Back to Kompasiana
Artikel

Edukasi

Noni_aernee

Kecoa pengembara yang belajar menjadi cantik

Sorak Hokya dari Lereng Ungaran

REP | 28 January 2013 | 08:04 Dibaca: 201   Komentar: 0   0

Alkisah di sebuah desa, hiduplah seorang ibu dengan dua anak gadis cantik yang memiliki sifat dan perangai berbeda. Bawang Merah yang malas, sombong, tamak, pendengki dan manja. Sedangkan satunya bernama Bawang Putih. Ia rendah hati, tekun, rajin, jujur dan baik hati.

Hampir semua tak asing lagi dengan cerita rakyat yang satu ini. Sebuah kisah dengan pesan moral agar tidak meniru sifat jelek Bawang Merah.

Namun, di akhir cerita apa yang terjadi? Bawang Merah dan ibunya bukannya menyadari kekeliruannya, tapi adegan cerita itu berakhir dengan saling pukul dan mengucapkan kata-kata kasar karena marah. Bahkan beberapa adegan juga mengundang kelucuan hingga terdengar gelak tawa puluhan siswa siswi SMP 2 Sumowono yang mengikuti kegiatan Literasi Media dengan tema ‘’Sorak-sorak Hokya, Pesta Literasi Media dalam Kolam Budaya’’ yang digagas Komunitas Jantaka Media Literasi, di lapangan Desa Pledokan, Dusun Resowinangun, Kecamatan Sumowono, Kabupaten Semarang, pekan lalu (20/01).

Ya, sang dalang dalam panggung cerita yang mengadaptasi program acara komedi televisi Opera Van Java (OVJ) itu mengubah cerita seenaknya dan melakukan berbagai cara agar penonton tertawa. Cerita tidak lagi seperti pakem yang sebenarnya.

“Dari tayangan ini kira-kira adegan apa yang nggak boleh dilakukan. Coba sebutkan? Tanya kak Gita Aprinta (33) memberondong dengan pertanyaan seraya menghentikan adegan  dengan memencet remote televisi yang dipegangnya.

“Ada kekerasan, dibentak dengan kata kasar, dipukulin” ujar anak-anak serempak.

Mereka sangat antusias menyimak beberapa adegan yang dimainkan para sukarelawan Jantaka yang bersedia didandani bak aktris. Mereka berakting seolah-olah berada di kotak ajaib bernama televisi untuk mencontohkan beberapa cerita dalam acara di televisi.

“Jangan ditiru, nggak boleh ditonton, ganti acara aja,”salah satu peserta menimpali.

Nggak hanya cerita nusantara, situasi pagi itu semakin riuh ketika para sukarelawan juga melakonkan beberapa adegan dalam sinetron remaja dan reality show yang nggak pantas ditonton dan dtitiru. Seperti adegan sinetron remaja bersolek di sekolah, memarahi dan tidak sopan kepada orangtua serta guru.

Ya, dalam metode Role Play yang diciptakan para relawan Jantaka ini, teman-teman dari SMP 2 Sumowono emang dibebaskan untuk memberikan pendapatnya saat menyaksikan cuplikan adegan itu agar mereka lebih kritis dan kreatif menyikapi dampak siaran televisi.

“Ini metode belajar literasi media dengan gaya pendekatan menyenangkan untuk remaja SMP. Caranya dengan memainkan dan melakonkan cuplikan adegan di beberapa tayangan televisi. Dimainkan dengan tujuan agar tidak meniru adegan dan mengaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari,” jelas Kak Gita, sukarelawan Jantaka yang memandu acara.

Menurutnya, selain anak-anak, remaja SMP menjadi kelompok paling rentan terhadap pengaruh televisi, karena mereka masih dalam tahap pertumbuhan. Fisik dan psikologisnya belum stabil. Jadi belum bisa menyerap mana yang baik dan tidak sehingga kemungkinan besar perilakunya mengikuti apa yang dilihat di televisi. Seperti gaya bicara dan rambut, berpakaian seperti penyanyi korea, sekolah memakai rok di atas lutut. Kalau ditonton terus menerus, mengadopsi mentah-mentah hingga kemudian meniru. Perilaku ini yang dikhawatirkan.”

13593346601304776254

Metode Role Play

Jaran Hokya

Selain memperagakan beberapa adegan dalam tayangan televisi, untuk membendung budaya asing seperti budaya K-Pop dan tarian Gangnam Style, literasi media ini juga memunculkan kembali kesenian tradisional kuda kepang khas Desa Pledokan yang mati suri selama 50 tahun lebih.

“Jaran Hokya ini kesenian kuda kepang, tapi kami kreasikan dengan kesenian tradisional nusantara dan bermuatan literasi media. Tujuannya, menumbuhkan kecintaan dan kebanggaan anak-anak desa ini dengan budaya sendiri,” ujar Kak Ertania Johana Maryasmara (24), sukarelawan lainnya.

1359334525316013539

Tarian Jaran Hokya dimainkan anak-anak Desa Pledokan

Gerakan literasi media ini emang diharapkan bisa memperkuat kemampuan anak-anak di desa Pledokan membangun sikap kritis dan menggantinya dengan aktivitas lain, seperti membaca buku. “Mereka harus aktif ketika menonton televisi. Kalau tahu yang ditonton itu nggak baik, ya ditinggalkan saja. Mendingan baca buku. Apalagi di desa mereka berdiri sanggar baca Uplik dan bengkel kreatifitas,” imbuh Bu Hana.

Yap, Sorak-sorak Hokya dipilih untuk mewakili semangat belajar ditengah sorak-sorai dampak kepungan media massa. Hokya, juga menjadi sorak semangat bagi budaya lokal mereka yang harus tetap dijunjung tinggi.

Sorak-sorak..Hokya..Hokya…!!

-non-

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

“Bajaj” Kini Tak Hanya Bajaj, …

Hazmi Srondol | | 19 September 2014 | 20:47

Ekonomi Kemaritiman Jokowi-JK, Peluang bagi …

Munir A.s | | 19 September 2014 | 20:48

Imbangi Valencia B, Indra Sjafrie Malah …

Djarwopapua | | 19 September 2014 | 14:17

Kiat Manjakan Istri agar Bangga pada …

Mas Ukik | | 19 September 2014 | 20:36

Rekomendasikan Nominasi “Kompasiana …

Kompasiana | | 10 September 2014 | 07:02


TRENDING ARTICLES

ISIS Tak Berani Menyentuh Perusahaan yang …

Andi Firmansyah | 7 jam lalu

Mencoba Rasa Makanan yang Berbeda, Coba Ini …

Ryu Kiseki | 8 jam lalu

Fatin, Akankah Go Internasional? …

Orang Mars | 8 jam lalu

Timnas U23 sebagai Ajang Taruhan… …

Muhidin Pakguru | 11 jam lalu

Wajar, Walau Menang Atas Malaysia, Peringkat …

Achmad Suwefi | 13 jam lalu


HIGHLIGHT

Ketika Calo Berkeliaran di Baitulharam …

Choirul Huda | 8 jam lalu

BPJS dAN KJS Sangat Membantu Masyarakat …

Sony Hertanta | 8 jam lalu

Penipuan Bermodus Penangkapan!!! (Silahkan …

Christian Kelvianto | 8 jam lalu

Yuk, Jadi Pengguna Elpiji yang Cerdas dan …

Yoseph Purba | 8 jam lalu

Konsep Unik Band dengan Bertopeng …

Anto Karsowidjoyo | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: