Back to Kompasiana
Artikel

Edukasi

Bernadetta

Mahasiswa Sosiologi Antropologi Universitas Sebelas Maret Surakarta yang bercita - cita menjadi seorang Violis ^_^)/ Belajar selengkapnya

Agama Hindu

REP | 01 January 2013 | 03:04 Dibaca: 10694   Komentar: 2   3

Kalau ada teman - teman yang sedang bingung untuk membuat makalah mengenai agama hindu, teman- teman bisa baca tulisan dibawah ini.

khususnya buat teman - teman yang mendapat tugas mata kuliah Antropologi Religi, bisa baca juga nih :D

tapi sumbernya juga diambil dari buku dan sumber internet yang lainnya . selamat membaca .

AGAMA HINDU

A. LATAR BELAKANG

Hindu agaknya berasal dari nama sungai di Pakistan bernama “Shindu” yang diucapkan menjadi ‘Hindu’ oleh orang Parsi. Agama ini sudah lama di india sebagai agama campuran antara bangsa ‘dravida’ yang sudah tinggi kebudayaannya dan bangsa arya. Agama ini sering disebut Sanata Dharma (Agama yang kekal) atau Waidika Dharma (agama yang berdasarkan kitab-kitab Weda).

Perkembanganagama Hindu menjadi 5 periode yaitu: 1. Masa Weda Samhita (1500-1000SM); 2. Masa pengaruh Brahmana (1000-750SM); 3. Masa Upanisad (750-500SM); 4. Keagamaan Budha (500SM-300M); 5. Masasejak abad 3 sampai sekarang.

Masuknya agama Hindu masih belum pasti, namun diperkirakan pada awal tahun Masehi. Pada abad ke-4 ditemukan 7 Yupa di Kutai, Kalimantan Timur. Kemudian abad ke-5 berkembang di Jawa Barat di bawah Raja Punawarman diketahui dari prasasti Ciaterum yang ditemukan di daerah Bogor.

Dari prasarti Canggal tahun 654 di Jawa Tengah yang dikeluarkan Raja Sanjaya dikatakan adanya pemujaan Dewa Wisnu, Dewa Siwa dan Dewa Brahma. Dari prasasti Dinaya (682 Saka) di Kanjuruan, Jawa Timur, telah dilakukan upacara agama Hindu besar-besaran. Selanjutnya Empu Sendok (929-947) pemuja dewa Siwa membangun dinasti Wamsa Isana, dan penggantinya yaitu Raja Dharmawangsa, disusunlah kitab-kitab hukum Hindu ‘Purwadigma’ yang bersumber pada Vidasmrti.

Kekuasaan Airlangga di Medang Kemulan, agama Hindu pesat perkembangannya. Zaman kediri (1042-1222) banyak sastra Hindu yang terbit. Pada kekuasaan Ken Arok (1222-1292) berdiri candi-candi. Berakhirnya Singosari digantikan Majapahit berarti jaman keemasan agama Hindu dengan candi Penataran yang terbesar dengan kitabnya Negarakertagama. Agama Hindu sudah masuk ke bali lewat jawa timur beriringan dengan agama Budha Mahayana.

B. PENDIRI DAN PEMBAWA AGAMA Hindu

Agama ini turun kepada beberapa Maha Rsidalam jarak waktu ribuan tahun antara satu dengan yang lain. Proses turunnya wahyu tidak diketahui. Wahyu-wahyu tersebut diterima dengan jalan ‘meditasi’yaitu kemampuan meyelamatkan akal pikirannya sehingga ia disebut ‘Muni’, dengan jalan ‘bertapa’ melalui beberapa fase dalam waktu lama untuk melihat kebenaran, dengan ketenangan, perenungan dan pandangan yang mendalam dan dasar, dalam arti mengalihkan kekuatan-kekuatan batin,tenggelam ke dalam penghayatan dan perenungan yang khusyuk.

Menurut agama Hindu, para Rsi/Muni melakukan meditasi dalam waktu yang lama sehingga ia mampu menafsirkan dan menjelaskan ajaran Hindu secara rinci. Ada tujuh Maharesi (Sapta Rsi), yaitu Maharesi Grtsamada, Wismamitra, Wamadewa,Atri, Bharadwaja, Washitan dan Maharesi Kanwa atau Rsi Panini (penulis Astadhyayi), dsb. Karena perbedaan penafsiran, maka timbul berbagai mahzab filsafat agama yang disebut ‘Darsana’ yaitu para ‘Ghuru’ atau ‘Acarya’. Apa yang mereka lihat, dengar dan ingat, kemudian dikumpulkan menjadi ‘Smrti’. Para Rsi dan pengikutnya disebut ‘Arya’ atau ‘Sista’ (orang-orang yang sangat taat).

Dengan demikian, yang merupakan salah satu sumber agama Hindu adalah para Rsi atau Maharesi yang tidak jelas latar belakangnya.

C. KITAB-KITAB AGAMA Hindu

Karena Hindu merupakan agama campuran, maka kitabnya juga bermacam-macan dan yang menjadi pedoman pokok adalah Weda yang dalam bahasa sansekerta berarti ‘mengetahui’.

1. Rig Weda

Kitab ini berisi pujian (Rig : memuji) kepada para Dewa dalam bentuk hymne (kidung) yang terdiri dari 10 mandala (kitab) yang berisi 10.552 sukta (lagu mudah). Kidung itu kemudian menjadi mantera-mantera atau do’a-do’a dalam upacara. Kitab ke-X memuat corak filsafat pertama agama Hindu yang mengisyaratkan mengenai ‘monotheisme’, di mana terdapat Dewa Prajapati sebagai Yang Maha Pencipta. Selain itu ia memuat tentang perlakuan pada orang mati.

2. Sama Weda dan Yayur Weda

Sama Weda serupa dengan Weda yang menekankan pada irama musik. Terdiri dari 1875 bait mantera berupalagu yang diiringi irama musik dan dilakukan para pendeta yang disebut ‘Udgah’ ketika melaksanakan upacara korban. Jadi ‘Udgah’ atau ‘Udgatar’ adalah pendeta khusus yang berbeda dengan Brahmana.

Yayur Weda memuat 1975 mantra, yang biasa diucapkan dalam upacara kecil. Menurut kepercayaan mereka rapal-rapal dari Yayur Weda dapat mengubah benda korban menjadi sakral dan dapat diterima oleh para dewa.

Dalam kitab, telah diuraikan semuanya mengenai korban, namun dalam prakteknya berbeda, upacara berpusat di sekitar api kemudian semua korban dilemparkan ke api unggun dengan maksud agar para dewasenang.

3. Atharwa Weda

Merupakan kumpulan mantra yang banyaknya 5987 mantera berasal dari kitab Rig Weda. Mantra tersebut berisi do’a sehari-hari sebagai tolak balak. Menurut kitab ini, dunia dipenuhi roh-roh dan hantu-hantu orang yang sudah mati. Perlu adanya upacara korban untuk menangkal kekuatan-kekuatan alam yang dahsyat. Namun juga terdapat uraian tentang Tuhan Yang Maha Esa, sebagaimana yang dikatakan dalam Atharwa Weda XIII:4, yang artinya:

Kepada ia yang mengetahui ini Tuhan semata-mata hanya tunggal. Tidak ada yang kedua, ketiga, keempat ia dipanggil. Tidak ada kelima, keenam, ketujuh ia dipanggil. Tidak ada yang kedelapan, kesembilan ia dipanggil. Iamelihat segala apa yang bernapas dan apa yang tidak bernapas. KepadaNyalah tenaga penakhluk kembali. Ia hanya Tunggal, Tunggal belaka, Padanya semua Dewa hanya satu saja’ (I Gede Sura, cs.1:22)

4. Kitab Brahmana

Merupakan kitab yang disusun para brahmana sekitar abad 8 S.M. Kitab ini merupakan keterangan tentang daya kekuatan korban dan sesajian. Penjelasan itu disertai mitos dan legenda tentang manusia dan para Dewa dengan ilustrasi ritus korban. Pada akhir bagian kitab ini terdapat tambahan tentang ‘Aranyaka’ yang isinya renungan mengenai korban sehingga dianggap sakti (Aranya : hutan)

Selain itu ada kitab ‘Wedangga’ yang merupakan hasil pemikiran para Rsi yang isinya juga semua hal mengenai korban. Sesungguhnya, ‘Wedangga’ merupakan kitab yang enam, yang disebut ‘Sad-Wedangga’, terdiri dari; ‘Siksa’ (ilmu Phonetika); ‘Wyakarana’ (Ilmu Tatabahasa Sansekerta); ‘Nirukta’ (Ilmu etinologi); ‘Chanda’ atau ‘Chandasastra’ (Ilmu Prosodi dan irama); ‘Kalpasastra’ (pedoman upacara); dan ‘Jyotisha’ (astrologi dan astronomi).

Termasuk dalam Sad-Wedangga tersebut yang berkedudukan penting bagi masyarakat Hindu adalah ‘Manawa Dharmacastra’ atau ‘Manu Dharmacastra’, atau Weda Smrti yang merupakan compendium hukum Hindu.

Terdapat pula kitab penunjang ajaran Weda, ialah kitab-kitab Upaweda yang teridir dari kitab ‘Ayur Weda’ (tentang pengobatan dan ilmu kesehatan); ‘Dhanurweda’ (tentang perang dan ilmu senjata); ‘Gadhar-wa-Weda’ (kesenian, seni tari, musik, seni arca, arsitektur dll); ‘Arthasastra’ (ilmu politik, administrasi negara, dan kepemimpinan)

5. Kitab Itihasa dan Purana

Selain kitab-kitab ‘Smrti’ (tafsir) terhadap Sruti (wahyu), terdapat pula kitab-kitab yang disebut ‘Itihasa’ yang merupakan ‘Wiracarita’ atau Ephos kepahlawanan dan ‘Purana’ yang memuat cerita-cerita kuno. Termasuk ke dalam Itihasa adalah kitab-kitab seperti Ramayana, Mahabarata, Yogawisata, dan Hari Wangsa.

Kitab Ramayana yang digubah oleh Maha Rsi Walmiki terdiri dari tujuh buah ‘kandha’ (buku) yang memuat sekitar 24.000 syair. Sedangkan kitab Mahabarata yang digubah oleh Maha Rsi Wyasa, terdiri dari 17 ‘parwa’ (buku) yang menceritakan peperangan Pandawa dan Kurawa. Di dalam kitab Purana terdiri dari 18 buku, yang menguraikan cerita-cerita kuno tentang penciptaan dunia dan silsilah raja-raja yang memerintah dunia.

6. Kitab Agama dan Darsana

Kitab-kitab agama menguraikan tentang pemujaan kepada Tuhan dalam cara dan manifestasi tertentu. Kitab ini terdiri dari 3 macam, yaitu

a. Saiva Agama yang mengajarkan tentang pemujaan Siwa sebagai Tuhan Yang Maha Tinggi dalam berbagai wujud.

b. Vaisnawa Agama, Tuhan dipuja sebagai Wisnu

c. Sakta Agama, Tuhan dipuja sebagai Dewi, Ibu Dunia sebagai Sakti.

Kitab-kitab agama yang lain khusus mengajarkan filsafat Hindu pada umumnya termasuk dalam kelompok kitab-kitab Darsana. Kelompok Darsana ini mengakui otoritas kitab-kitab Weda dan mendasarkan ajarannya kepada Upanisad. Ada enam kitab Darsana yang disebut ‘Sad Darsana’.

7. Kitab Upanisad.

Kitab ini merupakan kitab weda yang termuda usianya. Istilah upanisad mengandung arti ‘duduk dekat’ (upani, dekat, sad : duduk)yang dimaksud duduk di dekat guru untuk menerima ajaran yang lebih tinggi. Kitab upanisad ini berbentuk dialog antara guru dengan murid, atau antara brahmana dengan brahmana yang lain.

Selain itu ia mengandung pemikiran filsafat tentang arti dan tujuan hidup, tentang hakikat manusia dan alam semesta, tentang konsep brahma dan atman yang tidak lagi bersumber dari brahmana dan malahan menentang kekuasaan mutlak kependekatan serta mengutuk keras tentang nilai korban dan ritus-ritus yang diselenggarakan oleh brahmana. Dalam kitab-kitab agama brahmana pengertian brahmanan berarti do’a, kemudian diartikan kekuatan ghaib yang terkandung dalam do’a. sehingga korban dan do’a sangar tinggi nilainya, maka arti brahman menjadi sangat tinggi pula. Lain halnya menurut ajaran Upanisad, disini Brahman merupakan sebab adanya dan berlangsungnya semua yang ada.

Jelas bahwa upanisad mengajarkan munisme yang idealistis, bahwa segala sesuatu dapat dikembalikan kepada satu asas. Asasnya ialah Brahman dan Atman, Brahman adalah alam semesta dan Atman adalah asas manusia. Jadi Brahman sering dianggap dewa yang tertinggi, dewa dari segala dewa, tuhan dari segala tuhan. Dalam perkembangannya kemudian timbul anggapan bahwa para dewa adalah penjelmaan dari Brahman.

Upanisad juga mengajarkan tentang ‘samsara’, yaitu perputaran kembali. Kemudian tinggi rendahnya kehidupan bergantung pada ‘karman’. Perilaku perbuatan yang lebih banyak baiknya dari buruknya, akan menimbulkan karman yang baik dalam kehidupan baru melebihi dari kehidupan sebelumnya.

Untuk dapat lepas dari ikatan samsara, seseorang harus menumpasnafsu keinginanya, dengan mengetahui bahwa Atman adalah Brahman, sehingga ia sampai dapatmencapai pengetahuan yang sejati atau ‘jnana’dan selanjutnya akan mencapai ‘moksa’ yaitu kelepasan dan kesadaran bahwa segala sesuatunya adalah satu, dalam arti bersatu dengan Brahman, maka ia disebut ‘jiwan mukta’.

Tentang hal karma menurut Upanisad, bahwa segala sesuatu didunia ini, baik manusia, binatang atau tumbuh-tumbuhan tunduk pada karma. Oleh karena karma itu meliputi kehidupan yang lampau,sekarang dan kelak. Jadi karma dalam arti kehidupan dan perbuatan yang kemudian adalah akibat perbuatan sebelumnya (Alef theria Wasim, Agama-Agama diDunia 1988;75)

D. KEPERCAYAAN DALAM AGAMA HINDU

Pokok-pokok kepercayaan (keyakinan,iman) dalam agama hindu dapat dibagi dalam lima bagianyang disebut ‘panca sraddha’ atau lima kepercayaan, percaya pada tuhan yang maha pencipta (Bali : sang hyang widhi), Atman, karma phala, punarbawa dan moksa. (IGede Sura CS, 1987 : 1-8dan seterusnya). Inti dalam agama hindu adalah, pengakuan terhadap kitab-kitab weda sebagai wahyu yang mutlak kebenaranya, kepercayaan terhadap dharma, pengakuan supremasi para brahmana, penerimaan system kasta serta memenuhi kewajiban ritual, kesusilaan dan social yang bersangkutan dengan itu dan kepercayaan akan ‘sangsara dan karma’ (Hassan shadily Enskl.Ind. 1980:106)

1. Kepercayaan kepada Tuhan dan Dewa-dewa

Umat hindu percaya bahwa yang kuasa atas segala yang ada dan tidak ada yang luput dari kuasaNya, adalah Tuhan Yang Maha Esa. Karena tuhan tidak terjangkau oleh pikiran, maka orang membayangkannya bermacam-macam menurut kemampuannya. Ia disebut Agni, Yama dan Matariswan (Rig weda I, 164:44), ia dipanggil Brahma sebagai pencipta, Visnu sebagai pemelihara.

Dari Rig weda terbukti bahwa bangsa Arya adalah menyembah berbagai macam Dewa yang dianggap sebagai personifikasi dari kekuatan Alam dan kekuatan Ghaib, yang menguasai semua kejadian dan peristiwa.

Dewa Indra adalah dewa yang terpenting yang dianggap raja dari segala dewa, yang disebut ‘Surapati’ atau ‘Vrtrahan’. Dia adalah dewa hujan yang bersenjatakan petir, dia adalah dewa langit yang mengumpulkan awan dan dia adalah dewa kemenangan. Sebagai dewa hujan (Vrtrahan dialah yang membunuh ‘Naga Vrta’ yang menyembunyikan air dalam gua selama musim kemarau. Dewa Indra ini dapat memperdaya ‘Rta’ (tata moral, keadaan normal), tetapi ia suka minuman keras (air suma, dia selalu membanggakan diri dengan keagungannya, karena dialah yang melepaskan air kesamudra, pemberi hidup dan perjalanannya selalu memperkaya kehidupan dan kesuburan tanah.

Dewi Agni (Dewa Api) adalah juga dewa yang terpenting dan dianggap sebagai perantara manusia dan dewa-dewa, karena dia penerus pujian-pujian dan korban bakar kepada para dewa, dan dia juga yang mendatangkan para dewa ketempat-tempat sesajian dengan bunyi-bunyian dalam api. Disetiap rumah orang Hidu biasanya mempunyai tiga macam api yaitu api untuk upacara harian, api untuk upacara tengah bulanan dan api untuk pemujaan arwah leluhur. Disamping itu ada upacara setiap empat bulan sekali dan upacara pengangkatan altra api yang disebut ‘Agni Cayana’.

Dewa Soma adalah dewa minuman keras soma yang didapat dari perasan tumbuh-tumbuhan soma dalam upacara korban soma dituangkan sebagai persembahan kepada para dewa.

Dialam perkembangannya soma bukan hanya disamakan dengan kekuatan tetapi juga dipersonifikasikan dari bulan yang selanjutnya disamakan dengan ‘Dewa Waruna’ yang berkuasa disurga dewa waruna ini juga disebut Aditya atau dewa kebaikan dikarenakan tugasnyalah maka jalannya tata surya, musim silih berganti, teratur. Untuk menjaga tata tertib alam tersebut maka perlu adanya upacara korban dan sesajian

2. Kepercayaan kepada Jiwa dan roh-roh

Umat hindu percaya segala sesuatunya hidup bergerak karena ada ‘Atman’(jiwa). Jika Atman lepas dari tubuh maka manusia mati, jasadnya hancur. Atman yang menghidupi badan disebut ‘Jiwat Man’(nyawa). Jiwat Man itu dipengaruhi oleh ‘karma’(perbuatan)nya didunia maka Atman itu tidak selalu dapat kembali keasalnya yaitu para Maatman. Jiwat Man orang yang baik akan terus kesurga sedangkan yang buruk akan keneraka dan mendapat seksaan( I Gede Sura 1987:10)

Menurut Weda kuno selain para dewa ada pula roh-roh jahat. Roh-roh jahat itu ada yang tinggi kekuasaannya ada yang rendah. Roh jahat yang tinggi kekuasaannya misalnya yang menguasai musim kemarau yang panjang adalah musuh dari Dewa Indra roh jahat yang kurang kekuasaannya adalah raksa dan pisaca sering menampakkan wujudnya seperti manusia atau binatang sedangkan pisaca pemakan bangkai, selain itu masih ada roh-roh halus seperti gandaruwo, yaksa, bhuto, raksasa dan juga para arowah leluhur. Menurut Weda arowah-arowah leluhur adalah arowah manusia yang mati yang jiwanya tidak diterima disurga dan masih gentayangan dalam keadaan menderita. Arowah yang gentayangan disebut preta yang suka mengganggu anak cucu yang masih hidup terutama yang lelaki untuk membantu arowah tersebut kealam Pitara atau surga para anak cucu perlu mengadakan upacara-upacara persembahan dan korban.

3. Kepercayaan kepada Karama, Samsara, Moksa.

Umat hindu percaya pada adanya karma-palha(karma : perbuatan, pala : ganjaran) perbuatan yang baik akan mendapat ganjaran yang baik, perbuatan yang buruk akan mendapat ganjaran yang buruk. Tetapi pahala kebahagiaan itu tidak selalu dapat dirasakan atau dinikmati begitu pula setiap perbuatan akan meninggalkan bekas yang nyata atau tidak nyata. Bekas-bekas perbuatan ini dinamakan ‘karma Wasana’didalam kitab wrhaspati Tattwa, 3.

Kemudian umat hindu percaya pada kelahiran kembali yang disebut Punarbhawa atau samsara. Jiwat Man atau roh dari orang mati tidak selamanya berada di neraka atau disurga, karena ia akan lahir lagi kedunia. Bagaimana kelahirannya itu tergantung pada karma wasananya (perbuatannya). Kelahiran kembali ini merupakan kesempatan untuk memperbaiki diri agar bias menuju nirbana padha, yaitu Muksa atau alam kelepasan.

Selanjutnya umat hindu percaya pada Muksa yang artinya kelepasan. Inilah tujuan akhir penganut agama hindu. Apabila arowah manusia telah mencapai Muksa maka ia tidak lahir kembali ke muka bumi, karena tidak adaa sesuatu pun yang mengikatnya. Ia telah bersatu dengan Paramatma yaitu Atman yang tertinggi, tuhan yang maha esa atau Sang Hyang Widhi. Jadi ia telah Amoringacintya yang artinya lebur dengan tuhan masuk kedalam tuhan. Jadi suatu kebahagiaan Tan Pawali Duka yang tidak ada persamaannya didunia oleh karena tuhan tidak dapat dipikirkan, maka demikian pula roh yang telah bersatu kedalam tuhan, tidak lgi dapat dipikirkan.

4. Pengertian Rta dan Dharma

Didalam agama hindu ada beberapa pengertian yang kaitannya dengan kepercayaan yaitu pengertian tentang Rta dan Dharma. Istilah Rta artinya pergi, kemudian berubah dalam arti taata tertib. Didalam kitab weda kata Rta berarti tata tertib alam kosmos, yang dianggap sebagai pencerminan dari adanya daya kekuatan dan daya kekuasaan yang menciptakan dan mengaturnya. Kita liha peredaran tata surya, matahari, bulan dan bintang-bintang yang tetap dan teratur. Hal ini berlaku tertib karena ditetapkan dan diatur oleh dewa waruna yaitu dewa yang tertinngi yang maha pencipta, dalam hal ini disebut Rtawan. Didalam Rig Weda VIII 25.8. artinya : ‘mereka(Mitra dan Varuna) pengatur Rta, amat kuasa mereka menempatkan dirinya untuk kekuasaan pahlawan yang gagah berani yang hokum-hukumnya tegak berdiri. Mereka adalah penjaga alam semesta ini’.

maka manusia harus juga tunduk kepada Rta, jadi apa bila manusia mengikuti Rta maka segala apa yang dirasakan, dilihat, didengar dilingkungannya akan ditanggapi sebagai sesuatu yang indah manis dan nikmat. Bagi umat hindu Rta terserap dalam Satya(kebenaran) bersama dengan darma sehingga merupakan suatu keyakinan yang penting. Rta adalah pencerminan dari daya kekuatan yaitu dewa (dewa waruna) maka keberlangsungannya harus di jaga, oleh karenanya manusia janganlah berbuat dosa, Karen berbuat dosa berarti melanggar Rta dan menentang kekuasaan tuhan. Rta dalam arti ketertiban alam yang menunjukkan adanya kekuatan tuhan yang harus dihormati, dalam kaitannya dengan kepercayaan yaitu dharma,pengertiannya adalah segala sesuatu yang membantu manusia untuk mendapat kebahagiaan dalam hidupnya sebagai anggota masyarakat. Dengan demikian Dharma adalah aturan yang harus diikuti, kodrat yang telh ditentukan. Untuk jelasnya dikatakan dalam santi parwa 109.11 yang artinya: ‘Dharma dikatakan datang dari Dharana yang artinga memangku atau mengatur , dengan dharma semua makhluk diatur(dipeliharaa)’.

Kemudian dikatakan dalam mahabarata 2.28 yang artinya semua alam tumbuh-tumbuhan dan binatang diatur oleh dharma dalam santiparwa 259:26 yang artinya kesentosaan umat manusia dan kesejahteraan masyarakatdatang dari darma laksanakan budi luhur untuk kesejahteraan manusia itu darma yang utama.

Pengertian darma mencakup jangkauan yang lebih luas sebagaimana dikatakan dalam Wraaspati Tattwa 25 yang artinya: ‘sila artinya melakukan perbuatan baik, yajna artinya melaksanakan upacara korban(Homa), tapa artinya mematikan Indria, tidak diberikan menikmati obyeknya dana artinya memberikan sedekah, prawrjya artinya pendeta yang bijaksana(suka mengembangkan ilmu kerohanian), bhiksu artinya melakukan upacara diksa (pensucian pribadi), yoga artinya melaksanakan samadi. Dari uraian tersebut maka agama hindu disebut Hindu Dharma, karena Dharma mengatur manusia untuk mendapatkan kebajikan dan kebahagiaan sehingga manusia akan dapat mencapai Muksa.

5. Asrama, Marga dan Warna.

Ada tiga hal yang walaupun tidak termasuk dalam kelompok kepercayaan agama hindu tetapi menyangkut tentang kehidupan masyarakat hindu yaitu tentang asrama, marga dan warna.

a. Asrama

Tingkat kehidupan masyarakat agama hindu harus melalui empat jenjang yang disebut catur asram yang terdiri dari Brahmacari, Grhastha, Wanaprastha, dan Bhiksuka. Sebelumseseorang memasuki empat jenjang itu ia harus lebihdahulu menjadi Dwija, artinya denga resmi memasuki warna(kasta) dan siap untuk menjadi Brahmacarin:

ü Brahmacari Asrama

Yaitu tingkat kehidupan pertama adalah masa hidup berguru, dimana seseorang meninggal kan rumah untuk datang berguru kepada seorang guru agama. Tingkatan ini disebut juga asewake guru atau aguron-guron yaitu masa belajar. Selama mengikuti pelajaran agama murid harus tunduk kepada guru dan mencari makan sendiri dengan cara meminta-minta, ia harus berdudi pekerti luhur dan melakukan segala kebajikan. Apabila telah selesai berguru ia kembali ketempat orangtuanya untuk memasuki tingkat kehidupan yang kedua yaitu Grhastha Asrama.

ü Grhastha Asrama

Tingkat kehidupan ini melakukan perkawinan agar mendapatkan keturunan perkawinan harus syah dilakukan dirumah dihadapan Brahmana atau Pandita kedua mempelai melangkah tujuh kali kearah timur laut dan diperciki air suci sambil memegang tangan istri sisuami membaca mantra kemudian membawa api suci yang harus tetap dipeliharanya dirumah. Dalam rumah tangga seorang Grhastin berkewajiban antara lain :

Ø melanjutkan keturunan yang baik

Ø melaksanakan pancayajna(lima upacara persembahan dan korban)

Ø membina rumahtangga yang rukun bergaul yang baik dalam kehidupan masyarakat sampai memasuki jenjang masa wanaprasta asrama.

ü Wanaprastha Asrama

Ini adalah jenjang kehidupan yang ketiga dimana manusia memulai masuk kemasa tua, yaitu suatu masa menyadari diri sudah mulai tua, maka perlu untuk mengasingkan diri dari kehidupan duniawi. Untuk itu ia mulai menyerah kan tanggung jawab kehidupan keluarganya kepada anak cucunya yang telah dapat berdiri sendiri. Ia dan istrinya menyingkir ke hutan (wana) atau pegunungan yang sepi untuk mencari dan menemukan kenikmatan kerokhanian sehingga menjadi bhiksuka yang bersih dari pikiran dan perilaku keduniawian.

ü Bhiksuka Asrama

Jenjang kehidupan yang keempat ini yang terakhir dimana seseorang menjadi bhiksuka ia telah dapat meninggalkan sama sekali masalah kehidupan duniawi ia telah menjadi’sanyasin’ dengan jalan pertapaan, dimana ia hanya memikirkan dan berperilaku keagamaan semata-mata untuk dapat mencapai kehidupan abadi bersatu debgan tuhan( Muksa).

b. Marga

Dalam Agama Hindu, terdapat empat cara dalam usaha manusia untuk menghubungkan dirinya dengan Tuhan, atau para Dewa dan Batara.

ü Bhakti Marga

Merupakan cara berhubungan dengan Tuhan, para Dewa, atau Batara yang dilakukan dengan cara bersujud bhakti, menyucikan pikiran, mengagungkan kebesaran. Adapun sarananya misalnya Arca, Pratisna, Murti Puja, padmasana, meru, prasada, candi, pura, wali, upakara, upacara dll.

Di dalam Bhagavadgita XVIII, 65 yang artinya:

“Pusatkan pikiranmu kepada Ku, taat setialah kepada Ku, berkorbanlah kepada Ku, sujudkanlah dirimu kepada Ku, Aku berjanji pada Mu dengan sebenarnya karena engkau tercinta kepada Ku”

Orang yang melakukan bakti dinamakan Bhakta. Kemudian yang sudah sempurna, tidak melihat persembahyangan di tempat sembahyang saja melainkan telah merasakan Tuhan ada di semua tempat (I Gede Sura cs. 1987, II.6).

ü Karma Marga

Adalah usaha menghubungkan diri dengan Tuhan, para Dewa atau Batara dengan cara kebajikan dan keikhlasan dalam melaksanakan pekerjaan. Di dalam Bhagavadgita IV: 19, yang artinya:

“Orang yang bekerja, bebas dari nafsu dan keinginan yang karmanya telah dibakar api kebijaksanaan, dialah yang disebut arif bijaksana”

Dalam Svetasvatara Upanisad VI.4, artinya:

“Siapa melakukan pekerjaan sesuai dengan sifat-sifatnya, dengan meletakkan hasilnya pada Brahman, maka hal itu berarti aktivitas kerjanya berhenti. Dengan berhentinya aktivitas kerja demikian itu, maka ia dapat manunggal dengan Brahman”.

ü Jnana Marga

Adalah usaha menghubungkan diri dengan Tuhan, para Dewa atau Batara dengan cara “pengetahuan” yang disebut ‘Jnana’, yang dengannya orang dapat mengetahui segala sesuatu tentang dunia dan akherat. Menurut Upanisad, pengetahuan itu ada dua: ‘Apara Widya’ yaitu pengetahuan duniawi yang bersifat ‘maya’ dan digunakan untuk keperluan ‘Jagadhita’ (Kesejahteraan Jasmani), sedangkan ‘Para Widya’ adalah pengetahuan tentang hakikat kebenaran Atman dan Brahman.

Di dalam Bhagawadgita IV:34, yangartinya;

“Persembahan berupa pengetahuan adalah lebih agung sifatnya dari korban benda yang berupa apapun. O Arjuna, sebab segala pekerjaan dengan tak terkecualinya memuncak di dalam kebijaksanaan”.

ü Yoga Marga

Adalah usaha menghubungkan diri dengan Tuhan, para Dewa atau Batara dengan cara ‘bertapa’, ‘yoga’ dan ‘semedi’. Sebagaimana dinyatakan dalam Bhagawadgita VI:31, yang artinya:

“seorang Yogi yang telah teguh di dalam kesatuan menyembah Aku yang berada di semua makhluk, hidup dalam Aku, meskipun bagaimana juga aktifnya (di dalam kehidupan)”.

Jadi Yoga adalah suatu perhubungan, mengaitkan atau mempersatukan diri (jiwa pribadi) dengan Tuhan Yang Maha Esa.

c. Warna

Agama Hindu Brahmana mengenal sistem warna/kasta dalam masyarakat. Sebenarnya dalam Weda (Reg Weda) hanya dua warna; ‘Arya Warna’ terdiri orang-orang Arya berkulit kuning dan ‘Dashu Warna’ yaitu orang-orang dravida berkulit hitam.akan tetapiterjadi perkawinan antar dua warna tersebut yang pada akhirnya mengakibatkan timbulnya Empat Warna atau Catur Warna. Dalam kitab Manawa Dharma Sastra diuraikan tentang kedudukan yang tertinggi dan lebih enak dalam kasta. Dalam perkawinan, dalam empat kasta ini berlaku endogami dan dilarang kawin dengan kasta yang berbeda, apalagi antara kasta yang lebih tinggi dengan kasta yang lebih rendah.

· Kelas Brahmana

Kelas ini merupakan golongan pendeta, yaitu orang-orang yang memiliki ilmu pengetahuan keagamaan, jujur, bijaksana dan percaya kepada Weda, sebagaimana dikatakan dalam Bhagawadgita XVIII.42, yang artinya:

“Tenteram, mengekang diri, suka melakukan pantangan agama, suci, suka mengampuni, lurus hati, bijaksana, berilmu, percaya terhadap ajaran Weda, adalah karma (kewajiban) Brahmana menurut Bakatnya”.

Kemudian dalam Sarasamuscaya 56, yang artinya:

“Inilah dharma seorang Brahmana, mengaji (mempelajari Weda dan berbagai cabangnya) melakukan Yadnya, berderma, berkunjung ke tempat-tempat suci mengajarkan agama, memimpin upacara agama, menerima derma”.

· Kasta Ksatria dan Waisya

Kasta Ksatria adalah kasta tingkat kedua, yang merupakan golongan perwira yaitu setiap orang yang memiliki keberanian, cinta tanah air, bangsa dan negara. Sebagaimana dikatakan dalam kitab Bhagawadgita XVII:43 yang artinya:

“Berani, perkara, teguh iman, cekatan dan tidak mundur dalam peperangan, dermawan dan berbajakat dalam memerintah, adalah karma (kewajiban) Ksatria menurut bakatnya”.

Waisya adalah kasta tingkat tiga, yang orang-orangnya mempunyai keterampilan dalam perekonomian, sebagaimana dalam Bhagawadgita XVII:44, yang artinya:

“Pertanian, Pemeliharaan ternak dan perdagangan adalah kewajiban-kewajiban Waisya yang lahir dari alamnya…”

Sebagaimana dikatakan dalam Manawa Dharmasastra X:4, bahwa:

“Brahmana, Ksatria da Waisya, ketiga golongan ini adalah ‘dwijati’ sedangkan Sudra yang keempatadalah ‘Ekajati’ dan tidak ada golongan kelima”.

‘dwijati’ adalah kelahiran dari kandungan dan kelahiran dari dunia Brahmacari (Pendidikan), dimana ketiga golongan kasta tersebut dianggap ekonomi kuat dan diwajibkan berguru mempelajari agama.

· Kasta Sudra

Kasta Sudra merupakan kasta keempat, yang terdiri dari kaum buruh, pekerja, pelayanan. Sebagaimana dalam Bhagawadgita XVII:44 dikatakan

“….Pekerjaan yang mempunyai sifat pelayanan adalah kewajiban dari sudra yang lahir darialamnya”.

Kemudian di dalam Sarasamuscaya:60 dikatakan:

“Adapun tingkah laku seorang Sudra, bakti membantu seorang Brahmana, Ksatria, dan Waisya, sebagaimana seharusnya ia berbuat, apabila ketiga yang dibantu merasa puas, itu akan menghilangkan dosanya, berhasil segala usahanya”.

Sudra disebut ‘Ekajati’ artinya lahir satu kali, yang dimaksud ialah bahwa setelah ia lahir dari kandungan, tidak diwajibkan berguru, dikarenakan keadaan sosial ekonominya rendah.

· Kaum Paria

Yaitu golongan masyarakat yang berada di luar kasta atau tidak berwarna. Kehidupan golongan ini berada di luar lindungan sosial dan di luar upacara keagamaan yang lazim menurut ajaran Weda.

E. KEPANDITAAN DAN UPACARA

Dalam agama hindu dikenal kepanditaan yang memimpin dan mengatur bagaimana pelaksanaan acara dan upacara keagamaan. Orang yang berhak dan berwenang sebagai pendeta atau pandita tersebut, di Bali disebut ‘Sulinggih’, dengan gelar-gelar jabatannya yang disebut Padanda, Rsi, Mpu, Bujangga, Dukuh dll. Untuk jabatan tersebut telah ditentukan persyaratan:

1. Persyaratan dan Kedudukan

Dalam bahasa Sansekerta ‘Pandita’ berarti orang pandai, cendekiawan, orang bijaksana, sarjana, pendeta. Jadi Pandita adalah rohaniawan agama hindu dari golongan ‘Dwijati’ sedangkan Pinandita adalah rohaniaw2an dari golongan ‘Ekajati’. ‘Dwijati’ artinya lahir dua kali, lahir dari ibu kandungnya dan lahir dari pengakuan seorang guru (Nabhe) pengajinya. Sedangkan ‘Ekajati’ hanya lahir dari ayah-ibunya (Guru Rapaka) saja.

Syarat-syarat yang harus dipenuhi seseorang untuk menjadi Pandita adalah:

a. Pria/Wanita yang sudah berumah tangga,

b. Pria yang Nyukla Brahmacari,

c. Wanita yang tidak kawin (Kanya),

d. Pasangan suami interi yang sah

e. Sehat dan bersih lahiriah, tidak cedangga (cacat jasmani),

f. Sehat dan bersih batiniah, tidak berpenyakit syaraf (gila)

g. Berpengetahuan luas, meliputi pengetahuan umum, mengerti bahasa Kawi-Sansekerta-Indonesia, mendalami masalah warga, tattwa, sasana-sasana dan yajna.

h. Memiliki pergaulan masyarakat yang baik, berkelakuan baik, bijaksana terhadap sesama, alam dan pemerintah, tidak pernah tersangkut perkara kejahatan.

i. Lulus diksa pariksa yang di Indonesia dinyatakan surat oleh Parisada Hindu Dharma Indonesia.

j. Sudah mempunyai calon ‘Nabhe’ yang akan menyelesaikan (muput) upacara padiksan.

Diksa pariksa: telah lulus dalam arti telah melakukan penyucian lahir batin dengan upacara padiksan, agar hidup menjadi lebih sempurna, setelah itu kedudukannya menjadi orang suci (Sulinggih). Dengan demikian ia berhak menggunakan gelar kerohanian sesuai dengan wangsanya dan ia berwenang untuk ‘ngloka-parasraya’, memenuhi permintaan orang yang meminta petunjuk kerohanian dan tempat orang meminta untuk menyelesaikan upakara agama, dan upacara besar.

Syarat-syarat Pinandita:

a. Pria/Wanita yang sudah berumah tangga,

b. Pria/wanita yang telah mengambil biata sukla Brahmacari

c. Pasangan suami isteri

d. Bertingkah laku baik dalam kehidupan sehari-hari,

e. Berhati suci dan berperilaku suci,

f. Taat dan mengetahui ajaran-ajaran agama,

g. Tidak menderita penyakit saraf (gila),

h. Suka mempelajari dan berpengetahuan di bidang kerohaniahan,

i. Mendapat persetujuan dari pengurus dan dukungan masyarakat setempat,

j. Kecuali dari ketentuan di atas ialah adanya hal lain, misal; ada petuah roh luhur, dsb.

‘Pinandita’ di bali disebut ‘Pemangku’, yang biasanya hanya mengurus satu tempat suci (Pura) tertentu, ia tidak didiksa hanya di winten (telah melakukan upacara pawintenan), maka Pinandita dapat menyelesaikan upacara Yajna tertentu, khusus di pura yang tak diinginkannya. Sebagai pemangku ia dapat; memimpin upacara-upacara seperti upacara ‘Purnama’,’Tilem’ dll kecuali untuk upacara besar seperti padudusan Agung, Tawur dll yang masih menjadi wewenang Pandita.

2. Korban atau Persembahan (Yajna)

‘Sasana’ dalam bahasa Sansekerta berati pecaturan, hukum, ajaran, perintah. ‘Sasana’ berarti peraturan-peraturan untuk pengendalian diri lahir dan batin, yang merupakan tingkah laku atau norma-norma kesusilaan luruh, dapat menguasai dan melaksanakan ajaran Yama, Brata dan Nyama Brata, sebagaimana dikatakan dalam Sarasamuscaya:19.256;

“Dan lagi, jangan hendaknya mengambil kala belum ada perjanjian, jangan engkau minum-minum yang memabukkan, jangan melakukan pembunuhan, jangan berdusta dalam kata-kata, jangan menginginkan isteri orang lain jika bermaksud akan pulang ke surga”.

Pantangan sehari-hari seorang pandita:

a. Pandita tidak boleh menentang perintah guru Nabhe, menginjak bayangan dan menduduki tempat duduk Nabhe;

b. Pandita tidak boleh sombong, mencaci maki dan tidak berkata kasar-kasar;

c. Pandita tidak boleh makan daging ayam, babi, sapi, atau binatang buas;

d. Pandita tidak boleh makan sisa-sisa makanan, makanan yang disentuh atau terletak di bawah benda tidak suci, atau makanan yang tidak suci atau diragukan kesuciannya,

e. Pandita tidak boleh minum minuman kerass seperti tuak atau sejenisnya.

f. Pandita tidak boleh mengunjungi rumah-rumah yang melakukan pekerjaan hina (kotor)

Sasana bagi seorang Pinandita adalah sbb:

a) Pinandita hendaknya setiap hari melakukan penyucian diri, asuci laksana, memohon tirtha penyucian dari tempat suci, dan mohon tirtha dari Pandita (Dwijati) untuk melebur kekotoran dalam dirinya. Tirtha yang dimaksud adalah thirta Panglukatan Pabersih.

b) Pranandita harus mengutamakan kebenaran, menegakkan dharma, kesucian, mempelajari kerohanian dan mengetahui filsafat Ketuhanan. Ia selalu memperdalam tentang tattwa dan berpegang dalam dharma.

c) Pinandita yang ingin menyelesaikan/mengantarkan upacara piodalan, terlebih dahulu meminta izin atau panugrahan dariPandita (Pedanda) dan Guru Iscara agar tidak berdosa. Pinandita (Pemangku) harus berpakaian serba putih (sarwo pethak) dan pada saat memuja boleh memakai genta.

d) Pinandita dilarang berjudi untuk datang ke tempat perjudian dan untuk menjauhi adanya kutuk dan sumpah maka ia dilarang dekat bergaul dengan orang jahat (Astacorah),

e) Pinandita dilarang menjunjung sesuatu (barang) atau berada di warung atau di bawah atap (Tatarub) yang tidak suci,

f) Pinandita yang meninggal dunia tidak boleh dikuburkan.

3. Korban atau Persembahan

a. Pergeseran arti korban

Mulanya, korban diperuntukkan para Dewa agar melimpahkan kesejahteraan, ketenangan dan ketenteraman, serta dijauhkan dari segala mara bahaya, namun sekarang berubah menjadi daya magis yang dapat mengalihkan kekuatan Dewa pada Pandita. Sehingga hanya Pandita Brahmana yang bisa memahami kitab Weda serta memaksa Dewa untuk hadir dan menampakkan diri dalam api persembahan, selanjutnya agama Hindu Brahmana semakin dikuasai oleh ‘magi’.

Berhasil atau tidaknya korban tidak tergantung pada Dewa, melainkan pada kekuatan korban, bunyi mantera dan perilaku dalam korban tersebut, kesalahan dalam upacara korban menjadikan korban tak bernilai.

b. Korban Besar

Upacara Korban Besar diutarakan dalam ‘Srauta-sutra’ yang pelaksanaannya dengan empat api suci dan dilakukan oleh para Pandita atas permohonan orang-orang yang memerlukannya. Dalam upacara ini yang terpenting adalah:

Upacara Soma Yadha.

Upacara ini baik dalam Weda ataupun Brahmana dilakunkan oleh empat orang Pandita yang dibantu oleh para pembantunya masing-masing dengan tugasnya:

· Pandita ‘Adwaryu’ menyelenggarakan korban dengan mengucapkan lafal-lafal dari kitab Weda.

· Pandita ‘Udgatri’ atau ‘Udgatar’ menyanyikan lagu-lagu dari Samaweda.

· Pandita ‘Hotri’ atau ‘Hotar’ menyeru dan memanggil para Dewa dengan membacakan mantera-mantera dari Rigweda.

Pandita ‘Brahmana’ harus mengucapkan mantera-mantera penolak balak, andaikata terdapat kekeliruan atau penyimpangan upacara yang dilakukan, agar tidak membawa akibat yang tidak baik.

Upacara Aswameda

Yaitu korban kuda, suatu upacara korban yang diselenggarakan oleh raja sebagai ujian bagi kekuasaannya dan kekuatannya.

Acara dan upacaranya :

· Penyajian makanan untuk para brahmana

· Membagi-bagikan sejumlah besar lembu dan beberapa keping uang emas

· Melepaskan seekor kuda jantan muda dan seratus kuda jantan lainnya ke arah Timur laut

· Selama satu tahun kuda-kuda itu dibebaskan mengembara dan tidak boleh mengganggu

· Raja lain yang wilayahnya dimasuki kuda-kuda tersebut harus mengakui kekuasaan raja yang melakukan upacara itu

· Raja lain dapat melepaskan dirinya dari pengaruh kekuasaan raja yang berupacara

· Para brahmana menceritakan dongeng tentang para leluhur raja denagn setiap kali ditutup dengan pujian-pujian terhadap raja

· Pada akhir tahun yang telah ditentukan kuda-kuda yang telah dilepas tadi ditangkap kembali dan tempat korban

· Kuda-kuda tersebut dihias dan diikat kakinya dan direbahkan ke tanah

· Istri sang raja tidur di samping kuda rebah tadi dan diselimuti bersama dan disembelih

· Daging-daging kuda tersebut dipotong dan dibakar sebagai daging korban, setiap bagian diperuntukkan bagi dewa tertentu

· Selain kuda-kuda itu juga dikorbankan beberapa ekor binatang lain yang adakalanya disembelih atau dilepas kembali.

c. Korban Kecil

Upacara korban kecil banyak diuraikan dalam Grhya-Sutra yang sifatnya hanya memerlukan kelengkapan sederhana. Ada dua upacara korban kecil yaitu Nitya dan Naimittika.

· Upacara korban Nitya adalah upacara yang dilakukan pada waktu tertentu.

· Upacara korban Naimittika adalah upacara yang menyangkut siklus kehidupan.

Sebenarnya upacara korban tersebut bukan lagi merupaknan upacara agama inti karena korban disini bukan lagi berpusat pada dewa melainkan pada manusia dalam hubungan antara manusia dengan dewa, jadi hubungannya bersifat magis.

d.Persembahyangan

Dalam agama Hindu sembahyang disebut ‘Sandhya’ yang artinya salah satu perwujudan dari rasa bakti manusia kepada Tuhan dan bakti itu ialah penyerahan diri sebulat-bulatnya tulus ikhlas kepada Tuhan. Pelaksanaan sembahyang mereka berdasarkan ‘Sastra Drsta’ yaitu kebiasaan yang bersumber dari kitab-kitab sastra dan Desa Drsta yaitu kebiasaan menurut tempat.

Cara pelaksanaan sembahyang dibagi dalam dua bagian yaitu :

· Trisandhya : dilakukan tiga kali sehari semalam dengan memakai mantra puja Trisandhya

· Muspa’ : sembahyang dengan mempersembahkan sekeping bunga pada waktu upacara-upacara tertentu.

Kedua sembahyang itu dapat dilakukan secara perseorangan atau secara berjamaah sesudah melakukan Trisandhya kemudian dilakukan Muspa.

Untuk melakukan sembahyang si pelaku harus memperhatikan sebagai berikut :

a. Asuci laksana, badan hendaknya bersih agar pikiran tenang

b. Bajrasana (dduk bersimpuh)/padmassana (duduk bersila)/padasana (berdiri) menurut keadaan tempat.

c. Pranatayama (mengatur nafas)

d. Kara Soddhana mencuci tangan untuk menyembah dengan mantra.

e. Puspa sedhana, mencuci bunga dengan puja mantra

f. Melakukan sembahan dengan mencakupkan kedua tangan diangkat naik ke atas sampai ujung jari lewat ubun-ubun dengan menggunakan mantra.

Sarana untuk melakukan sembahyanhg terdiri dari yang berwujud benda seperti bunga, dupa dan air, dan tidak berwujud benda ialah mantra. Fungsi bunga sebagai simbol Tuhan dan sarana persembahan. Dupa dan nyala api yang membakar harum-haruman melambangkan dewa agni sebagai pemimpin dan saksi upacara, perantara dan pembasmiroh jahat. Sedangkan air merupakan simbolis penyucian diri. Ada pula sarana yang tidak berwujud seperti mantera.

e. Tempat-tempat suci

Bagi umat Hindu, cara yang paling mudah danpaling indah untuk mendekati Tuhan adalah melalui rasa, maka dibutuhkan adanya bangunan suci seperti ‘Pura Kahyangan’ yang dipakai untuk memuja kebesaran Tuhan (Hyang Widi Wasa), ‘Pura Dadya’, ‘Pura Kawitan’ atau ‘Pura Phadarman’ untuk memuja roh leluhur/Rsi yang menjadi Dewa. (Upadeca, 1968:47).

Arah kiblat sembahyang orang Hindu adalah ke tempat tinggi, yaitu ke arah gunung (Acala Lingga) tempat dimana Tuhan duduk tidak bergerak, dan kearah matahari terbit sehingga banyak pura yang menghadap ke barat karena sembahyang kearah timur.

4. Upacara Yajna di Indonesia

Bagi umat Hindu di Indonesia, khususnya Hindu Bali melaksanakan upacara Yajna sesuai dengan kemampuan anggota masyarakat, dengan persembahan sesajen, menurut keadaan dan waktu tertentu. Dasar pelaksanaan upacaranya adalah Rig Weda I, 1.1.

Upacara Yajna biasanya dilakukan dengan persembahan berupa banten atau sajen yang bahan-bahannya terdiri dari bunga, daun, buah-buahan, dan makanan. Bahan-bahan tersebut disesuaikan dengan keadaan tempat dan kemampuan orangnya.

Dilihat dari tujuannya, upacara Yajna terdiri dari berbagai macam, terutama yang disebut ‘Panca Yajna’, yaitu:

a) Upacara Dewa Yajna

Upacara ini bertujuan untuk mengucapkan terima kasih kepada Tuhan terhadap hambaNya dan mohon kasihNya agar hambaNya mendapat kebahagiaan dalam menempuh kehidupannya. Upacara-upacaranya terdiri dari:

Purnama, Tilem dan Kanjeng Kliwon

Dilaksanakan tapa atau mengatur sesajen di tempat pemujaan dan halaman Pura. Sesajen berbentuk canag kecuali untuk Kanjeng Kliwon ditambah segehan.

Banten ditujukan pada penunggu karang (pangijeng). Sedangkan ‘segehan kepel’ (segehan cacahan) ditujukan pada Butakala.

Buda Kliwon Sinta

Pada saat itu Dewa Siwa dan lainnya sedang beryoga agar terwujud kesejahteraan dunia. Sebagai makhluk Tuhan, hendaknya manusia melakukan hal yang sama. Upacara ini dilaksanakan di sanggar kemulan atau di pemerajan.

Tumpak Landep

Upacara ini jatuh pada hari sabtu kliwon Uku Landep ditujukan pada Dewa Siwa (Sanghyang Pasupati) penguasa yang memberi kejayaan pada peralatan perang dari besi. Upacara ini dipusatkan pada Sanggar Kemulan dan pada senjata-senjata. Semua senjata yang diupacarakan dibersihkan dahulu dan dihaturkan banten Byakala dan prayascita yang ditujukan pada senjata dan anggota keluarga laki.

Tumpak Wariga

Upacara ini jatuh pada Sabtu Kliwon wuku Wariga, memuja Sang Hyang Widhi sebagai Dewa Sungkara yang menyebabkan tumbuhan hidup dan berkembang. Pelaksanaan upacara dilakukan dengan objek tumbuh-tumbuhan yang erat dengan kehidupan manusia.

Hari Raya Galungan

Jatuh pada hari Rabu Kliwon Dungulan, namun kegiatannya dimulai dari Kamis Wage Uku Sungsang. Kegiatannya adalah:

- Sugihan jawa, enam hari sebelum hari raya Galungan. Merupakan hari penyucian dan pembersihan bangunan-bangunan.

- Sugihan Bali, 5 hari sebelum Galungan, merupakan penyucian diri sendiri

- Hari Penyekeban, 3 hari sebelum Galungan, Sang Kala (Wang hyang Tiga Wisesa) turun ke dunia untuk memangsa manusia. Hari itu manusia hendaknya suci dan para Sulinggih dan Sang Sujana bertapa Brata dan Semedi.

- Penyajian, hari Soma Pon Uku Dungulan, dimana Sang Kala Tiga berusaha menguasai diri manusia dan manusia berusaha mengalahkannya.

- Penampahan Galungan, hari Selasa Wage Wuku Dungulan, adalah hari menyembelih hewan

- Galungan, merupakan hari perayaan kemenangan dharma melawan a-dharma., hal ini berartiterlaksananya pekerjaan keagamaan seperti Yajna.

- Kuningan, hari Sabtu Kliwon Wuku Kuningan (10 hari setelah Galungan) saat itu para Dewa dan roh leluhur melakukan penyucian dan menikmati persembahan, setelah itu kembali ke kahyangan dengan dengan memberkahi kekayaan dan perdamaian

- Buda Kliwon Pahang (Buda Kliwon Pegattwakan), hari Rabu Kliwon Wuku Pahang. Berakhirnya rangkaian galungan dengan bebas dari semua pantangan yang berlaku hari itu.

- Tumpek Uye (Tumpek Kandang), hari Sabtu Kliwon Wuku Uye, manusia berbuat kebaikan kepada segala jenis binatang, sebagai wujud rasa timbal-balik antara manusia dengan binatang yang telah banyak membantu kehidupan.

- Tumpek Wayang, hari Sabtu Umanis Wuku Watugunung. Ditujukan kepada Dewa Saraswati sebagai Dewa ilmu Pengetahuan dan kebijaksanaan.

b) Upacara Manusia Yajna

Bertujuan untuk membersihkan lahir batin serta memelihara rohani agar hidup mkanusia sejak dalam kandungan sampai dewasa berumah tangga berjalan baik. Rangkaian upcaranya adalah:

a. Pagedong-gedongan

Dilakukan ketika bayi berumur 5-6 bulan dalam kandungan. Melakukan pembersihan bayi lahir batin, memohon agar ibu dan anak selamat dan memohon agar anak itu lahir kelak akan berguna bagi orangtuanya dan bagi masyarakat.

b. Kelahiran

Yaitu dengan melakukan perawatan ari-ari.

c. Kapus Puser (mapanelahan)

Setelah puser terputus, maka dilakukan perawatan puser. Mulai saat itu, untuk si bayi dibuatkan ‘kumara’ sebagai tempat memuja dewa pelindung anak.

d. Bayi Umur 12 hari

Saat bayi berumur12 hari, maka dilakukan upacara ‘mepejati’ untuk memohon pengelukatan. Setelah itu dilakukan ‘mapituwun’ untuk menanyakan arwah yang menjelma pada bayi, dan apa yang diminta agar bayi hidup sehat dan tidak terganggu Buta Kala.

e. Tutug Kambuhan

Setelah bayi berumur 42 hari dilakukan upacara ‘macolongan’ untuk mengembalikan ‘nyawa bajang’ ke tempat asalnya agar tidak mengganggu dan sebagai gantinya adalah persembahan bebek jantan dan betina.

f. Nyambutin

Dilakukan setelah bayi berumur 3bulan, ketika bayisudah dianggap cukup kuat untuk mendapat penyucian, yang secara simbolis atma (jiwa) bayi itu dijemput.

g. Satu Oton

Dilaksanakan ketika bayi berumur 210 hari, untuk menebus atau mengurangi kesalahan atau keburukan jiwa kehidupan yang dulu, sehingga kehidupannya yang sekarang akan lebih sempurna.

h. Makupak

Dilakukan ketika gigi anak mulai cabut (meketus), pada waktu itu anak mulai belajar pengetahuan, sehingga perlu disucikan badannya dengan upacara pabekalan dan prayascita.

i. Munggah Daa

Upacara meningkat dewasa, dimana nak pria suaranya mulai besar dan wanita mulai datang bulan. Upacara ini banyak ditujukan untuk kepentingan wanita, agar Sang Hyang Samara Ratih, para Widiadara dan Widadari tidak menyesatkan si anak, melainkan memberikan bimbingan pengendalian diri.

j. Mapendes

Ini adalah upacara potong gigi, terhadap anak pria dan wanita yang mulai dewasa, dengan cara memamapas enam gigi atas, sebagai simbolis untuk mengurungi ‘Sad Ripu’ yaitu sifat Kama, Krodha, Loba, Moha, Mada, Matsarya. Dalam upacara ini ditujukan kepada Dewa Kama sebagai lambang cinta Kasih.

k. Perkawinan

- Medengen-medengen yaitu upacara pembersihan bagi kedua mempelai.

- Natab dan Majapati yaitu penyempurnaan rangkaian perkawinan dengan tujuan meningkatkan pembersihan medeng-medengen dan menentukan status salah satu pihak

c) Upacara Bhuta Yajna

Upacara korban suci yang ditujukan kepada Bhuta Kala yang selalu mengganggu ketentraman manusia. Tujuan upacara ini ialah untuk memohon kepada Tuhan agar ia memberi kekuatan mengatur ciptaannya sehingga menimbulkan bencana dan menyucikan dan mengembangkan para bhuta kala kepada asalnya sehingga dapat bverfungsi seuai dengan kodrat dan keseimbangan hidup yang dapat dicapai.

Segehan dan Banten

Dalam upacara ini, digunakan segehan kepel dan segehan cacahan yang bisa juga digunakan dalam upacara Panca Yajna.

Mengenai banten (sajian) yang selalu diletakkan dibawah sanggar pesaksi dalam upacara Carru atau Tawur , untuk pembersihan tempat diri pribadi dan bagi Bhuta Kala yang disebut Banten Beakala. Sementara untuk pembersihan tempat baru disebut Banten Prayascita.

d) Caru dan Tawur

Dalam upacara ini terdapat beberapa Caru yaitu :

· Caru Ayam Berumbun : biasa digunakan pada waktu piodalan di Pura dan Merajan sebagai pendahuluan sebelum bekerjaatau juga sebagai pendahuluan sebelum bekerja.

· Caru Panca Sata : dengan 5 ekor ayam disesuaikan arah mata angin, untuk pembersihan diri di Pura atau Sanggar Rumah dan sebagai pokok dalam menggunakan binatang lain.

· Caru Panca Kelud : dengan menggunakan 5 ekor ayam enagn seekor itik belangkalung dan seekor asu bangbungkem, sebagai dasar bagi upacara Mepedanan Ngenteng linggih odolan pada sanggar rumah dan dikhayangan jika terjadi hal-hal yang tidak baik.

· Caru Resi Gana : hanya digunakan khusus pada tempat-tempat jika ada kejadian-kejadian luar biasa, misalnya di tempat-tempat angker karena timbulnya bencana penyakit dan lain-lain.

Sementara untuk Tawur yaitu :

ü Tawur Kasanga : upacara yang bertujuan agar Buana Agung (alam semesta) dengan sarana api (ngerupuk) dan tirta (air) menjadi suci.

ü Nyepi : penyucian Buana Alit (diri manusia) dengan penegndalian diri dan pemusatan pemikiran Tuhan.

e) Upacara Pita Yajna

Upacara ini dimaksudkan untuk upacara korban suci kepada arwah leluhur agar mendapat tempat yang layak sesuai dengan amal baktinya. Upacara ini menyangkut orang mati.

· Tata cara penyelesaian jenazah

ü Dibaringkan diatas pepaga (pakaiannya dibuka, badannya diurap boreh,mukanya dikeramasi,giginya digosok, badnnya dimandikan dengan toya anyar,toya kumkuman,alat pembersih lainnya ditaburkan dan terakhir tirta peneglukan, pembersihan dicipratkan di kepala, diminumkan, sisanya dituangkn mulai dari kepala dan sekujur badan. Lalu Kewangen ditaruh di badan mulai di kepala, dada, ulu hati, pada kedua tangan dan kedua kakinya. Ibu jari tangan dan kaki diikat. Mayat dibungkus dengan kain putih.

ü Keluarga dan anak cucunya menyembah.

ü Mayat dibungkus lagi dengan tikar lalu diletakkan di tempat pembaringan, untuk kemudian dibawa setra untuk ditanam atau dibakar

ü Upacara penanaman mayat setra dan upacara ini belum selesai karena masih terus dibakar

· Ngaben

Upacara ini disebut juga dengan upacara Palebon atau Atiwa-tiwa, yang dimaksudkan untuk mengembalikan unsur-unsur jasmani kepada asalnya yaitu Panca Maha Bhuta di Buana Agung.

Jenis upacara ini adalah sebagai berikut :

ü Sawa Wedana : dimana ngeseng sawa (mayit) langsung dibawa ke setra untuk dibakar.

ü Asti Wedana : dimana ngeseng sawa sudah dibakar terlebih dahulu.

ü Swasta : dimana ngeseng sawa seseorang tidak mungkin diketahui lagi sehingga mayit dapat diwujudkan sebagai kusa (lalang), air dan lainnya.

ü Ngelungah : dimana mayit itu masih kanak-kanak yang belum tanggal giginya.

· Nyekah

Upacara ini adalah upacara kelanjutan dari upacara ngaben yang bertujuan untuk meningkatkan kesucian dan kesempurnaan atma yang mati agar dapat kembali keasalnya.

Ada 3 bagian upacara ini :

ü Pengajuman : Upacara pemanggilan Sang Hyang Atma dengan beberapa sesajen.

ü Ngayab : menagturkan puja untuk mengaturkan sajian ayaban dan lainnya dalam persembahyangan anak cucu dan para sentana si mati.

ü Mapralina : Upacara menurunkan sekah dengan membuka kain putih yang dibungkus dan semua peralatan dibakar diatas sebuah dulang.

f) Rsi Yajna

Upacara ini ditujukan untuk persembahan kepada pendeta atau para pemimpin upacara keagamaan Hindu. Persemabhan dilakukan pada waktu-waktu etrtentu yaitu pada saat pendeta menyeleaikan upacara atau selesai memberi diksa kepada siksyanya. Persembahan epada pendeta tersebut disebut dengan ‘daksina’ , tanda terima kasih atas jerih payahnya, memimpin upacara Yajna atau karena telah mendidik sisya dalam ilmu agama atau karena pendeta telah memberi petunjuk atas sesuatu permintaan, misalnya tentang hari baik untuk suatu pekerjaan dan sebagainya.


Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Andai Masyarakat Tangerang Selatan Sadar, …

Ngesti Setyo Moerni | | 28 November 2014 | 17:27

Dari (Catatan Harian) Kompasiana ke (Sudut …

Lizz | | 28 November 2014 | 16:22

Kampret Jebul: Rumah …

Kampretos | | 28 November 2014 | 15:50

Saran untuk Ahok Cegah Petaka Akibat 100 …

Tjiptadinata Effend... | | 28 November 2014 | 15:30

“Share Your Dreams” dengan Paket …

Kompasiana | | 26 November 2014 | 11:24


TRENDING ARTICLES

Indonesia VS Laos 5-1: Panggung Evan Dimas …

Palti Hutabarat | 5 jam lalu

Timnas Menang Besar ( Penyesalan Alfred …

Suci Handayani | 6 jam lalu

Terima Kasih Evan Dimas… …

Rusmin Sopian | 7 jam lalu

Kongkalikong Dokter dengan Perusahaan Obat …

Wahyu Triasmara | 12 jam lalu

Hampir Saja Saya Termakan Rayuan Banci …

Muslihudin El Hasan... | 15 jam lalu


HIGHLIGHT

New York Menjadi Pusat Perhatian Dunia …

Margaretha Mumbunan | 7 jam lalu

Telaah Euthunasia dalam Perspektif Hukum …

Muhammad Ihsan | 7 jam lalu

Aburizal Layak Mundur …

Ahmad Fedullah | 8 jam lalu

Bugis Street Oase Pejalan Kaki …

Jimmy S Harianto | 8 jam lalu

Halal atau Haramkah Obatku?? …

Nurul Amalia | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: