Back to Kompasiana
Artikel

Edukasi

Artis = Artist

OPINI | 28 January 2013 | 09:31 Dibaca: 1325   Komentar: 0   3

Artis = Artist

Artis = Artist, pengertian artis menurut kamus bahasa Indonesia, adalah seorang ahli seni, (contoh sehari-hari, seni peran, seni tata boga, seni menyusun bata, seni tanaman, seni bangunan, seni foto, seni gambar, seni menyusun lego, dan lain sebagainya), jika ditilik dari sisi artian bahasa sangat luas dan memang secara realitas pekerjaan di bidang “artis”, sangat luas, bukan hanya disatu sisi bidang saja, misal, yang bekerja di seni peran, di film teve.

Seorang artis (dalam arti luas), bisa dicapai lewat pendidikan formal dan non-formal, ada sekolah seni, dan ada yang belajar di luar sekolah seni. Jangan khawatir, hasilnya tergantung kepada kualitas, mental dan cita-cita manusianya, alias sama saja, jika dengan sesungguhnya ingin mencapai cita-cita, dengan suatu kepastian, fokus dan keyakinan, maka akan sampai pada muara cita-cita itu.

Artis, adalah jenis pekerjaan biasa, atau reguler atau sama dengan bidang kerja di luar ke-artisan, maksud saya, sama dan sebangun dengan jenis pekerjaan pada umumnya. Jika sudah menjadi seorang ahli, apapun itu, maka anda akan populer, karena keahlian itu dan pekerjaan itu, atau sebalikanya, karena pekerjaan dan keahlian itu, yang membawa popularitas. Ditulis di media atau dipopulerkan oleh media, atau fans, itu efek samping dari keahlian (ilmu) tersebut. Artinya di konten itu sudah terjadi arus trans-informasi bolak-balik. Hal biasa ini, bisa terjadi pada siapapun, dimanapun, kapanpun dalam arti positif.

Contoh sederhana, seorang tukang bangunan yang ahli, mengecat, menyusun bata, melukis dinding, misalnya, karena senantiasa baik, tekun, cermat, akurat, dengan hasil yang selalu baik, maka sampailah dia menjadi tukang yang sangat ahli (jika sudah ditingkat ini dia bisa disebut tukang yang profesional dibidangnya, jadi, jika ingin menjadi seorang “pro” disatu bidang, tidak perlu harus menunggu menjadi sarjana), maka dia bisa disebut sebagai, artis (dalam arti luas), dia menjadi artis di seni menyusun bata dari suatu bangunan, rumah, dan lain-lain.

Diluar istilah seni yang formal, ambiguitasnya, jika seorang ahli marketing atau manajemen, dapat menciptakan seni manajemen atau seni marketing, menjadi strategi daya jual atau daya komunikasi, misal, bagaimana bersikap dan tersenyum dengan baik atau bagaimana membuat script untuk produk yang akan diperkenalkan pada publik.

Kagum pada seorang artis boleh-boleh saja, karena itu hal yang alamiah dan normal. Tapi tak perlu dijadikan tolok ukur prilaku atau gaya hidup. Jadilah diri sendiri, penggayaan atau “ingin seperti”, juga normal sebatas wajar-wajar saja. Salam sejahtera, salam Indonesia, sukses untuk anda semua.

Jakarta, 1/28/13/Tasch

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Nasib Buruh Migran di Pintu Akhir …

Eddy Mesakh | | 19 December 2014 | 12:57

Dengan Google Street Kita Bisa …

Daniel H.t. | | 19 December 2014 | 09:34

Tim “Hantu” Menpora Berpotensi …

Erwin Alwazir | | 19 December 2014 | 12:47

Tiga Seniman “Menguak Takdir” …

Ajinatha | | 19 December 2014 | 09:08

Tulis Ceritamu Membangun Percaya Diri Lewat …

Kompasiana | | 24 November 2014 | 14:07


TRENDING ARTICLES

Menteri Rini “Sasaran Tembak” …

Gunawan | 7 jam lalu

Inilah Drone Pesawat Nirawak yang Bikin …

Tjiptadinata Effend... | 8 jam lalu

Seorang Manager Menjadi Korban Penipu …

Fey Down | 14 jam lalu

Meramu Isu “Menteri Rini Melarang …

Irawan | 14 jam lalu

Luar Biasa, Kasus Lapindo Selesai di Tangan …

Hanny Setiawan | 14 jam lalu


Subscribe and Follow Kompasiana: