Back to Kompasiana
Artikel

Edukasi

Al

...I won't hesitate no more... just write...!!

‘Hati-hati Gangguan Psikologis pada Anak Akibat Melihat Berita di Televisi’

HL | 05 January 2013 | 14:44 Dibaca: 1244   Komentar: 0   11

13573805171930214626

Ilustrasi / Admin (Shutterstock)

Suatu ketika seorang ibu terkejut menyadari anaknya, Tasya, yang berusia 5 tahun tidak mau masuk ke dalam sebuah Bank, padahal sang ibu ada kepentingan melakukan transaksi di Bank tersebut. Anak itu menangis menjerit-jerit tidak mau masuk ke dalam gedung, namun juga tidak mau ditinggalkan oleh ibunya. Sebuah kondisi yang membingungkan bukan?

Pada kesempatan lain di sebuah airport, seorang anak laki-laki, bernama Alan, berusia 7tahun tidak mau di ajak masuk ke dalam pesawat. Padahal keluarganya akan bepergian ke suatu tempat sehingga mereka harus bersusah payah membujuk Alan agar mau memasuki pesawat. Karena si anak merasa ketakutan dan histeris akhirnya mereka harus menunda penerbangan.

13573716151402206148

pic by/nessha

Mengapa hal ini harus terjadi terhadap seorang anak yang seharusnya di usia mereka senang sekali berada di tempat-tempat yang baru dan melakukan hal-hal yang tidak setiap hari mereka lakukan seperti di rumah, di sekolah atau di tempat les?

Seperti yang kita ketahui bahwa informasi yang tersebar baik di televisi maupun di media lainnya mampu mempengaruhi phsikologis anak baik secara langsung maupun tidak langsung. Anak-anak sudah terbiasa melihat dan mendengar berita di televisi tentang apa saja yang mungkin belum pantas mereka dengar. Akibatnya informasi yang di interpretasikan secara sederhana oleh anak-anak menjadi boomerang bagi dirinya sendiri.

13573718092144037363
pic by/nessha

Contoh di atas, mengapa Tasya bersikeras tidak mau memasuki Bank, karena beberapa waktu sebelumnya ia mendengar ada serangan bom di sebuah Bank hingga menewaskan beberapa orang. Tasya mendengar dan melihat di televisi dengan mata kepala sendiri dan menginterpretasikan kejadian tersebut sesuai tingkat pemikirannya yang sangat sederhana sehingga timbulah pengertian di dalam otaknya bahwa di Bank pasti ada bom.

Lain lagi kasus Alan, sampai ia merugikan keluarganya gara-gara suatu hari Alan melihat berita di televisi ada serangan teroris di pesawat terbang. Ia melihat banyak korban berjatuhan dan secara sederhana ia menyimpulkan bahwa di setiap pesawat pasti ada teroris, tanpa mengetahui apakah teroris itu.

Nah, itu sebabnya sebagai orang tua sebaiknya kita tidak membiarkan anak yang masih di bawah umur melihat berita di televisi sendiri. Kalaupun terpaksa melihat orang tua harus mendampingi dan memberi pemahaman dari berita yang mereka lihat.

Memang kelihatannya sepele saja. Masak sih nonton berita saja nggak boleh. Khan nggak ada adegan kekerasan atau adegan mesra seperti sinetron-sinetron atau film. Nah, ternyata tanpa kita sadari tayangan berita bisa menimbulkan gangguan psikologis pada anak. Kedua contoh kasus di atas tampak jelas bahwa anak cenderung menyerap mentah-mentah informasi yang mereka dengar dari televisi. Bagaimana sebaiknya sebagai orang tua menyikapi hal tersebut? Satu-satunya cara adalah mendampingi mereka dan memberikan pengertian sesuai tingkat pemahaman anak.

Ada beberapa saran fleksibel untuk menanggulangi gangguan psikologis yang mungkin bisa terjadi pada anak-anak jika ‘terpaksa’ mereka harus ikut menyaksikan berita di media. Strategi ini dapat membantu kita memahami apa yang anak pikirkan dan rasakan setelah menyaksikan berita tersebut. Selain itu kita juga bisa membawa anak pada sebuah pembelajaran spontan dari kejadian yang mereka lihat dalam bimbingan orang tua.

[Start by finding out what your child knows] Mulailah dengan mencari tahu apa yang anak fikirkan ketika topik berita muncul. Misalnya anak mendengar kasus KDRT. Tanyakan dahulu apa yang ia tahu tentang KDRT itu. Hal ini mendorong kita tahu apa yang anak pikirkan.

[Ask a follow up question] Mengajukan pertanyaan tindak lanjut. Tergantung pada komentar anak, biarkan dia berpikir, seperti “Mengapa bisa terjadi KDRT?” atau “Apa yang orang harus lakukan untuk menghindari supaya tidak terjadi KDRT?”

[Explain simply] Setelah itu jelaskan secara sederhana. Berikan anak-anak informasi yang mereka perlu tahu dengan cara yang masuk akal bagi mereka. Jelaskan dengan beberapa kalimat yang cukup sederhana sehingga anak mampu menangkap maksudnya. Sebuah analogi yang baik adalah bagaimana anak punya pemahaman bahwa hal itu baik atau tidak baik, bukan menakut-nakutinya. Misalnya dengan mengatakan kepada mereka bahwa kekerasan dalam rumah tangga hanya dilakukan oleh orang tua yang tidak sayang terhadap anaknya, karna kita sayang terhadap mereka maka mereka tidak perlu merasa khawatir hal tersebut terjadi dalam keluarga kita. Pemahaman seperti ini membuat anak menjadi lebih nyaman dan tidak merasa ketakutan.

Jika berbicara tentang acara berita (seperti perampokan atau penculikan)kebanyakan anak akan merasa khawatir. Orang tua harus mengenali perasaan dan menghiburnya. Mengatakan bahwa anak kita akan aman dan mengingatkan bagaimana kita harus selalu mengunci pintu dan menutup jendela dengan benar sehingga tertanam karakter selalu menjaga keamanan di rumah.


[Pay attention to your reaction from the News] Perhatikan reaksi yang ditimbulkan dari berita tersebut. Anak-anak akan melihat reaksi kita, jadi penting untuk mendiskusikan bagaimana sebuah peristiwa terjadi dan mempengaruhi perasaan. Misalnya, jika anak melihat tentang orang-orang yang terluka dalam tsunami atau bencana alam lainnya, kita mungkin berkata, “Saya merasa sedih orang-orang terluka Apakah kamu ingin melakukan sesuatu untuk membantu?.” Mereka juga akan menangkap kecemasan dari reaksi kita. Hal ini menimbulkan efek anak akan mudah bersimpati terhadap kesusahan orang lain.

[Clear up confusion] Menjernihkan kebingungan. Kadang-kadang, anak-anak mendapatkan informasi yang salah dari teman atau tidak mengerti semua kata-kata dalam sebuah berita. Jika ini terjadi, sangat penting untuk mengatasi kebingungan dengan cara tidak menghakimi. Jika anak berusia 5 tahun mendengar laporan berita tentang pesawat yang membawa bom, dia mungkin bertanya ,Apakah semua pesawat memiliki bom?. Sebagai tanggapan kita mungkin berkata, ‘Tidak, hanya beberapa pesawat membawa bom. Intinya adalah kita tidak membuat mereka berfikir bahwa semua pesawat membawa bom.


[Discuss your child's interpretation] Diskusikan interpretasi anak kita. Anak-anak sering memandang dunia secara sederhana - semuanya baik atau buruk, hitam atau putih - tetapi meninggalkan sedikit ruang untuk abu-abu. Daripada mengatakan dia salah, lebih baik memberikan contoh dalam kehidupan sehari-hari agar anak mudah mengganti pemahaman yang salah sebelumnya. Yang pasti anak tidak akan mampu mengkoreksi diri sendiri hanya dengan mendengarkan orang tuanya menguraikan definisi. Menanyakan hal-hal yang lebih spesifik akan mendorong anak untuk mengungkapkan ide-idenya, membuat koneksi dan menjadi pemikir, kritis independen. “Kemampuannya untuk berpikir sendiri juga akan membantunya tegar dan mengurangi kecemasan,” kata Susanna Neumann, Ph.D., seorang psikoterapis

[Extend the learning] Memperpanjang pembelajaran. Berbicara tentang berita menyediakan kesempatan untuk belajar spontan. “Sebagai contoh, jika anak mendengar berita membahas badai dan angin topan, kita bisa melihat pada peta untuk menunjukkan di mana peristiwa yang terjadi dan mendiskusikan penyebab. Bersama, kita dapat belajar tentang geografi, ilmu pengetahuan, dan di mana kita tinggal.

Memang membutuhkan sedikit pengorbanan waktu dan tenaga bagi orang tua untuk menjadikan anak-anak kita menjadi individu yang tidak hanya cerdas secara intelektual namun juga cerdas secara emosional. Pendidikan akademis berkarakter yang di anjurkan pemerintah diberikan di sekolah tidak lebih dari 30% dari keseluruhan pembentukan karakter anak, sisanya… tentu saja menjadi tanggung jawab orang tua dan lingkungan sekitarnya. Semoga bermanfaat.

Al_05012013

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Mengubah Hujan Batu Menjadi Emas di Negeri …

Sekar Sari Indah Ca... | | 19 December 2014 | 17:02

Dilema Sekolah Swasta …

Ramdhan Hamdani | | 19 December 2014 | 18:42

Pérouges, Kota Abad Pertengahan nan Cantik …

Angganabila | | 19 December 2014 | 19:54

Bintang dan Tumor …

Iyungkasa | | 19 December 2014 | 21:29

Kompasiana Drive&Ride: “Tantangan …

Kompasiana | | 16 December 2014 | 17:35


TRENDING ARTICLES

Talangi Lapindo, Trik Jokowi Jinakan …

Relly Jehato | 5 jam lalu

Mengapa Fuad Harus di Dor Sampai Tewas? …

Ibnu Purna | 5 jam lalu

Kenapa Steve Jobs Larang Anaknya Bermain …

Wahyu Triasmara | 7 jam lalu

Singapura Menang Tanpa Perang Melawan …

Mas Wahyu | 9 jam lalu

RUU MD3 & Surat Hamdan Zoelfa …

Cindelaras 29 | 11 jam lalu


Subscribe and Follow Kompasiana: