Back to Kompasiana
Artikel

Edukasi

Alexander Kevin

Kejujuran dan keberanian adalah alur hidup mencapai kedamaian hati

Kejujuran

REP | 03 January 2013 | 19:35 Dibaca: 138   Komentar: 0   0

Pencarian Makna Kejujuran oleh Seorang Bocah

Ada seorang bocah yang sedari kecil bersifat jujur karena ia percaya seseorang yang mengatakan bahwa dirinya jujur. Sang bocah dengan pemikiran yang sederhana berusaha mencari makna jujur. Ia melihat masyarakat sekeliling, mencari-cari contoh perbuatan yang disebut jujur. Ketika melihat salah satu adegan film tentang seorang anak yang melihat dompet sang nenek yang terjatuh dari tasnya, lalu ia mengembalikan dompet sang nenek, sang anak tersebut dipuji jujur oleh sang nenek. Ketika di sekolah, sang guru pernah mengajarkan untuk jujur dengan tidak menyontek. Beliau menceritakan sebuah perumpamaan seorang pria dengan kupu-kupu;

Ada seorang pria yang begitu mencintai alam. Ia memiliki kebun yang luas di sekeliling rumahnya. Kebun dia penuh dengan pepohonan berbunga hias seperti mawar, melati, anggrek, lili, tulip, bahkan edelweiss yang ia tanam dengan perlakuan khusus seperti di habitat aslinya, dan beberapa pepohonan keras seperti pohon jati, oak, willow, angsana, petai cina, kamboja, dan juga beberapa tanaman sayuran, tanaman penghasil buah, serta tanaman semak dan pepohonan perdu yang begitu banyak dan lebat. Taman tersebut selalu dipenuhi kupu-kupu, terutama kupu-kupu monarch. Burung-burung pun senang menempati taman itu dan bersenandung ria di kala hari. Suatu ketika, ia berjalan-jalan berkeliling di kebunnya. Ia menemukan sebuah kepompong di bawah daun teh. Ia memperhatikan kepompong tersebut dan nampaknya kepompong tersebut akan menjadi kupu-kupu dalam waktu dekat. Ia pun meluangkan waktunya setiap hari untuk memperhatikan apakah sudah waktunya kepompong tersebut menjadi kupu-kupu. Empat hari kemudian, dia menghampiri lagi tempat kepompong tersebut dan sesosok kupu-kupu bergejolak berusaha keluar dari kepompong. Dua dari enam kakinya sudah keluar. Pria itu menyaksikan kupu-kupu tersebut berjuang sangat keras. Beberapa saat kemudian, kupu-kupu tersebut tampak lelah dan diam. Diamatinya dan ditunggu beberapa menit lagi, kupu-kupu tersebut bergejolak kembali. Namun setelah berjuang kembali, hanya kaki-kakinya saja yang keluar. Sayap kupu-kupu tersebut terjepit oleh celah keluar kepompong. Pria itu hanya menyaksikan saja kupu-kupu tersebut berjuang sampai lelah dan kembali berusaha lagi. Waktu berlalu cukup lama, dan sang kupu-kupu hanya terdiam lemas. Ia berusaha lagi namun hanya gesekan sayap-sayap lemas saja yang terbungkam dinding kepompong. Si pria ini pun kasihan. Dia menarik kupu-kupu tersebut perlahan-lahan keluar dari kepompong. Hanya sebentar saja, dan kupu-kupu pun terbebas. Saat pria ini menerbangkan kupu-kupu tersebut, dia melihat hal yang aneh. Kupu-kupu tersebut tidak bisa terbang. Dia letakkan kupu-kupu tersebut di sebuah pohon lalu memperhatikan kembali. Ketika kupu-kupu tersebut akan berpindah ke pohon lain, dia berusaha terbang tetapi justru terjatuh. Pria itu pun tersadar bahwa itu salah dia. Dinding kepompong sudah terdesain untuk melatih sayap kupu-kupu, sehingga sayap kupu-kupu menjadi kuat ketika berhasil keluar dari kepompong. Pria tersebut telah mencelakakan kupu-kupu tersebut. Dia telah memaksakan sesuatu di luar apa yang telah alam siapkan.

Sang guru kemudian menjelaskan dengan bahasa yang dipahami anak-anak bahwa ketika kita menyontek, kita membohongi diri sendiri. Sebenarnya kita tidak bisa, tetapi kita menutupi ketidak-bisaan itu dengan nilai. Pernah suatu kali ia bertemu dengan seseorang yang mengatakan bahwa jujur itu tidak berbohong. Sang bocah pun mulai menyusun kesimpulan bahwa kejujuran lawan dari kebohongan dan sebaliknya. Ketika kita tidak berbohong, kita jujur. Enam tahun kemudian, sang bocah duduk di kelas 6 SD. Sang bocah masih memegang prinsip itu. Ia tidak pernah menyontek sampai saat itu. Ketika ada ulangan da nada soal yang tak bisa ia jawab, ia selalu menyilang nomor soal tersebut di jawaban lalu menulis “tidak tahu”. Suasana ketika kelas 6 SD sudah mulai ada temannya yang mulai malas belajar namun berharap mendapat nilai bagus. Suatu ketika tiba saatnya ulangan. Salah satu temannya memulai aksi menyonteknya dan kemudian diikuti hampir semua teman sekelasnya. Ketika teman sebangkunya mulai menyontek, ia pun menghadapi godaan. Sempat ia berpikir untuk menyerah karena memang ia belum betul-betul siap dengan ujian itu lalu menyontek saja. Ia mulai memegang buku dan siap membukanya sementara ulangan tersebut bersifat close book dan mandiri. Tapi itu jelas tidak jujur. Ia berpikir kalau ia tidak menyontek, hanya dia satu-satunya yang mendapat nilai jelek dalam ulangan. Dan ia akan dimarahi orang tuanya bila mendapat nilai jelek. Dia pun diapit oleh kebanggaan bahwa dia selalu mendapat nilai tinggi pada pelajaran tersebut sebelum-sebelumnya. Tapi ketika ia menyontek, ia akan membohongi diri sendiri, seperti yang telah guru TK katakan pada muridnya. Pada akhirnya kebaikan menang terhadap dirinya. Ia tidak menyontek. Dan ia berbicara sendiri bahwa ketika ia menyontek, ia membohongi diri dan biarlah dia yang mendapat nilai terendah daripada nilai tinggi tapi palsu, ia siap dimarahi orang tuanya karena nilai jelek karena memang ia belum siap. Kata-kata ia bernada seperti orang di bawah tekanan kuat. Teman sebangkunya dan yang di depannya mendengar kata-kata ia. Teman sebangkunya mulai menutup bukunya lalu mulai mengerjakan sendiri sambil mengajak teman-teman lain untuk jujur.  Perbuatan tersebut menyebar dan hampir semua anak berhenti menyontek. Ada salah satu dari temannya yang masih menyontek, dan teman-teman sekelasnya mengetahui. Ia sempat dimusuhi hampir sekelas. Sang bocah tersebut justru menjadi benci terhadap temannya tersebut. Iri menguasai ia. Ia memiliki suara mayoritas dan merasa berhak menghakimi temannya tersebut dengan ejekan-ejekan dan hinaan-hinaan. Sempat orang tua temannya sudah gemas dengan perilaku si bocah karena hampir setiap hari ia mendapat laporan dari anaknya yang dihina-hina. Si bocah dan beberapa temannya yang ikut menghina dipanggil ke kantor guru. Sang ayah temannya yang dihina sudah mulai panas dan ingin menghakimi bocah. Namun bocah tersebut tetap merasa benar dan menentang. Seiring berjalanya waktu, intensitas kejelekan si bocah berkurang dan akhirnya sadar bahwa ia benci terhadap temannya karena iri. Namun masa SD telah berakhir dan ia sudah berpisah tanpa meminta maaf yang sebenarnya dari hati.

Ketika SMP, ia tetap memegang prinsipnya itu. Beberapa temannya setuju dan berteman dengan ia. Beberapa temannya ada yang senang menyontek. Ia mengambil sikap mendiamkan temannya yang menyontek dan jarang bergaul dengan mereka karena memang sengaja menghindari mereka. Teman-temannya yang setuju dengan ia banyak bergaul dengan temannya yang senang menyontek. Bocah yang kini memasuki tahap remaja awal pun tidak memusuhinya, tetapi tidak begitu akrab dengan mereka. Peringkat di kelasnya pun tidak terpengaruh oleh nilai-nilai temannya yang menyontek. Ketika kelulusan, mereka semua berteman seperti biasa saja. Tidak ada perasaan buruk yang disimpan karena semua telah saling memaafkan.

Menginjak masa SMA, bocah tersebut ini menjadi remaja yang kuat. Ketika kelas satu, ia masih mendapat peringkat 10 besar dengan kondisi teman-temannya yang heterogen seperti semasa SMP. Namun ketika kelas dua semester 1, peringkatnya turun drastis menjadi yang paling terakhir. Ia menyadari bahwa memang ia tidak belajar. Kebanyakan temannya hanya menyalin tugas dari teman yang sudah mengerjakan. Dan hampir semuanya menyontek ketika ujian. Di semester 2, ia pun belajar keras. Semua tugas dan PR ia kerjakan. Ketika ujian, nilainya baik dan ia ada di peringkat atas. Ilmu pun telah ia dapatkan. Ia lebih pintar dari kebanyakan teman lainnya. Namun hasilnya keluar dan ia masih di peringkat terakhir di kelasnya. Padahal ia telah memiliki nilai lebih daripada teman-temannya. Dan akhirnya ia memusuhi teman-temannya yang senang menyontek, dan itu hampir satu kelas. Ia mendiamkan mereka dan tidak mau bergaul dengan mereka. Hanya sedikit saja teman yang masih dianggap teman, dan itu adalah mereka yang dipandang tidak munafik bagi ia. Beberapa kali ia menghina teman-temannya yang menyontek, dan ia pun dicela kembali karena suara mayoritas ada pada teman-temannya yang senang menyontek. Menjelang akhir kelas tiga, kekerasan ia terhadap teman-temannya mulai melunak. Perlahan mereka berteman lagi walau hanya “say hello”. Namun ia tak pernah berteman begitu dalam dengan mereka. Menjelang UAN, angkatan ia mendapat tawaran kunci jawaban UAN. Akhirnya angkatan tersebut sepakat hanya bagi yang mau saja yang memakai dan turut berpatungan. Ia, tidak memakainya, namun sedikit menyimpan kekecewaan terhadap mereka yang menggunakan kunci jawaban. Akhirnya semua anak lulus UAN. Di akhir masa SMA, ia baru mengetahui bahwa nilai rapor bisa diganti. Kebanyakan orang tua murid yang nilainya kurang atau muridnya sendiri, mengemis pada untuk guru mengganti nilai dengan lebih baik. Dan tak jarang uang sebagai tanda terima kasih mereka. Bocah yang kini telah memasuki tahap remaja akhir ini pun menyimpan luka batin kepada beberapa temannya dan beberapa gurunya. Bermiggu-minggu ia tenggelam dalam kebencian bila mengingat-ingat apa yang telah berlalu.

Suatu ketika ia melawan rasa benci itu dan mencoba berpikir jernih. Ia menemukan bahwa teman-teman ia salah walaupun terpaksa, tapi ia juga menemukan bahwa ia sendiri membusuk dengan mendiamkan dan memusuhi teman-temannya. Seharusnya ia mengajak teman-temannya untuk jujur. Dan ia seharusnya mengingatkan temannya dan mengajak mereka belajar. Bukan membiarkan mereka celaka. Sang bocah yang kini di masa akhir remaja pun menyadari bahwa konsep kejujuran yang ia pahami masih sempit. Ia menyadari bila selamanya kejujuran adalah seperti yang ada pada prinsip ia, kejujuran itu akan bertentangan dengan beberapa kebenaran lain. Lantas, apakah suatu kebenaran akan menentang kebenaran lainnya? Apakah orang jujur memusuhi orang tidak jujur? Apakah kejujuran itu?

Ketika Kejujuran Dijual

Suatu kisah dari negeri antah berantah di mana tak tahu ke mana. Ada seorang wanita miskin yang bekerja di perusahaan mie instan. Ia bekerja di bagian tenaga pengawetan. Ia dan teman-teman bekerjanya mengetahui bahwa pengawet yang digunakan perusahaan tersebut adalah natrium benzoate, pengawet yang diizinkan oleh menteri kesehatan Indonesia. Karena ketangkasannya dalam bekerja, ia dilihat dan dinilai baik oleh kepala bagian produksi. Ia sering lembur karena butuh uang untuk menghidupi anaknya yang balita dan kakaknya yang bersekolah di bangku SMP. Suaminya hanya mabuk-mabukan, berjudi, dan mereka sering bertengkar dan sang suami tidak segan menganiaya dia dan anak-anaknya. Akhirnya entah ke mana mereka berpisah, dan anak-anak menjadi tanggungan si ibu. Si suami pun kabur dengan meninggalkan hutang dari hasil perjudiannya.

Suatu ketika, si ibu diangkat menjadi manajer pengawasan kerja. Ia tentu tidak menolak. Pekerjaan ia adalah mengawasi jalannya pengawetan dan memperhatikan pekerjaan pegawai di bidangnya dulu. Sempat ia berkeliling mengawasi jalannya kerja industri dan menemukan ruang racikan pengawet. Ia menemukan berbotol-botol formalin di ruang tersebut. Sang ibu pun terkejut. Ia menanyakan hal tersebut kepada atasannya. Atasannya pun mengakui dan meminta ia juga turut bungkam. Sang ibu pun menghadapi dilema. Jika ia memberitahukan publik, perusahaan akan dituntut dan terancam bangkrut. Dan konsekuensinya tentu semua temannya dan ia sendiri kena PHK. Ia sendiri masih memiliki banyak hutang kepada tetangga-tetangganya sementara anak-anaknya masih memerlukan biaya. Sementara itu, jutaan penduduk Indonesia diracuni formalin dari produk tersebut, produk dari perusahaan yang memberinya makan untuk tetap hidup. Pada akhirnya ia memilih bungkam.

Namun bangkai yang ditutupi akan tercium baunya. Ada sejumlah mahasiswa yang melakukan kerja praktek di BPOM dan kebetulan ditugaskan menganalisa kandungan pengawet produk tersebut. Mereka menemukan sampel produk tersebut mengandung formalin. Segera mereka menyampaikan ke publik. Media pun ramai dengan berita tersebut. Akhirnya mahasiswa dan perusahaan tersebut berada dalam pengadilan negeri. Si ibu tersebut beserta rekan-rekan kerjanya dipanggil menjadi saksi. Rekan-rekan kerjanya hanya mengetahui bahwa pengawet yang digunakan adalah natrium benzoate dan hanya si ibu yang tahu bahwa ada kandungan formalin yang digunakan oleh perusahaan tersebut. Si ibu pun bungkam. Hakim memutuskan bahwa perusahaan tersebut tidak bersalah dan mahasiswa tersebut dituntut atas tindak pidana atas pencemaran nama baik. Sang ibu pun hanya bisa menanggung beban batin di dalam hati. Mengubur rahasia perusahaan dalam-dalam.

Apakah ibu tersebut yakin tidak ada jalan lain yang lebih baik untuk mencari rezeki? Ibu dalam cerita tersebut tidak berbohong. Namun juga tidak mewartakan kebenaran. Dia membiarkan kejahatan berkuasa. Bagaimana dengan rekan-rekan kerja ibu tersebut? Mereka mengikuti suara hati mereka, namun mereka tidak mengetahui lebih jauh. Apa mereka berkata jujur di pengadilan? Jadi apakah kejujuran itu?

Ketika Kejujuran Pada Perikemanusiaan Melanggar Hukum Negara

Satu lagi kisah dari negeri antah berantah di mana tak tahu ke mana. Sebuah negeri dengan hukum yang diambil dari Syari’at Islam bahwa kedua tangan setiap pencuri harus dipotong. Alkisah hiduplah seorang pemulung bersama seorang anaknya. Ia bersama anaknya selalu berkeliling di siang bolong maupun malam hari untuk mengais-ngais sampah demi mengumpulkan botol-botol plastik. Mereka terbiasa melakukan hal tersebut dari anaknya berumur 7 tahun sampai sekarang. Ibu anak pemulung tersebut sudah lama meninggal karena leukemia dan tidak pernah mendapat perawatan rumah sakit karena mereka tidak mampu membayar uang muka, apalagi biaya perawatannya. Sekarang tinggal anak pemulung tersebut dengan ayahnya. Setiap hari mereka mencari botol-botol plastik, tak peduli siang terik maupun malam hari. Setelah dirasa cukup, kemudian mereka kembali ke gubugnya yang reot beratapkan dan berdinding seng di sebelah bangunan yang terbengkalai dan tempat pembuangan sampah. Setiap sore, mereka menjual hasil memulungnya ke tempat daur ulang. Hasil penjualannya cukup untuk membeli nasi sayur telur untuk mereka makan dua kali sehari, dan terkadang ada lima ribu sampai sepuluh ribu untuk ditabung. Sang anak tidak bersekolah karena tidak mempunyai biaya yang cukup untuk membayar keperluan-keperluan pendidikan. Namun ayahnya sering mengajarkan anaknya membaca dengan koran bekas dan berhitung dengan uang di kala istirahat. Kehidupan mereka cukup harmonis, walaupun banyak kekurangan, mereka dapat mencukupi.

Namun cobaan terberat hadir lagi bagi si pemulung. Timbul tonjolan di pinggang anaknya, kian hari kian membengkak. Mereka memeriksakan diri ke puskesmas dan dokter memvonis bahwa si anak terkena kanker ginjal stadium dua. Dokter pun memberi surat rujukan rumah sakit untuk mengangkat sel-sel kanker beserta sel-sel sehatnya yang berarti mengangkat salah satu ginjalnya itu, atau dilakukan kemoterapi yang biasanya lebih sering memangkas tubuh pasien. Keduanya sama pahitnya. Jika dilakukan operasi pengangkatan, sang anak harus melakukan cuci darah setiap bulannya, dan biaya yang dikeluarkan untuk itu tidaklah kecil, dan ada kemungkinan masih sel kanker yang tertinggal. Jika dilakukan kemoterapi, apakah sang anak cukup kuat untuk selamat melewati terapi tersebut? Uang tabungan pemulung tersebut bahkan tidak mencukupi biaya sekali terapi ataupun operasi. Apakah pemulung kelak membiarkan kanker menggerogoti seluruh tubuh anaknya hingga mati? Ia sudah pernah kehilangan istrinya, ibu dari anak itu, dengan cara seperti itu. Ia tidak memiliki apa-apa untuk digadaikan. Meminjam kepada teman-temannya sesama pemulung pun tidak mungkin. Meminta uang dan mengharap kasihan dari siapa? Sementara dia mencari jalan lain untuk mendapat uang, kondisi anaknya semakin parah dan mulai memasuki stadium tiga. Mau berapa lama lagi dia biarkan untuk mencari uang terlebih dahulu? Tidak ada yang peduli, seperti saat istrinya sekarat dengan leukemianya. Tidak ada cara lain lagi selain mencuri. Akhirnya dia pun nekat melakukan tindakan tersebut.

Dia pun memulai aksinya di rumah seorang dokter bedah dan pemilik rumah sakit ternama. Dia masuk ke pekarangan rumah lalu mencongkel jendela rumah tersebut dan berhasil masuk tanpa menimbulkan keributan. Sejauh ini aman, dan penghuni rumah pun sedang terlelap. Dia masuk ke kamar dokter tersebut. Dia melihat-lihat isi lemari pakaian yang terletak tepat di sebelah tempat tidur dokter yang tidur di situ. Dia kemudian mengantongi dompet berisi uang tunai dan emas hingga puluhan gram serta smart phone. Saat dia sibuk mengantongi barang curiannya, smart phone milik dokter berdering. Dokter dengan refleks siaga panggilan langsung membuka mata kemudian melihat sang pencuri tersebut. Pencuri dan dokter sama-sama panik, dokter berteriak-teriak sambil mengejar pencuri. Teriakan dokter membangunkan warga dan mereka langsung mengejar pencuri itu. Golok, parang, dan celurit pun dihunuskan warga sambil mengejar pencuri tersebut. Seandainya dia tertangkap, dia akan mati dihakimi warga, sekalipun hanya dipotong tangannya (karena siapa yang akan menghentikan pendarahan nadinya setelah tangannya dipotong?). Karena massa tampak tertinggal jauh, dia bersembunyi Dia berlari terus hingga tiba di suatu rumah yang gelap dan terkesan tak berpenghuni. Dia mencoba masuk ke rumah itu, namun pintu rumah itu terkunci. Dia mendobrak-dobrak pintu itu dengan putus asa. Tiba-tiba terdengar suara kunci berputar dan pintu terbuka. Muncul seorang janda tua sederhana yang mengizinkan dia masuk setelah memohon kepada janda itu. Pemulung itu menjelaskan bahwa dia memiliki anak yang menderita kanker sedangkan dia tak mampu membayar biaya perawatannya sehingga ia terpaksa mencuri. Dan sekarang, dia sedang dikejar massa. Janda tersebut memaklumi dan membiarkan pemulung tersebut bersembunyi. Ketika massa datang dan mengetuk pintu, janda tersebut membukakan pintu. Jika seandainya sang ibu tua itu tidak membohongi massa yang marah, massa itu tidak akan pergi. Jika ibu tua itu hanya mendiamkan massa, yang terjadi justru menimbulkan kecurigaan terhadap persembunyian si pencuri itu. Akhirnya saat ditanya tentang keberadaan pencuri, ibu tersebut mengaku tidak melihat. Massa pun berlalu pergi. Sang pencuri pun keluar dari persembunyiannya. Dia berterima kasih pada ibu itu dan bertanya mengapa dia menyelamatkan dirinya. Sang ibu tua itu pun bercerita;

Saya sudah muak dengan aturan-aturan yang dibuat oleh orang-orang busuk dan munafik. Mereka membuat rakyat jelata bertangan buntung tetapi mereka sendiri sibuk memperkaya diri dan mempertahankan kekuasaannya. Mereka penuh dengan skandal kasus suap-menyuap pengadilan, namun tetap bebas berkeliaran. Dan yang paling membuat saya sakit hati, mereka menyerukan dera seratus kali terhadap pelaku zina, namun salah satu dari ulama tersebut dinyatakan tidak bersalah di pengadilan setelah memerkosa anak saya hingga bertahun-tahun di pesantrennya. Mereka justru memutar-balikan tuduhan atas pencemaran nama baik. Bahkan mereka memanggil saksi-saksi palsu untuk mengkambing-hitamkan kekasih anak saya yang berani memperjuangkan hak anak saya. Dia justru dituduh berzina dengan anak saya dan kemudian disiksa. Dan kini, anak saya meninggal karena tertular AIDS yang ditularkan ulama tersebut. Sementara ulama tersebut bisa bebas keluar negeri dan dan bisa berobat. Saya sudah benar-benar muak dengan ketidakadilan ini. Tapi apalah daya, saya hanya janda miskin penjual sayur yang hanya bisa mengomel. Di mana orang-orang saat ketidakadilan meraja rela? Di mana orang-orang saat kejahatan ada di depannya? Di mana orang-orang saat keputus-asaan menimpa? Bukankah mereka yang mampu membela kebenaran sama saja dengan pembunuh jika hanya diam saat ada pembantaian di hadapannya? Apakah tidak ada satu pun di negeri ini yang mampu menentang? Teman-teman saya yang sama-sama berjualan di pasar hanya bisa simpati dan berbelasungkawa, tapi apa gunanya semua itu? Itu semua tidak menyelesaikan masalah. Saya telah menghadapi keputus-asaan itu. Saya tahu bagaimana rasanya. Dan saya setidaknya tidak akan membiarkan kejahatan orang-orang munafik itu membunuh harapan, membunuh kehidupan. Ini, ambillah uang tabungan saya. Bawalah anakmu, tinggallah bersama saya.

Pemulung tersebut terhanyut dengan pengalaman ibu tua tersebut. Dia berterima kasih pada ibu itu. Namun bagaimanapun juga, biaya yang dikumpulkan belum mencukupi biaya kemoterapi. Dan kondisi tubuh anaknya pun tidak mendukung untuk kemoterapi karena sudah terlalu lemah melawan kanker itu sendiri. Dan pihak rumah sakit itu pun lebih menyenangi operasi pengangkatan ginjal karena profit dari cuci darah yang memiliki keuntungan jangka panjang bagi rumah sakit. Namun dengan pertimbangan tubuh sang anak yang sudah terlalu lemah, akhirnya sang pemulung pun memutuskan dilakukan operasi tersebut.
Operasi pengangkatan ginjal telah usai, sang anak kemudian diperbolehkan pulang setelah dirawat beberapa hari. Namun bukan berarti masalah telah selesai, akan ada komplikasi berikutnya yang timbul karena hanya memiliki satu ginjal. Namun biarlah perkara esok menjadi perkara esok, cukuplah dengan perkara hari ini. Kiranya perkara esok akan ada jalannya. Dan kini mereka tinggal bersama sang ibu tua yang menyelamatkan si pemulung dengan membohongi massa yang ingin menghakimi pemulung.

Jadi adakah berbohong demi kebaikan? Sepertinya ada, namun dalam prakteknya lebih sering menjadi berbohong demi keuntungan. Jika memang terjepit situasi tertentu, ada hal-hal yang dilanggar supaya suatu kebenaran masih manusiawi, namun benarkah pelanggaran itu? Benar, karena hanya itulah kebenaran yang dapat ditempuh dengan jalan yang manusiawi. Di manakah letak kesalahannya? Bukankah kesalahannya ada pada sesuatu yang lebih tinggi lagi? Bukankah sistem masyarakat justru yang sering mendesak? Apa daya seseorang yang di bawah sistem itu selain tunduk patuh? Beranikah manusia keluar dari belenggu sistem yang salah dan mengejar kebenaran itu. Seandainya ibu tua itu tidak berbohong, apakah kejujuran ibu itu masih manusiawi? Jika iya, bukankah nilai kejujuran itu akan bertentangan dengan nilai kemanusiaan itu sendiri? Dan bukankah hal ini akan menimbulkan paradox bahwa di dalam kebenaran ada pertentangan kebenaran yang satu dengan yang lain? Seandainya paradox itu ada, bukankah kebenaran akan terpecah belah dan terkotak-kotakan menjadi unit-unit kebenaran yang terlalu sempit? Jika begitu, apa yang membedakan kebenaran dengan keuntungan sepihak atau sebagian pihak? Bukankah kebenaran hanya menuju satu tujuan yakni Kebenaran Sejati, yang mengandung kebaikan yang universal? Seandainya kejujuran menentang kemanusiaan, bukankah ini meruntuhkan makna dari kebenaran itu sendiri?

Jadi apakah kejujuran itu? Masihkah kejujuran hanya sebatas tidak berbohong pada diri sendiri dan/atau orang lain? Masihkah kejujuran adalah kepolosan belaka dan ketelanjangan, di mana tidak ada yang ditutup-tutupi? Masihkah kejujuran hanya sebatas kesamaan atas perkataan dan perbuatan? Masihkah kejujuran hanya sebatas mengikuti kata hati yang masih bisa salah karena kurangnya pengetahuan? Apakah kejujuran berarti membiarkan kebobrokan dan kejahatan berlangsung? Apakah kejujuran memusuhi ketidakjujuran? Tidak, kejujuran memang berarti suatu tindakan melawan, tapi bukan memusuhi. Namun seperti apakah bentuk perlawanan dari kejujuran?

Sampailah pada kesimpulan yang jauh lebih luas bahwa kejujuran hakikatnya adalah keberpihakan pada Kebenaran Sejati. Berani untuk jujur berarti siap mencintai. Karena hanya lewat cinta, manusia menemukan makna kehidupan, dan jembatan yang menghubungkan kebenaran manusiawi dengan Kebenaran Sejati.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Kurikulum 2013: Buku, Seminggu Dibagikan …

Khoeri Abdul Muid | | 20 August 2014 | 17:25

Hati-hati, Cara Mengutip Seperti Ini Pun …

Nararya | | 20 August 2014 | 20:09

Anak Sering Kencing (Bukan Anyang-anyangan) …

Ariyani Na | | 20 August 2014 | 18:03

Obat Benjut Ajaib Bernama Beras Kencur …

Gaganawati | | 20 August 2014 | 14:45

Kompasiana Nangkring bareng Sun Life: …

Kompasiana | | 18 August 2014 | 12:58


TRENDING ARTICLES

Inilah Nama-nama Anggota Paskibraka 2014 …

Veronika Nainggolan | 11 jam lalu

Nikita Willy Memukul KO Julia Perez …

Arief Firhanusa | 14 jam lalu

Kalau Tidak Bisa Legowo, Setidaknya Jangan …

Giri Lumakto | 15 jam lalu

Di Balik Beningnya Kolang-kaling …

Hastira | 15 jam lalu

Menebak Putusan Akhir MK di Judgment Day …

Jusman Dalle | 17 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: