Back to Kompasiana
Artikel

Edukasi

Achmad Holil

Bagian dari masyarakat RepublikBelajar.org yang memimpikan pendidikan Indonesia melahirkan manusia seutuhnya. Pengintegrasi Softskill ke Matakuliah. selengkapnya

Bimsalabim Bergeser ke Paradigma Pembelajaran Kurikulum Baru

OPINI | 14 January 2013 | 05:25 Dibaca: 1566   Komentar: 17   2

Dalam pemaparan “Startegi Mengimplementasikan Peningkatan Mutu Pendidikan Nasional” di Kampus Universitas Terbuka, Tangerang, (Kompas.com 12/1/2013). Menteri Kemendikbud menyatakan bahwa  “Pokoknya top-lah Kurikulum 2013. Pembelajaran menekankan pada kreativitas, inovasi, dan karakter.” Pernyataan ini diberikan untuk menjelaskan bagaimana kurikulum 2013 dapat mentrasformasikan pendidikan nasional. Untuk itulah Pak Menteri minta perubahan ini jangan dipolitisir, karena perubahan kurikulum ini hanyalah kegiatan akademis murni. Guru juga dimita untuk tidak perlu khawatir, segala sesuatunya telah disiapkan kemendikbud supaya sukses dalam pengimplementasiannya.

Namun demikian, kekhawatiran sebagian kelompok masyarakat tentang penerapan kurikulum baru ini tetap tinggi. Mengingat, kurikulum hanyalah dokumen yang memberikan gambaran kepada pemangku kepentingan tentang kompetensi apa saja yang mesti dimiliki oleh setiap siswa di kelas tertentu. Belum mencakup, bagaimana kompetensi tersebut bisa dimiliki oleh setiap siswanya? Jadi, jangan heran resiko kegagalan dalam implementasi kurikulum baru ini akan terbuka lebar.

Di lapangan sudah menjadi rahasia umum, rencana pembelajaran (silabus dan rencana pelaksanaan pembelajaran) di berbagai sekolah selalu diusahakan lengkap dengan “berbagai cara”. Tetapi sayangnya, rencana pembelajaran tersebut masih dalam tataran dokumen. Bukan menjadi guide pelaksanaan pembelajaran di kelas.

Maret depan Kemendikbud telah merencanakan ribuan guru, manajemen sekolah, dan pengawas untuk dilatih menjadi master teacher pengimplementasi kurikulum 2013. Upaya ini memang harus dilakukan sebagai konsekuensi perubahan. Tidak bisa dibayangkan andaikata pelatihan inipun hanya dimaknai sekedar “ada pelatihan”. Bahkan lebih mengkhawatirkan lagi, bila pelaksana kurikulum 2013 menganggap proses ini sebagai beban kerja yang berat, karena mereka harus merubah cara berpikir dan cara bekerjanya sehari-hari.

Oleh karena itu, satu faktor kunci yang akan menyebabkan kegagalan implementasi kurikulum baru ini adalah karena para guru, manajemen sekolah, dan pengawas lebih mementingkan pada kebaruan dan penyelelesaian dokumen kelengkapan kurikulum saja. Tidak pernah menyentuh pada perubahan paradigma pembelajaran. Mereka tidak pernah begeser dari paradigma pembelajaran lama yang sudah tidak relevan lagi.

Dalam kurikulum 2013, ada 8 paradigma pembelajaran baru yang mesti dimiliki setiap guru, manajemen sekolah, dan pengawas sebelum mereka mengimplementasikannya di lapangan. Kedelapan paradigma itu adalah

  1. Fokus pembelajaran yang paradigmanya ke materi/isi bergeser ke proses. Paradigma ini meminta setiap pembelajaran di kelas agar dapat menghasilkan siswa yang berkompetensi. Bukan seperti yang banyak terjadi saat ini, ketuntasan pembelajaran siswa di kelas lebih diukur dari penyelesaian materi yang diajarkan.
  2. Hak mengajar yang selama ini paradigmanya dimiliki guru bergeser ke siswa. Paradigma ini menegaskan bahwa siswalah yang akan belajar. Dialah yang menentukan apakah hak mengajar tersebut diberikan pada gurunya atau tidak. Ini sejalan dengan apa yang dikatakan Galileo Galilei 400 tahun lalu, “tidak ada manusia yang mau diajari, mereka hanya bisa belajar dengan cara menggali dari dirinya sendiri”
  3. Ekspektasi pembelajaran yang paradigmanya tentang apa akan bergeser ke seperti apa dan bagaimana. Pembelajaran yang memberikan pengetahuan belaka, hanyalah akan menghasilkan siswa yang padai berkomentar tanpa tahu bagaimana bersikap dan berbuat. Siswa seperti ini akan mengandalkan hapalan dan pandai menjawab soal-soal ujian tulis seperti yang banyak terjadi saat ini,
  4. Pengajaran guru yang selama ini paradigmanya bagaikan seorang expert akan bergeser ke fasilitator. Sebagaimana diketahui bersama. Sumber belajar saat ini, tentu bukan hanya guru. Alam, internet, buku bisa menjadi sumber belajar, bahkan mungkin lebih efektif. Guru jaman sekarang hanya diminta untuk secara kreatif mengajari siswanya mau dan bisa belajar menguasai materi-materi. Bukan lagi guru yang mengajari materi-materinya.
  5. Siswa yang selama ini paradigmanya pasif akan bergeser ke siswa yang aktif mengkontruksi pengetahuannya sendiri. Yaitu paradigma yang menjelaskan bahwa siswalah yang belajar, sehingga dialah yang akan melakukan sesuatu sampai apa yang ingin diketahuinya dan dibisainya tercapai. Bukan belajar dengan hanya mendengarkan penjelasan guru dan berikutnya menjawab soal.
  6. Paradigma kesalahan dalam pembelajaran yang selama ini tabu, akan bergeser menjadi kesalahan sebagai tools pembelajaran. Siswa yang notabene lagi belajar, ya tentulah banyak melakukan kesalahan. Namun apakah belajar selalu harus dari yang benar. Bisa saja guru menjadikan sebuah kesalahan untuk menjadi pembelajaran yang tidak boleh dicontoh atau tidak boleh dilakukan (lagi) oleh siswanya.
  7. Kelas yang paradigmanya selama ini diprogram secara kaku akan bergeser ke kelas yang fleksibel dan mengakomodasi fenomena terkini. Bahwa belajar harus berada di kelas, dengan aturan yang “mengkotakkan” siswa untuk mengikuti materi seperti dalam buku, menjadi tidak membumi.Tantangan perkembangan zaman yang begitu cepat, harus dijawab oleh guru agar para siswanya bisa berperan menjadi manusia seutuhnya dalam mengikuti modernisasi dunia.
  8. Penekanan pembelajaran yang selama ini lebih menonjolkan teori, akan bergeser ke pembelajaran yang lebih menekankan bagaimana siswa bisa melakukan. Untuk itu, tepatlah bila jam pembelajaran dalam kurikulum baru akan memerlukan waktu yang lebih lama. Karena dalam kurikulum baru kompetensi yang harus dicapai siswa tidak hanya tengtang pengetahuan (teori), tetapi juga sikap dan ketrampilan.

Mungkin karena alasan pergeseran paradigma inilah, mengapa banyak kelompok masyarakat meminta pemerintah menunda dulu pelaksanaan kurikulum 2013. Mereka masih mempertanyakan “Bagaimana mungkin pemerintah bisa mengeser paradigma pembelajaran lama beribu-ribu guru, manajemen sekolah dan pengawas ke paradigma pembelajaran yang baru dalam waktu yang singkat?”. Bimsalabim! Terimakasih.

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Nangkring Bareng Sun Life Syariah …

Agung Han | | 31 August 2014 | 07:02

“Jalanan” Kembali Raih …

Tjiptadinata Effend... | | 31 August 2014 | 05:35

Kompas Jelajah Sepeda Manado-Makassar, Bikin …

Muhammad Zulfadli | | 30 August 2014 | 22:58

Jangan Biarkan Sulit Tidur Mengganggu Hidup …

Dr Andri,spkj,fapm ... | | 30 August 2014 | 23:37

Blog Competition Smartfren: Andromax yang …

Kompasiana | | 18 August 2014 | 20:22


TRENDING ARTICLES

Jokowi Tidak Tahan Lama …

Kokoro ? | 2 jam lalu

Usulan Hebat Buat Jokowi-Prabowo Untuk …

Rahmad Agus Koto | 4 jam lalu

Oknum PNS Memiliki Rekening Gendut 1,3 T …

Hendrik Riyanto | 4 jam lalu

Lurah Cantik nan Kreatif dan Inspiratif …

Axtea 99 | 8 jam lalu

Hak Menahan Tersangka, Kartu ATM Polisi …

Hanny Setiawan | 11 jam lalu


HIGHLIGHT

“Petualangan Anak Indonesia” …

Tjiptadinata Effend... | 7 jam lalu

Bangun UMKM Tanpa APBN …

Ukm Indonesia | 7 jam lalu

Kompasioner Terancam …

Hendra Budiman | 7 jam lalu

Tkw Menjadi Sasaran Utama Kejahatan …

Melati Adnari | 8 jam lalu

Sedihnya Saat Waktu Berpisah Tiba (Catatan …

Topik Irawan | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: