget, Sigmund Freud, dan Bandura dalam eksperimennya juga menegaskan bahwa moralitas harus dibangun secara bertahap dengan pendekatan yang hangat. Hal ini menegaskan bahwa konsep school of love menjadi institusi yang penting dalam pengembangan moral anak. Dan keluarga merupakan pilar utama dalam menjalankan prinsip school of love.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Gedung New Media Tower Kampus UMN, Juara …

Gapey Sandy | | 31 October 2014 | 19:12

Cerita di Balik Panggung …

Nanang Diyanto | | 31 October 2014 | 18:18

Giliran Kota Palu Melaksanakan Gelaran …

Agung Ramadhan | | 31 October 2014 | 11:32

DPR Akhirnya Benar-benar Terbelah, Bagaimana …

Sang Pujangga | | 31 October 2014 | 13:27

Ikuti Blog Competition dan Nangkring di IIBF …

Kompasiana | | 12 October 2014 | 18:25



HIGHLIGHT

Robohkah Surau Kami Karena Harga BBM Naik? …

Arnold Mamesah | 8 jam lalu

Sahabat Hati …

Siti Nur Hasanah | 8 jam lalu

Susi Mania! …

Indria Salim | 8 jam lalu

Ada Oknum “Nakal” di BPN Jakarta …

Syaifudin | 9 jam lalu

Wow, Cantiknya Puteri Bu Susi …

Den Hard | 9 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: