Back to Kompasiana
Artikel

Edukasi

Bambang Ruby

............. .. ..... ... ............... ... ..... .

Merubah Guru Bukan Kurikulum, Bisakah?

OPINI | 20 January 2013 | 00:11 Dibaca: 230   Komentar: 8   0

Perubahan Kurikulum telah terjadi berkali-kali. Dana besar keluar, tidak perlu disebutkan satu persatu kemana dana rakyat didistribusikan untuk Pendidikan, kenapa? Kita sudah tahu kemana dan dipakai untuk apa dana tersebut.

Bisakah hanya dengan buku panduan kurikulum dan aturan-aturan baru dapat meningkatkan kinerja Guru? Kenapa kinerja Guru? Jelas, Guru sebagai pelaksana dari aturan-aturan tersebut. maka ketika kurikulum baru disebut sebagai terobosan maha dahsyat, bisa meningkatkan dan merubah pendidikan kita lebih maju, sementara para pelaksana peraturan tersebut (red. Guru) masih banyak yang tidak faham atau bahkan tidak perduli sama sekali. Bagaimana solusi untuk hal itu?

Pelatihan Guru memang dilakukan. Apakah untuk semua Guru? Belum. Guru yang telah ikut, bahkan yang sering menghadiri pelatihan, apakah semuanya sudah bisa dikategorikan ‘Cakap’ atau sama dahsyatnya dengan teori-teori yang ada di dalam kurikulum? Silahkan dicek lagi.

Guru yang disebut sebagai guru pembaharu sekarang malah aneh, dan tidak jelas fungsinya. Kenapa? Banyak guru/dosen yang tidak betah dikelas. Mereka lebih suka ikut seminar inilah dan itulah. Haruskah hal tersebut didahulukan? Lalu tanggung jawabnya di kelas bagaimana?

Fakta yang terjadi, Guru sudah hampir melupakan tugas utamanya mengajar di kelas. Berbagai proyek pendidikan membuat sebagian mereka tergiur untuk mendalaminya. Kenapa harus mendalami proyek tersebut? mungkin bisa terjawab seiring berjalannya waktu.

Mindset Proyek inilah yang harus dirubah. Bagaimana guru/dosen terpokus mendidik dan mencerdaskan generasi bangsa? Satu kali lagi, Mencerdaskan Generasi Bangsa, Bukan Mencerdaskan Diri sendiri dan Membingungkan anak didik.

Aneh apabila seorang Guru/Dosen yang rajin mengisi seminar pendidikan, menjual buku, memberikan teori-teori jitu dalam hal pengajaran, sementara kelasnya sering kosong, muridnya jadi ikut bolos yang berakibat tawuran semakin marak. Saatnya merubah Guru, bukan kurikulum lagi.

Merubah Guru dengan cara pembuatan kurikulum baru? Oh please .. itu sudah terjadi berkali-kali, dan kita tahu hasilnya seperti apa.

Tags: guru kurikulum

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Endah Kreco, Kartini dari Keong Sawah …

Junanto Herdiawan | | 21 April 2014 | 07:31

Mempertanyakan Kelayakan Bus Transjakarta …

Frederika Tarigan | | 21 April 2014 | 10:22

Cara Menghadapi Lansia (Jompo) Pemarah …

Mohamad Sholeh | | 21 April 2014 | 00:56

Danau Linow Masih Mempesona …

Tri Lokon | | 21 April 2014 | 07:01

Yuk, Ikuti Kompasiana Nangkring bareng …

Kompasiana | | 15 April 2014 | 20:47


TRENDING ARTICLES

Bagaimana Rasanya Bersuamikan Bule? …

Julia Maria Van Tie... | 2 jam lalu

PDIP dan Pendukung Jokowi, Jangan Euforia …

Ethan Hunt | 3 jam lalu

Akuisisi BTN, Proyek Politik dalam Rangka …

Akhmad Syaikhu | 5 jam lalu

Jokowi-JK, Ical-Mahfudz, Probowo-…? …

Syarif | 6 jam lalu

Pengalaman Bekerja di Luar Negeri …

Moch Soim | 9 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: