Back to Kompasiana
Artikel

Edukasi

Jucky Antik

aku adalah manusia bebas. Bebas dalam beragama, bebas dalam berfikir, bebas dalam berlaku, dan bebas selengkapnya

Pendidikan (di) Luar Kelas

OPINI | 27 December 2012 | 07:01 Dibaca: 320   Komentar: 0   0

Pendidikan (di) Luar Kelas

Lahirnya konsep pendidikan di alam adalah manifestasi dari pendidikan di luar ruangan. Alam sebagai media belajar merupakan solusi ketika terjadi kejenuhan atas metodologi pendidikan di dalam kelas. Dari pemikiran inilah Walt Whitmant mencoba memperbarui metodologi itu dengan penekanan pada proses aktivitas di luar kelas. Pendidikan dan latihan di luar kelas dapat menggantikan proses pendidikan konvensional (kelas/ruangan) yang selama ini dilakukan secara masif. Akibatnya model pendidikan tersebut lebih berorientasi pada nilai-nilai kuantitatif, bukan pada proses pengenalan lebih dalam pada sumber-sumber pengetahuan.

Dalam belajar-mengajar selayaknya siswa tidak dijadikan sebagai objek ajar melainkan subjek. Otak pelajar (siswa dan mahasiswa) bukanlah botol kosong yang diisi oleh pengajar (guru dan dosen) yang di kemudian hari pelajar dituntut untuk memuntahkan segala isi dalam botol tersebut. Artinya, biarkanlah mereka berkembang sendiri dengan pemikirannya, jangan terlalu dipaksakan.

Kesalahan lainnya yaitu jika pemahaman anak cukup bagus dalam matematika dan kurang baik dalam bahasa. Orang tua cenderung memberikan pelajaran tambahan untuk pelajaran yang kurang baik tersebut. Padahal jika pelajaran yang dipahaminya yang dipupuk, tentu anak tersebut seakan mendapat dukungan dalam pelajaran yang disenanginya.

Teori reward dan punishment juga penting. Siswa atau mahasiswa yang berprestasi harus diberi reward agar mereka menjadi lebih semangat dalam belajar. Apalagi mahasiswa, konsep ceramah dalam ruangan sangat membosankan. Mahasiswa lebih suka kebebasan, seperti kuliah di taman kampus atau di kantin kampus. Untuk itu sebagai pengajar harus lebih kreatif dalam pengajarannya.

Dalam mata kuliah tertentu, semisal bahasa dan budaya. Lebih baik jika proses pembelajaran bahasa diadakan di lab. bahasa. Pada mata kuliah kebudayaan diadakan di museum-museum terdekat. Dengan begini, selain mahasiswa tidak bosan dalam kelas juga mendapatkan pengetahuan. Apakah tidak membosankan belajar dalam ruangan? Bukankah sangat lama kita belajar dalam kelas? Mulai dari jenjang PAUD, TK, SD, SMP, SMA, hingga sekarang, Perguruan Tinggi pun juga dalam ruangan. Sungguh membosankan.

Semarang, 27 Desember 2012

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Siapa Berani Dihisap Lintah? Yuk ke Ciseeng! …

Taufikuieks | | 29 March 2015 | 11:07

Write or Die! [Bedah Buku Rahasia TOP …

Gapey Sandy | | 29 March 2015 | 12:59

Ayo Rekatkan Budaya Bersama Taman Mini …

Kompasiana | | 06 March 2015 | 18:03

Setelah Waktu Fajar Telah Memanggil …

Edy Priyatna | | 29 March 2015 | 10:57

10 Mitos Ini Ada Benarnya Juga …

Wahyu Triasmara | | 29 March 2015 | 08:10


TRENDING ARTICLES

Istriku, Jilbab Itu Kewajiban, Lhoo! Bukan …

Ando Ajo | 8 jam lalu

Menyayangkan Tayangan Kematian Olga …

Abd. Ghofar Al Amin | 8 jam lalu

Ridwan Kamil Gerah Dibanding-bandingkan …

Amirsyah | 10 jam lalu

Golongan Pemimpin di Dunia tentang Kebiasaan …

Daniel H.t. | 10 jam lalu

Ahok, Ada Apa Denganmu …

Desi Ratnasari | 11 jam lalu


Subscribe and Follow Kompasiana: