Back to Kompasiana
Artikel

Edukasi

Irfan Amri

Motto hidup : Berpikir besar, berusaha maksimal, berdo'a dan sukses

Sebuah Catatan Hidup

OPINI | 20 January 2013 | 07:33 Dibaca: 129   Komentar: 0   0

Kadang saya suka aneh dan heran akan perbedaan antara orang kaya dan orang yang sederhana.

Orang sederhana di atas, sengaja saya istilahkan sebagai perbandingan dari orang kaya. Karena kita semua tahu anonim dari orang kaya itu orang miskin. Tapi istilah orang miskin mungkin akan terdengar sedikit ‘kasar’ dan juga sekarang kriteria orang miskin susah untuk didefinisikan. Seperti kriteria miskin dulu dapat dilihat dari rumahnya yang tidak punya televise, tapi sekarang rata-rata hampir 1 rumah memiliki tivi. Dulu miskin itu tidak punya handphone, tapi sekarang kalau kita lihat di beberapa stopan lampu merah seorang pengemis aja punya hape (handphone, red). Jadi saya pikir, mungkin istilah orang sederhana dapat dan cukup mewakili kondisi orang miskin jaman sekarang.

Tulisan ini, sengaja saya curahkan karena saya merasa miris akan keadaan sekarang dan tidak ada maksud untuk memojokkan salah pihak yang disebutkan.

Dulu, saya pernah kenal dengan seorang anak yang orang tuanya bisa dibilang sebagai orang kaya. Saya nginap di rumahnya, dan kebetulan sekali waktu saya nginap itu sampah di rumahnya sudah numpuk. Dan ayahnya nyuruh teman saya ini buang sampah di pasar. Kebetulan juga, rumah teman saya ini letaknya dekat dengan salah satu pasar di daerah Cibiru.

Saya aneh dan bertanya dalam hati, “Koq buang sampah di pasar?”.

Karena sampahnya numpuk, teman saya meminta saya menemani dia buang sampah. Dengan menggunakan motor, teman saya dan saya ke pasar. 10 menit kemudian akhirnya kita sampai dan ternyata teman saya membuang sampah ke tempat penampungan sampah yang ada di pasar itu.

Di pasar itu, umumnya semua pasar juga pasti memiliki semacam tempat penampungan sampah sementara khusus untuk para pedagang sekitar pasar yang pada esok malamnya sampah itu akan diangkut ke tempah penampungan akhir, tentunya ada rincian retribusi kebersihan setiap bulannya yang wajib dibayar oleh mereka.

Nah, kalau ada orang yang sengaja buang sampah di pasar dan bukan pedagang pasar tanpa membayar retribusi, kita nyebutnya apa yah? Penjahat, bisa gitu?

Padahal saya yang berasal dari keluarga yang sederhana saja, kalau membuang sampah yang seminggu bisa 2 atau 3 hari selalu ke tukang sampah komplek karena rumah saya yang berdekatan dengan komplek. Dan ketika buang sampah, ibu saya kasih kencleng sebesar seribu atau dua ribu rupiah. Justru ketika ibu saya masih jaya dan masih tinggal di Cibaduyut, setiap menjelang akhir Ramadhan, ibu saya selalu kasih paket lebaran untuk tukang sampah. Bukan bermaksud membanggakan ibu saya, tapi bagi saya, ibu saya adalah ibu terbaik di dunia.

Ibu saya pernah bilang, “Jangan pelit ya uda, kalau ada rejeki kita kasih kencleng buat tukang sampah, itung-itung ikut bersedekah meringankan beban mereka”. Itulah pesan ibu saya yang akan selalu saya inget.

Kembali ke masalah tadi, menurut pandangan saya tindakan seperti itu (buang sampah di pasar) jika hanya membuang sampahnya tidak tiap hari, masih dapat digolongkan sebagai hal wajar. Tapi kalau buang sampah, udah sampahnya banyak terus buangnya selalu ke pasar itu sudah termasuk kurang ajar.

Tiap komplek pasti ada tukang sampahnya dengan jadwal angkut sampah yang sudah ada. Jadi untuk teman saya, tolong dunk jangan sering buang sampah ke pasar. Kalaupun buang sampah usahakan kasih kencleng sedikit untuk tukang sampah itu, toh uang kita ga akan habis untuk hal itu. Jangan pelit untuk kebaikan sendiri!!!.

Karena orang kaya itu tidak diukur seberapa banyak harta yang sudah dia kumpulkan di dunia ini. Tapi “orang kaya” itu diukur dari seberapa banyak harta yang sudah dia ‘investasikan’ untuk kehidupan dia setelah mati.

- Irfan –

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Kompasiana Nangkring bareng Pertamina …

Santo Rachmawan | | 01 September 2014 | 13:07

Intip Lawan Timnas U-23 di Asian Games : …

Achmad Suwefi | | 01 September 2014 | 12:45

Anda Stress? Kenali Gejalanya …

Cahyadi Takariawan | | 01 September 2014 | 11:25

‘Royal Delft Blue’, Keramik …

Christie Damayanti | | 01 September 2014 | 13:32

Ikuti Blog Competition Sun Life dan Raih …

Kompasiana | | 30 August 2014 | 17:59


TRENDING ARTICLES

Ini Kata Rieke Dyah Pitaloka …

Uci Junaedi | 5 jam lalu

BBM Bersubsidi, Menyakiti Rakyat, Jujurkah …

Yunas Windra | 9 jam lalu

Rekayasa Acara Televisi, Demi Apa? …

Agung Han | 10 jam lalu

Salon Cimey; Acara Apaan Sih? …

Ikrom Zain | 10 jam lalu

Bayern Munich Akan Disomasi Jokowi? …

Daniel Setiawan | 10 jam lalu


HIGHLIGHT

Nikmat Merantau …

Cucum Suminar | 7 jam lalu

Perbaikan Gedung DPRD Kab.Tasikmalaya …

Asep Rizal | 8 jam lalu

Kompasianer, dari Sekedar Komentator Hingga …

Sono Rumekso | 8 jam lalu

Legislator Karawang Sesalkan Lambannya …

Abyan Ananda | 8 jam lalu

Di The Hague [Denhaag], ada …

Christie Damayanti | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: