Back to Kompasiana
Artikel

Edukasi

Dwi Atmaja

Guru Bimbingan Konseling di Madrasah Tsanawiyah Negeri Rungkut Surabaya

Dalam Kurikulum 2013, Sebutan “Bimbingan Konseling” Diubah Menjadi “Bimbingan Penyuluhan”

OPINI | 03 January 2013 | 05:36 Dibaca: 4574   Komentar: 0   1

Sebuah kesalahan pengetikan ataukah tententang sebutan profesi konselor di sekolah maupun madrasah dalam kurikulum 2013 sebagai Guru Bimbingan dan Penyuluhan. berikut menunjukan bahwa terkesan pembentukan kurikulum dipaksakan. (lihat lingkaran merah)

mungkin terlihat sepele hanya dalam bentuk kata-kata (Bimbingan Penyuluhan dan Bimbingan Konseling) akan tetapi jika kondisi demikian tidak dirubah maka akan berakibat sangat fatal, akan banyak perubahan yang menyertainya meliputi perubahan organisasi bimbingan konseling, perubahan mata kuliah, perubahan sistem administrasi guru BK, sistem struktural manejemen BK dll. Yang sangat di sayangkan perubahan tersebut adalah perubahan yang mengarah kepada kemunduran.

sekilah pandang biar kita semua mengetahui, bahwa era penggunaan kata sebutan Bimbingan dan Penyuluhan masuk pada era pembentukan profesi konselor di indonesia, kemudian berkembang menjadi sebutan Bimbingan Konseling yang di bisa dikatakan memasuki era kemapanan, alangkah indahnya jika dalam kurikulum 2013 ini sebutan yang di rubah adalah Konselor Sekolah untuk menuju pada era tinggal landas, bukan malah menggunnakan istilah lama Guru Bimbingan dan Penyuluhan. mohon maaf saya anggap kurikulum ini terkesan dipaksakan dengan minim pengetahuan ataupun pengembangan yang berimbas pada kemunduran, mau dibawa kemanakah bangsa Indonesia saat ini?

Yang diherankan lagi terjadi kesalahan ulang bahwa Bimbingan Konseling juga disebutkan sebagai mata pelajaran (lihat lingkaran merah) padahal kurikulum yang berlaku sekarang di sebutkan bahwa Bimbingan konseling tidaklah demikian dan tidakannya di sebut sebagai layanan bimbingan konseling. beberapa teman dalam forum jejaring sosial ABKIN maupun IBKS menyangsikan akan kemampuan tim pengembang kurikulum 2013 dalam penguasaan konsep kurikulum ini. mampukah kurikulum ini bertahan dan membawa kearah kemajuan, sementara penyusunannya tidak sebegitu tahu tentang dunia pendidikan yang berlaku di Indonesia. ada pepatah bahwa segala sesuatu yang dipegang bukan pada ahlinya maka tunggulah kehancuran akan datang

jika tim pengembang kurikulum 2013 merasa sudah cukup bahan dengan referensi dari beberapa kurikulum di luar negeri mungkin juga harus di pertimbangkan bahwa kita punya kultur yang berbeda, kecanggihan teknologi berbeda, pola pikir berbeda dan kondisi alam yan berbeda pula. kenyataan pahit ternyata tidak terbatas pada minimnya pengetahuan tentang keilmuan Bimbingan Konseling yang di milki tim pengembang melainkan juga rendahnya aspek kemanusiaan. berapa banyak guru-guru TIK yang akan di perhentikan dari karir mereka sebagai guru, sementara dengan pemberlakuannya pada bulan Juli 2013 semua guru dituntut menguasai TIK, cukupkah dalam waktu sekian bulan mengarahkan guru-guru penguasaan mutlak terhadap TIK.

kekhawatiran lemahnya generasi bangsa yang berbudaya di saat kelak-pun mulai muncul di masyarakat sekarang ini, saat ini kondisi mata pelajaran bahasa daerah dalam ambang kritsis bukan malah di bina akan tetapi justeru di binasakan, apakah hal demikian disebabkan di luar negeri tidak ada mata pelajaran bahasa daerah. peleburan mata pelajaran IPA atau IPS sungguh disayangkan juga, peletakan pondasi yang kuat di tingkat SD/MI akan mampu mendorong siswa lebih menguasai keilmuan tersebut di jenjang selanjutnya, terbukti banyak generasi bangsa ini yang menjuarai kompetisi olimpiade dunia dan kontes sains lainnya. peletakan pondasi utama justeru harusnya pada siswa tingkat dasar sehingga ke depan akan memiliki jiwa mencintai dan memiliki terhadap sains tersebut. masih ingat benar janji Bapak Menteri waktu pertama kali dulu, beliau mengatakan tidak akan merubah-rubah kurikulum seperti menteri-menteri sebelumnya, akan tetapi sekarang lebih frontal

sebagai abdi negara kami akan patuh pada setiap keputusan pemimpin kami, akan tetapi mohon dipertimbangkan masuka-masukan dari kami, dalam berita kompas Bapak Menteri mengatakan DPR hanya sebatas rekomendasi saja, dan bagaimanapun kurikulum akan tetap jalan karena hal tersebut adalah hak pemerintah untuk menentukan kurikulum. kami pesimis apakah bapak menteri mau mendengarkan suara kami yang seperti serangga kecil ini dalam uji publik online sementara sekelas DPR saja tidak mampu merubah

Cuplikan Slide Tim Pengembangan Kurikulum 2013

Pergeseran Paradigma Belajar Abad 21

Tema pengembangan kurikulum 2013 adalah dapat menghasilkan insan Indonesia yang produktif, kreatif, inovatif, dan afektif melalui penguatan sikap (tahu mengapa), keterampilan (tahu bagaimana), dan pengetahuan (tahu apa) yang terintegrasi. Diakui dalam perkembangan kehidupan dan ilmu pengetahuan abad 21, kini memang telah terjadi pergeseran baik ciri maupun model pembelajaran. Inilah yang diantisipasi pada kurikulum 2013. Skema 1 menunjukkan pergeseran paradigma belajar abad 21yang berdasarkan ciri abad 21 dan model pembelajaran yang harus dilakukan.

iklan2-skema1

iklan2-gambar1

iklan2-gambar2

Sedang gambar 1 adalah posisi kurikulum 2013 yang terintegrasi sebagaimana tema pada pengembangan kurikulum 2013. Sudah barang tentu untuk mencapai tema itu, dibutuhkan proses pembelajaran yang mendukung kreativitas. Itu sebabnya perlu merumuskan kurikulum yang mengedepankan pengalaman personal melalui proses mengamati, menanya, menalar, dan mencoba (observation based learning) untuk meningkatkan kreativitas peserta didik. Di samping itu, dibiasakan bagi peserta didik untuk bekerja dalam jejaringan melalui collaborative learning. Pertanyaannya, pada pengembangan kurikulum 2013 ini, apa saja elemen kurikulum yang berubah? Empat standar dalam kurikulum meliputi standar kompetensi lulusan, proses, isi, dan standar penilaian akan berubah sebagaimana ditunjukkan dalam skema elemen perubahan.

Perubahan yang Diharapkan

Pengembangan kurikulum­­ 2013, selain untuk memberi jawaban terhadap beberapa permasalahan yang melekat pa­da kurikulum 2006, bertujuan ju­ga untuk mendorong peserta didik atau siswa, mampu lebih baik dalam melakukan observasi, bertanya, bernalar, dan meng­omunikasikan (mempresentasikan), apa yang di­ per­oleh atau diketahui setelah siswa menerima materi pembelaj­aran.

iklan2-skema2

Melalui pendekatan itu di­harapkan siswa kita memiliki kom­petensi sikap, keterampilan, dan pengetahuan yang jauh lebih ba­ik. Mereka akan lebih kreatif, inovatif, dan lebih produktif. Sedikitnya ada lima entitas, masing-masing peserta didik, pendidik dan tenaga kepe­ndidikan, manajemen satuan pendidikan, Negara dan bangsa, serta masyarakat umum, yang diharapkan mengalami perubahan. Skema 2 menggam­barkan perubahan yang diharapkan pada masing-masing en­itas.

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Jebakan Batman di Museum Antonio Blanco …

Muslihudin El Hasan... | | 22 December 2014 | 06:17

Bu Dokter, Anak Saya Kena Bangka Babi …

Avis | | 22 December 2014 | 07:05

Refleksi Hari Ibu; Dilema Peran Ibu di Era …

Agus Purwadi Umm | | 22 December 2014 | 02:24

Perbaiki Sikap Berkendaraan agar Hemat BBM …

Fajr Muchtar | | 22 December 2014 | 06:22

Voluntourism Blog Competition: Berikan Aksi …

Kompasiana | | 08 December 2014 | 19:03


TRENDING ARTICLES

Gol Telat Skrtel, Bawa Liverpool Imbangi …

Achmad Suwefi | 10 jam lalu

Waspada Komplotan Penipu Mengaku dari …

Fey Down | 12 jam lalu

Dear, Bapak Jonru… …

Wagiman Rahardjo | 12 jam lalu

Fenomena Prostitusi Online sebagai Efek …

Gholal Pustika Widi... | 16 jam lalu

Sensasi Singkong Rebus Menteri Yuddy …

Andi Harianto | 16 jam lalu


Subscribe and Follow Kompasiana: