Back to Kompasiana
Artikel

Edukasi

Petrus Pit Supardi Jilung

Saya lahir di Maumere-Flores dan besar di Merauke Irian Jaya (Papua). menyelesaikan pendidikan dasar (SD-SMA) selengkapnya

Jual Diri

OPINI | 28 January 2013 | 12:11 Dibaca: 328   Komentar: 0   0

Jual diri atau yang kerap kali lebih dikenal dengan istilah populer melacur merupakan suatu stigma yang dikenakan pada diri kaum hawa, yang berprofesi sebagai pekerja seks komersial (PSK). Perempuan yang “berprofesi” demikian, sering ditinggalkan oleh komunitas sosialnya, karena dianggap memalukan bahkan lebih menyedihkan karena dilihat sebagai makhluk tidak beradab, nirmoral, dan lain sejenisnya. Mereka tidak lebih daripada bahan cercaan dan pelampiasan nafsu. Mereka menerima sanksi sosial yang tidak sedikit. Walaupun suatu saat mereka kembali hidup “normal” di tengah masyarakat, tetapi stigma itu tidak akan hilang. Mereka dilihat hanya sebatas mantan PSK

Jual diri atau melacur menjadi suatu aib, tetapi tetap hidup. Walaupun sanksi sosial diberikan, tetapi tidak sedikit kaum hawa yang terjerumus ke dalamnya. Alasannya bermacam-macam: sekedar balas dendam karena ditinggalkan orang yang dikasihi, tuntutan ekonomi, hanya sekedar melampiaskan nafsu dan lain sebagainya.

Cerita tentang jual diri atau melacur, kini menjelmah dalam aneka rupa. Sebelumnya, melacur berarti “menyerahkan diri” kepada pihak lain yang dengannya, si pelacur mendapat uang sebagai imbalannya. Dewasa ini, “profesi” melacur tidak lagi menjadi milik kaum perempuan yang bekerja sebagai PSK, melainkan menjadi miliki para penguasa yang tidak mengenal kata “cukup”. Mereka itu adalah para koruptor di negeri ini. Mereka rela “menelanjangi” diri, mempertaruhkan harga diri dan kehormatan sebagai pribadi berakal budi dan berhati nurani demi uang. Para PSK menjual diri demi sedikit uang untuk bekal hidup, tetapi para koruptor menjual diri untuk menumpuk uang, bagi dirinya dan keluarganya.

Manakah yang seharusnya menerima sanksi sosial lebih besar: ataukah para perempuan pekerja seks komersial, ataukah para koruptor yang adalah para penguasa negeri ini?

Kepada para PSK, SATPOL PP biasanya merazia mereka dengan cara yang kurang manusiawi, tetapi kepada para pejabat dan penguasa yang melakukan korupsi selalu mendapatkan perlindungan yang luar biasa. Terlepas dari apa pun motivasinya, satu hal yang pasti seluruh rakyat perlu lebih kritis terhadap aneka perilaku penguasa yang makin hari makin bobrok. Masyarakat perlu memberikan sanksi sosial yang lebih besar lagi kepada para koruptor, agar nurani mereka yang telah mati bisa kembali bangkit untuk tidak melakukan korupsi.

Hal ini penting, mengingat korupsi di negeri ini sudah kronis dan bangsa ini sedang berada di ambang kehancuran karena korupsi. Karenanya seluruh lapisan masyarakat perlu bangkit dan melawan korupsi.

Untuk melawan korupsi, tidak harus mulai dengan hal yang spektakuler, melainkan bisa dimulai dari lingkup paling kecil, yakni keluarga dan lingkungan masyarakat di mana kita tinggal dan berkarya. Bekerja-lah dengan JUJUR, ADIL, SETIA, TEKUN dan TANPA PAMRIH. Itulah bekal yang akan membebaskan kita dari korupsi.

A2_260113

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Gedung New Media Tower Kampus UMN, Juara …

Gapey Sandy | | 31 October 2014 | 19:12

Cerita di Balik Panggung …

Nanang Diyanto | | 31 October 2014 | 18:18

Giliran Kota Palu Melaksanakan Gelaran …

Agung Ramadhan | | 31 October 2014 | 11:32

DPR Akhirnya Benar-benar Terbelah, Bagaimana …

Sang Pujangga | | 31 October 2014 | 13:27

Ikuti Blog Competition dan Nangkring di IIBF …

Kompasiana | | 12 October 2014 | 18:25



HIGHLIGHT

Cari Info Wisata Bukan Paket Liburan …

Pandu Aji Wirawan | 8 jam lalu

KIS Diberlakukan, SDM Kesehatan Siap-Siap …

Dian Arestria | 8 jam lalu

#R …

Katedrarajawen | 8 jam lalu

Australia Berubah Total, Indonesia Perlu …

Tjiptadinata Effend... | 8 jam lalu

Bebaskan MA! …

Harja Saputra | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: