Back to Kompasiana
Artikel

Edukasi

Elen Anggun Kusuma

Universitas Negeri Yogyakarta . fakultas Bahasa dan Seni . jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia

Antara Idealisme dan Persaingan Industri (Sosiologi Penerbit)

REP | 04 February 2013 | 00:58 Dibaca: 545   Komentar: 0   0

BAB I

PENDAHULUAN

A. Pengantar

Salah satu aspek terpenting dari karya sastra adalah peran penerbitan. Penerbit adalah salah satu cara untuk menjembatani karya sastra dengan para pembaca. Karya-karya itu pada akhirnya akan menjadi konsumsi publik melalui penerbit. Penerbit dianggap sangat vital sekali keberadaannya diantara aspek-aspek penunjang karya sastra yang lain.

Ideologi dan pengelompokan jenis penerbit semakin memudahkan sastrawan ataupun para penulis untuk menyalurkan karyanya. Penerbit sebagai media untuk mempublikasikan karya-karya seseorang.

B. Latar Belakang Masalah

1. Sebuah penerbit sebagai salah satu media bagi para penulis

2. Mendeskripsikan penerbitan Indonesia Tera menggunakan teori Robert Escarpit.

3. Analisis terhadap penerbit Indonesia Tera yang pernah mengalami perombakan dalam kepemimpinan.

4. Distribusi sebuah penerbit terhadapa karya sastra

C. Rumusan Masalah

1. Bagaimana sejarah penerbit Indonesia Tera?

2. Apa tujuan utama penerbit menerbitkan buku-buku bahasa?

3. Apa saja yang menjadi pertimbangan suatu karya layak diterbitkan?

4. Faktor apa sajakah yang mempengaruhi penerbitan suatu karya?

5. Buku-buku apa saja yang banyak diminati oleh pembaca?

6. Bagaimana proses distribusi buku-buku pada penerbit Indonesia Tera?

7. Bagaimana pandangan penerbit Indonesia Tera tentang keberadan buku-buku sastra pada masa kini?

D. Tujuan

1. Memahami ideologi yang dipakai sebuah penerbitan

2. Dapat mendeskripsikan faktor yang menyebabkan penerbtan sebuah buku

3. Dapat menjelaskan karya yang layak diterbitkan

4. Dapat memahami faktor yang mempengaruhi penerbitan suatu karya

5. Dapat mengatahui buku apa saja yang banyak diminati pembaca

6. Dapat menjelaskan tentang distribusi buku

7. Dapat memahami pandangan penerbit tentang karya sastra di masa kini

BAB II

KAJIAN TEORI

Setiap karya sastra yang dihasilkan seseorang selalu mempunyai beberapa fungsi. Karya yang diciptakan bukan berarti untuk konsumsi dirinya sendiri. Karya tersebut dapat pula dipublikasikan atau didistribusikan melalui penerbit. Penerbit sebagai media, penyalur bagaimana buku-buku tersebut bisa di sebarkan luaskan ke khalayak dan menjadi konsumsi publik.

Mempublikasikan karya bukan berarti juga menuntaskannya dengan menyerahkannya kepada orang lain. Agar suatu karya benar-benar eksis sebagai unsure yang otonom dan bebas, sebagai suatu hasil ciptaan, ia harus memisahkan diri dari penciptanya dan menjalani sendiri nasibnya diantara orang-orang. (Robert Escarpit, 2005:68). Karya-karya yang telah diciptakan seorang penulis selanjutnya akan menjalani proses produksi melalui penerbit dan pembaca yang akan menentukan baik buruknya karya tersebut.

Meskipun tidak menyebutkan secara eksplisit sosiologi penerbitan dan distribusi karya sastra, Escarpit memberikan perhatian yang khusus terhadap keberadaan penerbitan dan distribusi karya sastra. Menurut Escarpit (2005:74) penerbit memiliki tiga pekerjaan yaitu: memilih, membuat (fabriquer), dan membagikan buku. Ketiga kegiatan tersebut saling berkaitan, masing-masing bergantung satu sama lain, dan saling mempengaruhi, serta membentuk suatu siklus yang merupakan keseluruhan kegiatan penerbitan. Ketiga kegiatan tersebut mencakup bidang pelayanan terpenting untuk suatu penerbit: komite sastra, kantor penerbitan, dan bagian komersial.

Hubungan karya sastra dengan penerbit sangatlah erat. Penerbit sebagai salah satu wadah bagi para penulis untuk menyalurkan karya-karyanya. Karya tersebut kemudian didistribusikan kepada para pembaca. Selanjutnya, pembaca yang akan menentukan apakah karya sastra tersebut layak atau tidak untuk dijadikan buku pedoman sastra yang bagus.

Junus berpendapat bahwa hubungan penulis dengan pembaca memperlihatkan dua kemungkinan. Pertama ada pembaca tetapi karena seseorang telah di gaji menulis bagi kepentingan seseorang atau sekelompok orang. Kedua yang ada cuma calon pembaca (1998:11).

Dalam hubungan ini tidak dilupakan adanya penerbit yang benar-benar sebagai patron. Mungkin dengan alasan politik seperti pada orang komunis. Atau dengan kesadaran memajukan sastra seperti pada beberapa penerbit lainnya.

BAB III

PEMBAHASAN

A. Sejarah Penerbitan

Indonesia Tera adalah salah satu penerbit yang namanya cukup terkenal di daerah Yogyakarta. Di era 1999-an penerbit Indonesia Tera menerbitkan beberapa buku sastra seperti antologi puisi Celana karya Joko Pinurbo, buku-buku antologi puisi Wiji Tukul, Sapardi dan buku sastra lainnya..

Penerbit yang beralamat di Jl. Gedong Kuning No.118 ini mempunyai beberapa kendala baru-baru ini.. Basic awal penerbit Indonesia Tera bukanlah bisnis. Pendanaan atas buku-buku yang diterbitkan berasal dari lembaga asing. Hingga akhirnya pendanaan dari lembaga asing tersebut dicabut, penerbit harus berusaha hidup dengan murni pendapatan dari penjualan buku tersebut.

Karena beberapa kendala tersbut kemudian penerbit Indonesia Tera sempat gulung tikar pada sekitar tahun 2008. Kemudian Indonesia Tera mulai bangkit lagi sekitar beberapa tahun setalah keterpurukannya.. Pimpinan redaksi yang sekarang dipegang oleh Bpk. Tri Prasetya mencoba merubah tatanan produksi di dalam penerbitan. Melalui penelitian pada pasar pembaca selanjutnya diadakan perombakan dari basic awal penerbitan sebagai yayasan sastra, kin menjadi basic industri.

Indonesia Tera masuk menjadi bagian dari grup Agromedia. Di dalamnya terdapat beberapa penerbit lain yang sudah diklasifikasikan menurut bagian masing-masing. Indonesia Tera mendapat basic bahasa, Gagasmedia basic fiksi, Qultum basic religi dan sebagainya.

Kepemimpinan baru ini sedikit merubah tatanan penerbit Indonesia Tera. Tidak berpaling dari basic awal penerbit sebagai sastra, Indonesia Tera yang baru membuat basic tersebut menjadi buku-buku bahasa. Buku-buku bahasa disini adalah buku bahasa secara universal menurut permintaan pasar pembaca. Buku-buku bahasa yang diterbitkan yaitu kamus dan ilmu bahasa yang lain. Perubahan tersebut sebelumnya sudah melalui proses.

Presentase buku bahasa yang diterbitkan harus 50%, dan lainnya sebagai pelengkap. Sastra 10%, penunjang pelajaran 20% dan buku lainnya 20%. Mengapa Indonesia Tera beralih dari buku sastra ke buku bahasa bukan berarti tidak ada alasannya. Sebelumnya Pimpred sudah meneliti historis dari kepemimpinan Indonesia Tera yang dahulu.

Indonesia Tera harus bisa berusaha sendiri mendapatkan omset murni dengan penjualan buku-bukunya. Lalu omset tersebut diputar lagi menjadi modal untuk hari kedepannya. Jadi, pendanaan penerbit tidak lagi dari pihak asing. Oleh sebab itu penerbit mulai condong ke ideologi industri, bukan lagi yayasan sastra.

Penerbit Indonesia Tera divisi yang simple. Perekrutan karyawannya juga tidak terlalu dibuat susah karena menggunakan management EO. Disana ada Pimpinan Redaksi (Pimpred), Editor,tim design, setter dan produksi. Masingmasing mempunyai tugas yaitu Pimpred sebagai managerial, kegiatan belanja dilakukan oleh redaktur dan masak oleh editor.

B. Buku Bahasa Sebagai Tujuan Utama Penerbit

Ketika ideologi Indonesia Tera berubah menjadi industri, semua komponen di dalam penerbit harus dipaksa berpikir realistis. Realistis disini berarti penerbit akan melihat bagaimana keinginan pembaca terhadap buku-buku yang akan diterbitkannya. Bisa juga tren apa yang sekarang sedang marak di masyarakat.

Pergeseran buku sastra ke buku bahasa bukan perkara mudah. Pimpred harus memutar otak untuk mengahasilkan buku-buku yang berkualitas tanpa berpaling dari buku-buku sastra. Produksi buku sastra dikurangi bukan berarti idealism nya hilang. Penerbit masih tetap memikirkan tentang nasib buku-buku sastra yang tidak lagi diterbitkan dan menjadi arsip penerbitan.

Mungkin juga akibat dari peralihan modal dari lembaga asing ke penerbitan itu sendiri menjadikan alasan penerbit Indonesia Tera menjadikan produksi buku pengembangan bahasa sebesar 60% yang terdiri dari 54 judul dan sedikit mengurangi penerbitan buku-buku sastra. Buku-buku tersebut menggunakan bahasa Indonesia, Inggris, Jepang, Korea, Arab, Mandarin, Jerman, Perancis dan Bahasa Jawa.

C. Karya yang Layak Diterbitkan

Menurut Indonesia Tera, bagaimana suatu karya tersebut kayak untuk di terbitkan yang pertama yaitu ketika penulis tersebut bisa menjawab permintaan pembaca. Permintaan pembaca tersebut berdasarkan research tim penerbit ke berbagai agen buku, selanjunya agen buku tersebut melaporkan buku apa yang sedang laris terjual dan banyak dicari oleh orang.

Dari research tersebut didapatkan hasil beberapa permintaan pembaca dalam kurun waktu satu tahun. Bulan Februari kebutuhan buku-buku bahasa lumayan tinggi, namun pada bulan Maret yang lebih diminati adalah buku-buku selain bahasa. Seperti buku sastra, buku hobi dll. Lalu puncak permintaan akan buku bahasa tersebut terjadi pada bulan Agustus ketika tiba masa pembelajaran baru.

Dengan adanya research tersebut penerbit dapat menilai karya mana yang layak diterbitkan pada masa itu. Research tersebut juga memudahkan penerbit dalam mengklasifikasika jenis buku mana yang akan di edit dan yang siap terbit.

D. Faktor Penerbitan Suatu Karya

Poin ini sebenarnya tidak jauh beda dengan karya mana yang layak di terbitkan. Penulis harus tahu bagaimana keinginan seorang pembaca yang dilihat dari siklus dalam kurun waktu satu tahun.

Pola kerja outsorshing yang diterapkan pada penerbit Indonesia Tera memberikan ruang kepada penerbit untuk menelaah buku-buku yang sedang diminati oleh pembaca.

Faktor-faktor yang mempengaruhi penerbitan suatu karya tersebut yaitu ketika penulis bisa menangkap moment. Disini budaya menjadi salah satu faktor nya. Ketika Indonesia sedang dilanda demam korea, penerbit langsung mencari penulis yang menulis karya-karya tentang korea. Selanjutnya penulis tersebut dikontak dan selanjutnya proses ke editor.

E. Karya yang Banyak Diminati Pembaca

Sejauh ini buku bahasa masih pada peringkat pertama. Buku bahasa inggris yang tingkat penjualan nya tinngi dibandingkan buku-buku lain. Selanjutnya buku penunjang pelajaran yang banyak diminati oleh pembaca. Sayangnya, buku sastra justru sedikit sekali peminatnya. Meskipun ada, namun itu tidak terlalu banyak.

Namun permintaan akan buku sastra juga seringkali datang. Ketika beberapa orang menanyakan tentang buku-buku Wiji Tukul yang kita ketahui bahwa buku itu susah di dapatkan. Setelah di produksi kira-kira 1000 buah buku, tidak habis selama kurun waktu 1 tahun. Hal tersebut akan mengakibatkan perputaran roda modal penerbitan akan terhambat. Oleh sebab itu, penerbit sedikit mengedepankan buku-buku yang diminati oleh pembaca.

F. Distribusi Buku

Ada beberapa proses distribusi buku dari penerbit Indonesia Tera. Hal yang pertama dilakukan adalah Pimpred mencoba menganalisis permintaan pasar, selanjutnya mencari penulis yang sesuai dengan kriteria buku yang akan diterbitkan. Contoh ketika sedang musim pernak-pernik flannel, Pimpred mencoba mencari pengrajin flannel. Selanjutnya diadakan diskusi sebanyak 2x. Proses selanjutnya karya tersebut di masak oleh tim editor.

Proses produksi tersebut berlangsung selama satu bulan, selanjutnya karya tersebut mulai diluncurkan. Langkah pertama penerbit adalah menyalurkan buku-buku tersebut ke toko buku yang berskala besar seperti Gramedia. Selanjutnya ke dalam took-toko buku di social agency.

G. Pendapat Penerbit tentang Produksi Karya Sastra Masa Kini

Perubahan basic penerbit bukan berarti penerbit melupakan atau mengabaikan tentang keberadaan buku-buku sastra. Kembali pada historis penerbit yang dahulunya sempat menerbitkan karya sastra yang bagus, produksi karya sastra tersebut tidak langsung dihilangkan dari produksi penerbitan. Hanya dikurangi jumlah produksinya.

Keberadaan penulis muda di jaman sekarang juga lumayan banyak, oleh sebab itu buku sastra harus tetap ada. Namun kembali pada masalah internal penerbitan. Ada beberapa hal yang tidak memungkinan untuk fokus kembali pada penerbitan buku-buku sastra.

Mungkin adanya LSM akan membantu penyebaran buku-buku sastra. Karena baru-baru ini banyak sekali penerbitan yang mempunyai basic LSM di dalamnya. Keberadaan penerbitan yang bekerjasama dengan LSM akan semakin baik karena terdapat diskusi sastra di dalamnya. Komunitas yang Nerada pada lingkup LSM juga akan meonpang buku-buku sastra tersebut akan tetap hidup tanpa harus mempertimbangkan masalah pemodalan sebuah industri penerbitan.

BAB IV

PENUTUP

Dari isi pembahasan diatas didapatkan beberapa kesimpulan sebagai berikut :

1. Penerbit Indonesia Tera pada awalnya adalah sebuah penerbitan yang mempunyai basic yayasan sastra. Namun, karena adanya penarikan modal asing akibatnya Indonesia Tera mulai membangun penerbitan murni dengan hasil penjualan bukunya.

2. Melalui analisis pasar pembaca, buku sastra ternyata tidak mempunyai daya tarik yang tinggi terhadap pembaca. Oleh sebab itu fokus penerbitan dirubah menjadi produksi buku-buku bahasa sebanyak 50% dan sisanya buku-buku penjunjang.

3. Karya-karya yang diterbitkan adalah karya yang diciptakan seorang penulis yang tahu tentang permintaan pembacanya. Disamping itu karya yang layak diterbitkan adalah karya yang diciptakan seorang penulis yang pintar menangkap momentum.

4. Faktor penerbitan suatu karya biasanya karena faktor budaya atau apa yang manjadi tren yang sedang marak dibicarakan oleh masyrakat.

5. Karya yang banyak diminati pembaca adalah buku bahasa. Terutama buku bahasa Inggris yang di dalamnya terdapat grammar dan tenses.

6. Distribusi buku tersebut dimulai dengan pemasaran pada took buku berskala besar seperti Gramedia, selanjutnya ke took-toko buku di social agency.

7. buku-buku sastra harus tetap ada. Dengan adanya penerbitan dengan basic LSM akan lebih membantu produksinya. Penerbitan yang pada dasarnya adalah industri sebanarnya bukan suatu masalah besar bagi keberadaan buku sastra.

DAFTAR PUSTAKA

Escarpit, Robert. 2005. Sosiologi Sastra. Jakarta : Yayasan Obor Indonesia

Junus, Umar. 1986. Sosiologi sastra : Persoalan Teori dan Metode. Selangor : Percetakan Dewan Bahasa dan Pustaka

Pinurbo, Joko. 1999. Antologi Puisi Celana. Yogyakarta : Indoesia Tera

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Ratusan Ribu Hingga Jutaan Anak Belum Dapat …

Didik Budijanto | | 31 July 2014 | 09:36

Olahraga Sebagai Industri dan Sarana …

Erwin Ricardo Silal... | | 31 July 2014 | 08:46

Espresso, Tradisi Baru Lebaran di Gayo …

Syukri Muhammad Syu... | | 31 July 2014 | 07:05

Rasa Takut, Cinta, Naluri dan Obsesi …

Ryu Kiseki | | 31 July 2014 | 03:42

Ikuti Lomba Resensi Buku Tanoto Foundation! …

Kompasiana | | 11 July 2014 | 16:12


TRENDING ARTICLES

Jokowi Menipu Rakyat? …

Farn Maydian | 15 jam lalu

Gandhi-Martin Luther-Mandela = Prabowo? …

Gan Pradana | 17 jam lalu

Jokowi Hanya Dipilih 37,5% Rakyat (Bag. 2) …

Otto Von Bismarck | 19 jam lalu

Jokowi yang Menang, Saya yang Mendapat Kado …

Pak De Sakimun | 21 jam lalu

Dilema Seorang Wanita Papua: Antara Garuda …

Evha Uaga | 24 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: