Back to Kompasiana
Artikel

Edukasi

Barnawi Athar

pendidik & pedagang yang senang nulis-nulis

Pikiran dan Karakter

REP | 14 December 2012 | 09:26 Dibaca: 168   Komentar: 0   1

“Cognito Ergo Sum”, Aku Berfikir, Aku Ada

Ralph Waldo Trine menulis sebuah gagasan tentang pembangunan karakter melalui jalan pikiran. Tulisan itu diberi judul: Building Character-Though Power. Tulisan ini berupaya mengkonstruksi bagaimana pikiran mampu membentuk karakter seseorang.

Sejak dahulu para filsafat giat mengajak kaum terdidik untuk memaksimalkan potensi pikiran. Dari era Descartes dengan Cognito Ergo Sum-nya sampai dengan Stephen R Covey dengan Seven Habits of Highly Effective People yang menjadi salah satu buku berpengaruh pada abad ini. Jika kita renungkan, pikiran memang menjadi instrumen utama manusia dalam berbuat sekaligus membedakannya dengan makhluk lain. Lalu apa relasi pikiran dan karakter?.

Karakter sejatinya adalah kebiasaan seseorang yang telah menjadi pola perilaku. Kebiasaan dalam perspektif Covey merupakan pertemuan tiga faktor yakni desire (keinginan), skill (keahlian), dan knowledge (pengetahuan). Tanpa keinginan, keahlian dan pengetahuan tidak akan membentuk kebiasaan. Tanpa keahlian, keinginan dan pengetahuan tidak mampu menghasilkan kebiasaan yang ajeg, begitu juga jika ada keinginan dan keahlian namun tidak ada pengetahuan maka tidak akan terwujud kebiasaan.

Kebiasaan adalah produk dari sebuah pemikiran. Dan pemikiran akan melahirkan kesadaran. Kebiasaan yang dilakukan tanpa pikiran sama halnya melakukan tindakan tanpa dilandasi atas kedasaran. Dengan kata lain tindakan yang dilakukan hanyalah sebuah reflex, reaktif, dan impulsif.

Uraian di atas menggambarkan bahwa pikiran yang baik akan menghasilkan tindakan yang baik, begitu juga sebaliknya. Baik dan buruk dalam konteks ini bersandar pada sistem nilai yang dianut, artinya ada potensi perbedaan sistem nilai antar manusia di satu wilayah dengan wilayah lainnya.

Bagaimana pikiran mengkonstruksi karakter seseorang?

Ada dua pikiran dalam diri manusia yakni pikiran sadar (conscious) dan pikiran bawah sadar (subconscious). Pikiran sadar (conscious) adalah pikiran objektif yang berhubungan dengan objek luar dengan menggunakan panca indra sebagai media dan sifat pikiran sadar ini adalah menalar. Sedangkan pikiran bawah sadar (subsconscious) merupakan pikiran subjektif yang berisi emosi serta memori, bersifat irasional, tidak menalar, dan tidak dapat membantah. Pikiran bawah sadar dapat berbentuk bangunan persepsi, mindset, atau frame of thinking seseorang. Pikiran sadar akan memberi kontribusi 12% dalam membentuk karakter, sedangkan 88% ditentukan pikiran bawah sadar.

Dalam diri manusia, pikiran bawah sadar dominan pada anak-anak usia emas (golden age), dan semakin dewasa seiring kemampuan nalar dan logikanya maka secara berangsur-angsur pikiran sadar prosentasenya semakin tinggi. Hal ini menegaskan bahwa membangun pikiran bawah sadar merupakan tugas yang amat penting dalam rangka membangun karakter anak. Untuk itu, anak-anak di usia emas sebaiknya dikonstruksi pikiran bawah sadarnya dengan informasi yang baik, dengan teladan yang baik, dan dihadapkan pada peristiwa-peristiwa yang baik. Hal ini penting karena diusia emas semua peristiwa yang dilihat akan dikonstruk pikiran bawah sadar anak tanpa dinalar secara kritis.

Sebagai contohnya, anak kecil yang hidup dalam rumah dimana ayah dan ibunya ribut terus maka dalam pikiran bawah sadar anak terkonstruksi; pernikahan itu menyedihkan, menyusahkan, dan tidak menentramkan. Anak yang selalu melihat tayangan bahwa orang miskin selalu tersia-siakan oleh orang kaya maka dalam konstruk pikiran bawah sadar anak yang ada adalah; orang miskin itu tak pantas bergaul dengan orang kaya sehingga ketika besar anak tersebut memiliki persepsi jelek terhadap orang kaya, semisal dia akan berteman dengan orang yang sama-sama miskin dan susah bersosialisasi dengan orang kaya.

Dengan demikian, kita harus hati-hati terhadap anak diusia emas yang pikiran bawah sadarnya sangat dominan dalam rangka membangun persepsi terhadap apa yang ia indera. Jika menonton TV anak harus kita pilihkan tayangan yang baik dan didampingi. Di layar TV sering tertulis BO (Bimbingan Orang Tua), itu adalah sebuah kewajiban yang harus dilakukan orang tua, bukan sekedar hiasan layar kaca.

Dengan demikian, membangun karakter yang efektif sejatinya sejak kecil karena pikiran bawah sadarnya masih sangat dominan. Jika kita hanya membangun karakter seseorang ketika sudah besar, maka semakin susah karena nalar kritisnya dominan. Maka mengubah seseorang yang telah dewasa bagaikan menulis dalam air karena orang dewasa mengidap penyakit immunity to change.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

(Foto Essai) Menyambut Presiden Baru …

Agung Han | | 20 October 2014 | 20:54

Inilah Reaksi Mahasiswa Australia untuk …

Tjiptadinata Effend... | | 20 October 2014 | 19:16

Ayo, Tunjukkan Aksimu untuk Indonesia! …

Kompasiana | | 09 September 2014 | 16:24

10 Tips untuk Komedian Pemula …

Odios Arminto | | 21 October 2014 | 01:11

Apakah Kamu Pelari? Ceritakan di Sini! …

Kompasiana | | 25 September 2014 | 11:05


TRENDING ARTICLES

Off to Jogja! …

Kilian Reil | 3 jam lalu

Ini Kata Koran Malaysia Mengenai Jokowi …

Mustafa Kamal | 9 jam lalu

Indonesia Jadi Tuan Rumah Lagi di Piala AFF …

Djarwopapua | 11 jam lalu

BJ Habibie, Bernard, dan Iriana Bicara …

Opa Jappy | 15 jam lalu

Mie Instan vs Anak Kost (Think Before Eat) …

Drupadi Soeharso | 16 jam lalu


HIGHLIGHT

Mungkinkah? Entah! …

Aisditaniar Rahmawa... | 7 jam lalu

Najwa Shihab Jadi Menteri? She Is A Visual …

Winny Gunarti | 7 jam lalu

Mendayung Di Sungai Ayung …

Aisditaniar Rahmawa... | 8 jam lalu

Apakah Emoticon Benar-benar Mewakili …

Dewi Nurbaiti | 8 jam lalu

Ada Cinta #14 : Bintang Jatuh …

Ryan M. | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: