Back to Kompasiana
Artikel

Edukasi

Purniadi

Ingin Menjadi Agen Pembelajaran yang Profesional

RSBI Dibubarkan

REP | 16 January 2013 | 06:15 Dibaca: 1408   Komentar: 0   0

KEDIRI, KOMPAS.com — Pasca-dibubarkannya Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional (RSBI) melalui pembatalan payung hukum yang menaunginya oleh Mahkamah Konstitusi (MK) beberapa waktu lalu, berdampak pada polemik bentuk perubahan sekolah eks RSBI. Di Kota Kediri, Jawa Timur, Dinas Pendidikan setempat lebih memilih model Sekolah Standar Nasional (SSN) sebagai penggantinya.

Kepala Dinas Pendidikan Kota Kediri, Gunawan Setyo Budi, mengatakan, RSBI merupakan bentuk program yang mempunyai nilai tambah tersendiri dari sekolah yang sudah berkategori SSN. Sehingga jika RSBI dihapuskan, perubahannya nanti yang paling tepat, menurutnya, adalah kembali ke kategori SSN.

“Kalau berubah menjadi SSN, sekolah malah lebih siap,” kata Gunawan Setyobudi kepada para wartawan, Senin (14/1/2013).

Gunawan menambahkan, pasca-pembatalan RSBI itu, pihaknya hingga saat ini masih menunggu arahan teknis dari otoritas pendidikan di atasnya. Sambil menunggu arahan itu, ia menginstruksikan satuan penyelenggara RSBI agar tetap menggelar pembelajaran sebagaimana biasa tanpa terbebani dengan polemik yang ada. “Pembelajarannya harus tetap optimal,” kata Gunawan.

Menurut Gunawan, terlepas dari sisi negatif yang menjadi akar permasalahan sehingga berujung pada pembubarannya, RSBI juga mempunyai sisi positif yang harus tetap dipertahankan. Sedangkan kalangan wali murid RSBI juga berharap keputusan MK tidak serta merta diberlakukan dengan penghapusan RSBI begitu saja. Mereka berharap para siswa masih diberikan kesempatan belajar hingga terselesaikannya jenjang pendidikan mereka.

“Saat ini program RSBI sudah dijalani siswa, kalau bisa ya selesai jenjang pendidikan mereka,” kata Budi Sutrisno, salah satu wali murid.

Sebelumnya, dalam menyikapi pembubaran RSBI, Dewan Pendidikan Kota Kediri (DPKK) akan membentuk tim yang terdiri dari berbagai elemen guna melakukan Evaluasi Diri Sekolah (EDS) yang berfungsi untuk mengukur tingkat klasifikasi sekolah. DPKK yang mendukung keputusan MK itu juga berjanji akan mengawal masa transisi hingga pasca-perubahan eks RSBI untuk menjamin adanya keadilan dalam mendapatkan pendidikan bagi masyarakat.

Mahkamah Konstitusi membatalkan Pasal 50 ayat (3) Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional karena bertentangan dengan UUD 1945. Dengan pembatalan itu berimplikasi pada pembubaran RSBI karena pasal tersebut menjadi dasar penyelenggaraan RSBI.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Keluarga Pejabat dan Visa Haji Non Kuota …

Rumahkayu | | 30 September 2014 | 19:11

Me-“Judicial Review” Buku Kurikulum …

Khoeri Abdul Muid | | 29 September 2014 | 22:27

Spongebob dalam Benak Saya …

Irero 29 | | 30 September 2014 | 16:48

Sepak Bola Indonesia Kini Jadi Lumbung Gol …

Arief Firhanusa | | 30 September 2014 | 15:58

Kamukah Pemenang Sun Life Syariah Blog …

Kompasiana | | 29 September 2014 | 09:44


TRENDING ARTICLES

Kumpulan Berbagai Reaksi Masyarakat …

Elvis Presley | 9 jam lalu

UU Pilkada, Ahok dan Paham Minoritas …

Edi Tempos | 12 jam lalu

People Power Menolak Penghapusan Pilihan …

Daniel Setiawan | 12 jam lalu

Hobi Berbahaya Anak Muda di Saudi …

Umm Mariam | 13 jam lalu

Inilah Cara SBY Membatalkan UU Pilkada …

Rullysyah | 14 jam lalu


HIGHLIGHT

1 Medali Emas Malaysia Jadi Milik Indonesia …

Djarwopapua | 7 jam lalu

PDIP, PKB, Nasdem Berjuang Demi Rakyat …

Slamet Dunia Akhira... | 7 jam lalu

Pembangunan Sheet Pile Cideng – Thamrin …

Charles Erbianco | 7 jam lalu

Raja, Panglima Kuda Dan Pasukan Banteng …

Herwin Halman | 8 jam lalu

Ikuti Blog Competition “Aku dan …

Kompasiana | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: