Back to Kompasiana
Artikel

Edukasi

Maya Nirmala Sari

Belajar sepanjang hayat dan menjadi diri sendiri. suka baca, tulis, & travelling. Staff keuangan di media massa. Peternak selengkapnya

Tawuran Pelajar: Bukan Sekedar “Kenakalan Remaja”

OPINI | 23 January 2013 | 08:51 Dibaca: 751   Komentar: 0   0

Menonton berita televisi pagi hari ini dan browsing internet, di dominasi berita tawuran pelajar.

Berikut ini di antaranya :

http://www.tempo.co/read/news/2013/01/22/064456223/Lagi-Pelajar-Bajak-Metromini-untuk-Tawuran

http://news.detik.com/read/2013/01/22/203656/2150058/10/polisi-kejar-pelajar-yang-tawuran-dan-lukai-masinis-kereta-di-buaran

Saya bertanya-tanya, ada apa dengan mereka?

Bukankah seharusnya mereka belajar di sekolah, atau mengerjakan PR di rumah?

Tiba-tiba kepala saya pening, miris sekali. Para remaja itu punya potensi luar biasa untuk mengangkat martabat bangsa di masa depan. Darah yang mengalir di tubuh pemuda-pemuda itu penuh semangat untuk merubah dunia menjadi lebih baik. Di tangan merekalah akan di titipkan eksistensi peradaban ini. Lalu melihat realita seperti ini, sepertinya hari ke depan akan lebih terpuruk. Semoga belum terlambat untuk berbenah.

Beberapa tahun lalu kita sering mendengar istilah “kenakalan remaja”.  Saya mendefinisikannya sebagai mencontek teman saat ulangan, sesekali bolos sekolah untuk nonton bioskop, atau mencuri-curi genggaman tangan pacar :)

Tapi remaja yang nakal saat ini tidak sekedar melakukan itu lagi. Tengoklah kanan kiri. Mereka membajak bus seperti preman,  menclurit dada temannya, membacok masinis yang bahkan tidak mereka kenal sebelumnya. Dengan pasangan mereka pun bukan lagi genggaman tangan, tetapi hubungan seks layaknya suami istri. Semua itu bukan sekedar nakal tapi BRUTAL.

Apakah serta merta yang salah remaja bersangkutan? Tidak salahkah sistem pendidikan di sekolah? Tidak salahkah guru-guru mereka? Tidak salahkah orang tua mereka? Tidak salahkah kita?

Setiap bayi yang lahir adalah suci, tanpa dosa. Mereka punya hati nurani sebagai manusia. Mari sama-sama kita introspeksi. Mungkin kita mendidiknya kurang baik. Mungkin kita tidak memberi contoh teladan. Mungkin makanan & pakaian yang kita berikan dari harta haram. Mungkin kita bermaksud membahagiakan mereka dengan materi berkecukupan, tapi cara yang kita lakukan adalah korupsi uang rakyat, menindas orang lain, menipu, mencuri. Mungkin kita abai terhadap hukum SANG PENCIPTA.

Tentu masih banyak remaja baik dan berprestasi. Pastikan anak-anak kita salah satunya.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Bukti Nyata Power Sosial Media; Jonan, Ahok, …

Prayitno Ramelan | | 23 November 2014 | 10:59

Bagaimana Menjadi Penulis Opini, Kuliah …

Hendi Setiawan | | 23 November 2014 | 12:04

Akrobat Partai Politik Soal Kenaikan BBM …

Elde | | 22 November 2014 | 21:45

Awal Musim Dingin di Gunung Manin, Daejeon, …

Ony Jamhari | | 23 November 2014 | 11:49

Inilah 3 Pemenang Blog Movement “Aksi …

Kompasiana | | 22 November 2014 | 10:12


TRENDING ARTICLES

Selamat ke Pak Tjip, Elde dan Pakde Kartono …

Pakde Kartono | 10 jam lalu

Kesan-kesan Saya Ikuti Kompasianival 2014, …

Djarwopapua | 18 jam lalu

Catatan Kompasianival 2014: Aksi Untuk …

Achmad Suwefi | 20 jam lalu

Duuuuuh, Jawaban Menteri ini… …

Azis Nizar | 21 November 2014 22:51

Zulkifli Syukur, Siapanya Riedl? …

Fajar Nuryanto | 21 November 2014 22:00


HIGHLIGHT

Di Bawah Alunan Malam …

Arrizqi Titis Anugr... | 13 jam lalu

Cenderamata Kompasianival 2014 …

Mabate Wae | 13 jam lalu

Awal Musim Dingin di Gunung Manin, Daejeon, …

Ony Jamhari | 13 jam lalu

Benarkah Reformasi Birokrasi Harus Dipaksa? …

Efendy Naibaho | 13 jam lalu

Peniti Community, Wadah Kompasianer …

Isson Khairul | 13 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: