Back to Kompasiana
Artikel

Edukasi

Purniadi

Ingin Menjadi Agen Pembelajaran yang Profesional

Kurikulum Baru Tematik Integratif Menantang Guru

REP | 28 December 2012 | 00:13 Dibaca: 885   Komentar: 0   0

Kementerian pendidikan dan kebudayaan mencanangkan kurikulum baru yang belum diterapkan pada juni 2013.  Menurut informasi yang beredar kurikulum baru memberikan tekanan pada pembentukan karakter yang mulia. Agar kompetensi lulusan tercapai, mata pelajaran di SD dan SMP dikurangi. Di SDN 10  mata pelajaran dikurangi menjadi 6 mata pelajaran dan SMP 12 mata pelajaran menjadi 10 mata pelajaran. Pada mata pelajaran IPA dan IPS SD di integrasikan pada mata pelajaran Bahasa  Indonesia, PKn, dan Matematika. Maka dalam hal ini untuk mencapai kompetensi yang diperlukan penambahan jam pelajaran dari 26 jam menjadi 30 jam perminggu.

Bagian mendasar pada kurikulum 2013 terletak pada standar kompetensi lulusan. standar isi, standar proses dan standar penilian. Standar kompetensi lulusan memperhatiak tentang pengembangan nilai, pengetahuan dan keterampilan integratif. Dalam standar isi dikembangkan dengan menggunakan tematik integratif. Jadi guru disini harus bisa mengembangkan pembelajaran aktif, kreatif, inovatif dan menyenangkan sesuai dengan lingkungan kehidupan keseharian siswa yang akan disajikan dalam proses pembelajaran.

Dalam kurikulum 2013 ini guru dituntuntut harus kreatif, dalam mengajar. kretifnya seorang guru tentu bisa menuntut peserta didik harus kreatif, ya, tidak masuk akal kan kalau peserta didiknya disuruh kreatif tapi gurunya tidak kreatif , tidak wajar kw begitu. Peserta didik yang kreatif hanya akan lahir pada guru yang kreatif dan mampu menggunakan media pembelajaran. Dalam hal ini guru itu harus bisa mencari informasi-informasi untuk menciptakan pembelajaran yang aktif, kreatif, inovatif dan menyenangkan. informasi itu guru bisa dapatkan lewat membaca,  internet, diskusi, seminar dan lain-lain. Di ere kurikulum yang baru ini siswa tidak lagi disuruh menghafal setiap materi mata pelajaran dan kemudian mengujikannya. Setiap peserta didik itu harus bisa mengeksplorasi pengetahuan dan mengembangkannya untuk menjadi kekayaan mereka. Jadi peranan guru disini mengajak peserta didik untuk belajar menganalisis apa yang di alaminya.

Kurikulum yang baru mengandung kekhawatiran yang sama. Kurikulum hanya bagus di dataran konseptual tapi lemah di implementasinya. Mengubah guru menjadi partisipati proaktif tidak lah mudah. Kurikulum yang baru ini menambah beban berat pundak guru. Ketika jumlah mata pelajaran di kurangi tapi jam pelajaran ditambah guru harus profesional dalam menjalankan tugasnya.  Dalam temtatik integratif guru  guru dituntut bukannya hanya sekedar menguasai mata pelajaran tapi  harus bisa mengintegrasikan antar mata pelajaran. Guru harus cakap tidak hanya menggabungkan tetapi harus mengintegrasikan.

Proses dalam memahami kurikulum yang baru itu tidaklah mudah seperti membalikkan telapak tangan, tetapi harus melewati proses yang panjang. Tidak terbayangkan  dalam waktu yang relatif singkat adanya perubahan kurikulum baru ini membuat  beban seorang guru dalam mengimplementasikannya. Pelatihan-pelatihan yang diberikan minim, hanya mengharapkan dari informasi seorang kepala sekolah, itu pun kalau kepala sekolahnya bisa memberikan arahan kepada guru-guru sekolah tersebut kalau tidak maka sebagian tidak akan terlaksana. Dalam hal ini guru merupakan ujung tombak yang sangat besar dalam mencerdaskan kehidupan bangsa, pergantian kurikulum baru tidak akan bermakna jika guru-gurunya tidak memiliki kompetensi profesional.  Mudah-mudahan guru di indonesia tetap tegar dan sabar dalam mendidik putra-putri bangsa untuk menuju insan-insan yang luar biasa.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Nangkring Bareng Pertamina …

Maria Margaretha | | 29 August 2014 | 23:37

BBM Naik Kenapa Takut? …

Mike Reyssent | | 30 August 2014 | 00:43

5 Polusi Rumah yang berbahaya selain Rokok …

Hendrik Riyanto | | 30 August 2014 | 04:53

Jokowi-JK Berhentilah Berharap Tambahan …

Win Winarto | | 29 August 2014 | 22:16

Blog Competition Smartfren: Andromax yang …

Kompasiana | | 18 August 2014 | 20:22


TRENDING ARTICLES

Jogja Terhina, France Tidak Perlu Minta Maaf …

Nasakti On | 9 jam lalu

Rising Star Indonesia, ‘Ternoda’ …

Samandayu | 9 jam lalu

Yogya, Kamar Kos, dan Segarnya Es Krim Rujak …

Wahyuni Susilowati | 14 jam lalu

Doa untuk Mas Vik …

Aiman Witjaksono | 16 jam lalu

Kejadian di SPBU yang Bikin Emosi… …

Ryan M. | 20 jam lalu


HIGHLIGHT

London in a Day on Foot …

Fillia Damai R | 8 jam lalu

Jogja Miskin, Bodoh, Tolol dan Tak …

Erda Rindrasih | 8 jam lalu

Mengintip Sekelumit Catatan Umar Kayam …

G | 9 jam lalu

5 Polusi Rumah yang berbahaya selain Rokok …

Hendrik Riyanto | 10 jam lalu

Tentang Mengusahakan Jodoh …

Adin_noel | 11 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: