Back to Kompasiana
Artikel

Edukasi

Poernamasyae

dibilang panasbung sama pasukan nasi bungkus (beneran) yang tak terverifikasi di kompasiana hahahahaha

Sekali (Lagi) tentang Pendidikan, Input Sekolah Keguruan, Yayasan

OPINI | 21 January 2013 | 21:23 Dibaca: 363   Komentar: 0   0

Finlandia adalah salahsatu contoh negara dengan kualitas pendidikan terbaik. Salahsatu faktor pendukung adalah kualitas gurunya yang mumpuni. Menurut berita, menjadi guru di Finlandia merupakan profesi yang sangat bergengsi, melalui seleksi yang ketat, dan memperoleh gaji yang besar dari pemerintah. Hanya mereka yang sungguh-sungguh mau menjadi guru dan memiliki kecerdasan yang cukup.

Indonesia memang tidak bisa disamakan dengan Finlandia. Untuk menjadi guru di Indonesia bisa dari lulusan sekolah bukan keguruan. Walaupun kemudian ditata dengan keharusan menempuh jalur pendidikan keguruan Akta IV. Semakin berubah jaman, maka pendidikan profesi untuk menjadi guru semakin mempersempit ruang bagi para alumni perguruan tinggi non keguruan. Faktanya adalah, banyak lulusan dari perguruan tinggi non keguruan yang malah berhasil, dan lebih profesional dari lulusan perguruan tinggi keguruan. Amati sekolah-sekolah swasta yang berprestasi, lulusan mana sajakah gurunya?

Untuk menjadi guru profesional di Indonesia saat ini, setelah lulus dari S1 Kependidikan diharuskan untuk menempuh Pendidikan Profesi. Lamanya pendidikan profesi disesuaikan dengan jenjang sekolah yang akan diajar. Apakah tingkatan pendidikan usia dini, pendidikan dasar, atau pendidikan menengah. Bagi yang sudah menjadi guru dan lulusan dari perguruan tinggi non keguruan, mungkin bisa masuk ke program Pendidikan Profesi Guru, bersaing dengan para lulusan perguruan tinggi keguruan.

Kesejahteraan guru yang semakin meningkat membuat profesi guru semakin diminati oleh generasi muda. Dengan gaji yang besar diharapkan menjadi pemicu agar mereka bekerja lebih profesional dalam bekerja. Cerita tentang guru yang ‘SK’nya disekolahkan di bank sering terdengar di masa lalu. Begitu pula dengan guru yang menyambi dengan profesi lainnya. Kalangan guru swasta lebih parah lagi, kalau dahulu saya sering mendengar adanya guru yang mengajar di tingkat SD, SMP, SMA, bahkan juga membuka bimbingan belajar. Sehingga kartu namanya bisa berbeda-beda, tergantung dengan kebutuhan J. Kini guru PNS dan guru swasta dengan status guru tetap yang diangkat yayasan, mempunyai peluang yang sama untuk menjadi ‘Guru Professional’ dengan mengikuti program yang diselenggarakan pemerintah.

Menjadi professional tidak hanya dengan memperoleh selembar kertas pengakuan formal, tetapi juga dengan karya nyata dan pengembangan karir yang nyata. Oleh karena itu guru profesional menjalani ‘tes’ secara berkala.

Konon rencananya untuk peningkatan profesionalitas guru di masa depan, maka pemerintah akan memperketat input menjadi guru profesional. Guru ‘dicetak’ sesuai dengan kebutuhan di lapangan. Seleksi masuk sekolah keguruan diperketat. Kalau di perguruan tinggi swasta mungkin dapat dilaksanakan, namun di perguruan tinggi swasta agak sulit, karena perguruan tinggis swasta membutuhkan kuantitas mahasiswa untuk berjalannya roda organisasi. Karena itu, maka fungsi pengawasan terhadap kualitas organisasinya perlu diperketat.

Menjadi guru adalah profesi yang unik. Tidak semua orang terpanggil untuk menjadi guru. Namun bisa dikatakan guru adalah profesi ‘keturunan’. Banyak para orangtua yang guru menghasilkan anak atau cucu yang menjadi guru. Memang menjadi guru tidak akan lebih sejahtera dengan menjadi tukang insinyur. Namun dengan sedikit penghasilan tersebut banyak keluarga guru yang sukses mendidik anak-anaknya.

Saat ini, ketika guru diakui sebagai profesional dibidangnya. Maka jargon guru sebagai ‘pahlawan tanpa tanda jasa’ mungkin sudah berubah. Karena para guru banyak yang meminta jasanya ‘ditandai’. Walaupun masih juga ditemukan para pahlawan tanpa tanda jasa, yang berani mengajar anak-anak tanpa mengharapkan imbalan yang layak. Pemerintah membuka program bagi lulusan sekolah guru untuk menjalani ‘kontrak mengajar’ di daerah tertinggal, terluar, dan terdepan wilayah Indonesia melalui program SMI3T yang link-nya dapat dilihat disini. Pihak swasta juga memiliki program serupa, dimotori oleh Rektor Universitas Paramadina yang tidak memiliki program studi pendidikan guru, melalui program Indonesia Mengajar, link-nya di SINI. Organisasi non profit Dompet Dhuafa juga menyadari pentingnya pengembangan potensi guru melalui berbagai program antara lain program……..

Beda lagi dengan pemilik yayasan. Mereka mengelola sekolah untuk berbagai kepentingan. Orientasi mereka tentang pendidikan dan keguruan bisa berbeda-beda. Akhirnya sekolah swasta yang berada dibawah suatu yayasan menjadi tempat usaha jasa pendidikan semata. Bahkan jika yayasannya kurang profesional, maka yayasan tersebut menjadi tempat berlabuhnya anak, mantu, atau cucu dan saudara-saudara lainnya yang susah mencari kerja di dunia profesi masing-masing. Semoga dengan penataan yang semakin bagus dari pemerintah, sekolah swasta yang tidak berkualitas akan tersisihkan dari peredaran, dan para guru-nya akan lebih profesional. Karena pendidikan merupakan hak setiap warga negara yang dijamin oleh pemerintah. Namun dalam kenyataannya pemerintah tidak sanggup untuk menyediakan sekolah bagi seluruh pelajar di Indonesia. Maka swasta muncul memberikan tangan bagi tersedianya pendidikan bagi seluruh rakyat. Maka muncullah organisasi kemasyarakat ataupun yayasan yang membuka lembaga pendidikan. Yang lebih swasta lagi adalah pondok pesantren, yang memberikan pendidikan ‘sekolah’ kepada masyarakat dengan tanpa ijasah. Jenis lembaga pendidikan Pesantren adalah lembaga pendidikan tradisional khas Indonesia, mungkin juga terdapat di beberapa bagian Asia Tenggara, yang murni berasal dari dan untuk masyarakat dengan masjid sebagai pusat pendidikan, kyai sebagai figur sentral, serta ajaran agama sebagai bahan pelajaran.

Wuhan, 2013-01-21

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Perjalanan Malam Hari di Jalur Pantura …

Topik Irawan | | 24 July 2014 | 15:41

“Telitinya” Petugas PT KAI dalam …

Iskandar Indra | | 24 July 2014 | 16:25

Catatan dari Batam …

Farchan Noor Rachma... | | 24 July 2014 | 17:46

Rumah “Unik” Majapahit …

Teguh Hariawan | | 24 July 2014 | 15:27

Ikuti Lomba Resensi Buku Tanoto Foundation! …

Kompasiana | | 11 July 2014 | 16:12


TRENDING ARTICLES

Sengketa Pilpres 2014 Akhirnya Berujung di …

Mawalu | 11 jam lalu

Inilah Salah Satu Warisan Terbaik Pak Beye …

Raisa Atmadja | 12 jam lalu

Timnas U-19 Batal Tampil di Spanyol …

Achmad Suwefi | 14 jam lalu

Akhirnya Prabowo-Hatta Melangkah ke MK …

Bang Pilot | 20 jam lalu

Jokowi “Penyebar Virus” kepada …

Hendrik Riyanto | 20 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: