Back to Kompasiana
Artikel

Edukasi

Noni_aernee

Kecoa pengembara yang belajar menjadi cantik

Sorak Hokya dari Lereng Ungaran

REP | 28 January 2013 | 08:04 Dibaca: 206   Komentar: 0   0

Alkisah di sebuah desa, hiduplah seorang ibu dengan dua anak gadis cantik yang memiliki sifat dan perangai berbeda. Bawang Merah yang malas, sombong, tamak, pendengki dan manja. Sedangkan satunya bernama Bawang Putih. Ia rendah hati, tekun, rajin, jujur dan baik hati.

Hampir semua tak asing lagi dengan cerita rakyat yang satu ini. Sebuah kisah dengan pesan moral agar tidak meniru sifat jelek Bawang Merah.

Namun, di akhir cerita apa yang terjadi? Bawang Merah dan ibunya bukannya menyadari kekeliruannya, tapi adegan cerita itu berakhir dengan saling pukul dan mengucapkan kata-kata kasar karena marah. Bahkan beberapa adegan juga mengundang kelucuan hingga terdengar gelak tawa puluhan siswa siswi SMP 2 Sumowono yang mengikuti kegiatan Literasi Media dengan tema ‘’Sorak-sorak Hokya, Pesta Literasi Media dalam Kolam Budaya’’ yang digagas Komunitas Jantaka Media Literasi, di lapangan Desa Pledokan, Dusun Resowinangun, Kecamatan Sumowono, Kabupaten Semarang, pekan lalu (20/01).

Ya, sang dalang dalam panggung cerita yang mengadaptasi program acara komedi televisi Opera Van Java (OVJ) itu mengubah cerita seenaknya dan melakukan berbagai cara agar penonton tertawa. Cerita tidak lagi seperti pakem yang sebenarnya.

“Dari tayangan ini kira-kira adegan apa yang nggak boleh dilakukan. Coba sebutkan? Tanya kak Gita Aprinta (33) memberondong dengan pertanyaan seraya menghentikan adegan  dengan memencet remote televisi yang dipegangnya.

“Ada kekerasan, dibentak dengan kata kasar, dipukulin” ujar anak-anak serempak.

Mereka sangat antusias menyimak beberapa adegan yang dimainkan para sukarelawan Jantaka yang bersedia didandani bak aktris. Mereka berakting seolah-olah berada di kotak ajaib bernama televisi untuk mencontohkan beberapa cerita dalam acara di televisi.

“Jangan ditiru, nggak boleh ditonton, ganti acara aja,”salah satu peserta menimpali.

Nggak hanya cerita nusantara, situasi pagi itu semakin riuh ketika para sukarelawan juga melakonkan beberapa adegan dalam sinetron remaja dan reality show yang nggak pantas ditonton dan dtitiru. Seperti adegan sinetron remaja bersolek di sekolah, memarahi dan tidak sopan kepada orangtua serta guru.

Ya, dalam metode Role Play yang diciptakan para relawan Jantaka ini, teman-teman dari SMP 2 Sumowono emang dibebaskan untuk memberikan pendapatnya saat menyaksikan cuplikan adegan itu agar mereka lebih kritis dan kreatif menyikapi dampak siaran televisi.

“Ini metode belajar literasi media dengan gaya pendekatan menyenangkan untuk remaja SMP. Caranya dengan memainkan dan melakonkan cuplikan adegan di beberapa tayangan televisi. Dimainkan dengan tujuan agar tidak meniru adegan dan mengaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari,” jelas Kak Gita, sukarelawan Jantaka yang memandu acara.

Menurutnya, selain anak-anak, remaja SMP menjadi kelompok paling rentan terhadap pengaruh televisi, karena mereka masih dalam tahap pertumbuhan. Fisik dan psikologisnya belum stabil. Jadi belum bisa menyerap mana yang baik dan tidak sehingga kemungkinan besar perilakunya mengikuti apa yang dilihat di televisi. Seperti gaya bicara dan rambut, berpakaian seperti penyanyi korea, sekolah memakai rok di atas lutut. Kalau ditonton terus menerus, mengadopsi mentah-mentah hingga kemudian meniru. Perilaku ini yang dikhawatirkan.”

13593346601304776254

Metode Role Play

Jaran Hokya

Selain memperagakan beberapa adegan dalam tayangan televisi, untuk membendung budaya asing seperti budaya K-Pop dan tarian Gangnam Style, literasi media ini juga memunculkan kembali kesenian tradisional kuda kepang khas Desa Pledokan yang mati suri selama 50 tahun lebih.

“Jaran Hokya ini kesenian kuda kepang, tapi kami kreasikan dengan kesenian tradisional nusantara dan bermuatan literasi media. Tujuannya, menumbuhkan kecintaan dan kebanggaan anak-anak desa ini dengan budaya sendiri,” ujar Kak Ertania Johana Maryasmara (24), sukarelawan lainnya.

1359334525316013539

Tarian Jaran Hokya dimainkan anak-anak Desa Pledokan

Gerakan literasi media ini emang diharapkan bisa memperkuat kemampuan anak-anak di desa Pledokan membangun sikap kritis dan menggantinya dengan aktivitas lain, seperti membaca buku. “Mereka harus aktif ketika menonton televisi. Kalau tahu yang ditonton itu nggak baik, ya ditinggalkan saja. Mendingan baca buku. Apalagi di desa mereka berdiri sanggar baca Uplik dan bengkel kreatifitas,” imbuh Bu Hana.

Yap, Sorak-sorak Hokya dipilih untuk mewakili semangat belajar ditengah sorak-sorai dampak kepungan media massa. Hokya, juga menjadi sorak semangat bagi budaya lokal mereka yang harus tetap dijunjung tinggi.

Sorak-sorak..Hokya..Hokya…!!

-non-

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Nasib Buruh Migran di Pintu Akhir …

Eddy Mesakh | | 19 December 2014 | 12:57

Dengan Google Street Kita Bisa …

Daniel H.t. | | 19 December 2014 | 09:34

Tim “Hantu” Menpora Berpotensi …

Erwin Alwazir | | 19 December 2014 | 12:47

Tiga Seniman “Menguak Takdir” …

Ajinatha | | 19 December 2014 | 09:08

Tulis Ceritamu Membangun Percaya Diri Lewat …

Kompasiana | | 24 November 2014 | 14:07


TRENDING ARTICLES

Menteri Rini “Sasaran Tembak” …

Gunawan | 8 jam lalu

Inilah Drone Pesawat Nirawak yang Bikin …

Tjiptadinata Effend... | 9 jam lalu

Seorang Manager Menjadi Korban Penipu …

Fey Down | 14 jam lalu

Meramu Isu “Menteri Rini Melarang …

Irawan | 15 jam lalu

Luar Biasa, Kasus Lapindo Selesai di Tangan …

Hanny Setiawan | 15 jam lalu


Subscribe and Follow Kompasiana: