Back to Kompasiana
Artikel

Edukasi

Andriy Pavlyuchenko

Orang Sidoarjo yang kini tinggal di kota Angin (Nganjuk) .

Kurikulum 2013, Sebuah Kurikulum yang Sia-sia?

OPINI | 15 December 2012 | 20:09 Dibaca: 2232   Komentar: 0   0

Sungguh Terkejut Saya ketika melihat berita di TV dan media online beberapa waktu lalu. Sebuah Kurikulum baru  akan diterapkan. Padahal, Menurut saya, materi Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) sudah memiliki materi yang bagus. Bahkan menurut saya, materi Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) lebih Bagus dibanding dengan Kurikulum 2013.

Beberapa point dalam kurikulum 2013 sangat sulit untuk saya mengerti dan saya pahami. Contohnya saja seperti Tidak munculnya Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) dan Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) sebagai mata pelajaran sendiri dalam struktur kurikulum untuk jenjang sekolah dasar (SD) yang hinggakini masih terus menjadi perdebatan. Banyak pihak yang menuntut agar dua mata pelajaran ini tetap berdiri sendiri sebagai mata pelajaran. Bahkan, Seorang Profesor Sekelas Yohannes Surya pun dibuat tidak mengerti mengapa pemerintah menghapus pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) dan Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) i dalam struktur kurikulum untuk jenjang sekolah dasar (SD). Bahkan ia berkata bahwa penghapusan itu termasuk sebuah pembodohan publik.

Menurut saya, penghapusan itu adalah sebuah blunder besar pemerintah, dalam hal ini Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Bukankah pola berpikir scientific harusnya ditanamkan sejak dini, yaitu sejak jenjang SD. Namun, dengan adanya perombakan kurikulum yang hanya mewajibkan enam mata pelajaran tanpa IPA dan IPS di dalamnya, pola pikir tersebut sulit terbentuk.

Bukan hanya itu, Beberapa pihak termasuk saya menyayangkan minimnya muatan pendidikan moral dalam kurikulum 2013 dan muatan lokal, seperti bahasa daerah, seni dan budaya serta bimbingan dan konseling. Bukankah, Pemerintah kita pada tahun 2012 ini sedang menggalakkan pendidikan karakter. Lalu mengapa muatan pendidikan Moral dikurangi?.

Penghapusan penjurusan di SMA dan diganti dengan peminatan pun juga disesalkan banyak pihak. Peminatan akan berjalan baik jika pendidikan di SMP berjalan dengan baik. Masalahnya, kondisi pendidikan di bawah SMA saja masih semrawut, bagaimana siswa bisa terarah dengan baik peminatannya.

Kurikulum 2013, selain dirumuskan tergopoh, sepertinya juga disusun atas dasar substansi pendidikan yang tetap tak jelas sehingga rujukan utamanya hanyalah pikiran pemerintah (baca: Kemdikbud) yang telah terobsesi gagasan keren, tetapi mengambang, yaitu pendidikan karakter dan daya saing. Alhasil, produknya tidak menunjukkan suatu koherensi yang utuh.

Sebenarnya, materi Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) lebih Bagus dibanding dengan Kurikulum 2013. Namun Implementasinya memang kurang baik yang disebabkan oleh beberapa faktor, salah satunya adalah kualitas guru yang tak kunjung dibenahi oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

Menurut saya, Pembenahan Kualitas dan mutu guru lebih baik daripada mengganti kurikulum.Langkah langkah pemerintah membuat Program sertifikasi yang mengharuskan guru mengajar 24 jam sesungguhnya kurang begitu efektif menurut saya. Guru pun akhirnya lebih mengutamakan kuantitas daripada kualitas. Namun, Kita juga tidak bisa menyalahkan para guru yang terlalu mengejar sertifikasi karena tanpa sertifikasi para guru tidak dapat memenuhi kebutuhannya dengan baik. Guru guru di pedalaman misalnya,yang tak mungkin mereka mendapatkan sertifikasi karena keadaan yang tidak memungkinkan harus hidup serba kekurangan. Kurangnya perhatian pemerintah pada guru guru pedalaman inilah yang membuat gugu guru bermutasi ke daerah yang lebih baik seperti perkotaan.

Pemerintah seharusnya memberikan Sertifikasi atas dasar besar pengorbanan dan perjuangan para guru, bukan atas dasar banyaknya jam mengajar. Hal inilah yang membuat guru guru di perkotaan bisa saja mempunyai gaji yang lebih besar dibanding guru guru di pedalaman.

Bukan hanya itu, pengkotakan guru pun juga menjadi masalah. Di kalangan para guru ada yang namanya Guru Kemenag, Guru Dikpora, Guru kemdikbud, dan lain lain. Guru guru seharusnya dibawahi oleh satu kementerian saja, bukan banyak kementerian seperti saat ini yang membuat pemerintah sulit menemukan cara yang tepat untuk mensejahterakan dan meningkatkan kualitas guru.

Menghadapi Kurikulum 2013 tak perlu antusiasme tinggi karena tak menjanjikan banyak kemajuan seperti diharapkan Boediono. Bahkan dengan mengetengahkan konsep pembelajaran tematik dan intergratif bukan saja akan makin merumitkan para guru, yang juga harus mengejar target UN, tetapi juga memperluas kemungkinkan beberapa nilai pokok dan penting dari mata pelajaran terbengkalai.

Perubahan kurikulum memang merupakan hal biasa. Akan tetapi, menjadi tanda tanya besar ketika pemerintah begitu tergesa-gesa menerapkan perubahan ini secara nasional. Ada baiknya pemerintah mengkaji ulang kurikulum 2013 ini karena kurikulum ini akan menentukan laju kehidupan masyarakat di masa depan.

Nganjuk, 15 Desember 2012
Salam WOW… WOW sekali

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Sambut Sunrise Dari Puncak Gunung Mahawu …

Tri Lokon | | 28 July 2014 | 13:14

Pengalaman Adventure Taklukkan Ketakutan …

Tjiptadinata Effend... | | 28 July 2014 | 19:20

Membuat Hidangan Lebaran di Moskow (Jika …

Lidia Putri | | 28 July 2014 | 17:08

Kampanye Wisata Thailand’s Best …

Olive Bendon | | 28 July 2014 | 16:49

Punya Gaya “Make Up” Menarik? …

Kompasiana | | 09 July 2014 | 00:21


TRENDING ARTICLES

Pijat Ala Dubai International Airport …

Ardi Dan Bunda Susy | 12 jam lalu

Jangan Terlalu Berharap Banyak Pada Jokowi …

Bambang Srijanto | 13 jam lalu

Berlebaran Tetap Gaya dengan Kaos Kompasiana …

Topik Irawan | 14 jam lalu

Jangan Nanya Panci ke Polisi Amerika …

Usi Saba Kota | 17 jam lalu

” Dari Tahun Ketahun Tak Pernah …

Rere | 22 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: