Back to Kompasiana
Artikel

Edukasi

Muhammad Rizal

mahasiswa UIN SUNANKALIJAGA YOGYA lives are simple and relaxed

Sistem Budaya Islam Jawa Dalam Tradisi Nyadaran

OPINI | 15 January 2013 | 21:05 Dibaca: 1194   Komentar: 0   0

Di Indonesia sangat banyak tradisi budaya yang ada dan masih di lestarikan sampai saat ini, walaupun asa beberapa trdisai budaya yang di tinggalkan dengan alasan hokum Negara dan lain sebagainya. Sangat baik jika kita membudidayakan tradisi yang ada di negri Indonesia kita ini salah satunya adalah tradisi nyadran yang sudah ada sejak jaman nenek moyang kita sampai saat ini. Akan tetapi ada sebagian orang yang meninggalkan budaya ini karena alesan bid’ah dan jaman yang sudah berbeda katanya.

Jika kita sebutkan satu satu tradisi yang ada di Indonesia ini sangat banyak dan mungkin semua orang sudah mengetahui. Berbeda lagi jika kita membahas budaya setiap daerah, pasti setiap orang yang ada di daerah itu hampir semua mengetahui dengan jelas apa itu tradisi daerah mereka masing masing tanpa ada pembelajaran khusus. Karen di sekolah pasti di ajarkan pelajaran tentang pendidikan daerah dan tanpa di ajarkan pun kita sudah mengetahui dari orang orang terdekat terutama ahli keluarga kita masing masing.

Bagi masyarakat jawa kegiatan tahunan yang bernama sadran atau  nyadranan merupakan ungkapan refleksi sosial dalam rangka menziarahi makam para leluhur. Ritual ini dilakukan sebagai bentuk pelestarian warisan tradisi dan budaya para nenek moyang. Biasanya dilakukan menjelang bulan ramadhan, yaitu sya’ban atau ruwah. Tradisi  nyadran merupakan simbol adanya hubungan dengan para leluhur, sesama dan yang maha kuasa yang mencampurkan budaya lokal dan nilai – nilai islam. Sehingga sangat tampak adanya lokalitas yang masih kental dan islami.

Dalam budaya nyadran biasanya melakukan bersih – bersih makam leluhur, selamatan (kenduri), membuat kue apem, kolak dan ketan sebagai unsur sesaji sekaligus sebagai transfomasi sosial, agama, dan kebudayaan. Nyadran sejatinya berasal dari agama hindu yang sudah membaur dengan agama islam. Seorang ahli menyatakan bahwa tradisi nyadran mempunyai kemiripan dengan sraddha pada masa kerajaan majapahit. Kemiripan tersebut terlihat pada kegiatan manusia berinteraksi dengan leluhur yang telah meninggal. Seperti pengorbanan, sesaji dan ritual sesembahan yang hakikatnya adalah bentuk penghormatan terhadap yang sudah meninggal.

Menurut wikipedia, ritual nyadran berasal dari tradisi hindu yaitu upacara Sraddha “upacara Sraddha adalah upacara umat hindu di pulau jawa zaman dahulu kala untuk mengenang arwaha seseorang yang meninggal. Bentuk reminisensi upacara ini masih ada sampai sekarang dan disebut sadran dengan bentuk aktif nyadran. Pada dasarnya upacara sraddha didalam tradisi yeda yaitu bertujuan untuk memuja leluhur masih sangat eksis yang disebut pitra yadnya di Bali barat. Upacara sraddha ini dilakukan pada tumpek kuningan dengan mempersembahkan ritual di kuburan. Di india disebut upacara sraddha, pindaan dan terpana, bersumberkan kitab – kitab hindu seperti : manu smerti (manawa dharmasastra) garuda purana, yama smerti.

Dengan kita saling membagi informasi dan pengetahuan yang kita miliki kita dapat membantu orang mengetahui berbagai ilmu dan pengalaman yang kita ketahui untuk di publikaasikan kepada seua orang melalui media . mulai dari media facebook, twitter , dan berbagai situs situs lainya. Dengan begitu kita dapat saling sharing saru sama lain tanpa harus berdebat tentang prespektif kita masing masing. Dan yang paling mudah kita berbagi ilmu dan pengalaman adalah melalui situs kompasiana.com. kita dapat mengetahui dari hal hal yang terpenting sampai hal hal yang bersifat fiksi. Karena dengan sering kita membaca kita dapat ilmu dan tidak menyianyiakan waktu.

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

5 Kompasianer Beropini tentang Paspampres …

Kompasiana | | 02 September 2014 | 15:41

Keuntungan-Keuntungan dari Kasus Florence …

Andreas Ab | | 02 September 2014 | 12:43

Plus Minus kalau Birokrat yang Jadi …

Shendy Adam | | 02 September 2014 | 10:03

Menyaksikan Sinta Obong di Yogyakarta …

Bugi Sumirat | | 02 September 2014 | 12:19

Inilah Pemenang Lomba Kompetisi Blog ACC! …

Kompasiana | | 01 September 2014 | 12:25


TRENDING ARTICLES

Presiden SBY dan Koalisi Merah Putih …

Uci Junaedi | 6 jam lalu

Ahok, Mr. Governor si “Pembelah …

Daniel H.t. | 7 jam lalu

Gunung Padang, Indonesia Kuno yang …

Aqila Muhammad | 9 jam lalu

Halusinasi dan Penyebabnya, serta Cara …

Tjiptadinata Effend... | 10 jam lalu

Vonis Ratu Atut Pamer Kekuatan Mafia Hukum …

Ninoy N Karundeng | 11 jam lalu


HIGHLIGHT

Agung Laksono Lanjutkan Warisan Kedokteran …

Agung Laksono Berka... | 8 jam lalu

Mengenal Bunga Nasional Berbagai Negara di …

Tjiptadinata Effend... | 8 jam lalu

Cemburu Bukan Represent Cinta …

Diana Wardani | 9 jam lalu

“Account Suspended @Kompasiana Diburu …

Tarjo Binangun | 9 jam lalu

Mungkinkah Jokowi Bisa Seperti PM India …

Jimmy Haryanto | 9 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: