Back to Kompasiana
Artikel

Edukasi

Aisyah Pertiwi

Tumbuh di desa, kuliah di kota, bercita-cita keliling dunia dan masuk surga.

Dana BOS Sudah Cair, Anak Sekolah Tidak Boleh Ada yang Bunuh Diri Lagi!

OPINI | 23 January 2013 | 08:36 Dibaca: 878   Komentar: 0   1

13589044022087976414

Dewasa ini, media massa kerap menyajikan berita mengenai kasus bunuh diri di kalangan pelajar. Nana Robiatun (17 tahun), siswi MA Futuhiyah Grobogan Jawa Tengah, nekad mengakhiri hidup karena tidak dapat melunasi SPP sebesar Rp.250.000 sebagai syarat mengikuti ujian semester (Harian Suara Merdeka, edisi 7 Juni 2012). Yanto (13 tahun), berupaya menggantung diri dengan seutas kabel karena malu tidak bisa membayar iuran kegiatan ekstrakurikuler sebesar Rp.2.500 di sekolahnya (GATRA, edisi 29 Agustus). Sembodo (10 tahun) siswa kelas IV SDN Pohkumbang, Kebumen, gantung diri karena orangtuanya tidak bisa membelikan buku gambar (Suara Merdeka, edisi 24 Juli 2004).

Tragis memang, jika cita-cita besar generasi muda Indonesia harus kandas karena tidak ada biaya untuk sekolah. Barangkali masyarakat sudah sangat geregetan menyaksikan fenomena tersebut. Mau pinter kok repot. Tidak habis pikir, anak kecil yang notabene masih senang bermain, juga ikut-ikutan memikirkan hal-hal yang harusnya menjadi urusan orangtua. Pada faktanya, biaya sekolah seringkali menjadi masalah yang menghanguskan cita-cita anak-anak miskin di negeri ini.

Sebagai warga Jawa Barat, saya patut bersyukur mencermati kinerja pemerintah daerah dalam bidang pendidikan. Berdasarkan, website resmi Pemerintah Jawa Barat, http://www.jabarprov.go.id, upaya peningkatan taraf pendidikan yang telah dilakukan oleh Pemerintah di antaranya penuntasan Wajib Belajar Pendidikan Dasar (Wajar Dikdas), pemberian Bantuan Gubernur Untuk Siswa (BAGUS), pemberian Bantuan Operasional Sekolah (BOS), pembangunan ruang kelas baru, perbaikan gedung sekolah, Bantuan Khusus Siswa Miskin (BKSM) bagi SMA/SMK Swasta se-Jawa Barat, pendidikan Paket B dan C secara massal untuk usia >15 tahun, serta pemberian insentif guru PNS dan honor guru bantu SD dan MI terpencil.

Baru-baru ini, 18 Januari 2013, Gubernur menggelontorkan dana BOS senilai Rp.984 miliar ke rekening masing-masing penanggungjawab sekolah. Berbeda halnya seperti pada tahun 2011 yang pencairan dana BOS melalui Kabupaten/Kota, pada tahun 2012 dan 2013 ini dana langsung ditransfer ke sekolah. Harapannya dengan sistem tersebut pencairan dana menjadi lancar (http://www.ahmadheryawan.com)

Untuk periode Januari, Februari, dan Maret, dana BOS yang dialokasikan untuk SD/SDLB sebesar Rp 683,8 miliar. Sedangkan untuk SMP, SMPLB, dan SMP Terbuka sebesar Rp 300,7 miliar. Adapun alokasi keseluruhan dana BOS Jawa Barat untuk periode Januari sampai Desember 2013 total dana BOS sebesar Rp 4,161 triliun; Rp.2,761 triliun untuk siswa SD/SDLB; Rp.1,219 triliun untuk SMP-SMPLB-SMP Terbuka; dan Rp.179,8 miliar untuk dana cadangan semua SD dan SMP. Dari dana tersebut, alokasi untuk SD sebesar Rp 580 ribu per siswa per tahun, SMP sebesar Rp.710 ribu per siswa per tahun, dan SMA sebesar Rp. 1 juta per siswa per tahun. “Nanti tambahan dari provinsi Rp. 200 ribu per siswa per tahun, jadi totalnya Rp 1,2 juta per siswa per tahun. Dengan demikian SMA pun insya Allah akan gratis secara bertahap,” papar Gubernur Jawa Barat, Ahmad Heryawan.

Selain pencairan dana BOS yang langsung ke rekening setiap sekolah, Dinas Pendidikan Jawa Barat juga membuat terobosan baru melalui software pelaporan dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS). Melalui software ini, penyaluran dana BOS dapat dipantau dengan mudah untuk mencegah penyelewengan dan kesalahan pelaporan, dan yang paling penting tepat sasaran.

Harapannya, upaya Pemerintah untuk meningkatkan mutu pendidikan disambut dan didukung dengan baik oleh masyarakat. Bantuan dana maupun fasilitas yang diberikan dapat dimanfaatkan sebaik-baiknya untuk kepentingan pendidikan. Sehingga mimpi besar kita semua dapat terwujud, masyarakat Jawa Barat yang pinter, bageur, tur bener. Semoga!

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Patung Malaikat Tuhan Pembawa Warta …

Blasius Mengkaka | | 30 August 2014 | 09:27

Jadi Donor Darah di Amerika …

Bonekpalsu | | 30 August 2014 | 06:25

Nasib Sial Florence Bisa Terjadi di …

Pebriano Bagindo | | 29 August 2014 | 20:14

Dian Sastrowardoyo dan Mantan ART Saya …

Ariyani Na | | 30 August 2014 | 10:04

Blog Competition Smartfren: Andromax yang …

Kompasiana | | 18 August 2014 | 20:22


TRENDING ARTICLES

Ternyata Inilah Sebabnya Pendeta Paling …

Tjiptadinata Effend... | 6 jam lalu

Kesaksian Relawan Kerusuhan Mei …

Edo Panjaitan | 7 jam lalu

Tentang Mengusahakan Jodoh …

Adin_noel | 12 jam lalu

Jogja Terhina, France Tidak Perlu Minta Maaf …

Nasakti On | 17 jam lalu

Rising Star Indonesia, ‘Ternoda’ …

Samandayu | 17 jam lalu


HIGHLIGHT

Pendidikan Masa Kini …

Dhita Putri Arining... | 8 jam lalu

Pendidikan Masa Kini …

Muhammad Fikri Insa... | 8 jam lalu

Basah di Mata (Puisi) …

Eko Zetialism | 8 jam lalu

Pasang Surut Seni Jarang Kepang Di Ponorogo …

Nanang Diyanto | 8 jam lalu

Jokowi Butuh Rp 265 Triliun (7) …

Kwee Minglie | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: