Back to Kompasiana
Artikel

Edukasi

Arviantoni Sadri

saya adalah sarjana dari Universitas Negeri Jakarta dan magister dari Universitas Indonesia dan calon kandidat selengkapnya

Mengatur “OB” Sekolah

OPINI | 11 January 2013 | 17:17 Dibaca: 670   Komentar: 0   0

OB atau Office Boy sering diasumsikan sebagai pelayan atau pesuruh di kantor-kantor atau di tempat kerja. Di sekolah selain pesuruh istilah OB dapat juga di nisbatkan pada penjaga sekolah, petugas kebersihan atau gabungan dari ketiga macam pekerjaan tersebut.

Beberapa sekolah yang memilki fasilitas dan kemampuan finansial yang baik biasanya memiliki OB lebih dari satu, menyesuaikan dengan luas gedung dan jumlah siswa. Pembagian tugasnya juga jelas. Bagian kebersihan, pesuruh, kemanan serta penjaga sekolah di bebankan kepada SDM yang berbeda. Bagi sekolah yang kemampuan finansialnya kecil dan luas bangunan serta jumlah siswanya sedikit maka pesuruh, penjaga sekolah dan petugas kebersihan dibebankan kepada sedikit orang.

Di perusahaan-perusahaan besar atau pengelola gedung perkantoran urusan pengelolaan OB, petugas kebersihan dan keamanan umumnya diserahkan perusahaan outsourching. Karena pengelolaan SDM-SDM OB ini ternyata tidak semudah yang dibayangkan. Kerap timbul masalah-masalah yang walaupun sepele kerap menyulitkan dan merepotkan.

Bagi sekolah-sekolah negeri. Penjaga dan pesuruh sekolah biasanya adalah orang yang sudah lama tinggal di sekolah tersebut karena biasanya mendapatkan fasilitas tempat tinggal, sedangkan pemimpin di sekolah yaitu kepala sekolah biasanya sering mendapatkan giliran mutasi setidaknya setiap empat tahun sekali. Penjaga sekolah yang tiggal lebih lama tentunya lebih mengetahui medan dan psikologis lingkungan sekolah dibandingkan kepala sekolah yang relatif baru mengenal lingkungan. Permasalahan yang muncul kemudian biasanya adalah ada hambatan psikologis dari kepala sekolah untuk mengatur secara tegas pembaian tugas bagi penjaga sekolah. Ada istilah raja diatas raja yaitu penjaga sekolah seolah lebih berkuasa dibandingkan dengan kepala sekolah.

Bagi sekolah swasta pengelolaan OB seharusnya lebih terkendali, namun karena dikelola sendiri dan tidak mengunakan jasa outsourching ternyata pengelolaannya  juga tidak mudah.  Masalah yang kerap terjadi adalah pada kinerja SDM OB yang kurang memuaskan dan tidak konsisten. Walaupun memiliki kekuatan struktural secara langsung kadang kepala sekolah juga terhambat pada kemampuan untuk menyampaikan instruksi yang mudah dipahami oleh OB tersebut.

Solusi yang bisa diterapkan dalam rangka meningkatkan kinerja OB/pesuruh/penjaga/petugas kebersihan sekolah adalah sebagai berikut :

Pertama, lakukan pendekatan personal kepada masing-masing individu sebagai langkah pengenalan dan menghilangkan kekakuan hubungan serta saling memahami karakter masing-masing. Jangan langsung melakukan pendekatan instruksional sebelum kita mengerti kondisi dan permasalahan yang dihadapi.

Kedua, buat urutan-urutan atau daftar tugas secara tertulis sehingga lebih memudahkan untuk melakukan supervisi dan penilaian kinerja. Konsekuensinya kepala sekolah atau pihak sekolah harus selalu melakukan supervisi tugas-tugas OB tersebut.

Ketiga, buat standar kualitas pekerjaan yang harus dilakukan. Misalnya pada petugas kebersihan, harus diberikan pemahaman dan gambaran yang jelas tentang kondisi sekolah yang bersih itu bagaimana. Standar ini diperlukan sebagai penyama persepsi antara kepala sekolah dengan petugas yang terkait sehingga standar kinerjanya jelas.

Keempat, sebagai konsekuensi dari adanya standar yang dibuat tadi maka diperlukan juga para petugas tadi diberikan pelatihan dalam rangka meningkatkan kemampuan dan kompetensi yang dimiliki. Pengelolaan OB secara mandiri, biasanya SDM yang direkrut tidak terlalu mempertimbangkan masalah ketrampilan dan umumnya memiliki tingkat pendidikan yang rendah. SDM OB yang baru direkrut umumnya tidak mendpatkan pembekalan yang konfrehensif tentang tugas-tugas mereka yang ada biasanya briefing secara informal setelah itu rasa saling percayalah yang berperan. Berbeda dengan SDM di perusahaan outsorching, mereka baru boleh bekerja setelah mendapatkan pelatihan yang cukup mengenai pekerjaan.

Kelima, sebagai pengawas langsung dari pekerjaan OB tersebut, maka dibutuhkan konsistensi dalam melakukan pengawasan dan penampingan kerja. Kadang konsistensi inilah yang menyulitkan karena berhubungan dengan tingkat kesibukan dan beban kerja kepala sekolah yang sudah banyak harus di rpotkan lagi dengan masalah kinerja OB yang minimalis.

Terakhir, ketika merekrut jangan lupa berdoa dan berharap semoga SDM yang diterima memiliki karakter pekerja keras, jujur, terpercaya dan ulet sehingga tidak merepotkan dikemudian hari, sembari tidak lupa memberikan apresiasi bagi SDM-SDM yang ada yang memilki karakter-karakter tersebut. arsad

Jakarta, 11 Januari 2013

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Espresso, Tradisi Baru Lebaran di Gayo …

Syukri Muhammad Syu... | | 31 July 2014 | 07:05

Ternyata Kompasiana Juga Ada Dalam Bidikan …

Febrialdi | | 30 July 2014 | 04:30

Indonesia Termasuk Negara yang Tertinggal …

Syaiful W. Harahap | | 30 July 2014 | 14:23

Sultan Brunei Sambut Idul Fitri Adakan Open …

Tjiptadinata Effend... | | 30 July 2014 | 07:16

Punya Pengalaman Kredit Mobil? Bagikan di …

Kompasiana | | 12 June 2014 | 14:56


TRENDING ARTICLES

Jokowi Menipu Rakyat? …

Farn Maydian | 11 jam lalu

Gandhi-Martin Luther-Mandela = Prabowo? …

Gan Pradana | 13 jam lalu

Jokowi Hanya Dipilih 37,5% Rakyat (Bag. 2) …

Otto Von Bismarck | 15 jam lalu

Jokowi yang Menang, Saya yang Mendapat Kado …

Pak De Sakimun | 17 jam lalu

Dilema Seorang Wanita Papua: Antara Garuda …

Evha Uaga | 20 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: