Back to Kompasiana
Artikel

Edukasi

Noerul Aida Indah Sari

kesuksesan akan mudah akrab dengan kita bila kita memiliki pemahaman akan sifat dan tabiat teman selengkapnya

Haid/Menstruasi dalam Perspektif Madzhab Syafi’i dan Hambali

REP | 24 January 2013 | 11:55 Dibaca: 567   Komentar: 0   2

Haid / Menstruasi dalam perspektif Madzhab Syafi’I dan Hambali

Makalah

Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Tugas Mata Kuliah Ilmu Kalam

Dosen Pengampu : Urwah, S.Hi, M.SI

Disusun Oleh : Noerul Aida Indah Sari

UNIVERSITAS GARUT

FAKULTAS AGAMA ISLAM 2012-2013

PENDIDIKAN AGAMA ISLAM (PAI) S.1 TERAKREDITASI “B” NO.SK.; 010/BAN-PT/Ak-X/S.1/V/2007

Jalan Raya Samarang No.52 A Telp.­­­­­­­ (0262) 236395 Garut

BAB I

PENDAHULUAN

Fiqih sangat penting bagi umat islam, Menurut Hasan Ahmad Al-Khatib: Fiqhul Islami ialah sekumpulan hukum syara’, yang sudah dibukukan dalam berbagai madzhab, baik dari madzhab yang empat atau dari madzhab lainnya. Didalam kehidupan manusia terutama umat islam fiqih diibaratkan 2 sisi mata uang yang saling membutuhkan dan tidak dapat dipisahkan karena sebagai manifestasi kehidupan manusia.

Fiqih juga menghasilkan konstribusi dalam ibadah serta membantu menyelesaikan problem-problem yang ada didalam islam. Dikatakan demikian karena fiqih bersifat universal sehingga tidak hanya kajian-kajian tentang ibadah makhdo saja yang dibahas tetapi fiqih pun membahas ibadah tentang goer makdo yang berhubungan dengan manusia langsung.

Ilmu fiqih pun membahas tentang haid/menstruasi yang mana sangat penting didalam kehidupan umat manusia terutama kaum hawa. Yang mana seorang perempuan harus mengetahui bagaimana keilmuan tentang haid/ menstruasi. Sistematika penulisan arikel ini yaitu :

  1. Pendahuluan
  2. Pembahasan yang berhubungsn dengan menstruasi dalam perspektif madzhab syafi’i

1. Pengertian menstruasi

2. Jangka waktu haidh dan suci

3. Penjelasan tentang arti istihadhah

  1. Pembahasan yang berhubungan dengan menstruasi dalam perspektif madzhab hanafi

1. Pengertian menstruasi

2. Jangka waktu haidh dan suci

3. Penjelasan tentang arti istihadhah

  1. Kesimpulan

Pembahasn ini mencakup penjelasan tentang darah mentruasi, warna kadar dan darah itu yang mnyebabkan seorang wanita disebut orang yang haidh, penjelasan tentang usia seorang perempuan anak cucu Adam mengeluarkan darah haidh dab usia yang belum memenuhi syarat, dan penjelasan tentang kemungkinan atau tidaknya seorang yang hamil mengeluarkan darah menstruasi serta hal-hal lain yang belum memenuhi syarat, dan penjelasan tentang kemungkinan atau tidaknya seorang yang hamil mengeluarkan darah menstruasi serta hal-hal lain yang berhubungan dengan haidh itu sendiri.

BAB II

PEMBAHASAN

1. Pengertian menstruasi menurut madzhab syafi’I

Mereka berkata : Haidh adalah darah yang keluar dari alat kelamin perempuan yang sehat ( tidak terserang penyakit ) yang menyebabkan keluarnya darah, usianya telah mencapai Sembilan tahun atau lebih dan tidak karena melahirkan.

Ungkapan darah yang dimaksud adalah darah yang mempunyai warna, warna darah itu ada 5 macam yaitu :

a. Hitam inilah yang paling kuat menurut mereka

b. Merah yaitu warna darah yang kekuatannya dibawah darah yang berwarna hitam

c. Merah kekuning-kuningan, darah ini kekuatannya dibawah darah merah

d. Keruh, darah yang kekuatan darahnya di bawah darah hitam

e. Kuning , darah ini berada di bawah darah keruh

Ungkapan “yang keluar dari alat kelamin perempuan”pengertiannya adalah pangkal rahim. Menurut mereka darah haidh itu keluar dari otot yang berada dipangkal rahim baik perempuan itu sedang hamil atau tidak. Karena menurut ulama syafi’iiyah perempuan yang itu mungkin mengeluarkan darah haidh sebagaimana pendapat ulama Malikiyyah, berbeda dengan ulama Hanafiyah dan Hanabilah. Masa mennstruasi bagi perempuan yang hamil dihitung seperti kebiasaannya ketika ia tidak dalam keadaan hamil. Maka darah yang keluar darah selain rahim dapat dipastikan tidak disebut darah haidh, baik darah itu keluar alat kelamin sebagaimana yang keluar lantaran sobeknya selaput darah, keluar dari dubur atau dari bagian badan yang lain.

2. Jangka Waktu / Masa Haidh

Yang dimaksud masa menstruasi adalah jangka waktu seorang perempuan dianggap/dibenarkan mengeluarkan darah haidh yang sekira jika darah itu kurang dari ketentuan atau melebihi, perempuan bersangkutannya luarnya darah ”mengecualikan darah yang keluar dari rahim lantaran sakit. Darah ini disebut darah istihadhah. Ungkapan “jika usiannya telah mencapai Sembilan tahun” mengecualikan darah yang keluar dari anak perempuan yang masih kecil yakni usiannya kurang dari Sembilan tahun; darah ini tidak disebut haidh tapi disebut darah istihadhah sebagaimana penyebut yang dilakukan oleh ulama hanafiyyah berbeda dengan ulama malikiyah yang mengatakan bahwa darah tersebut ( darah yang keluar dari kelamin perempuan yang masih kecil ) tidak disebut istihadhah tapi disebut darah penyakit. Menerut ulama Syafi’iyyah tidak ada batas akhir bagi perempuan mengeluarkan haidh, karena mereka berpendapat bahwa perempuan itu selama masih hidup kemungkinan mengeluarkan darah setelah perempuan itu berusia lebih dari 62. Tetap disebut orang menstruasi. Dalam hal ini syafi’iyyah ungkapan “tanpa sebab melahirkan” mengecualikan darah nifas.

3. Masa Suci

Masa suci atau jangka waktu suci paling sedikit lima belas hari. Maka jika seorang perempuan mengeluarkan darah haidh, kemudian darah itu berhenti setelah tiga hari misalnya dan terus berhenti sampai 14 hari atau kurang dari itu kemudian setelah itu ia mengeluarkan darah haidh setelah berlalunya jangka waktu tersebut (15 hari) atau suci jatuh di antara haidh dan nifas ,misalnnya seorang perempuan mengeluarkan darah nifas kemudian darah itu berhenti dan setelah jangka waktu itu berlalu iapun mengeluarkan darah haidh. Adapun masa suci ini tidak ada batas akhirnya. Maka jika seorang perempuan setelah darah haidhnya berhenti tidak pernah mengeluarkan datrah lagi sepanjang sisa umurnya, ia tetap dianggap suci. Dan jika seorang perempuan mengeluarkan darah sehari kemudian berhenti dan pada hari berikutnya ia mengeluarkan darah lagi sehari, maka wanita yang sudah pernah mengeluarkan haidh, perhitungsnnya ditambah tiga hari dari adat kebiasannya sebagai usaha memperjelas. Maka jika seorang perempuan telah mempunyai kebiasaan mengeluarkan darah haidh dalam jangka 5 hari kemudian haidhnya memanjang, maka ia nantikan darah itu sampai 8 hari. Dan jika pada haidh yang ketiga darah haidnya juga memanjang, maka kebiasaannya telah menjadi 8 hari , karena kebiasaan itu sudah dapat diakui dengan telah berjalan satu kali. Ini berarti ia menanti keluarnya darah tersebut sampai sebelas hari. Dan jika dalam bulan keempat darah itu juga memanjang, ia menanti sampai 14hari. Tapi jika setelah itu darahpun keluarnya memanjang, hitung haidh tidak boleh lebih dari 15hari, darah yang keluar setelah hari ke 15 atau setelah usia memperjelas dengan menambah tiga hari terhitung mulai dari kebiasaannya dibawah lima belas hari adalah istihadadh.

4. Masalah Istihadha

Mereka berkata bahwa seorang perempuan yang mengeluarkan darah istihadhah sedang ia sendiri baru pertama kali mengeluarkan darah, jika ia dapat membedakan warna darah yakni sekira ia dapat membedakan warna darah yakni sekira ia dapat membedakan darah yang kuat dan darah yang kuat berada di tingkatan bawahnya, maka haidhnya adalah darah yang kuat dengan syarat darah itu tidak kurang dari batas terendahnya haidh dan tidak melibihi dari batas terbanyaknya. Sedang darah yang lemah adalah sucinya dengan syarat darah yang lemah itu tidak kurang dari batas minimal suci dan juga keluarnya harus terus menerus. Maka jika seorang perempuan mengeluarkan darah berwarna merah hitam sehari, maka ia berarti kehilangan syarat pembeda darah. Dan jika salah satu syarat itu ada yang tidak terpenuhi, maka haidhnya dihitung sehari semalam sedang sisanya (bulan itu) adalah suci (28/29 hari) sebagaimana jika ia seorang perempaun yang baru pertama kali mengeluarkan darah tidak dapat membedakan darah yang kuat dan darah yang lemah. Adapun perempuan yang telah mempunyai adat kebiasaan jika ia dapat membedakan (kuat lemahnya darah), maka darah yang kuat adalah haidhnya berdasar pada pembedaan tidak berdasar pada adat kebiasaan yang berbeda itu. Jika ia dapat membedakan dan mengerti adat kebiasannya baik kadar maupun waktunya, maka haidhnya dikembalikan pada adat kebiasannya.

5. Masalah Nifas

Nifas adalah darah yang keluar pada saat melahirkan, sesaat sebelumnya, bersamaan atau setelah melahirkan itu sendiri. Dan jika perut seorang perempuan dibedah lewat oprasi kemudian bayinya dikeluarkan dari situ, ia tidak termasuk wanita yang nifas, meskipun dengan kelahiran itu iddah bias selesai.

Para Ulama berkata bahwa untuk menentukan adanya darah nifas disyariatkan darah itu keluar setelah rahim itu betul-betul kosong. Misalnya janin/bayi itu telah keluar seluruhnya. Jika bayi itu yang keluar baru sebagian saja meskipun sebagian besar, darah yang keluar tidak disebut darah nifas. Pengertian darah itu keluar sesaat setelah melahirkan adalah bahwa darah itu dan saat melahirkan tidak terpisah 15 hari atau lebih. Jika lebih dari 15hari, darah yang keluar itu disebut haidh. Adapun darah yang keluar bersama bayi dan yang keluar sebelum sakit melahirkan tidak disebut niffas tapi disebut darah haidh, karena perempuan yang hamil itu menurut mereka dapat juga mengeluarkan darah haidh, sebagaimana uraian yang telah lalu. Dan jika ia tidak sedang haidh, darah itu disebut darah penyakit.

Para Ulama berkata jika seorang perempuan melahirkan anak kembar, nifasnya dihitung dari anak yang kedua. Adapun darah yang keluar setelah anak pertama itu tidak dianggap nifas, darah tersebut dianggap haidh jika menepati kebiasaan haidnya, jika tidak darah itu disebut darah rusak dan penyakit. Batas maksimal nifas itu 60 hari dan ghalibhnya (biasanya) 40 hari.

6. Hal-hal yang diharamkan untuk dilakukan oleh wanita yang berhaidh atau nifas sebelum darah terhenti.

Wanita yang sedang haidh atau nifas diharamkan melakukan amalan-amalan keagamaan yang diharamkan melakuakan amalan-amalan keagamaan yang diharamkan atas orang yang junub, seperti shalat, menyentuh mushaff dan mebaca al-quraan. Ada beberapa tambahan laranga atas wanita yang sedang haidh dan nifas yang diantaranya puasa. Keduanya diharamkan niat melakukan puasa baik fardhu maupun sunat dan seandainya ia berpuasa, puasanya tidak jadi. Barang siapa diantara mereka melakukan yang demikian itu dalam bulan Ramadhan maka ia menyiksa dirinya, berdosa. Dan itu adalah kebodohan yang tercela.

Wanita yang haidh atau nifas wajib mengqadha puasa ramdhan yang dtinggalkan pada saat haidh atau nifas itu. Adapun shalat yang ditinggalkannya tidak wajib diqadha. Hal disebabkan berulang kalinya shalat setiap hari sehingga menjadi masayaqot mengqhadhannya sedang Allah telah menghilangkan masayaqot dan kesulitan itu dari manusia sebagaimana firmannya :

حَرَجٍ مِنْ الدِّينِ فِي عَلَيْكُمْ جَعَلَ وَمَا

Artinya :” dia sekali-kali tidak menjadikan untuk kamu suatu kesempiatan”.

(al hajj : 78 ).

Diantara tambahan larangan bagi wanita haidh dan nifas adalah I tikaf ia tidak sah bagi keduanya. Hokum ini tidak berlaku bagi orang-orang laki-laki. Dianatara tambahan larangan adalah “mencerainya” mencerai wanita yang sedang iddah aqro ‘(suci-haidh) haram bukumnya. Bersamaan dengan haramnya, perceraian tersebut tetap jadi dan suami bersangkutan diperintah merujuk jika masih mempunyai hak rujuk.

1. Pengertian menstruasi menurut madzhab Hambali

Mereka berkata bahwa haidh adalah darah yang menurut tabi’atnya keluar dari pusat rahim perempuan dalam keadaan sehat, tidak sedang hamil dalam waktu-waktu tertentu dan tanpa sebab melahirkan. Mereka berkata bahwa haidh adalah darah yang menurut tabi’atnya keluar dari pusat rahim perempuan dalam keadaan sehat, tidak sedang hamil dalam waktu-waktu tertentu dan tanpa sebab melahirkan. Ungakapan “darah” pada ghalibnya mempunyai warna : hitam,merah, atau keruh. Ungakapan “menurut tabi’atnya” pengertiannya adalah bahwa darah itu secara tabi’at lazim dikeluarkan oleh orang perempuan.

2. Jangka Waktu / Masa Haidh

Batasan-batsan masa haidh ini telah disepakati oleh ulama madzhab. Ungakpan “yang keluar dari pangkal rahim perempuan” mengecualikan darah yang keluar dari anggota badan yang lain. Darah ini tidak disebut darah haidh. Ungkapan “tidak sedang dalam keadaan hamil” mengecualikan darah yang keluar dari perempuan yang sedang hamil. Darah ini tidak disebut haidh. Pendapat ini sejalan dengan pendapat ulama Hanafiyyah dan berbeda pendapat Ulama malikiyyah dan syafi’iyyah sebagaimana uraian yang telah lalu. Tidak dianggap haidh, meskipun ia mengeluarkan darah. Darah haidh itu mempunyai batas awal dan batas akhir. Haidh itu paling sedikit sehari semalam batas awal dan batas akhir. Haidh itu paling sedikit sehari semalam dengan syarat darah itu keluar pada tanggal hari-hari haidh yang sekira jika sepotong kapas diletakan ( pada kemaluan perempuasn tersebut ) akan menjadi basah karenanya.

Yang dimaksud sehari semalam adalah 24 (dua puluh empat) jam menurut ukuran ilmu falak dengan pengertian bahwa jika seorang perempuan mengeluarkan darah kemudian berhenti sebelum mencapai sehari semalam, tidak dianggap haidh. Tidak disyaratkan darah itu keluar mulai pagi hari dan terus keluar sepanjang hari dan malam tapi prinsipnya darah itu keluar dalam jangka waktu 24 (dua puluh empat) jam terhitung mulai keluarnya darah tersebut.

Adapun paling lama haidh itu keluar dalam jangka waktu 15 (lima belas) malam. Maka jika seorang perempuan mengeluarkan darah itu tidak disebut darah haidh. Dalam perhitungan, kebiasaan seorang perempuan tidak mendapat perhatian khusus. Maka jika seorang perempuan mempunyai adat kebiasaan mengeluarkan darah haidh dalam waktu tiga hari, empat hari atau lima hari atau kebiasaan yang lain, kemudian kebiasaan itu berubah, ia mengeluarkan darah melebihi kebiasaanitu; ia tetap dianggap mengeluarkan darah haidh sampai dengan 15 (lima belas) hari. Yang demikian ini adalah pendapat Ulama Syafi’iyyah dan Hanabilah. Banyak hadist yang menguatkan pendapay ini namun semuanya tidak shahih. Diantara hadist itu adalah yang terkenal dalam kitab-kitab fiqh bahwa Nabi Muhamad saw bersabda :

Artinya : “Bahwa wanita itu orang-orang yang kurang akal dan agama-nya. Ditanyakan :”Apa kekurangan agama mereka itu?” Nabi bersabda :”Salah satu diantara mereka diam, tidak melakukan shalat dalam waktu separuh dari umurnya”.

Pengertiannya adalah bahwa perempuan itu dalam waktu setengah bulan (setiap bulan) tidak melakukan shalat lantaran haidh. Namun hadist itu tidak shahih.

Ibnu Al Jauzi memberi komentar bahwa hadist ini tidak dikenal. Sedang Al Baihaqi berkata bahwa hadist ini tidak ditemukannya di kitab-kitab hadist. Selain mereka berdua ini ada yang berpendapat bahwa hadist ini dapat diterima dari sudut manapun. Dan dalam kenyataannya hadist itu tidak mempunyai arti sama sekali. Karena Allah Sang Pencipta aturan syari’at itu sendirilah yang melarang wanita yang sedang haidh melakukan shalat. Dosa apa yang mereka pikul sehingga mereka diberi sifat yang sangat tidak pantas itu.

C. Masa Suci Madzhab Hambali (Al Hanabilah)

Mereka berkata bahwa masa suci antara dua haidh paling sedikit 13 (tiga belas) hari.

D. Masalah Istihadhah Madzhab Hambali (Al Hanabilah)

Istihadhah adalah darah yang mengalir dari rahim pada selain waktu-waktu haidh dan nifas. Maka darah yang keluar melebihi batas terbanyak masa haidh atau kurang dari batas paling rendah atau keluar dari wanita yang belum mencapai usia menstruasi yang uraiannya telah disampaikan pada sub bab “definisi” termasuk darah istihadhah.

Mereka sependapat dengan Ulama Malikiyyah dalam hal bahwa suci yang jatuh diantara dua darah dianggap suci. Hanya saja jangka waktu haidh paling rendah menurut Ulama ini sebagaimana telah anda ketahui adalah sehari semalam. Maka seorang perempuan yang mengeluarkan darah hanya dalam waktu sehari atau bahkan kurang dari itu, tidak disebut haidh.

Perempuan yang mengeluarkan darah istihadhah itu adakalanya telah mempunyai adat kebiasaan dan adakalanya baru pertama kali mengeluarkan darah. Yang telah mempunyai adat kebiasaan mengamalkan kebiasaannya itu meskipun ia dapat membedakan kuat lemahnya darah. Sedang yang baru pertama kali mengeluarkan darah itu adakalanya dapat membedakan kuat lemahnya darah atau tidak jika ia dapat membedakan, pembedaan itulah yang diamalkan manakala darah yang kuat itu pantas disebut haidh misalnya darah yang kuat itu tidak kurang dari sehari semalam dan tidak melebihi lima belas hari. Dan jika ia tidak dapat membedakan kuat lemahnya darah, maka haidhnya dihitung sehari semalam stelah itu ia mandi dan melakukan segala yang dilakukan oleh orang-orang yang suci. Demikian inipada bulan pertama kedua dan ketiga adapun pada bulan keempat, hitungan haidh pindah pada haidh pada ghalibnya yakni enam atau tujuh hari sesuai penelitiannya sendiri.

E. Masalah Nifas Madzhab Hambali (Al Hanabilah)

Nifas adalah darah yang keluar pada saat melahirkan, sesaat sebelumnya, bersamaan atau setelah melahirkan itu sendiri sebagaimana pendapat madzhab yang dirinci dibawah garis ini. Dan jika perut seorang perempuan dibedah lewat operasi kemudian bayinya dikeluarkan dari situ, ia tidak termasuk wanita yang nifas, meskipun dengan kelahiran itu iddah bisa selesai.

Mereka berkata bahwa darah yang keluar sebelum melahirkan anak kembar dua atau tiga dengan disertai dengan ciri-ciri tertentu seperti sakit beranak dan darah yang keluar bersamaan dengan melahirakan itu dianggap nifas seperti darah yang keluar pada saat melahirkan.

F. Hal-hal yang diharamkan untuk dilakukan oleh wanita yang berhaidh atau nifas sebelum darah terhenti. Madzhab Hambali (Al Hanabilah)

Mereka berkata bahwa suci yang memisah antara darah-darah nifas itu dianggap suci sehingga ia wajib melakukan semua yang wajib dilakukan oleh orang-orang yang suci.

Mereka berkata : Bagi seorang lelaki dihalalkan bersuka-suka dengan seluruh tubuh isterinya sedang ia dalam keadaan haidh atau nifas tanpa adanya satir/penghalang. Tidak ada yang haram baginya kecuali”bersenggama”; yang ini menurut mereka termasuk dosa kecil; barang siapa yang melanggar peraturan ini, wajib membayar kafarat dengan mengeluarkan sedekah satu atau setengah dinar jika mampu, jika tidak kafarat itu gugur darinya ia wajib bertobat.

Hukum ini berlaku, jika sanggama tersebut tidak mengakibatkan orang bersangkutan tidak menjadi sakit atau kesulitan yang berat, jika begini hukum sanggama itu haram secara ijmak.

Adapun menyetubuhi wanita haidh sebelum darah haidh itu berhenti hukumnya haram, meskipun dengan satir seperti kantung zakar yang telah terkenal itu (kondom). Maka berdosalah orang yang menyetubuhi isterinya ditengah-tengah keluarnya darah dan ia wajib segera bertobat, sebagaimana wanita itu juga berdosa lantaran mempersilakan suaminya. Suatu hal yang sunat ia bersedekah satu atau setengah dinar.

BAB III

KESIMPULAN DAN SARAN

KESIMPULAN

Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa “Haid adalah darah yang keluar dari kemaluan wanita dalam kondisi sehat, tidak karena melahirkan atau pecahnya selaput darah”.

ü Darah haid bersifat darah yang kehitam-hitaman dan baunya tidak sedap.

ü Warna darah haid berbeda-beda, ada 6 warna yaitu : hitam, merah, kuning, keruh,hijaudanabu-abu.

ü Lamanya haid adalah tiga hari tiga malam dan pertengahannya lima hari dan sebanyk-banyaknya sepuluh hari.

ü Yang dilarang selama haid, melakukan shalat, puasa, masuk masjid, membaca Al-Qur’an dan menyentuhnya melakukan thawaf dan berhubungan badan.

ü Kaparat (tebusan) bagi laki-laki yang menggauli istri yang sedang haid ia harus mengeluarkan sedekah satu dinar atau setengah dinar.

SARAN

Akhir kata tidak ada hasil pemikiran yang baik kecuali memberikan manfaat bagi orang lain. Penulis berharap semoga kita semua dapat mengambil hikmah dari makalah ini dan mewujudkannya dalam kehidupan sehari-hari. Saran dan kritik dari pembaca sangat penting penulis harapkan sebagai bahan perbaikan bagi penulis dalam penyusunan makalah selanjutnya.

DAFTAR PUSTAKA

- M. Jamal Muhammad. 1999. Fiqih Muslimah. Jakarta : Pustaka Amani

-Munir Bin Husain Al’Ajuz . Haid dan Nifas dalam MAdzhab Syafi’I : Pustaka Arafah

-Drs.H.Moh.Zuhri, Dipl.TAFL. 1994. Fiqih Empat Madzhab. Semarang : CV. Adhi Grafika Semarang

- K. Achmad Chumaidi Umar. 1994. Fiqih Empat Madzhab. Semarang : CV. Adhi Grafika Semarang

-Drs. A . Hadlor Ihsan. 1994. Fiqih Empat Madzhab. Semarang : CV. Adhi Grafika Semarang

- Drs. Yasin. 1994. Fiqih Empat Madzhab. Semarang : CV. Adhi Grafika Semarang

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Sepotong Senja di Masjid Suleeyman yang …

Rumahkayu | | 19 April 2014 | 10:05

Pengakuan Mantan Murid JIS: Beberapa Guru …

Ilyani Sudardjat | | 19 April 2014 | 20:37

Kompas adalah Penunjuk Arah, Bukan Komando …

Dita Widodo | | 19 April 2014 | 21:41

Kakak-Adik Sering Bertengkar, Bagaimana …

Lasmita | | 19 April 2014 | 22:46

Kompasianer Mengawal Pemilu 2014 …

Kompasiana | | 09 April 2014 | 04:17


Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: