Back to Kompasiana
Artikel

Edukasi

Edwin Jaka

TV Journalist, Nasionalist, Humanis

Olah Limbah Domestik Menjadi Air Bersih

REP | 26 December 2012 | 23:14 Dibaca: 316   Komentar: 0   0

Metode Alternatif Kurangi Pencemaran Perairan

BERAGAM metode pengolahan sumberdaya air menjadi sebuah bahan baku layak konsumsi terus dilakukan. Mengingat letak geografis Negara kita yang hampir 65 persen dikelililingi perairan. Salah satunya perairan sungai yang membelah wilayah-wilayah Propinsi, Kabupaten, dan Kota hingga bermuara pada samudera luas.

Hal tersebut dilakukan demi memenuhi kebutuhan masyarakat akan sumberdaya air yang bersih dan layak minum. Ironis memang, Negara yang dikelilingi sumberdaya air yang begitu luas, namun masih ditemukan persoalan tentang air bersih. Kenapa begitu?

Berbagai faktor menjadi penyebab terjadinya krisis air bersih. Diantaranya, kasus beban pencemaran limbah domestik yang masuk kedalam perairan. Limbah domestik sendiri termasuk penyebab terjadinya pencemaran perairan, selain limbah pembuangan dari pabrik.

Limbah tersebut masuk ke perairan dari sisa aktifitas kegiatan rumah tangga. Contoh, aktifitas mencuci, maupun sampah hasil rumah tangga yang tidak dapat diurai oleh bakteri organik didalam perairan. Sehingga membuat kondisi lingkungan perairan sungai menjadi tercemar.

Sesuai dengan teori Telaah Kualitas Air Bagi Pengelolaan Sumber Daya Alam dan Lingkungan Perairan, karya Effendi, H. 2003. Limbah domestik ini dikategorikan sebagai sumber pencemar non-point source, dapat berupa point source dalam kandungan banyak. Misal, limpasan dari daerah pertanian yang mengandung pestisida dan pupuk. Selain itu, limpasan dari daerah pemukiman (domestik) dan limpasan dari daerah perkotaan.

Padahal, sumberdaya perairan sungai maupun kali sendiri jika diolah, dapat menjadi salah satu alternatif pemenuhan air bersih bagi masyarakat. Termasuk hasil limbah domestik dari sisa kegiatan rumah tangga. Hal tersebut telah dibuktikan oleh warga Kampung Gundih, Kelurahan Bubutan, Kecamatan Bubutan, Surabaya, Jawa Timur. Masyarakat dan tokoh setempat menciptakan water treatment yang mampu mengolah hasil limbah rumah tangga, dari aktifitas mencuci menjadi air bersih. Bahkan layak minum.

Tak heran, Kampung Gundih sekarang menjadi jujugan bagi seluruh kader lingkungan Se-Indonesia untuk berbondong-bondong mencari ilmu pengolahan air limbah tersebut. Pasalnya, Kampung yang terletak di wilayah Surabaya bagian Utara ini berhasil menjadi kampung terbersih dalam ajang Green and Clean yang dihelat Unilever bekerjasama dengan pemerintah kota Surabaya, beberapa tahun lalu.

Kreasi metode pengolahan air limbah rumah tangga menjadi air bersih ciptaan warga Gundih, Surabaya ini masih terkesan konvensional. Namun, setidaknya menjadi sebuah inspirasi bagi Unilever untuk mengembangkan metode pengolahan yang lebih simpel. Metode tersebut kini telah dikenal luas dengan nama produk Pure it.

Sebagai salah satu keunggulan produk, Pure it menjadi salah satu alternatif pemenuhan konsumsi air layak minum dan sehat. Caranya cukup simpel dan efisien. Utamanya, pengolahan air mentah yang diolah dalam sebuah tabung dengan sistem filter atau penyaringan cukup modern.

Selain itu, bagian pure it sendiri memiliki prosesor pembunuh kuman, sekaligus menjernihkan air. Sehingga, air yang dikonsumsi tidak berbau, rasa alami, serta berwarna jernih. Berbeda dengan produk lain, pure it memiliki keunikan tersendiri. Diantaranya, sistem peringatan saat jika perangkat pembunuh kuman harus diganti. Yakni, mekanisme penghentian otomatis saat bekerja menghentikan aliran air, sampai dilakukan penggantian perangkat pembunuh kuman baru. (http://pureit-pemurni-air-minum.blogspot.com/p/2-keunikan-pureit.html)

Dengan metode penjernih dan penyaringan air ini, setidaknya mampu menjadi alternatif tersendiri guna mengurangi krisis air bersih. Yakni, pengolahan sumberdaya air guna menunjang keberlangsungan kehidupan rumah tangga yang praktis, ekonomis, efisien, dan menyehatkan. Bagaimana?, tertarik ingin mencoba?.(*)

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

“Bajaj” Kini Tak Hanya Bajaj, …

Hazmi Srondol | | 19 September 2014 | 20:47

Ekonomi Kemaritiman Jokowi-JK, Peluang bagi …

Munir A.s | | 19 September 2014 | 20:48

Bedah Buku “38 Wanita Indonesia Bisa“ di …

Gaganawati | | 19 September 2014 | 20:22

Kiat Manjakan Istri agar Bangga pada …

Mas Ukik | | 19 September 2014 | 20:36

Rekomendasikan Nominasi “Kompasiana …

Kompasiana | | 10 September 2014 | 07:02


TRENDING ARTICLES

ISIS Tak Berani Menyentuh Perusahaan yang …

Andi Firmansyah | 11 jam lalu

Mencoba Rasa Makanan yang Berbeda, Coba Ini …

Ryu Kiseki | 12 jam lalu

Fatin, Akankah Go Internasional? …

Orang Mars | 12 jam lalu

Timnas U23 sebagai Ajang Taruhan… …

Muhidin Pakguru | 15 jam lalu

Wajar, Walau Menang Atas Malaysia, Peringkat …

Achmad Suwefi | 17 jam lalu


HIGHLIGHT

Buzz!!! Apa Sih Maumu? …

Lipul El Pupaka | 7 jam lalu

Bersikap Bijak Ketika Harga Elpiji Melonjak …

Sam Leinad | 8 jam lalu

Kicau Cendrawasih Tersisih …

Ando Ajo | 8 jam lalu

Melihat Perjuangan Rakyat Bali Mengusir …

Herdian Armandhani | 8 jam lalu

Belajar Open Mic Matematika …

Andi Setiyono | 9 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: