Back to Kompasiana
Artikel

Edukasi

Jemput Bola Kurikulum 2013, Mental Guru Harus Berubah

REP | 03 January 2013 | 14:22 Dibaca: 1116   Komentar: 0   0

SELAMA enam bulan ke depan, akan berlangsung sosialisasi kurikulum pendidikan paling gress di negeri ini. Seberapa dalam efektivitas sosialisasi itu di samping bergantung pada pihak yang paling berwenang, dalam hal ini pemerintah, namun juga peran para pihak yang terkait di dalamnya, termasuk guru.

Pro-kontra masih terus mengemuka atas kurikulum tersebut, oleh masyarakat, pengamat pendidikan di sejumlah media-maupun di pelbagai kesempatan. Hingga tulisan ini dibuat,  pemerintah masih menunggu masukan utamanya dari praktisi pendidikan dalam kesempatan uji publik dari dua alternatif yang disediakan.

Meski demikian, apapun pilihan dari alternatif tersebut kualitas dan mental pendidik dalam hal ini guru adalah ujung tombak dari setiap berlakunya kurikulum baru di negeri ini.

Demikian, salah satu kesimpulan penting dalam diskusi terbatas beberapa waktu lalu yang diselenggarakan Women and Youth Development Institute of Indonesia (WYDII) di sekretariatnya, Jl Gubeng Kertajaya 9a no 21a Surabaya. Diskusi yang menghadirkan Isa Ansori, Ketua Dewan Pendidikan Surabaya, Maria Mumpuni Purboningrum dari NGO  Benih Matahari dan mengundang beberapa guru sekolah dasar  ini dimoderatori oleh Jairi Irawan dari WYDII.

1357197486392144059

maria mumpuni

“Kurikulum 2004 yang kita kenal dengan KBK (Kurikulum Berbasis Kompetensi, red), kemudian 2006 kita kenal dengan KTSP (Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan, red) adalah konsep manajemen berbasis sekolah. Guru ditantang untuk memiliki otoritas dan mengembangkan model pembelajaran yang dilakukan masing-masing. Persoalannya ‘kebebasan’ yang diberikan kurikulum tidak mampu ditangkap oleh guru. Dampaknya, kurikulum itu yang rasanya benda mati, menjadi mati. Dan Guru bingung bagaimana mengimplementasikannya dalam proses pembelajaran,” terang Isa Ansori.

Bahkan Maria Mumpuni dari Benih Matahari menegaskan tidak ada perbedaan mencolok antara Kurikulum KBK, KTSP dan 2013. “Namun demikian,  saya melihat  ada tiga aspek yang menjadi ruh setiap kurikulum. Materi, peran guru-kepala sekolah dan manajemen perubahan,” tandas Maria.

Soal materi, guru kita nantinya tergantung teks book, yang artnya tergantung penerbit yang menerjemahkan dan kemudian menjadi buku panduan itu.   Materi KTSP maupun kurikulum 2013—katanya adalah penyederhanaan dari KTSP. “Buat saya ini nanti dikembalikan pada bagaimana materi buku panduan. Penuh atau tidak. Karena pada saat materi itu penuh guru akhirnya akan mengajar satu arah lagi. Padahal kalau dilihat inti dari KTSP,  kalau guru bisa mengembangkan, guru bisa membuat materi sendiri,” katanya.

Dengan kata lain, baik Kurikulum KTSP maupun kurikulum 2013 sudah ada peluang guru untuk mengembangkan. Walaupun perbedaannya, kurikulum sebelumnya dengan proyeksi dari mata pelajaran ke tema, sementara pada kurikulum 2013 dari tema lalu ke mata pelajaran.

Lantas berkait dengan peran guru, dari pengamatan Maria, ditekankannya bahwa menurut dia, guru memang berperan bagaimana guru mampu mengelola materi itu. Lalu,  pada saat guru sudah mampu mengelola,  pertanyaannya kepala sekolah paham apa tidak dengan kerangka pembelajaran yang lebih aktif.  Sehingga kepala sekolah pun berperan memberi ruang sehingga guru aktif.

“Atmosphire, egoisme guru selama ini bahwa mata pelajaran satu lebih penting dari yang lain, menjadi tantangannya.  Kurikulum 2013 membutuhkan integrasi, butuh team work. Saya kira guru SMA paling berat team worknya. Harus kerja sama,” tandas Maria.

Bukan hanya itu saja, lebih lanjut dikatakan, masyarakat pun harus cukup punya wacana, model, materi, pembelajaran sekolah di lokal. Sehingga tidak terjadi sekolah diprotes oleh orangtua. Atau sudah ada guru yang aktif tapi dari pengawasnya, dinasnya tak memiliki orientasi.  “Jadi pendekatan sekolah secara menyeluruh itu penting. Kepala Sekolah. Dinas juga harus pro aktif,” imbuh Maria.

Dan aspek lainnya, menurut Maria, adalah managemen perubahan. Ini serupa dengan arti kata dari bahasa Isa Ansori—guru mencari cara nyaman. Padahal menurut Maria sekolah harus siap berubah. Maria pun menyayangkan, apalagi sekarang ada sekolah Adi Wiyata Mandiri. Kesannya, setelah meraih sekolah Adi Wiyata, sudah mapan dan tak perlu lagi ada perubahan.  “Ini konsep yang salah kaprah. Tidak beda dengan mencari cara yang nyaman,” ungkapnya.

Sikap Apatis Guru

Pada kenyataannya, lanjut Isa Ansori, guru lebih nyaman mengajarkan sesuatu yang sifatnya  pilih yang paling gampang, materi pembelajarannya, lalu membuat indikatornya dan kemudian membuat evaluasinya.

Lebih lanjut menurut pandangannya, ada tiga hal yang menjadi pijakannya dalam melihat kurikulum ini sesungguhnya untuk siapa. Yang pertama, menurut Isa Ansori, ketika kurikulum 2004 dicanangkan, dia membayangkan saat itulah tepat untuk kembali pada pada kompetensi yang dimiliki guru dan sekolah dengan mengembangkan kecerdasan majemuk. Karena menurutnya kurikulum 2004 adalah wilayah otoritas guru, sehingga guru punya hak untuk menjadikan hitam-putihnya anak.

“Lalu kurikulum 2006, 2008. Dan 2013, saya kira tidak ada pengurangan, justru jam guru lebih banyak dan guru tidak punya kesempatan untuk bermain-main dalam proses pembelajaran. Karena berdasarkan kurikulum 2013 yang saya tangkap guru harus mengembangkan seluruh potensi dasar yang dimiliki oleh anak dan jam belajar dari 32 sekarang 38,” paparnya.

Kemudian yang kedua, dari struktur kurikulum ini dirinya melihat ada potensi positifnya. Yaitu siswa didorong punya ketrampilan lebih dalam.  “Dan ini sebetulnya menjadi ruh dari KBK yang selama ini tidak berjalan, tidak dilakukan oleh kawan-kawan guru. Ini yang saya pikir di kurikulum 2013, tentu dikembalikan,” tandas Isa.

Berikutnya, yang ketiga, sebetulnya kurikulum ini persoalan siapa? Inilah pertanyaan yang menurut Isa Ansori tidak kalah pentingnya.  Dikatakannya, menurut pengalaman dan pengamatan Isa,  dalam proses pendampingan yang dilakukan sejak tingkat SD-SMA, guru lebih nyaman dengan konsep pembelajaran yang satu arah.  Bahkan ada kekawatiran pendidik bahwa kurikulum 2004-2006, 2013 ini  bagian dari dekonstruksi otoritas guru.

“Saya pikir inilah yang menjadi kekawatiran guru, seolah-olah guru dianggap kemampuannya sama dengan siswa dan ini menjadi persoalan sendiri bagi guru. Sebenarnya, menurut saya, proses belajar sekarang tidak boleh ada yang merasa lebih tahu. Tetapi semua tahu, hanya berbeda satu sama lain. Ini yang harus dikembangkan oleh sekolah karena inilah inti dari kurikulum 2004 dan 2013,” terang Isa yang pada kesempatan itu juga menceritakan pengalamannya dipecat dari sebuah sekolah lantaran metode pengajarannya yang dianggap nyleneh.

1357197731403501346

isa ansori

“Pengalaman saya dan teman,”  tutur Isa, “Saya guru dan pada 1996 saya dipecat dari sebuah sekolah karena memberikan model pembelajaran yang berbeda dengan apa yang kebanyakan disampaikan kebanyakan guru waktu ini.  Saya pikir saya harus beda. Tetapi oleh kepala sekolah justru ditanya Pak Ansori ini mengajar apa mainan? Begitu kira-kira.”

Justru bermula dari pengalaman pahit itu, masih menurut penuturan Isa, dirinya pada 1997-1998 malah berkampanye dengan merekam dalam sebentuk dokumentasi tentang apa yang pernah dilakukannya.  Alhasil, tahun 1999 dokumentasi itujadi sebuah panduan dan dibiayai ADB (Asian Development Bank, red) untuk melatih 28.000 guru dan 1500 kepala sekolah se jatim.

“Nah, inti dari yang saya tawarkan sebetulnya yakni bagaimana sekolah atau guru itu punya otoritas dalam kontek pembelajaran yang dilakukannya,” tandasnya.

Salah seorang peserta diskusi, Wahyu Subagyo SDN Airlangga I, Surabaya membenarkan masalah rendahnya SDM guru. Setidaknya, hal itu dari pengamatan selama 20 tahun mengajar di SD. Wahyu mengaku sudah mengalami 3 perubahan kurikulum. Intinya, sebagus apapun kurikulum, ditegaskan Wahyu, kuncinya guru tersebut mampu ataukah tidak mencerna perubahan.

“Kenyataannya, guru itu sulit menemui hal baru. Semua kurikulum, CBSA, KBK, KTSK. Intinya, ada paradigma yang berkembang saat itu. Setiap ada perubahan kurikulum, SDM-nya sulit menerima. Padahal kalau kita telaah, kurikulum 2013 ini KBK masuk, CBSA, masuk KTSK juga masuk. Tinggal menyempurnakan. Intinya bagaimana prosesnya lebih bagus, dari sebelumnya.  Kalau kita baca, kita menutupi kurikulum-kurikulum sebelumnya,” ungkap Wahyu.

Wahyu sendiri mempertanyakan objektivitas, kenyataan di lapangan, berapa prosen yang interest, yang betul-betul memikirkan kurikulum dengan mencari informasi, untuk ke sana sangat kecil. Dugaan Wahyu, sikap guru sebagian besar akan apatis, “Alah, nanti kan tahu sendiri. Ini Apatis.”

Lebih lanjut, kepada pemerintah, Wahyu meminta kurikulum terbarunya disosialisasikan secepat dan sebaik mungkin. Terlebih, hal ini mengingat tidak semua guru merasa memiliki kepentingan terhadap informasi itu, dan enam bulan bukanlah waktu yang lama.  “Bagi guru muda sadar IT, seperti saya bisa cari di internet. Kami pun tidak hanya cari dari situs-situs, tapi juga menggali informasi. Termasuk dengan menghadiri pertemuan-pertemuan ini. Tapi tidak semua guru punya kepedulian seperti ini,” tandasnya.

Tentu akan lebih baik lagi, lanjut Wahyu, jika pemerintah atau LSM dalam masa sosialisasi ke depan mengambil sampel beberapa orang guru, lalu silakan dikembangkan KKG masing-masing. “Paling tidak seperti itu,  informasinya juga lebih afdol,” katanya.

Sementara itu, peserta lainnya, Anatasia Lestari R dari SD Santa Clara, Ngagel Madya Surabaya, berpendapat, di lapangan kemungkinan besar guru sulit meninggalkan pandangan lama. Masih bercokol dalam benak mereka bahwa  behaviorisme dalam pengajaran masih kuat.  “Tentu perubahan itu tantangan besar, bagaimanapun perubahan kurikulum ini menuju lebih baik. Hanya bagaimana tanggapan kita di lapangan, tergantung SDMnya,” katanya.

Masalah Ujian Nasional

Tantangan utama dari Kurikulum 2013 ini menurut Isa adalah pada kualitas komunitas guru atau guru KKG—guru serumpun dalam menentukan tema bersama untuk proses pengajaran. “Problemnya tentu saja adalah apakah mereka mau duduk bareng untuk itu?”

Sebab bila tidak demikian, akan banyak sekali hal yang sia-sia seperti pengalaman proses pengajaran selama ini, ketika semua guru terbebani oleh 18 karakter untuk siswa sehingga semuanya mengajarkan hal itu. “Mestinya, Kan bisa dibagi? Selama ini terjadi pengulangan yang buang-buang waktu.”

Demikian pula menurut Maria, tantangannya adalah dalam bahasanya– team teaching-nya. “Mulanya, cari tema yang sama, lalu diantara tim itu harus ditentukan kompetensi dasarnya siapa yang penting?”

Sebagaimana kurikulum sebelumnya, Kurikulum 2013 ini selain masalah SDM, juga menjadi dilema bagi guru dan pihak sekolah terkait penyelenggaraan Ujian Nasional (UN).

“Sebetulnya di satu sisi guru ingin mengembangkan sikap siswa. Di sisi lain ujian akhir ini beban dan kendala kita,” ungkap Anatasia Lestari.

Terhadap hal ini, Isa Ansori menjelaskan memang negara punya tanggungjawab karena mengeluarkan dana. Melalui standar komisi, sehingga UN adalah wilayah Jakarta.

“Saya kira itu tantangannya. Dua-duanya harus jalan. Dan sekolah punya otoritas juga. Karakter itu wilayah sekolah. Dianggapnya UN seolah penentu, padahal tidak. Sekolah boleh tidak meluluskan. Hanya saja, memang sekolah terbebani prosentase kelulusan,” jawabnya.

Dengan kata lain, menurut Isa Ansori, menghadapi kurikulum 2013 ini, persoalannya lebih pada SDM, apalagi guru muda pun bisa tertular virus guru tua yang suka kemapanan.  Yang kita butuhkan adalah guru yang ‘berani” melakukan yang terbaik untuk siswa, masyarakat harus membayar mahal. Dan Kurikulum 2013 tidak butuh biaya tinggi. Tapi kreativitas guru sebagai tantangan. Kita butuh guru yang setiap minggu bisa menawarkan perubahan.

“Kalau ada guru seperti itu, ini perubahan luar biasa. Guru yang bisa mengembangkan nalar, terintegrasi,  soal apapun tidak ada persoalan. Masalahnya sekolah tidak mau repot, perubahan selalu dianggap menakutkan,” tandas Isa.

Dengan pola pikir guru yang luar biasa seperti ini, sebetulnya itu langkah maju daripada Kurikulum 2013 yang bertahap dan dievaluasi setelah 3 tahun tersebut.  Pola guru yang siap berubah seperti itu, jikapun ada kurikulum yang berubah 6 bulan sekali, guru senantiasa siap.

“Tidak harus 3 tahun evaluasi. Seperti cari info kurikulum, bagi yang tinggal dikota-kota, tidak perlu waktu 6 bulan sosialisasi. Cukup sehari saja bisa cari dan dalami dari internet, dan sebulan cukup untuk memberi masukan uji publik. Tetapi masalahnya adalah dari beberapa uji publik ini, guru malah tidak bicarakan?” ungkap Isa.

Ditegaskannya, perubahan kurikulum tidaklah krusial karena kurikulum itu benda mati. Bahkan, menjawab harapan Wahyu adanya guru-guru sampel yang perlu dilatih khusus, menurut Ansori,  Pemprov Jatim yang lalu-lalu sudah melakukan pendampingan guru di sekolah.

“Pendampingan banyak dari pemerintah karena problemnya kalau di luar birokrasi agak itu sulit. Apalagi kenyataannya, setelah pelatihan, kinerja guru juga kembali pada kemampuan seperti sebelumnya. Mental guru seperti ini harus diubah. Seolah-olah pemerintah itu segala-galanya,” tandas Isa Ansori. [S. Jai]

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Menghadiri Japan Halal Expo 2014 di Makuhari …

Weedy Koshino | | 27 November 2014 | 16:39

Bu Susi, Bagaimana dengan Kualitas Ikan di …

Ilyani Sudardjat | | 27 November 2014 | 16:38

Saya Ibu Bekerja, Kurang Setuju Rencana …

Popy Indriana | | 27 November 2014 | 16:16

Peningkatan Ketahanan Air Minum di DKI …

Humas Pam Jaya | | 27 November 2014 | 10:30

“Share Your Dreams” dengan Paket …

Kompasiana | | 26 November 2014 | 11:24



HIGHLIGHT

Keuntungan Minum Air Mineral di Pagi Hari …

Vitalis Vito Pradip... | 11 jam lalu

Perbandingan Cerita Rakyat Ande-ande Lumut …

Kinanthi Nur Lifie | 11 jam lalu

Kalau Nggak Macet, Bukan Jakarta Namanya …

Seneng Utami | 11 jam lalu

Merdeka Tapi Mati! …

Engly Ndaomanu | 12 jam lalu

‘Jujur dan Benar dalam Pola …

Asep Rizal | 12 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: