Back to Kompasiana
Artikel

Edukasi

Mengalah Itu Indah

HL | 02 January 2013 | 12:39 Dibaca: 2918   Komentar: 0   19

1357115157123952534

Ilustrasi/Admin (Shutterstock)

Kadang kita harus kehilangan yang baik sebelum Tuhan memberikan yang terbaik”

Seorang bijak berkata, “Musuh kita yang terbesar adalah diri sendiri”. Saat terjadi konflik dengan seseorang, kita tak jarang mau menang sendiri. Sulit untuk mengalah, apalagi saat harga diri atau harta milik kita dirampas. Rasanya mau membalas dan menang.

Masalah utama manusia memang relasi (2-6-7), hubungan antar manusia. Tahun baru  ini (2013) kita akan menghadapi lagi banyak konflik relasi. Bisa berupa kesalahpahaman, perebutan hak atau masalah relasi lainnya. Menghadapi masalah ini kita membutuhkan sifat mengalah. Ya mengalah untuk menang.

Mengalah adalah salah satu karakter yang membuat kita mampu bahagia bahkan di saat kehilangan. Bersukacita di saat hak-hak pribadi kita dirampas.

MENGALAH

Mengalah tidak sama dengan kalah. Mengalah tidak sama dengan menyalahkan diri kita yang benar atau membenarkan orang yang berbuat salah. Bukan! Mengalah juga bukan membiarkan kesalahan orang lain.

Sifat mengalah adalah “senjata” yang baik untuk berdamai. Mengalah adalah strategi awal untuk menyatakan kebenaran.  Pintu untuk menyadarkan kesalahan sahabat/ kerabat kita yang dengannya kita konflik.

Mengalah menempatkan “lawan” kita berada di tempat yang lebih penting dari kita. Menjadikan dia lebih utama lebih dari kita (VIP). Dengan memberikan respek pada lawan konflik kita, akan membantunya mengurangi perasaan marah.

Pepatah Jawa berkata “sing waras ngalah”. Dalam perselisihan atau salah paham maka yang masih (bisa) berpikir jernih sebaiknya mengalah. Saat mengalah emosi kita biasanya lebih stabil dan terkontrol.

Sifat ini berkaitan dengan jenis kepribadian dan orientasi hidup seseorang. Mereka yang “person oriented” akan lebih mudah mengalah daripada mereka yang “problem oriented”. Dengan mengutamakan orang atau relasi, kita akan lebih mudah mengalah. Orang (relasi) lebih penting atau didulukan dari masalahnya. Setelah relasi membaik maka masalah relasi akan lebih mudah dipecahkan bersama. Mediasi dan rekonsiliasi hanya terjadi jika ada yang mengalah.

MENGALAH ITU INDAH

Berikut Penulis memberikan tiga contoh pribadi yang mendapatkan yang terbaik dengan mengalah. Rela yang kehilangan yang baik, namun mendapat yang terbaik. Konteks kisah di bawah ini tentu saja terbatas. Tidak termasuk kasus-kasus hukum yang pelik dan memang membutuhkan penanganan profesional seperti Hakim dsb.

1. Abraham dan Lot

Mengalah itu indah, dan memberi ruang atau kesempatan bagi Tuhan campur tangan atas masalah kita.

Dalam kitab Kejadian kita membaca kisah perkelahian antara gembala Lot dan Abraham, dan mengganggu hubungan Abraham dan ponakannya ini. Keduanya punya banyak domba, lembu dan kemah. Akibatnya lokasi penggembalaan tidak cukup buat mereka berdua.

Dengan bijak Abraham mengajak Lot berunding. Dia mengajak Lot pisah baik-baik. Abraham berkata: ” Baiklah kita memisahkan diri baik-baik. Jika engkau ke kiri aku ke kanan. Jika engkau ke kanan maka aku ke kiri”

Lot yang diberi kesempatan pertama tentu memilih ladang terbaik dan paling subur. Lot memilih lembah Yordan yang banyak airnya serta penuh taman yang hijau. Daerah lembah Yordan itu berada dekat Sodom. Tetapi Lot tidak sadar ternyata kota Sodom itu berisi orang-orang jahat dan melawan Tuhan. Kota yang amoral dan penuh kejahatan seksual.

Suatu kali Kota Sodom dan Gomora ditaklukkan sekutu Sinear dkk (Kej 14), dan Lot sempat menjadi tawanan. Abraham membantu pelepasan Lot. Selanjutnya dalam  pasal 18 diceritakan Tuhan menghukum Sodom dan Gomora karena besarnya kejahatan penghuni kota tersebut. Akhirnya kota itu dimusnahkan Tuhan. Tetapi Lot selamat karena bantuan doa Abraham.

Abraham sendiri akhirnya memilih tinggal di Mamre dekat Hebron. Disana dia dengan tenang bisa membangun mezbah bagi Tuhan. Dia memilih kota yang tidak terlalu wah tapi bisa beribadah dengan tenang. Abraham mengutamakan Tuhan di atas kebutuhan fisiknya. Sifat Mengalah inilah membuat Abraham mendapat sesuatu yang lebih baik dibandingkan Lot.

Abraham percaya bahwa mengandalkan Tuhan lebih baik daripada mengandalkan instink. Mempercayakan diri lebih baik daripada sekedar percaya diri.

Mengutamakan ponakannya adalah pintu Tuhan memberkati hidupnya.

2. Salomo dan Ibu Rebutan Bayi

Kita masih ingat kisah dua Ibu rebutan anak pada zaman Raja Salomo. Tadinya mereka sahabat dan tinggal serumah. Keduanya baru saja melahirkan. Sampai suatu ketika salah satu bayi  meninggal. Lalu mereka masing-masing mengklaim bayi yang hidup adalah milik mereka. Merekapun berkelahi.

Kasus inipun dibawa hingga dihadapan Raja Salomo

Dengan cerdas dan hikmatnya Raja memutuskan membagi dua bayi itu. Salomo ingin tahu reaksi dari keduanya.

Ibu yang satu tegas mendukung sikap salomo agar dibagi dua (dibunuh mati). Tapi Ibu yang satu tidak rela, karena merasa sayang dengan bayinya. Lalu dia mengalah dan memilih menyerahkan saja bayi itu pada temannya. Raja yang bijak ini kagum dengan Perempuan yang rela mengalah demi keselamatan sang Bayi. Salomo akhirnya tahu mana Ibi yang benar. Dia menyerahkan bayi itu pada Ibu yang justru rela kehilangan bayi. Perempuan yang mengalah demi kehidupan anaknya.

Begitulah. Dengan mengalah kita bisa mendapatkan kembali apa yang nyaris hilang dari hidup kita. Dengan mengalah kita memberi kesempatan bagi Tuhan sang Pembela Agung menolong kita.

3. Daud Mengalah Lalu Menang

Dalam kitab  Samuel kisah heroik kemenangan Daud dikisahkan atas Raja Saul. Meski saul berkali-kali mengikhtiarkan kematiannya tapi Daud tetap mengalah.

Saul sangat iri pada Daud. Sebab meski dia Raja pengormatan rakyat lebih besar kepada Daud. Itu sebabnya Saul berulang kali berencana membunuh Daud, karena menganggapnya duri dalam istana yang sewaktu-waktu bisa mengambil jabatannya.

Namun Daud lebih memilih melarikan diri masuk keluar gua dan padang gurun daripada konfrontasi dengan Raja Saul. Ia sadar tidak boleh melawan atau merendahkan pimpinannya. Apalagi sampai membunuh.

Bahkan saat ada kesempatan baik untuk membunuh Raja Saul di sebuah Gua, Daud tidak melakukannya. Itulah kemurnian hati Daud. Dia memilih MENGALAH daripada MENGALAHKAN Raja saul dengan cara yang salah dan tidak diperkenan Tuhan.

Akhirnya diceritakan  Saul mati  bunuh diri. Tragis.  Sebaliknya Daud diangkat menjadi Raja menggantikan Saul. Daud bukan saja menang lewat mengalah, dia juga dikenang sebagai pemimpin yang membanggakan. Transparan dengan semua kegagalannya.

PENUTUP

Tahun 2013 ini kita akan menghadapi segudang masalah relasi.

Bersiaplah menghadapi konflik  dengan orang-orang terdekat Anda. Konflik itu pada dasarnya sehat dan membangun sejauh bisa kita kelola dengan bijak.

Tumbuhkan sifat rendah hati, lemah lembut dan mengalah. Itulah pintu kemenangan tanpa melukai orang lain. Mengalah itu indah dan pintu untuk menang secara istimewa dan dengan kenangan tak terlupakan.

Julianto Simanjuntak

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Island Getaway ala Robinson Crusoe ke Nusa …

Ivani Christiani Is... | | 25 July 2014 | 14:32

Quo Vadis Jakarta Baru? …

Shendy Adam | | 25 July 2014 | 14:41

Rilis UNDP: Peringkat Pembangunan Manusia …

Kadir Ruslan | | 25 July 2014 | 15:10

Yuk Bikin Cincau Sendiri! …

Ahmad Imam Satriya | | 25 July 2014 | 15:03

Ikuti Lomba Resensi Buku Tanoto Foundation! …

Kompasiana | | 11 July 2014 | 16:12


TRENDING ARTICLES

Dilema MK …

Akhmad Yunianto | 4 jam lalu

Kunjungan Clinton ke Aceh, Misi Kemanusiaan …

Rafli Hasan | 8 jam lalu

Demokrasi ala SBY Jadi Perhatian Pakar Dunia …

Solehuddin Dori | 8 jam lalu

Kebijakan Obama yang Bikin Ciut Nyali Orang …

Andi Firmansyah | 9 jam lalu

Mengapa Harus Jokowi yang Terpilih? …

Ryan Perdana | 10 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: