Back to Kompasiana
Artikel

Edukasi

Bambang Ruby

............. .. ..... ... ............... ... ..... .

Merubah Guru Bukan Kurikulum, Bisakah?

OPINI | 20 January 2013 | 00:11 Dibaca: 237   Komentar: 8   0

Perubahan Kurikulum telah terjadi berkali-kali. Dana besar keluar, tidak perlu disebutkan satu persatu kemana dana rakyat didistribusikan untuk Pendidikan, kenapa? Kita sudah tahu kemana dan dipakai untuk apa dana tersebut.

Bisakah hanya dengan buku panduan kurikulum dan aturan-aturan baru dapat meningkatkan kinerja Guru? Kenapa kinerja Guru? Jelas, Guru sebagai pelaksana dari aturan-aturan tersebut. maka ketika kurikulum baru disebut sebagai terobosan maha dahsyat, bisa meningkatkan dan merubah pendidikan kita lebih maju, sementara para pelaksana peraturan tersebut (red. Guru) masih banyak yang tidak faham atau bahkan tidak perduli sama sekali. Bagaimana solusi untuk hal itu?

Pelatihan Guru memang dilakukan. Apakah untuk semua Guru? Belum. Guru yang telah ikut, bahkan yang sering menghadiri pelatihan, apakah semuanya sudah bisa dikategorikan ‘Cakap’ atau sama dahsyatnya dengan teori-teori yang ada di dalam kurikulum? Silahkan dicek lagi.

Guru yang disebut sebagai guru pembaharu sekarang malah aneh, dan tidak jelas fungsinya. Kenapa? Banyak guru/dosen yang tidak betah dikelas. Mereka lebih suka ikut seminar inilah dan itulah. Haruskah hal tersebut didahulukan? Lalu tanggung jawabnya di kelas bagaimana?

Fakta yang terjadi, Guru sudah hampir melupakan tugas utamanya mengajar di kelas. Berbagai proyek pendidikan membuat sebagian mereka tergiur untuk mendalaminya. Kenapa harus mendalami proyek tersebut? mungkin bisa terjawab seiring berjalannya waktu.

Mindset Proyek inilah yang harus dirubah. Bagaimana guru/dosen terpokus mendidik dan mencerdaskan generasi bangsa? Satu kali lagi, Mencerdaskan Generasi Bangsa, Bukan Mencerdaskan Diri sendiri dan Membingungkan anak didik.

Aneh apabila seorang Guru/Dosen yang rajin mengisi seminar pendidikan, menjual buku, memberikan teori-teori jitu dalam hal pengajaran, sementara kelasnya sering kosong, muridnya jadi ikut bolos yang berakibat tawuran semakin marak. Saatnya merubah Guru, bukan kurikulum lagi.

Merubah Guru dengan cara pembuatan kurikulum baru? Oh please .. itu sudah terjadi berkali-kali, dan kita tahu hasilnya seperti apa.

Tags: guru kurikulum

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Johannes Karundeng Mengajari Kami Mencintai …

Nanang Diyanto | | 21 September 2014 | 15:45

Kompasianers Jadi Cantik, Siapa Takut? …

Maria Margaretha | | 21 September 2014 | 16:51

Kaizen dan Abad Indonesia …

Indra Sastrawat | | 21 September 2014 | 15:38

Kucing Oh Kucing …

Malatris | | 21 September 2014 | 16:00

[Daftar Online] Nobar Film “Tabula …

Kompasiana | | 21 September 2014 | 10:33


TRENDING ARTICLES

Pak SBY, Presiden RI dengan Kemampuan Bahasa …

Samandayu | 13 jam lalu

Setelah Ahok, Prabowo Ditinggal PPP dan PAN, …

Ninoy N Karundeng | 14 jam lalu

MK Setuju Sikap Gerindra yang Akan …

Galaxi2014 | 16 jam lalu

Ini Tanggapan Pelatih Valencia B tentang …

Djarwopapua | 20 September 2014 16:34

Kalau Tidak Mau Dirujuk, BPJS-nya Besok …

Posma Siahaan | 20 September 2014 13:00


HIGHLIGHT

Yamaha YZF R25 : A Superbike You Can Ride …

Fajr Muchtar | 7 jam lalu

Harumnya Pandan Cake Menggugah Selera, …

Weedy Koshino | 8 jam lalu

Menelusuri Jejak Para Diaspora …

Muhammad Rasyid Rid... | 8 jam lalu

Kasiat Tanaman Keji Beling …

Meilia Eka Diah Pra... | 8 jam lalu

Rumah Terakhir Pahlawan Nasional Ini …

Mawan Sidarta | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: