Back to Kompasiana
Artikel

Edukasi

Ilmaddin Husain

Penyuka bubur kacang hijau, wartawan, writer, fotografer, peminat travelling dalam rangka menyaksikan kebesaran Allah SWT, selengkapnya

Pendidikan Anak Tanggungjawab Siapa?

REP | 03 February 2013 | 23:36 Dibaca: 81   Komentar: 0   0

Orang tua yang memiliki anak mempunyai tanggung jawab yang besar kepada anak-anaknya. Tanggung jawab meliputi tanggung jawab untuk memberikan rezeki yang halal kepada mereka. Selain itu, orang tua pun memiliki tanggung jawab moral untuk memberikan pemahaman agama kepada anak-anaknya. Mulai dari penanaman aqidah (tauhid, keimanan, mengesakan Allah SWT), memperbaiki akhlak dan mengajarkan ibadah kepada anaknya.

Orang tua tidak hanya sebatas memberikan mainan yang banyak kepada anaknya. Untuk usia remaja orang tua tak hanya memerikan game yang mutakhir kepada mereka. Anggapan selama ini setelah memberikan apa yang anak mau maka orang tua sudah lepas tanggung jawab.

Orang tua hanya memberikan apa yang diinginkan oleh anak. Setelah itu, orang tua tidak lagi punya kewajiban apa-apa. Selama ini yang terjadi ditengah masyarakat ialah orang tua sibuk dengan pekerjaannya. Pergi ke kantor mulai pukul 07.00 pagi dan pulang larut malam. Akibatnya bisa ditebak. Waktu orang tua kepada anak semata-mata hanya untuk pekerjaan.

Memang tidak salah orang tua mencari rezeki untuk anaknya. Ada orang yang berkata. Saya bekerja kan untuk anak juga. Kalau saya tidak kerja maka anak saya mau dikasi makan apa? Saya mencari uang ini untuk membiayai sekolah anak, biaya kursus, makan dan minum dll. Kalau saya tidak kerja mana mungkin saya bisa membiayai semua itu?

Sekarang yang terjadi ditengah-tengah kita ialah seakan orang tua tidak peduli kepada anak-anaknya. Orang tua larut dalam urusan pribadi dan kantornya. Dalam hati orang tua berkata. Kan sudah ada guru disekolahnya yang memberikan pendidikan. Itu sudah cukup kok.

Saya kan juga sudah memasukkannya ke TPA di ujung jalan. Berarti saya sudah lepas tanggung jawab. Orang tua yang telah berbuat seperti ini berarti sudah menjalankan kewajibannya. Meskipun sebenarnya masih belum dikatanan sempurna. Artinya roang tua tetap mengkontrol pendidikan ananya. Sama seperti yang dilakukan oleh Lukmah kepada anaknya. Ia menasehati anaknya secara langsung. Tak ia wakilkan kepada orang lain.

Mirisnya ialah saat ini orang tua membiarkan anaknya terjerumus dalam perbuatan yang tak baik. Orang tua tak peduli terhadap anaknya yang berbuat maksiat. Banyak anak-anak yang terlibat narkoba. Kasus pergaulan bebas antara laki-laki dan perempuan. Kasus video porno.

Orang tua yang tidak menasehati anaknya yang sudah baligh tetapi tidak memakai jilbab. Orang tua yang sudah mengerti akan kewajiban sholat tetapi ia tidak menyuruh anaknya sholat di masjid. Ia pun sendiri tidak pernah sholat lima waktu.

Anak yang sejak siang hingga tengah malam belum pulang ke rumah tidak dicari. Anaknya dibiarkan pergi entah kemana. Parahnya ternyata anakya kumpul dengan anak-anak yang suka melakukan kriminal. Disitu anaknya mulai mengenal dunia seks, narkoba, pacaran, minuman keras dll.

Sungguh sangat disayangkan jika keadaan menjadi seperti ini. Kurangnya tanggungjawab orang tua. Maka dari itu, orang tua harus ‘cerewet’ kepada anaknya. Tak bosan-bosannya mengingatkan kepada anak.

Kalau sudah waktunya sekolah ya sekolah. Kalau sudah waktunya sholat lima waktu ya anaknya diingatkan terus. Kalau tidak mau ‘dipaksa’. Bisa bersikap tegas kepada anaknya.

Anaknya diingatkan agar bisa menjaga pergaulan. Kalau bergaul hati-hati dalam memilih teman. Jangan sampai bergaul dengan anak-anak nakal. Anak-anak yang suka merokok, minum miras, pacaran, bergaul bebas, suka menghadang orang ditengah jalan.

Anaknya diingatkan untuk bersikap sopan santun. Kalau berjalan di depan orang tua harus membungkukkan badan. Supaya menghormat kepada guru disekolah. Supaya menghormat kepada guru mengaji di masjid. Supaya menghargai kepada sesama. Menyayangi lingkungan.

Menjadi harapan bersama dengan banyaknya orang tua yang tanggap kepada anaknya maka sedikit demi sedikit kita dapat memberbaiki moral anak bangsa. Yang selama ini memprihatinkan lambat laun bisa menjadi baik. Yang akhir-akhir ini banyak generasi muda yang berbuat anarkis dan maksiat. Mulai dari tawuran antar pelajar dan mahasiswa, free sex, minum minuman keras, penyalahgunaan narkoba, tidak ada rasa sopan santun kepada yang lebih tua.

Semoga anak-anak kita bisa menjadi anak yang sholeh. Yang bisa membanggakan bagi orang tuanya. Bisa bermanfaat bagi diri, orang tua, keluarga, agama, bangsa dan Negara. Tidak mengecewakan. Tidak menjadi beban bagi bangsa dan Negara.

Untuk pembinaan yang intensif dapat kita masukkan anak kita ikut ke pengajian TPA. Boleh diikutkan dipengajian yang ada di Lembaga Dakwah Islam Indonesia. Di LDII pembinaan dilakukan secara intensif. Mulai dari tingkat anak-anak, remaja, dewasa hingga manula.

www.ldii.or.id.

Makassar, Minggu 3 Februari 2013

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Membayar Zakat Fitrah di Masjid Turki, …

Gaganawati | | 27 July 2014 | 22:27

Kiat Menikmati Wisata dengan Kapal Sehari …

Tjiptadinata Effend... | | 27 July 2014 | 19:02

Indahnya Perbedaan :Keluarga Saya yang Dapat …

Thomson Cyrus | | 27 July 2014 | 19:45

Ini Rasanya Lima Jam di Bromo …

Tri Lokon | | 27 July 2014 | 21:50

Punya Gaya “Make Up” Menarik? …

Kompasiana | | 09 July 2014 | 00:21


TRENDING ARTICLES

Temuan KPK: Pemerasaan Pada TKI Capai Rp 325 …

Febrialdi | 26 July 2014 22:14

KPK Lebih Dibutuhkan TKI Ketimbang TNI, …

Fera Nuraini | 26 July 2014 19:21

Taruhan Kali Ini Untuk Jokowi dan Demokrasi …

Hosea Aryo Bimo Wid... | 26 July 2014 19:19

Surat Lebaran untuk Emak …

Akhmad Mukhlis | 26 July 2014 14:40

Daftar Kompasioner yang Berkualitas …

Hendrik Riyanto | 26 July 2014 13:29

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: