Back to Kompasiana
Artikel

Edukasi

Steven Sutantro

Educator & Blogger Follow : @StevenSutantro Website : stevensutantro.weebly.com

Mengajar dengan Prinsip KISS

REP | 18 January 2013 | 21:18 Dibaca: 479   Komentar: 0   1

Anda pasti bingung, mengapa gambar pertama dalam post ini adalah sebuah hidangan pembuka yang mengundang selera yang tidak berhubungan dengan prinsip KISS, bahkan mengajar dan pendidikan. Namun sebenarnya inilah prinsip KISS dalam pengajaran saya yang seru ini.

Minggu ini saya mengajar materi “Litosfer” dalam pelajaran Geografi dengan siswa kelas 10. Ketika pertama kali membaca materinya, sebernarnya akan muncul kesan sulit, rumit, dan juga membosankan. Penuh dengan istilah yang sulit dan memberatkan. Itulah kesan pertama membaca buku materi Geografi. Memang disinilah, saya merasa peran guru begitu penting dalam membawakan materi tersebut di depan kelas. Pilihannya apakah kita hanya sekedar menjelaskan teks di buku atau mencoba mengeksplorasi cara menjelaskan materi yang menarik di hadapan siswa. Saya memang bukan seorang ahli geografi yang merupakan seroang pakar dalam mengetahui segala sesuatu tentang Litosfer. Saya juga bukan geographer yang berpengalaman mendaki gunung mengeksplorasi batuan-batuan dan gunung api yang tersebar di seluruh Indonesia. Saya hanyalah seorang anak muda yang mau belajar dengan cara yang menarik, visual, dan juga unik. Itulah modal ‘minimal’ yang saya miliki. Namun, mungkin disinilah kelemahan saya menjadi keunikan yang membuat saya mengajar dengan prinsip KISS (Keep it Simple & Spectacular).

KISS singkatan dari Keep it Simple & Spectacular menjadi salah satu prinsip yang saya pakai dalam mengajar materi Litosfer. Hal pertama yang saya lakukan mencoba mencari visualiasasi dan media yang berhubungan dengan materi tersebut. Saya tidak bisa hanya membaca buku teks dan menghafal materi dan istilah sulit. Saya biasanya membutuhkan gambar, cerita, diagaram, lagu, bahkan berbagai macam media untuk membantu saya memahami sebuah topik. Oleh sebab itu, saya pun tidak bisa hanya mengandalkan buku teks untuk menjadi pegangan dalam mengajar. Dalam memahami batuan saya pun mencari gambar di google dan sampai akhirnya saya menemukan gambar siklus batuan yang sebenarnya menarik untuk diamati:

Disinilah saya belajar bahwa batuan itu mengalami proses siklus kehidupan yang luar biasa menarik dan sederhana. Saya rasa inilah bagian terpenting yang harus dipelajari siswa. Seperti post saya sebelumnya yang menceritakan kisah dari perjalanan hidup batuan mulai dari batuan beku yang berasal dari magma yang biasanya memiliki nilai yang rendah, sampai batuan sedimen yang mengalami pelapukan oleh angin, air, organisme, dan zat kimia memiliki nilai yang lebih baik, dan terakhir batuan metamorf yang mengalami tekanan dan panas yang membentuk maha karya seperti batu marmer dan pualam yang bernilai tinggi dalam kehidupan sehari-hari. Disinilah saya mengajarkan nilai bahwa sesulit apapun situasi yang kita hadapi, percayalah dengan melewatinya, kita bisa memiliki ‘nilai’ dan ‘makna’ hidup yang lebih tinggi daripada hidup tanpa penderitaan. Sebenarnya itulah konsep simpel sebuah batuan yang saya rasa seringkali dibuat rumit dengan hafalan istilah yang begitu banyak dan menyusahkan. Padahal dibalik proses terbentuknya batuan, ada cerita yang sangat menarik yang bisa dieksplorasi guru dan siswa bersama yang menjadi bekal kehidupan sepanjang masa. Lebih spektakuler lagi, saya mencoba membuat konsep siklus batuan ini menjadi pengalaman tak terlupakan dengan memperkenalkan lagu-lagu tentang video lagu siklus batuan yang diupload oleh seorang guru di luar negeri bernama Mr.Parr (Silahkan anda cari di YouTube)

Rock Cycle Rap

[youtube http://www.youtube.com/watch?v=K6HZBrZG5hk&w=560&h=315]

Rock Cycle Song

[youtube http://www.youtube.com/watch?v=53lMdHzvGCQ&w=560&h=315]

Types of Rocks

[youtube http://www.youtube.com/watch?v=lE3jR_RhxO4&w=560&h=315]

Tanpa sadar, saya pun melanjutkan materi menuju vulkanisme. Ternyata materi ini sebenarnya simpel dan spektakuler juga dimana sebenarnya kita tinggal di sebuah negara yang sangat kaya dengan gunung api. Disinilah, poin dimana saya menampilkan gambar-gambar gunung bromo, tangkuban parahu, merapi, dan berbagai gunung yang terkenal di Indonesia yang memiliki keunikan erupsinya. Bahkan, terlebih penting disini bersama siswa, kita mengeksplorasi materi apa saja yang dikeluarkan dari gunung api bersama-sama. Meskipun saya menggunakan ceramah interaktif, ternyata disini siswa belajar dengan konsentrasi penuh dan semangat karena saya mencoba menyajikan sebuah cerita-cerita ‘spektakuler’ yang membuat mata mereka tetap terjaga. Misalnya, coba kamu bayangkan jika kamu lagi liburan sama teman kamu di sebuah gunung, tiba-tiba gunung itu meletus. Apa saja yang kira-kira keluar dari gunung api? Lalu dampaknya apa ya? Dampaknya positif / negatif ya? Disini justru kita sama-sama berimajinasi dengan melihat gambar sebuah gunung api yang meletus. Lalu saya dan siswa pun mencoba mengeksplorasi sendiri macam-macam dampak dari sebuah gunung yang meletus.

Kemudian, saya pun menceritakan tentang tektonisme dan seisme. Disini, saya pun hanya memberikan pengantar berupa contoh gerakan epirogenesa dan orogerenasa dalam kehidupan sehari-hari. Untuk kasus gempa, saya mencoba membuka akun twitter “EARTHQUAKE” yang mengupdate berita gempa bumi yang terjadi di seluruh dunia lengkap dengan skala dan juga letak hiposentrumnya. Melalui twitter inilah, siswa jadi makin memahami bahwa sesungguhnya tanpa sadar banyak gempa yang terjadi di sekitar kita baik di Indonesia maupun di luar negeri dengan skala yang berbeda-beda. Mereka pun belajar rumus skala Ritcher beserta dampaknya dalam kehidupan sehari-hari. Pada intinya, sekarang kita sama-sama belajar bahwa gempa dengan skala >8 akan berdampak kerusakan yang parah bagi dunia dan biasanya menjadi trending topic. Terpenting, disini mereka pun belajar bagaimana menjadi siswa yang peka terhadap gempa dan respon dalam  menghadapi gempa.

Terakhir, materi tenaga eksogen yang terdiri dari pelapukan, erosi, sedimentasi. Ternyata, tenaga eksogen ini merupakan sebuah proses berkesinambungan yang sangat menarik. Saya pun mengemasnya dengan sebuah kisah batuan yang mengalami pelapukan yaitu penghancuran batuan oleh air, angin , zat kimia dan sebagainya. Kemudian, hasil pelapukan itu dibawa oleh proses erosi yang mengendap di dalam proses sedimentasi yang menghasilkan endapan yang beranekaragam di permukaan bumi seperti delta, morena, floodplain, dan lain-lain. Saya pun menggunakan gambar-gambar yang beranekaragam untuk menunjukkan hasil endapan dari batuan yang ada di seluruh dunia. Sampai, saya pun menunjukkan suatu film menarik berjudul 127 hours yang menceritakan kisah perjuangan seorang pria yang terjebak di salah satu bentuk muka bumi yang terindah di dunia, yaitu ngarai. Poin penting yang dipelajari adalah bagaimana Tuhan kita yang maha dahsyat membentuk hasil sedimentasi yang seharusnya terbuang menjadi bentuk muka bumi yang indah dan dimanfaatkan manusia untuk tempat wisata.

Selesailah materi Litosfer. Mungkin terlihat terlalu dangkal, cepat, sederhana, dan penuh cerita. Namun, saya rasa disinilah batas tugas guru untuk memberikan fondasi materi yang simpel tapi spektakuler. Ini hanya menjadi fondasi dasar mereka untuk meraba, merasakan, dan memahami konsep dasar materi ini sesuai dengan logika, emosi, dan kepribadian mereka. Tidak perlu menampilkan semua teori dan istilah sulit yang membebani siswa dengan sejumlah latihan soal-soal yang memberatkan. Tanamkan dulu rasa cinta, keingintahuan, juga ketertarikan siswa mempelajari materi tersebut dengan menyajikan materi simpel tapi spektakuler. Ibarat menyajikan sebuah makanan pembuka, tidak perlu yang rumit dan banyak karena justru akan membuat orang yang memakannya sudah ‘enek’ dengan kompleksitas yang kita sajikan. Meskipun simpel, tetap sajikan ‘menu pembuka’ dengan rasa yang spektakuler dengan menampilkan cerita, gambar, video yang membuat siswa secara konsisten menggali hal-hal spektakuler dalam materi geografi.

Nah, setelah makanan pembuka, tentu ada makanan utama yang harus ‘disantap’ siswa mengenai materi ini bukan? Disinilah, metode ceramah interaktif saya diubah dengan presentasi sosial media. Dengan membagi siswa menjadi 4 kelompok yang berbeda, saya menantang mereka untuk mengeksplorasi materi Litosfer melalui twitter, google+, pinterest, youtube, dan juga wordpress. Eksplorasi ini dilakukan langsung melalui media sosial dalam bentuk artikel, gambar, video, dan berbagai hal yang mereka suka sesuai dengan topik yang saya bagikan. Disinilah siswa memperdalam materi litosfer secara mandiri dengan melihat langsung contoh-contoh gambar, cerita, lagu, video tentang fenomena litosfer dalam dunia nyata yang lebih praktis dan aplikatif. Bagaimana kelanjutan dari kisah ini? Tungu kelanjutan eksplorasi ‘menu utama’ yang lebih spektakuler minggu depan!

Oleh: @StevenSutantro

st3v3nsutantro.wordpress.com

sumber gambar: www.google.com

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Endah Kreco, Kartini dari Keong Sawah …

Junanto Herdiawan | | 21 April 2014 | 07:31

Mempertanyakan Kelayakan Bus Transjakarta …

Frederika Tarigan | | 21 April 2014 | 10:22

Cara Menghadapi Lansia (Jompo) Pemarah …

Mohamad Sholeh | | 21 April 2014 | 00:56

Danau Linow Masih Mempesona …

Tri Lokon | | 21 April 2014 | 07:01

Yuk, Ikuti Kompasiana Nangkring bareng …

Kompasiana | | 15 April 2014 | 20:47


TRENDING ARTICLES

Bagaimana Rasanya Bersuamikan Bule? …

Julia Maria Van Tie... | 2 jam lalu

PDIP dan Pendukung Jokowi, Jangan Euforia …

Ethan Hunt | 3 jam lalu

Akuisisi BTN, Proyek Politik dalam Rangka …

Akhmad Syaikhu | 5 jam lalu

Jokowi-JK, Ical-Mahfudz, Probowo-…? …

Syarif | 6 jam lalu

Pengalaman Bekerja di Luar Negeri …

Moch Soim | 9 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: