Back to Kompasiana
Artikel

Edukasi

Muhammad Rizal

mahasiswa UIN SUNANKALIJAGA YOGYA lives are simple and relaxed

Sistem Budaya Islam Jawa Dalam Tradisi Nyadaran

OPINI | 15 January 2013 | 21:05 Dibaca: 1199   Komentar: 0   0

Di Indonesia sangat banyak tradisi budaya yang ada dan masih di lestarikan sampai saat ini, walaupun asa beberapa trdisai budaya yang di tinggalkan dengan alasan hokum Negara dan lain sebagainya. Sangat baik jika kita membudidayakan tradisi yang ada di negri Indonesia kita ini salah satunya adalah tradisi nyadran yang sudah ada sejak jaman nenek moyang kita sampai saat ini. Akan tetapi ada sebagian orang yang meninggalkan budaya ini karena alesan bid’ah dan jaman yang sudah berbeda katanya.

Jika kita sebutkan satu satu tradisi yang ada di Indonesia ini sangat banyak dan mungkin semua orang sudah mengetahui. Berbeda lagi jika kita membahas budaya setiap daerah, pasti setiap orang yang ada di daerah itu hampir semua mengetahui dengan jelas apa itu tradisi daerah mereka masing masing tanpa ada pembelajaran khusus. Karen di sekolah pasti di ajarkan pelajaran tentang pendidikan daerah dan tanpa di ajarkan pun kita sudah mengetahui dari orang orang terdekat terutama ahli keluarga kita masing masing.

Bagi masyarakat jawa kegiatan tahunan yang bernama sadran atau  nyadranan merupakan ungkapan refleksi sosial dalam rangka menziarahi makam para leluhur. Ritual ini dilakukan sebagai bentuk pelestarian warisan tradisi dan budaya para nenek moyang. Biasanya dilakukan menjelang bulan ramadhan, yaitu sya’ban atau ruwah. Tradisi  nyadran merupakan simbol adanya hubungan dengan para leluhur, sesama dan yang maha kuasa yang mencampurkan budaya lokal dan nilai – nilai islam. Sehingga sangat tampak adanya lokalitas yang masih kental dan islami.

Dalam budaya nyadran biasanya melakukan bersih – bersih makam leluhur, selamatan (kenduri), membuat kue apem, kolak dan ketan sebagai unsur sesaji sekaligus sebagai transfomasi sosial, agama, dan kebudayaan. Nyadran sejatinya berasal dari agama hindu yang sudah membaur dengan agama islam. Seorang ahli menyatakan bahwa tradisi nyadran mempunyai kemiripan dengan sraddha pada masa kerajaan majapahit. Kemiripan tersebut terlihat pada kegiatan manusia berinteraksi dengan leluhur yang telah meninggal. Seperti pengorbanan, sesaji dan ritual sesembahan yang hakikatnya adalah bentuk penghormatan terhadap yang sudah meninggal.

Menurut wikipedia, ritual nyadran berasal dari tradisi hindu yaitu upacara Sraddha “upacara Sraddha adalah upacara umat hindu di pulau jawa zaman dahulu kala untuk mengenang arwaha seseorang yang meninggal. Bentuk reminisensi upacara ini masih ada sampai sekarang dan disebut sadran dengan bentuk aktif nyadran. Pada dasarnya upacara sraddha didalam tradisi yeda yaitu bertujuan untuk memuja leluhur masih sangat eksis yang disebut pitra yadnya di Bali barat. Upacara sraddha ini dilakukan pada tumpek kuningan dengan mempersembahkan ritual di kuburan. Di india disebut upacara sraddha, pindaan dan terpana, bersumberkan kitab – kitab hindu seperti : manu smerti (manawa dharmasastra) garuda purana, yama smerti.

Dengan kita saling membagi informasi dan pengetahuan yang kita miliki kita dapat membantu orang mengetahui berbagai ilmu dan pengalaman yang kita ketahui untuk di publikaasikan kepada seua orang melalui media . mulai dari media facebook, twitter , dan berbagai situs situs lainya. Dengan begitu kita dapat saling sharing saru sama lain tanpa harus berdebat tentang prespektif kita masing masing. Dan yang paling mudah kita berbagi ilmu dan pengalaman adalah melalui situs kompasiana.com. kita dapat mengetahui dari hal hal yang terpenting sampai hal hal yang bersifat fiksi. Karena dengan sering kita membaca kita dapat ilmu dan tidak menyianyiakan waktu.

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

“Bajaj” Kini Tak Hanya Bajaj, …

Hazmi Srondol | | 19 September 2014 | 20:47

Ekonomi Kemaritiman Jokowi-JK, Peluang bagi …

Munir A.s | | 19 September 2014 | 20:48

Bedah Buku “38 Wanita Indonesia Bisa“ di …

Gaganawati | | 19 September 2014 | 20:22

Kiat Manjakan Istri agar Bangga pada …

Mas Ukik | | 19 September 2014 | 20:36

Rekomendasikan Nominasi “Kompasiana …

Kompasiana | | 10 September 2014 | 07:02


TRENDING ARTICLES

Tidak Rasional Mengakui Jokowi-Jk Menang …

Muhibbuddin Abdulmu... | 5 jam lalu

Malaysian Airlines Berang dan Ancam Tuntut …

Tjiptadinata Effend... | 8 jam lalu

Awal Manis Piala AFF 2014: Timnas Gasak …

Achmad Suwefi | 10 jam lalu

Jangan Bikin Stress Suami, Apalagi Suami …

Ifani | 10 jam lalu

Ahok, Sang Problem Solving …

Win Winarto | 10 jam lalu


HIGHLIGHT

Tokoh ISIS Perintahkan: “Eksekusi …

Tjiptadinata Effend... | 7 jam lalu

Pesawat Terbesar Dunia Airbus A380 Hadir …

Muhamad Kamaluddin | 7 jam lalu

Aceh dan Mimpi yang Belum Berhenti …

Zulfikar Akbar | 8 jam lalu

Untuk Pengarang Pemula yang Mabuk Gaya …

Revo Samantha | 8 jam lalu

Forever Love …

Bapake Azka | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: