Back to Kompasiana
Artikel

Edukasi

Adrian Rosadi

semua keburukan pasti asalnya dari saya, semua kebaikan pasti asalnya dari Allah swt.

Kontroversi Tiada Akhir: Asal-Usul Makhluk Hidup

OPINI | 16 January 2013 | 22:50 Dibaca: 2562   Komentar: 0   0

Artikel ini sebenarnya merupakan kelanjutan dari diskusi saya dengan salah satu teman saya di Kompasiana beberapa waktu yang lalu tentang teori evolusi darwin dan intellegent design. Karena menurut saya pembahasan asal-usul makhluk hidup secara konsep memang perlu dibahas terpisah dari tema diskusi sebelumnya, maka saya memutuskan untuk membuat artikel baru ini guna mengemukakan pandangan saya tentang darimana makhluk hidup berasal.

Asal-usul makhluk hidup mungkin adalah salah satu persoalan terbesar di bidang sains yang belum mampu terjawab secara jelas. Sudah sejak berabad-abad lalu pertanyaan ini muncul, namun hingga saat ini belum ada yang mampu memberikan penjelasan yang meyakinkan. Spekulasi akhirnya banyak bermunculan. Beberapa teori yang muncul diantaranya adalah sebagai berikut (biologimediacentre.com):

  1. Teori Kreasi Khas (Special Creation) : menyatakan bahwa kehidupan diciptakan oleh suatu zat supranatural
  2. Teori Mantap : menyatakan bahwa kehidupan tidak berasal-usul (keadaan mantap)
  3. Teori Kosmozoan : menyatakan bahwa kehidupan berasal dari spora kehidupan yang datangnya dari luar angkasa
  4. Teori Generatio Spontanea : menyatakan bahwa makhluk hidup tercipta secara mendadak (spontan).
  5. Teori Abiogenesis : menyatakan bahwa makhluk hidup berasal dari benda tak hidup. (Teori ini sering rancu dengan Generatio Spontanea, sehingga sering dikatakan bahwa menurut teori Abiogenesis makhluk hidup berasal dari benda tak hidup yang terjadi secara spontan. Sebenarnya ini dua teori yang berbeda)
  6. Teori Biogenesis : menyatakan bahwa makhluk hidup berasal dari makhluk hidup sebelumnya
  7. Teori Naturalistik/Evolusi Organik/Neoabiogenesis/Oportunistik : menyatakan bahwa kehidupan tercipta melalui proses evolusi kimia dan evolusi biologi berdasarkan pada konsep biologi modern.

Dari beberapa teori tersebut, saya kemudian membaginya menjadi dua berdasarkan konsep utamanya. Pertama adalah makhluk hidup berasal dari benda mati (yang berangsur-angsur secara spontan membentuk makhluk hidup) dan yang kedua adalah makhluk hidup berasal dari makhluk hidup lain (sebagai keturunan ataupun dirancang secara khusus). Kedua konsep tersebut sampai saat ini masih berstatus sebagai hipotesis, karena sama-sama belum bisa dijelaskan dan dibuktikan secara ilmiah tentang kebenarannya. Oleh karena itu, pembahasan tema ini sejauh ini dilakukan sebatas dengan logika sederhanya saja. Apakah bisa diterima atau tidak dilakukan dengan hitung-hitungan sederhana mana yang paling memungkinkan terjadi.

Pertama, mari kita analisis peluang terjadinya konsep pertama, yaitu makhluk hidup berasal dari benda mati. Eksperimen tentang hal ini telah dilakukan berkali-kali tanpa memberikan hasil yang signifikan. Hal mendasar yang sulit dibuktikan disini adalah bagaimana bisa benda mati berubah bentuk menciptakan kehidupan secara spontan, tanpa adanya kecerdasan, lantas kemudian membentuk kompleksitas. Bahkan, manusia sebagai makhluk tercerdas di bumi pun belum mampu menciptakan satu selpun makhluk hidup dalam eksperimennya. Lantas, bagaimana mungkin kita dapat membayangkan benda mati secara spontan dan tanpa kecerdasan mampu membentuk satu sel sederhana?

Beberapa peneliti mencoba menghitung peluang terjadinya hal tersebut secara statistik. Hasilnya sedikit mengecewakan, karena ternyata berdasarkan hasil hitung-hitungan hanya sebesar 1:1.000.000. Tentu peluangnya ada, meskipun sangat sangat kecil.

Perancangan Cerdas

Lalu bagaimana kemungkinan konsep yang kedua? Secara ilmiah, konsep ini memang dianggap omong kosong dan tidak ilmiah sama sekali oleh para penentangnya. Hal tersebut karena perancangan cerdas selalu dikait-kaitkan dengan Tuhan (kreasionisme). Padahal, kalau kita cermati lagi, seperti yang saya berikan di awal tulisan, ide perancangan tidak melulu hanya dimonopoli oleh kaum beragama. Contohnya saja, Teori Kosmozoan yang menyatakan bahwa kehidupan berasal dari spora kehidupan yang datangnya dari luar angkasa. Hal ini tentu bukan pendapat kreasionis, karena tidak ada sangkut pautnya dengan pernyataan bahwa Tuhan itu ada.

Secara peluang, perancangan cerdas lebih besar kemungkinannya, bahkan hitung-hitungan sederhanya bisa mencapai 1:2. Hal tersebut terjadi karena keterbatasan manusia saat ini untuk menguak apakah “kecerdasan” makhluk (atau Tuhan bagi kaum kreasionis) memang benar-benar ada. Penelitian kearah sana akhir-akhir ini makin gencar. Sayangnya keingintahuan yang semakin tinggi tidak dibarengi dengan pemahaman. Alhasil, spekulasi muncul semakin liar. Ada yang berpendapat bahwa makhluk hidup (termasuk manusia) adalah keturunan alien, manusia diciptakan alien, manusia berasal dari manusia lain yang lebih cerdas yang berada di galaksi lain, termasuk juga pemahaman yang sejak dulu ada, yaitu penciptaan oleh Tuhan.

Terkadang, seseorang mungkin ragu untuk mendukung teori perancangan cerdas ini. Hal tersebut dikarenakan akibat kesalahpahaman bahwa perancangan cerdas adalah kreasionisme. Padahal tidak sesempit itu. Kreasionisme adalah salah satu spekulasi teori tentang perancangan cerdas, tapi bukanlah teori satu-satunya. Karena itulah kemudian saat ini pendukung perancangan cerdas tidak terbatas pada kaum beragama saja, melainkan juga dari berbagai kalangan, termasuk para atheis dan agnostik sekalipun. Salah satunya adalah Richard Dawkins, tokoh pendukung evolusi darwin terpopuler saat ini. Meskipun dirinya tidak secara langsung mengaku mendukung perancangan cerdas, namun ilmuwan yang juga atheis ini secara gamblang mengatakan keyakinannya bahwa kehidupan dibumi akibat ada yang “menanam” yang berarti bahwa dia secara tidak langsung lebih percaya adanya perancangan cerdas dibandingkan dengan evolusi kimia-biologis.

Jadi, sekarang terserah Anda, apakah lebih percaya bahwa makhluk hidup berasal dari benda mati yang kemungkinan hanya 1:1.000.000 ataukah konsep lain yang peluangnya lebih besar dan lebih dekat dengan kebenaran? Secara logika tentu Anda tahu harus memilih yang mana. Bagaimanapun, selama fakta-fakta terungkap, hal ini tetap akan menjadi kontroversi.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Bukti Nyata Power Sosial Media; Jonan, Ahok, …

Prayitno Ramelan | | 23 November 2014 | 10:59

Curhat Kang Emil pada Ko Ahok di …

Posma Siahaan | | 23 November 2014 | 16:12

Menikmati Kompasianival 2014 Lewat Live …

Gaganawati | | 23 November 2014 | 06:26

Saliman, Buruh Biasa yang Cepat Tangkap …

Topik Irawan | | 23 November 2014 | 16:44

Maksimalkan Potensi Diri dan Gerak Lebih …

Kompasiana | | 21 November 2014 | 12:11


TRENDING ARTICLES

Menampar SBY dengan Kebijakan Jokowi …

Sowi Muhammad | 7 jam lalu

Dengan Interpelasi, Jokowi Tidak Bisa …

Ibnu Purna | 7 jam lalu

Rangkuman Liputan Acara Kompasianival Akbar …

Tjiptadinata Effend... | 7 jam lalu

Kenaikan Harga BBM, Pandangan di Kalangan …

Indartomatnur | 8 jam lalu

Pak Jokowi Rasa Surya Paloh …

Bedjo Slamet | 11 jam lalu


HIGHLIGHT

Sebaik-baiknya Tahun adalah Seluruhnya …

Ryan Andin | 8 jam lalu

Tak Sering Disorot Kamera Media, Kerja Nyata …

Topik Irawan | 8 jam lalu

Siasat Perangi KKN Otonomi Daerah …

Vincent Fabian Thom... | 8 jam lalu

Pancasila : Akhir Pencarian Jati Diri Kaum …

Vincent Fabian Thom... | 8 jam lalu

Hebohnya yang Photo Bareng Pak Ahok di …

Fey Down | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: