Back to Kompasiana
Artikel

Edukasi

Orang Bijak Palsu

Pemerhati Kehidupan

Bijak ala Gede Prama & Bob Sadino

OPINI | 14 January 2013 | 06:13 Dibaca: 5876   Komentar: 6   12

1358095374524970607

Sumber Gbr:id.wikipedia.org / rizaldp.wordpress.com

Gede Prama dan Bob Sadino adalah salah dua tokoh Indonesia yang banyak memberikan keteladanan dan pembelajaran dari perjalanan hidup yang sudah mereka alami. Gede Prama berani mengambil tindakan tindakan tidak biasa dimasa muda dan kemudian sukses jadi CEO perusahaan multinasional dan pembicara hebat di usia 30-an. Masa itu Gede Prama merupakan salah satu pembicara dengan bayaran tertinggi. Sementara Bob Sadino berjuang membangun bisnis juga dengan cara-cara gobloknya yang tidak biasa sehingga membawa Bob Sadino menjadi pengusaha kawakan. Bijak ala Gede Prama & Bob Sadino mengajak anda merenungi dan mengkaji kata-kata bijak dari kedua tokoh ini.

Yang pertama mari kita lihat intisari dari pembelajaran dari perjalanan hidup dan apa-apa yang sudah dialami seorang Gede Prama. Baru setelah itu nanti Bob Sadino.

Bijak ala Gede Prama

13580955151058629916

id.wikipedia.org

Bagi Gede Prama Kepintaran adalah harta karun. Tapi itu membutuhkan kekuatan penyeimbang yang bernama kebijaksanaan….Didalam kehidupan banyak sekali api yang datang dari luar tetapi menurut Gede Prama kebanyakan kebakaran berbahaya dalam hidup justru berasal dari dalam….Banyak hal dalam kehidupan dualitas ini yang sulit kita mengerti diperlukan keikhlasan untuk bisa menerima hal-hal tersebut. Ikhlas versi Gede Prama bisa berarti berhenti berusaha untuk mengerti. Bahkan ketika tidak tahu pun masih tetap merasa aman dan nyaman.

Setelah melakukan banyak hal dalam memenuhi berbagai keinginan, ada masa-masa dalam kehidupan seorang anak manusia yang membuatnya bingung mau berbuat apa lagi. Ada satu kata bijak dari Gede Prama yang saya suka yang berbunyi begini: Bagi pecinta fanatik logika ‘tidak melakukan apa-apa bisa disebut tidak berguna. Tapi bagi teman-teman yang mempelajari lapisan bersujud, tidak melakukan sesuatu adalah membiarkan Tangan Suci Sang Maha yang bekerja dengan sempurna tanpa gangguan pikiran manusia.

Di tempat persinggahan yang bernama kehidupan ini kita dihadapkan dengan serangkaian pilihan-pilihan. Seperti televisi dengan ratusan saluran, batin manusia juga berisi banyak sekali saluran. Manusia menjadi apa yang ia pilih, begitu kata Gede Prama. Tuhan memperjalankan kita di jalan yang kita pilih.

Di dunia dualitas ini kebahagian dan penderitaan adalah dua hal yang sulit kita hindari. Seorang Gede Prama memandang Derita sebagai momentum bayar utang. Siapa saja yang melawan, tidak saja gagal membayar utang, ia malah menciptakan utang yang baru. Siapa saja yang ikhlas mengalir dengan derita, ia sedang melunasi utangnya dan kemudian bebas.

Begitulah sedikit nasihat bijak yang bisa kita ambil dari seorang yang pernah dijuluki ‘resi manajeman’ Indonesia, Gede Prama. Dan kini saatnya kita lihat apa yang bisa kita pelajari dari seorang “goblok” bernama Bob Sadino!

Bijak ala Bob Sadino

1358095629443760040

rizaldp.wordpress.com

Seperti yang sudah dikatakan Gede Prama diatas bahwa kepintaran adalah harta karun. Tapi ia perlu penyeimbang yang bernama kebijaksanaan. Menganggap diri pintar it’s ok. Tapi sesekali kita juga perlu menyeimbangkan dengan ‘membodohkan’ diri untuk kasus-kasus tertentu. Karena kata Bob Sadino : Orang pintar biasanya paling banyak harapannya. Bahkan maunya berhasil dalam waktu singkat. Padahal kita tahu semua itu Impossible! 0rang goblok harapannya hanya satu ; hari ini bisa makan! Orang ‘goblok’ biasanya lebih berani ketimbang orang pintar.

Bicara masalah kepintaran banyak dari kita yang menganggap kepintaran hanya bisa didapat di sekolah formal. Padahal seperti penuturan Bob Sadino pada banyak kesempatan sekolah terbaik adalah sekolah kehidupan, sekolah jalanan, sekolah yang memberikan kebebasan kepada muridnya untuk mengeksplorasi dengan leluasa seluruh potensinya yang ada padanya

Orang pintar kata Bob Sadino belajar keras untuk mendapatkan ijazah dan secepat mungkin melamar pekerjaan. Orang bodoh berjuang keras secepatnya mendapatkan uang, agar bisa membayar pelamar kerja.

Pada kesempatan lain Bob Sadino mengatakan : Setiap bertemu dengan orang baru, saya selalu mengosongkan gelas saya terlebih dahulu. Mungkin inilah yang di maksud Gede Prama sebagai kebijaksanaan. Penyeimbang kepintaran yang dimiliki seseorang. Semakin goblok seseorang, akan kian banyak ilmu yang diperolehnya. Saya menggoblokkan diri sendiri terlebih dahulu sebelum menggoblokkan orang lain.

Demikian beberapa nasihat bijak ala Gede Prama dan Bob Sadino. Semoga menjadi pelajaran bagi saya dan kita semua.

Terima kasih____________salam bijak palsu!

13-kata bijak yg tdk bijak

Artikel lain: Mencari Bahagia di Zaman Panas ala Gede Prama || Belajar Cara Jadi Kaya Dari Org Miskin || Cara Jadi Orang Sukses ala Bob Sadino, Tidak Menarik! || Tips Sukses Berbisnis ala OBP || ‘Kaya Mendadak’ dengan Rezeki Tak Disangka

1358095930264500156

Sumber gbr:jaya-manggala.blogspot.com

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Visa on Arrival Turki Dihapus? …

Sifa Sanjurio | | 29 July 2014 | 06:03

Kaum Dhuafa Berebut Zakat, Negara Gagal …

Nasakti On | | 28 July 2014 | 23:33

Membuat Hidangan Lebaran di Moskow (Jika …

Lidia Putri | | 28 July 2014 | 17:08

Kampanye Wisata Thailand’s Best …

Olive Bendon | | 28 July 2014 | 16:49

Punya Gaya “Make Up” Menarik? …

Kompasiana | | 09 July 2014 | 00:21


TRENDING ARTICLES

Pijat Ala Dubai International Airport …

Ardi Dan Bunda Susy | 28 July 2014 23:45

Jangan Terlalu Berharap Banyak Pada Jokowi …

Bambang Srijanto | 28 July 2014 22:40

Berlebaran Tetap Gaya dengan Kaos Kompasiana …

Topik Irawan | 28 July 2014 21:13

Jangan Nanya Panci ke Polisi Amerika …

Usi Saba Kota | 28 July 2014 18:24

” Dari Tahun Ketahun Tak Pernah …

Rere | 28 July 2014 13:56

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: