Back to Kompasiana
Artikel

Edukasi

Indahnoing

Aku adalah ibu rumah tangga biasa dengan 3 anak kecil, dulu pernah bekerja sebagai analis selengkapnya

Saya Orang Tua Murid yang Tidak Setuju Kurikulum 2013

OPINI | 22 December 2012 | 23:46 Dibaca: 2122   Komentar: 24   1

Saya mengikuti pemberitaan di berbagai media mengenai info rencana pemerintah yang ingin menerapkan kurikulum 2013 mulai tahun ajaran 2013/2014. Ternyata pro dan kontra tidak hanya timbul di kalangan praktisi pendidikan, namun di kalangan orangtua murid pun terjadi dan saya termasuk salah satu ibu yang tidak menyetujui rencana kurikulum 2013.

Kurikulum 2013 ini rencananya akan memangkas jumlah mata pelajaran di sekolah sehingga menjadi lebih sedikit, yaitu di tingkat SD dari 10 mata pelajaran (mapel) dipangkas menjadi 6 mapel, di tingkat SMP dari 12 mapel dipangkas menjadi 10 mapel.

Sebenarnya saya masih bingung, gerangan apakah yang menyebabkan perubahan kurikulum ini?

Apakah karena banyaknya keluhan dari para orang tua siswa tentang jumlah mata pelajaran yang menurut mereka sangat  banyak dipelajari anaknya sehingga membebani tas & punggungnya saat harus membawa buku-buku pelajaran tersebut ke sekolah setiap harinya?

Apakah karena keluhan akan materi  pelajaran yang dianggap terlalu berat, tidak sesuai usianya?

Apakah karena melihat perilaku pelajar-pelajar  sekolah yang terlihat condong  malas, suka mencontek, bahkan sampai terjerumus penggunaan narkotika, tawuran atau perkelahian antar pelajar yang kadang sampai anarkis?

Mohon kiranya pemerintah memberikan pemberitahuan sejelas-jelasnya ke masyarakat sebab musabab setiap perubahan kurikulum.

saya sebagai ibu dari anak kelas 1 SD tidak setuju dengan perubahan kurikulum tersebut. menurut beberapa info yang beredar tingkat SD mapel yang ditiadakan adalah antara lain: IPA, IPS, Bahasa Inggris, Teknologi Informatika dan Komputer (TIK). Lho kok kenapa  pelajaran yang juga penting di era kini malah ditiadakan?

Saya jadi teringat masa kecil saya saat masih duduk di bangku SD. Betapa saya sangat menikmati  masa-masa itu, sekitar tahun ajaran 1982/1983 saya mulai kelas 1 SD.  saya ingat menggunakan buku-buku mapel lungsuran/ bekas pakai kakak saya sekolah. Buku-buku tersebut saya turunkan lagi ke adik-adik saya untuk sekolah pada tahun-tahun berikutnya. Tidak seperti zaman sekarang buku-buku sering bergonta-ganti sehingga tidak bisa digunakan ke adik-adiknya pada tahun-tahun berikutnya. Saya hampir menyukai segala mapel waktu sekolah, guru Bahasa Indonesia waktu saya SD bernama Ibu Nur adalah guru yang paling berjasa menurut saya, karena beliaulah saya jadi bisa membaca. Berkat cara mengajar beliaulah saya jadi gemar membaca buku hingga kini. Kala itu buku pelajaran Bahasa Indonesia di sekolah cuma buku kecil biasa saja diawali dengan kisah Keluarga Budi, hingga kini pun aku masih ingat nama-nama saudara si Budi, ada Iwan & Wati  :-)  Buku-buku pelajaran waktu saya  SD tidak berat membebani tas dan punggung/pundak saat membawanya berangkat atau pulang sekolah, bahkan  kami berangkat dan pulang dengan berjalan kaki beriringan menyanyikan lagu Sepatu Gelang, indahnya kebersamaan kala anak.  :-) Anak-anak SD sekarang bukunya besar-besar dan tebal, satu mata pelajaran terdiri dari banyak buku ada buku materi, buku lembar Kegiatan siswa, buku tulisnya juga, minimal 1 pelajaran membawa 3 buku. Bila 1 hari ada 5 mata pelajaran bisakah dibayangkan berapa buku yang harus dibawanya dalam tas, belum lagi bila sang anak harus membawa pakaian olahraga, bekal makanan dan minuman, atau bahkan keperluan untuk kegiatan ekstra kurikuler yang biasanya berlangsung sesudah jam sekolah usai. Saya pun sebagai ibu mengeluhkan tentang hal ini, anak saya kalau pergi sekolah membawa tas seperti orang pulang kampung, tas koperbisa ditarik karena ada rodanya.Anak saya tak bisa membawa tasnya dengan cara digantung di pundak/ punggung, karena berat. Tapi permasalahannya bukan pada jumlah mata pelajarannya yang banyak, menurut saya permasalahan terletak pada buku yang tebal. Cobalah diamati buku-buku tersebut, tulisannya besar-besar, gambar-gambar juga besar.Sebenarnya bisa diringkas lagi dan lebih kreatif lagi, tulisan tak perlu besar-besar, gambar tak perlu besar-besar, buku dibuat menarik sehingga anak berminat membaca & mempelajarinya. Bila buku menjadi ukuran normal niscaya memperingan bawaan anak saat sekolah.

Tentang pelajaran IPA yang dilebur ke dalam pelajaran bahasa Indonesia saya juga tidak setuju, sangatlah beda pelajaran tentang berbahasa yang sebenarnya adalah belajar cara berkomunikasi dengan pelajaran IPA yang ilmiah, yang ada nanti malah membuat kerumitan, karena segala pelajaran adalah mudah dipelajari bila pemahaman  dasarnya sudah dicapai. Pasti berbeda pemahaman dasar tentang bahasa yang meliputi banyak unsur yang harus dipelajari, misalnya tentang, penggunaan kalimat, subjek, predikat, objek, kata sifat, kata benda, majas, pantun, puisi, belajar mengarang, dan lain-lain.Pemahaman dasar di pelajaran IPA meliputi, alam, tumbuhan, manusia, sifat-sifat ilmiahnya, proses ilmiahnya. Apakah penggabungan 2 mapel ini karena para perumus kurikulum 2013 pun menganggap Bahasa Indonesia dan IPA adalah mudah dipelajari?

Duh, jangan mentang-mentang anak Indonesia lumayan banyak yang berprestasi di olympiade sains tingkat internasional, maka menganggap IPA pelajaran gampang. Mereka itu tuh cuma sedikit jumlahnya dibandingkan anak-anak yang kurang paham sains. :-(

Tentang mapel Bahasa Inggris yang juga akan dihapuskan atau keputusan ditentukan ke pihak sekolah akan tetap diajarkan atau tidaknya. Kenapa harus begitu sih? Waktu saya SD memang tidak ada pelajaran Bahasa Inggris, mulai diajarkan saat mulai jenjang SMP. Betapa sulitnya saya dan teman-teman mempelajarinya, maklum bahasa asing, banyak pula yang tidak menyukai mapel bahasa Inggris, bahkan biasanya kalau mapelnya gak disukai maka otomatis sang murid tidak terlalu suka guru mapel tersebut. Alhasil hingga kini tidak bisa berbahasa Inggris. Sangatlah berbeda dengan anak-anak zaman sekarang, saya sering menjumpai anak-anak kampung sudah berani dan percaya diri berkomunikasi pakai bahasa Inggris ke bule, keren kan? Ini pasti gurunya bagus dalam mengajarkan bahasa Inggris. Pasti ada benarnya pendapat tentang usia dini adalah usia yang baik untuk anak belajar banyak bahasa. Tambah dewasa pasti anak itu tambah pintar lagi. Tapi bagaimana bila pelajaran bahasa Inggris dihapuskan? pastilah generasinya akan seperti generasi zaman saya, tidak banyak yg berminat atau pandai dalam berbahasa Inggris.

Tentang mapel Teknologi Informatika dan Komputer (TIK) amatlah baik diajarkan di tingkat SD. Era kini era digital, era informasi & tehnologi global sangat berpengaruh dan cepat sekali perkembangan serta perubahannya. Ada cerita tentang seorang ibu yang tidak mengerti tentang teknologi komputer sering dibohongi anaknya yang selalu berasyik ria dengan telepon genggam atau komputernya, sang ibu selalu berpikir sang anak sedang belajar padahal sedang asyik bersosialisasi online atau main game atau menjelajah video di youtube. Ada cerita pula tentang hilangnya para gadis akibat berjumpa dengan teman yang baru dikenal di facebook. Apakah kasus-kasus seperti ini yang menyebabkan mapel TIK dihapuskan? Padahal kalau dicermati pelajaran TIK itu baik dan banyak manfaatnya lho.. saya pernah melihat berita di TV tentang anak Indonesia usia Sekolah Dasar yang menjuarai pembuatan software komputer di Malaysia. Dia bisa membuat software tentang mudah belajar bahasa Inggris untuk usia dini, menggunakan animasi, banyak yang dia bisa dan bermanfaat bagi banyak orang.

Mengenai banyaknya kasus pelajar yang berperilaku negatif seperti :malas, suka kumpul-kumpul nongkrong gak jelas bahkan terjebak narkoba atau tindakan anarkis seperti tawuran, maka tidak hanya menjadi tanggung jawab sekolah semata. Peran orang tua, kondisi keluarga, lingkungan, pemuka masyarakat dan agama pun turut bertanggung jawab. Entahlah mengapa sekarang banyak orang termasuk pelajar yang mudah tersulut melakukan tindakan anarkis? Sebaiknya para guru,orangtua, pemuka agama dan tokoh masyarakat hati-hati dalam mengeluarkan pendapat atau pernyataan, jangan sampai membuat kekisruhan.
Sebaiknya setiap sekolah mempunyai seorang psikolog yang bisa menjadi tempat curahan hati para pelajar ataupun menjadi motivator bagi seluruh pelajar di sekolah. Ceramah-ceramah tentang motivasi dalam hidup ini baik pula disampaikan ke pelajar-pelajar tentunya sesuai tingkatan sekolahnya, sehingga sang anak mempunyai cita-cita dan bersemangat tuk bisa mewujudkan cita-citanya.

Melalui ini saya memohon kiranya pemerintah meninjau ulang kurikulum 2013 sebelum diterapkan. Pertimbangkan guru-guru mapel yg dihilangkan tersebut akan mengajar apa? Pertimbangkan kembali bagaimana hasilnya nanti, apakah akan terwujud Semua Anak Indonesia Pintar Bebas dari Kebodohan? Apakah negeri ini akan semakin maju atau terpuruk urutannya dalam bidang pendidikan dibandingkan semua negeri di dunia ini?.

Cukup sekian dan terimakasih tuk semua pembaca opiniku ini. Maaf tidak ada foto yaa.. menulis via telepon genggam niih.. :-P

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Bergembira Bersama Anak-anak Suku Bajo …

Akhmad Sujadi | | 17 September 2014 | 05:23

Nangkring dan Test Ride Bareng Yamaha R25, …

Kompasiana | | 09 September 2014 | 06:48

Jokowi Menghapus Kemenag atau Mengubah …

Ilyani Sudardjat | | 17 September 2014 | 13:53

Menempatkan Sagu Tidak Hanya sebagai Makanan …

Evha Uaga | | 16 September 2014 | 19:53

5 Hal yang Perlu Dipertimbangkan dalam …

Hendra Makgawinata | | 17 September 2014 | 19:50



HIGHLIGHT

[Fiksi Fantasi] Pelangi Iris …

Putri Kodok | 8 jam lalu

Kodim 1708/BN Akan Bangun 20 Unit Rumah …

David Solossa | 8 jam lalu

Daftar Nama-nama Pahlawan Indonesia Tahun …

Seneng Utami | 8 jam lalu

Perfilman Indonesia = Media …

Christian Kelvianto | 8 jam lalu

AKRAB Bersama BRI …

Muhamad Adib | 9 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: