Back to Kompasiana
Artikel

Edukasi

Orang ‘Beriman’ yang Tidak Beriman

REP | 27 January 2013 | 17:43 Dibaca: 962   Komentar: 0   19

“Walaupun saya tidak melaksanakan shalat lima waktu, zakat dan puasa Ramadhan, tapi saya kan masih beriman. Saya kan masih meyakini itu kewajiban dan tidak mengingkarinya! “

“Walaupun saya menunaikan shalat lima waktu, zakat dan puasa Ramadhan, tapi saya meyakini itu bukan suatu kewajiban. Siapa yang mau melaksanakannya, silahkan. Yang mau meninggalkannya juga silahkan. Semua orang bebas. Yang jelas saya kan masih beriman! ”

“Walaupun saya tidak melakukan seks bebas, homoseks dan zina, tapi bagi saya itu bukan suatu yang terlarang. Siapa yang mau melakukannya, silahkan. Yang mau meninggalkannya, juga silahkan. Semua orang bebas. Asal tidak ada pemaksaan. Yang penting saya kan masih beriman! “

Apa sih makna iman? Apakah iman cukup dengan pengakuan dalam hati? Atau harus diucapkan dengan lisan? Atau harus pula dibuktikan dengan anggota badan?

Jika iman cukup hanya dengan pengakuan hati semata, berarti Firaun dan iblis serta pengikut mereka dari kalangan setan adalah mukminin.

Sebab, mereka semua mengakui kebenaran agama Allah, kitab-Nya, syariat-Nya serta pokok agama lainnya dengan lisan mereka, meskipun mereka menolak semua itu dengan lisan dan perbuatan mereka.

Dan jika iman cukup hanya dengan pengakuan lisan semata, tanpa disertai keyakinan dalam hati dan pengamalan dengan perbuatan, berarti orang-orang munafik, musuh islam, yang telah divonis oleh Allah sebagai penghuni kerak neraka adalah mukminin.

Sebab, mereka mengakui kebenaran agama Allah, kitab-Nya, syariat-Nya serta perkara pokok agama lainnya dengan lisan mereka, meskipun mengingkarinya dalam hati dan menentangnya dengan tindak-tanduk perbuatan.

Dan jika iman cukup hanya dengan pembenaran hati dan pengakuan lisan, tanpa adanya pengamalan, berarti siapapun bebas berbuat kemaksiatan atau kekufuran karena itu tidak memengaruhi keimanannya.

Betapapun rusak amalannya, selama ia meyakini dan mengakui dengan lisan akan kebenaran agama Allah, kitab-Nya, syariat-Nya serta perkara pokok agama lainnya, ia tetap menjadi mukmin sejati.

Iman bukan itu semua. Semua itu bukan iman.

Iman bukan hanya keyakinan dalam hati.

Iman juga bukan hanya pengakuan lisan semata.

Dan iman juga bukan hanya pembenaran hati dan pengakuan lisan.

Lantas apa itu iman?

Allah عز وجل berfirman: “Dan sungguh (pemindahan kiblat) itu terasa amat berat, kecuali bagi orang-orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah; dan Allah tidak akan menyia-nyiakan iman kalian.”(QS. Al-Baqarah: 143)

Apa maksud iman di sini?

Disebutkan dalam Tafsir Jalalain:

{وَمَا كَانَ اللَّه لِيُضِيعَ إيمَانكُمْ} أَيْ صَلَاتكُمْ إلَى بَيْت الْمَقْدِس بَلْ يُثِيبكُمْ عَلَيْهِ لِأَنَّ سَبَب نُزُولهَا السُّؤَال عَمَّنْ مَاتَ قَبْل التحويل

“{dan Allah tidak akan menyia-nyiakan iman kalian} maksudnya shalat kalian ke Baitul Maqdis. Bahkan Allah memberikan ganjaran atas itu. karena, sebab turunnya ayat ini dikarenakan adanya pertanyaan tentang keadaan orang yang meninggal sebelum qiblat dialihkan ke Mekah. ” (hal 30 Penerbit Dar Al-Hadits Kairo)

Berkata Imam Al-Qurthubi:

اتَّفَقَ الْعُلَمَاءُ عَلَى أَنَّهَا نَزَلَتْ فِيمَنْ مَاتَ وَهُوَ يُصَلِّي إِلَى بَيْتِ الْمَقْدِسِ، كَمَا ثَبَتَ فِي الْبُخَارِيِّ مِنْ حَدِيثِ الْبَرَاءِ بْنِ عَازِبٍ

“Para ulama telah sepakat bahwa ayat ini turun mengenai orang yang meninggal dalam keadaan masih shalat ke Baitul Maqdis sebagaimana diriwayatkan dalam Shahih Bukhari dari hadits Al-Bara bin ‘Azib. ” (Tafsir Al-Qurthubi juz 2 hal 157 Penerbit Dar Al-Kutub Al-Mishriyyah)

Kalau begitu, shalat termasuk iman. Sedangkan shalat adalah amalan anggota badan. Berarti iman mencakup amalan anggota badan.

Nabi صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ berkata kepada para sahabat:

أَتَدْرُونَ مَا الإِيمَانُ بِاللَّهِ وَحْدَهُ»

“Tahukah kalian, apa yang dimaksud dengan beriman kepada Allah saja?

Para sahabat menjawab:

اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ،

Mereka menjawab, “Hanya Allah dan Rasul-Nya yang lebih mengetahui.”

Beliau pun bersabda:

«شَهَادَةُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ، وَإِقَامُ الصَّلاَةِ، وَإِيتَاءُ الزَّكَاةِ، وَصِيَامُ رَمَضَانَ، وَأَنْ تُعْطُوا مِنَ المَغْنَمِ الخُمُسَ»

“Iman adalah kalian bersaksi bahwa tidak ada yang berhak diibadahi kecuali Allah; dan Muhammad adalah utusan Allah, mendirikan shalat, membayar zakat, berpuasa di bulan Ramadhan; dan kalian berikan  seperlima dari ghanimah… ” (HR Bukhari no. 53 Maktabah Syamilah)

Shalat, zakat dan puasa merupakan amalan anggota badan. Berarti iman mencakup amalan anggota badan

Nabi صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ juga bersabda:

الْإِيمَانُ بِضْعٌ وَسَبْعُونَ - أَوْ بِضْعٌ وَسِتُّونَ - شُعْبَةً، فَأَفْضَلُهَا قَوْلُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ، وَأَدْنَاهَا إِمَاطَةُ الْأَذَى عَنِ الطَّرِيقِ، وَالْحَيَاءُ شُعْبَةٌ مِنَ الْإِيمَانِ

“Iman itu memiliki 70 atau 60 sekian cabang. Cabang yang paling atas adalah ucapan Laa ilaaha illallah dan yang paling rendah adalah menyingkirkan gangguan dari jalan. Dan malu termasuk dari keimanan. “ (HR. Muslim no.  58 Maktabah Syamilah)

Malu adalah amalan hati. Ucapan  Laa ilaaha illallah adalah amalan lisan. Menyingkirkan gangguan dari jalan adalah amalan anggota badan.

Berarti iman itu mencakup amalan hati, lisan dan anggota badan.

Kalau begitu Al-Quran dan As-Sunnah menunjukkan bahwa iman mencakup hati, perkataan dan perbuatan.

Itu penjelasan dari Al-Quran dan As-Sunnah. Adapun keterangan dari ulama salaf:

Berkata Imam Asy-Syafi’i:

قال الإمام الشافعي: ” وكان الإجماع من الصحابة ، والتابعين من بعدهم ممن أدركنا : أن الإيمان قول وعمل ونية لا يجزيء واحد من الثلاثة عن الآخر ” (

“Adalah ijma’ (kesepakatan) para sahabat, tabi’in  dan orang-orang setelah mereka yang kami temui yaitu bahwasanya iman adalah perkataan, amalan dan niat. Tidak cukup salah satunya dari yang lain. ” (Syarh Ushul I’tiqad Ahlissunnah Wal Jama’ah juz 5 hal 956 Maktabah Syamilah)

Imam Ahmad bin Hanbal dikabarkan tentang ucapan sebagian orang:

مَنْ أَقَرَّ بِالصَّلَاةِ وَالزَّكَاةِ وَالصَّوْمِ وَالْحَجِّ وَلَمْ يَفْعَلْ مِنْ ذَلِكَ شَيْئًا حَتَّى يَمُوتَ، أَوْ يُصَلِّي مُسْتَدْبِرَ الْقِبْلَةِ حَتَّى يَمُوتَ فَهُوَ مُؤْمِنٌ، مَا لَمْ يَكُنْ جَاحِدًا إِذَا عَلِمَ أَنْ تَرْكَهُ ذَلِكَ.

“Siapa yang mengakui kewajiban shalat lima waktu, zakat, puasa dan haji dan ia tidak melakukan itu sedikit pun hingga mati, atau ia melaksanakan shalat membelakangi kiblat hingga mati, maka ia tetap seorang mukmin. Selama ia tidak menentang kewajiban perkara tersebut. “

Imam Ahmad pun berkata:

مَنْ قَالَ هَذَا، فَقَدْ كَفَرَ بِاللَّهِ وَرَدَّ عَلَى اللَّهِ أَمْرَهُ وَعَلَى الرَّسُولِ مَا جَاءَ بِهِ

“Siapa yang mengatakan ini? Sungguh, ia telah kufur kepada Allah dan menolak perintah-Nya serta menolak syariat yang dibawa oleh rasul-Nya. ” (Syarh Ushul I’tiqad Ahlissunnah Wal Jama’ah juz 5 hal 956 Maktabah Syamilah)

Berkata Imam An-Nawawi ketika menyinggung hadits Nabi

( أمرت أن أقاتل الناس ، حتى يقولوا لا إله إلا الله ، فإذا قالوها عصموا مني دمائهم وأموالهم إلا بحقها )متفق عليه .

Beliau menjelaskan:

واتفق أهل السنة من المحدثين والفقهاء والمتكلمين على أن المؤمن الذي يحكم بأنه من أهل القبلة، ولا يخلد في النار، لا يكون إلا من اعتقد بقلبه دين الإسلام اعتقاداً جازماً خالياً من الشكوك، ونطق بالشهادتين، فإن اقتصر على إحداهما، لم يكن من أهل القبلة أصلاً.

“Ahlussunnah baik dari kalangan ahli hadits, fuqaha, almutakallimin sepakat bahwasanya seorang mukmin yang dinyatakan sebagai ahli kiblat (muslim) dan tidak akan kekal di neraka adalah orang yang meyakini kebenaran islam dengan hatinya dengan penuh keyakinan tanpa ada keraguan serta mengucapkan dua kalimat syahadat. Jika mencukupkan dengan salah satunya (apakah meyakini saja atau mengucapkan saja), maka ia sebenarnya tidak termasuk ahli kiblat. ” (Syarh Shahih Muslim juz 1 hal 149 Maktabah Syamilah)

Berkata Al-Hasan Al-Bashri:

الحسن البصري رحمه الله تعالى : ليس الإيمان بالتحلي ولا بالتمني ولكن شيء وقر في القلب وصدقه العمل “.

Iman bukanlah dengan pengakuan dan angan-angan melainkan keyakinan yang tertancap dalam hati dan dibuktikan dalam amal perbuatan. “ (Diriwayatkan oleh Al-Baihaqi dalam Syu’abul Iman juz 1 hal 158)

Berkata Imam Al-Bukhori:

لَقِيتُ أَكْثَرَ مِنَ أَلْفِ رَجُلٍ مِنَ الْعُلَمَاءِ بِالْأَمْصَارِ فَمَا رَأَيْتُ أَحَدًا مِنْهُمْ يَخْتَلِفُ فِي أَنَّ الْإِيمَانَ قَوْلٌ وَعَمَلٌ وَيَزِيدُ وَيَنْقُصُ

“Aku menemui lebih dari 1000 orang ulama di berbagai negeri. Tidak aku dapati mereka berbeda pendapat bahwasanya iman adalah perkataan dan perbuatan.” (Fathul Bari juz 1 hal 47 Maktabah Syamilah)

Imam Ash-Shabuni berkata:

ومن مذهب أهل الحديث: أن الإيمان قول وعمل ومعرفة يزيد بالطاعة وينقص بالمعصية

“Di antara keyakinan Ahlul Hadits yaitu bahwa iman merupakan perkataan, perbuatan dan pengenalan/keyakinan. Ia bertambah dengan ketaatan dan berkurang dengan kemaksiatan”. (Syarh Aqidatussalaf wa Ashhabilhadits lirrajihi juz 9 hal 8)

Berkata  Ibnu Abdilbarr:

أَجْمَعَ أَهْلُ الِفقهِ وَالحَديثِ عَلَى أَن الإِيمانَ قَولٌ وَعَمَل ، وَلا عَمَلَ إِلا بنية ، والإِيمانُ عِنْدَهُمْ يَزيدُ بالطاعَة ، ويَنْقُص بالمعْصيَة ، وَالطَاعَاتُ كلها عِنْدَهُمْ إِيمان

Ulama Ahli Fikih dan Ahli hadits telah sepakat bahwasanya iman adalah ucapan dan perbuatan. Dan tidak ada amalan kecuali dengan niat. Iman menurut mereka bertambah dengan ketaatan dan berkurang dengan kemaksiatan. Ketaatan seluruhnya iman menurut mereka. “(At-Tamhid juz 9 hal 238 Maktabah Syamilah)

Berkata Imam Al-Baghawi:

اتَّفَقَتِ الصَّحَابَةُ وَالتَّابِعُونَ، فَمَنْ بَعْدَهُمْ مِنْ عُلَمَاءِ السُّنَّةِ عَلَى أَنَّ الأَعْمَالَ مِنَ الإِيمَانِ، لِقَوْلِهِ تَعَالَى: {إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ إِذَا ذُكِرَ اللَّهُ وَجِلَتْ قُلُوبُهُمْ، إِلَى قَوْلِهِ: وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنْفِقُونَ} [الْأَنْفَال: 2 - 3].

فَجَعَلَ الأَعْمَالَ كُلَّهَا إِيمَانًا، وَكَمَا نَطَقَ بِهِ حَدِيثُ أَبِي هُرَيْرَةَ.

وَقَالُوا: إِنَّ الإِيمَانَ قَوْلٌ، وَعَمَلٌ، وَعَقِيدَةٌ، يَزِيدُ بِالطَّاعَةِ، وَيَنْقُصُ بِالْمَعْصِيَةِ

“Para sahabat dan tabi’in serta para ulama sunnah setelahnya telah sepakat bahwasanya amal termasuk dari iman berdasarkan firman-Nya: {Sesungguhnya orang-orang yang beriman  ialah mereka yang bila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan bila dibacakan ayat-ayat-Nya bertambahlah iman mereka (karenanya), dan hanya kepada Tuhanlah mereka bertawakkal. (yaitu) orang-orang yang mendirikan shalat dan yang menafkahkan sebagian dari rezki yang Kami berikan kepada mereka.} (QS. Al-Anfaal: 2-3)

Mereka berkata, ‘Sesungguhnya iman adalah perkataan, perbuatan dan keyakinan. “(Syarhussunnah juz 1 hal 38-39 Maktabah Syamilah)

Berdasarkan ayat, hadits dan keterangan para ulama salaf di atas jelaslah, bahwa iman adalah keyakinan dalam hati dan pengakuan dengan lisan serta pengamalan dengan anggota badan.

Karena itu, siapa yang tidak mengakui dalam hatinya kebenaran dan kebaikan perkara yang ditetapkan oleh Allah dalam kitab-Nya dan yang ditunjukkan oleh rasul-Nya dalam sunnahnya, maka ia bukan orang yang beriman. Walaupun ia mengakuinya dengan lisan dan mengamalkannya dalam perbuatan.

Siapa yang tidak mengakui dengan lisan dan perbuatan akan kebenaran dan kebaikan perkara yang ditetapkan oleh Allah dalam kitab-Nya dan yang ditunjukkan rasul-Nya dalam sunnahnya, maka ia bukan orang yang beriman. Walaupun ia mengakuinya dalam hati dengan penuh keyakinan.

Siapa yang tidak mengakui dengan perbuatannya akan kebenaran dan kebaikan perkara yang ditetapkan oleh Allah dalam kitab-Nya dan rasul-Nya dalam sunnahnya, maka ia bukan orang yang beriman. Walaupun ia mengakuinya dalam hati dan mengucapkannya dengan lisan.

Iman adalah pembenaran dalam hati, pengakuan dengan lisan serta pengamalan dengan anggota badan!

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Kerbau Disembelih, Tanduknya Jadi Sumber …

Leonardo | | 31 July 2014 | 14:24

Aborsi dan Kemudahannya …

Ali Masut | | 01 August 2014 | 04:30

Di Pemukiman Ini Warga Tidak Perlu Mengunci …

Widiyabuana Slay | | 01 August 2014 | 04:59

Jadilah Muda yang Smart! …

Seneng Utami | | 01 August 2014 | 03:56

Punya Gaya “Make Up” Menarik? …

Kompasiana | | 09 July 2014 | 00:21


TRENDING ARTICLES

Perbedaan Sindonews dengan Kompasiana …

Mike Reyssent | 11 jam lalu

Lubang Raksasa Ada Danau Es di Bawahnya? …

Lidia Putri | 15 jam lalu

Jangan Tulis Dulu Soal Wikileaks dan …

Bang Pilot | 19 jam lalu

Tipe Karyawan yang Perlu Diwaspadai di …

Henri Gontar | 23 jam lalu

Evaluasi LP Nusa Kambangan dan …

Sutomo Paguci | 24 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: