Back to Kompasiana
Artikel

Edukasi

Dede Hendriono

Menyukai dunia teknik otomotif, teknik elektronika, teknologi informasi

Sulit dan Rumit Mengurus NUPTK

OPINI | 15 December 2012 | 03:07 Dibaca: 597   Komentar: 1   0

Entah harus darimana saya mengawali tulisan ini. Mungkin apa yang saya tulis tidaklah berlaku sama untuk yang lainnya, dan mungkin ini hanya terjadi pada diri saya sendiri. Ini boleh dikatakan curhatan seorang yang tidak mengerti tentang birokrasi.

135551528412927481

Logo NUPTK Masa Lalu

Sebuah keheranan tentang keadaan yang menimpaku. Ya, NUPTK atau sering diucapkan panjang sebagai Nomor Unik Pendidik dan Tenaga Kependidikan. Saya sering menyebut NUPTK bukan hanya nomor unik tapi nomor sakti bahkan terlalu sakti dari nomor apapun bagi seorang guru. Sejak tahun 2009 Dinas Pendidikan Kabupaten selalu meminta syarat-syarat pengajuan NUPTK, dan itu terjadi setiap tahun sampai dengan tahun saat tulisan ini dibuat (2012). Entah apa yang terjadi disana, hingga pengajuan NUPTK ini seperti perpanjangan Pajak Kendaraan. Namun kenyataan, NUPTK tetap tak kunjung keluar, bahkan yang menjadi heran, kenapa justru NUPTK itu keluar terhadap guru yang masuk kategori baru. Sedangkan mereka-mereka yang sudah lama justru menjadi bulan-bulanan petugas NUPTK? Syarat inilah itulah hingga, harus hari inilah tak boleh besok dan seterusnya. Seakan kami adalah permainan para petugas input data NUPTK tingkat kabupaten. Apakah serumit itu pengajuan NUPTK?

Sempat memiliki NUPTK selama hampir 2 tahun, namun entah kenapa tiba-tiba nomor sakti itu hilang bahkan dinyatakan tidak ada dalam daftar. Hati ini berguman “sistem model apakah ini? Data yang pernah ada kenapa bisa menghilang?”. Sungguh tak mampu dicerna dengan otak jernih maupun keruh. Apa yang terjadi dipusat data NUPTK? Apakah setiap pergantian kebijakan maka berganti pula komputernya atau pusat datanya? Apakah setiap pergantian kepemimpinan maka berganti pula media penyimpanan data tersebut?

Keadaan seperti ini sudah berulang kali terjadi, entah itu pengajuan NUPTK, pengajuan NISN dan pengajuan-pengajuan lainnya. Begitu rumitnya hal sederhana, begitu sulitnya hal mudah. Berbagai alasan terlontarkan dengan nada sama namun dengan gaya bahasa yang berbeda atas ketidaknyamanan ini. Mereka para birokrasi dan yang terlibat didalamnya seakan tidak memperhatikan sistem. Mereka mungkin saja masih beranggapan bahwa pengajuan-pengajuan yang berhubungan dengan berkas harus diselesaikan secara manual, saling berhadapan, dan beramplop. Lalu untuk apa internet? Yang bisa menghubungkan satu komputer dengan komputer lainnya? Cukuplah data tersebut masuk dari satu pintu, namun semua departemen yang membutuhkan data yang sama akan dengan mudah untuk menemukannya. Kenapa setiap saat kita harus mengumpulkan data yang sama, misal; Akta Kelahian, Ijazah, dan hal-hal yang memang sudah pasti. Ya… Lain halnya dengan data-data yang mengalami perubahan setiap tahunnya, nah ini ijazah? Kenapa harus berulang-ulang mengumpulkan Ijazah, lalu jadi apa Ijazah yang sudah kami kumpulkan disana.

Kesimpulan akhir, biarlah tak memiliki NUPTK, toh saya sudah berusaha melengkapi berbagai hal yang mereka butuhkan, namun tetap saja berakhir dengan Zero Value. Bukan pasrah, tapi sudah terlalu lelah dengan berbagai permainan birokrasi malas yang mementingkan kemudahan untuk dirinya sendiri.

Sekarang lebih baik meningkatkan kualitas diri, terus belajar agar lebih profesional. Menajadi guru tidaklah mudah, beban yang dipikul sangat berat, lalu apa yang akan kita berikan kepada siswa, jika gurunya sibuk dipermainkan dengan pengajuan syarat NUTPK? Sudahlah… NUPTK tidak keluar, yang penting tujuan mulia pendidikan tercapai, proses transfer ilmu berjalan dengan baik demi masa depan anak cucu yang lebih baik dari hari sekarang. Biarlah perkembangan teknologi hanya penghalang bagi birokrasi namun sangat bermanfaat untuk kami. Teknologi memberikan kemudahan dalam proses transfer ilmu walau birokrasi malas untuk mengeksplorasi kehebatan teknologi tersebut.

[Tumben artikelku ngawur banget... Maklum sedang termosi...]

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Kabar Burung tentang Bandung: Superhero …

Gede Surya Marteda | | 20 December 2014 | 14:15

Ikhlas, Kunci Ibu Bisa Bahagia …

Sekar Sari Indah Ca... | | 20 December 2014 | 13:33

Kompasiana Drive&Ride: “Tantangan …

Kompasiana | | 16 December 2014 | 17:35

Mazagran: Lahir dari Perang, Lalu …

Kopi Keliling | | 20 December 2014 | 13:38

Ikuti Blog Competition ”Warna Warni Indah …

Kompasiana | | 24 November 2014 | 10:50


TRENDING ARTICLES

Jangan Nodai Sukacita Natal Kami dengan …

Sahroha Lumbanraja | 6 jam lalu

Presiden Jokowi-Wapres JK Atasi Korban …

Musni Umar | 6 jam lalu

Dihina “Kampret”, Pilot Garuda …

Felix | 7 jam lalu

Salahkah Menteri Rini Menjual Gedung BUMN? …

Daniel Setiawan | 8 jam lalu

Hati Lembut Jokowi Atas Manuver Ical …

Mas Wahyu | 9 jam lalu


Subscribe and Follow Kompasiana: