Back to Kompasiana
Artikel

Edukasi

Ahmad Turmuzi

Guru pada jenjang pendidikan SMP. Lebih lanjut kita dapat berbagi atau menghubungi kami melalui blog selengkapnya

Membangun Persepsi Guru dalam Menyongsong Penerapan Kurikulum 2013

OPINI | 31 January 2013 | 21:11 Dibaca: 1514   Komentar: 1   0

Perubahan kurikulum dimaksudkan sebagai salah satu bentuk reformasi di bidang pendidikan dalam rangka meningkatkan mutu pendidikan Indonesia. Perubahan tersebut merupakan konsekwensi logis dari terjadinya perubahan sistem politik, sosial budaya, ekonomi, dan iptek dalam masyarakat, berbangsa dan bernegara. Sebab, kurikulum sebagai seperangkat rencana pendidikan perlu dikembangkan secara dinamis sesuai dengan tuntutan dan perubahan yang terjadi di masyarakat (Anonim, 2012). Tetapi, dalam implementasi kurikulum baru akan menibulkan perbedaan persepsi antara pemegang kebijakan dengan pelaku kebijakan. Pemegang kebijakan memiliki asumsi bahwa pelaku kebijakan (guru) kurang menyukai perubahan, sedangkan dari sisi guru juga meyakini bahwa pemegang kebijakan tidak memahami kenyataan-kenyataan yang terjadi pada saat dilaksanakannya pembelajaran (Puskur, 2008).
Memang tidak bisa dihindari, setiap perubahan kurikulum selalu menghasilkan kontroversi di semua pihak, mulai dari praktisi sampai opini para pakar. Namun sebagai guru yang notabene hanya sebagai pelaksana, tentu tidak kuasa menolak kebijakan yang sudah menjadi ketetapan. Seperti yang diungkapkan dalam wacana koranpendidikan.com (2012), bahwa tidak berlaku pepatah, “nasi sudah menjadi bubur” dalam persoalan ini. Pemerintah sudah menetapkan pemberlakuan kurikulum baru yang akan mulai diterapkan pada Juni 2013, sementara rakyat (para guru) adalah abdi yang sepertinya “mesti” sendiko dawuh gusti (mengabdi secara utuh). Namun di dunia demokrasi, seorang guru berhak mengkritisi dan mempertanyakannya.
Semua kurikulum nasional dirancang berdasarkan landasan yang sama, yaitu Pancasila dan UUD 1945, perbedaannya pada penekanan pokok dari tunjuan pendidikan serta pendekatan dalam merealisasikannya. Dengan demikian perubahan kurikulum pendidikan Indonesia harus disikapi dengan bijak oleh setiap guru, terlepas dari anggapan-anggapan negatif yang berkembang di masyarakat maupun media. Anggapan bahwa perubahan kurikulum adalah pratik rutin tahunan, statemen ganti menteri ganti kurikulum, ungkapan bahwa peserta didik dijadikan sebagai kelinci percobaan kurikulum, serta besarnya biaya menjadi hal yang sering terungkap dalam perbincangan masyarakat dan media.
Untuk menghidari persepsi skeptis seperti itu di kalangan para guru terhadap kebijakan pemerintah tersebut, proses perubahan kurikulum semestinya bukan hanya persoalan sosialisasi namun juga mencakup kelengkapan sarana dan prasarana serta kesiapan SDM. Menyiapkan SDM guru harus dimulai dari upaya membangun persepsi bahwa perubahan kurikulum sebagai perbaikan mutu pendidikan. Mengingat bahwa perubahan itu biasanya menghasilkan “penolakan“ baik secara mental maupun sikap dan perilaku sehingga bisa berakhir menjadi tidak efektif dalam pelaksanaan. Maka kesan bahwa kurikulum yang baru itu sebagai upaya perbaikan mutu kurikulum yang sebelumnya, lebih mudah diterapkan, lebih gampang diingat, lebih singkat, jelas dan tidak ribet serta membela kepentingan terbaik peserta didik harus menjadi pilar utama dalam strategi penyampaian atau mempublikasikannya kepada para guru.
Pola pikir menentukan situasi emosi dan perilaku dalam pelaksanaan tugas membangun persepsi positif atas perubahan kurikulum harus didahulukan dalam proses sosialisasi sebelum sosialisasi pelaksanaan teknis. Salah warisan penyakit mental adalah zona nyaman dan malas melakukan perubahan. Karena itu memotivasi, membangun persepsi serta keterampilan bahwa perubahan kurikulum adalah upaya efektivitas kegiatan pembelajaran harus dapat dihayati secara mendalam oleh para guru kita. Pada umumnya mendengar kata penggantian, maka persepsi yang terbangun adalah mengganti semua yang ada dan mengabaikan semua hasil yang telah dicapai. Dengan menggunakan kata memperbaiki mutu maka persepsi yang terbangun adalah mempertahankan hasil baik yang telah dicapai dan menambah dengan sesuatu yang baru agar menjadi lebih baik.
Disamping itu, setiap guru diarahkan untuk memahami perubahan kurikulum secara utuh, tidak dipahami secara parsial, dengan memperhatikan beberapa hal berikut : 1) proses belajar yang terjadi pada masa lalu juga terjadi pada masa sekarang walaupun dengan intensitas yang berbeda; 2) guru sebagai pengontrol dominan dalam pembelajaran dicerminkan oleh transformasi nilai pada siswanya; 3) setiap kurikulum memberikan bekas tertentu pada pembelajaran; 4) pembelajaran yang kompleks lebih umum daripada pembelajaran yang sederhana; 5) pembelajaran sekarang tidak akan berhasil baik jika tidak memperhatikan pembelajaran yang lalu; dan 6) perubahan-perubahan kurikulum di dunia diperlukan untuk mengetahui perbedaan pembelajaran.
Persepsi positif di kalangan para guru dalam implementasi kurikulum akan dapat lebih terbentuk lagi apabila menggunakan role model. Menggunakan contoh sekolah yang sudah memahami dan dapat melaksanakan dengan baik hingga berhasil atas pelaksanaan kurikulum akan memperkuat keyakinan bahwa tidak ada yang sulit dan perlu ditakuti akan adanya perubahan kurikulum. Sekaligus sekolah bersangkutan dapat belajar secara langsung terhadap keberhasilan sekolah yang telah melaksanakan kurikulum tersebut, sebagai transfer of knowledge and transfer of experiences. Meskipun tentu saja harus memperhitungkan diversity, antropologi budaya masyarakat setempat, kelengkapan sarana dan prasarana, mutu SDM dan tentu saja integrity dan citra role model tersebut harus kredibel.
Dengan pendekatan role model berarti sebelum kurikulum baru tersebut diterapkan oleh guru dalam proses pembelajaran di kelas, terlebih dahulu diimplementasikan kepada para guru. Hal ini sejalan dengan penilaian seorang pengamat pendidikan, Prof. Soedijarto, bahwa hal terpenting dalam perubahan kurikulum adalah implementasi dalam kegiatan belajar mengajar. Pertanyaan besarnya adalah apakah guru yang mengajar sudah mengerti dengan kurikulum baru yang akan diterapkan atau tidak ? Selayaknya sebelum disosialisasikan kepada anak didik kurikulum baru tersebut nantinya diimplementasikan ke kalangan tenaga pengajar. Mereka pun harus benar-benar paham dengan kurikulum baru ini, agar kualitas guru semakin tinggi (okezone.com, 2012).
Berdasrkan paparan di atas, dapat ditarik benang merah bahwa berhasil tidaknya implementasi kurikulum yang diperbaharui cenderung ditentukan oleh persepsi atau keyakinan yang dimiliki oleh tenaga pengajar atau guru. Perubuhan kurikulum berkait dengan perubahan pradigma pembelajaran. Perubahan pradigma baik langsung maupun tidak langsung akan memberikan dampak bagi para guru, dimana mereka perlu melakukan penyesuaian. Penyesuaian yang dilakukan kemungkinan akan memberikan ketidaknyamanan lingkungan pembelajaran bagi guru yang bersangkutan. Beberapa kasus menunjukkan bahwa para guru akan bersikap mendukung implementasi dimaksud apabila mereka memahami kurikulum baru tersebut secara rasional dan praktikal (Puskur, 2008).
Untuk itu setiap guru perlu ditingkatkan kemampuan atau profesionalnya dalam rangka mengimplementasikan kurikulum 2013. Dalam dokumen uji publik kurikulum 2013, telah ditetapkan bahwa untuk menyiapkan implementasi akan dilakukan training pada para guru. Tetapi belum ditetapkan model (bentuk) pelaksanaannya. Pelatihan yang harus diberikan kapada guru agar dapat mengimplementasikan pembelajaran yang diharapkan, adalah pelatihan yang menggunakan pendekatan yang sama dengan cara pembelajaran yang diharapkan akan terjadi di kelas nantinya. Pendekatan yang dimaksud adalah pendekatan inkuiri, sesuai dengan tuntutan kurikulum baru. Dalam pelatihan model ini, setiap guru minimal dibekali dengan pengalaman yang memungkinkannya untuk : (i) melakukan sendiri kegiatan inkuiri, (ii) mendapatkan pengalaman langsung bagaimana pembelajaran terjadi (how people learn) dan peran guru dalam pembelajaran inkuiri. Selain itu dalam pelatihan harus dimasukkan juga berbagai metoda assessment yang tepat untuk memonitor kemampuan siswa dalam kemampuan-kemampuan inkuiri. Kegiatan lanjutan pasca pelatihan dapat berupa dukungan dan kunjungan tim ahli, penyediaan sumber belajar online (Ismunandar, 2013).
Namun perlu diingat dan ditekankan, agar pelatihan yang dilakukan melibatkan seluruh guru, bukan sebagian kecil saja. Pelatihan dirancang dengan sebaik-baiknya, dan dilaksanakan dengan penuh kesungguhan dan berkesinambungan. Sehingga mampu merangsang peningkatan profesional guru secara optimal. Intinya agar pembelajaran yang diharapkan dapat berlangsung berkelanjutan diperlukan perubahan budaya dari pelatihan yang bersifat top down menjadi kebutuhan para guru untuk terus meningkatkan profesionalitasnya (bottom up) (Ismunandar, 2013).

Jerowaru, 23 Januari 2013

DAFTAR PUSTAKA
Ahmad Turmuzi, 2011. Peranan Guru dalam Pengembangan Pendidikan Karakter di Sekolah http://edukasi.kompasiana.com/2011/10/28/peranan-guru-dalam-pengembangan-pendidikan-karakter-di-sekolah-405139.html. Diakses 17 Januari 2013.

Anonim, 2012. Sejarah Perkembangan Kurikulum Di Indonesia. http://pjjpgsd.dikti.go.id/file.php/1/repository/dikti/Revisi_Bahan_Ajar_Cetak/BAC_Pengkur_SD/UNIT-_PERKEMBANGAN_KURIKULUM_.pdf. Di akses 20 Januari 2013.

Ismunandar, 2013, Pelatihan Guru Menyiapkan Kurikulum 2013. http://www.kemdiknas.go.id/kemdikbud/artikel-pelatihan-guru. Di akses 17 Januari 2013.

Kemdikbud, 2012. Pengembangan Kurikulum 2013. http://www.kemdiknas.go.id/kemdikbud/uji-publik-kurikulum-2013-2. Di akses 17 Januari 2013.

Okezone.com, 2012. Guru Harus Pahami Kurikulum Baru. http://kampus.okezone.com/read/2012/11/26/373/723366/guru-harus pahami-kurikulum-baru. Di akses 20 Januari 2013.

Puskur, 2008. Laporan Kajian Penididikan Menengah. Balitbang Departemen Pendidikan Nasional.

Tags: kurikulum guru

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Inilah 5 Butir Penting Putusan MK atas …

Rullysyah | | 21 August 2014 | 17:49

MK Nilai Alat Bukti dari Kotak Suara …

Politik14 | | 21 August 2014 | 15:12

Sharing Profesi Berbagi Inspirasi ke Siswa …

Wardah Fajri | | 21 August 2014 | 20:12

Meriahnya Kirab Seni Pembukaan @FKY26 …

Arif L Hakim | | 21 August 2014 | 11:20

Mau Ikutan Diskusi Bareng Anggota DPR Komisi …

Redaksi Kompas.com | | 21 August 2014 | 13:59


TRENDING ARTICLES

Ikhlas Menerima Jokowi-JK Sebagai Pemimpin …

Topik Irawan | 9 jam lalu

Belum Ada Ucapan Selamat dari Prabowo-Hatta …

Revaputra Sugito | 9 jam lalu

Rusuh MK, Sudirman-Thamrin Mencekam …

Mawalu | 11 jam lalu

Ditolak MK, Pendukung Prabowo Berduka …

Samandayu | 12 jam lalu

Dear Pak Prabowo, Would You be Our Hero? …

Dewi Meisari Haryan... | 15 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: