Back to Kompasiana
Artikel

Edukasi

Zainal Abidin

Menyukai segala apa yang disebut kesederhanaan

Reaktualisasi Keterpaduan Nilai-nilai Pesantren dengan Sains, Teknologi, Seni, Masyarakat dan Lingkungan Menuju Peradaban Muslim di Indonesia

OPINI | 05 February 2013 | 13:19 Dibaca: 1318   Komentar: 1   0

Zainal Abidin

Email: zay.abidin@gmail.com

A. PENDAHULUAN

Pesantren menurut kamus berarti “asrama tempat santri atau tempat murid-murid belajar mengaji…”.[1] Pesantren menurut pengertian dasarnya adalah “tempat belajar para santri”. Ada beberapa istilah yang ditemukan dan sering digunakan untuk menunjuk jenis

pendidikan Islam tradisional khas Indonesia atau yang lebih terkenal dengan sebutan pesantren.[2]

Akar kata pesantern berasal dari kata “santri”[3], yaitu istilah awalnya yang digunakan bagi orang-orang yang menuntut ilmu agama di lembaga pendidikan tradisional Islam. Kata “santri” mendapat awalan “pe” dan akhiran “an”, yang berarti tempat para santri

menuntut ilmu.[4]

Ada pendapat yang menganggap bahwa perkataan pesantren berasal dari bahasa Sanskerta.[5] Berasal dari kata sant yang berarti orang yang baik, dan disambung dengan kata tra yang berarti menolong. Sedangkan pesantren berarti tempat untuk membina manusia menjadi orang baik.[6]

Adapun pengertian secara terminologi, dapat dikemukakan beberapa pendapat yang mengarah pada definisi pesantren. Pesantren secara teknis, a place where santri (studentlive, dan “the word pesantren stems from “santri” which means one who seeks Islamic

knowledge. Usually the word pesantren refers to a place where the santri devotes most of his or her time to live in and acquire knowledge”.[7]  Kata pesantren berasal dari “santri” yang berarti orang yang mencari pengetahuan Islam, yang pada umumnya kata pesantren mengacu pada suatu tempat, di mana santri menghabiskan kebanyakan dari waktunya untuk tinggal dan memperoleh pengetahuan.[8]

Pesantren adalah suatu tempat yang tersedia untuk para santri dalam menerima pelajaran-pelajaran agama Islam sebagai tempat berkumpul dan tempat tinggalnya.[9]  Dalam tulisan ini pesantren didefinisikan sebagai suatu tempat pendidikan dan pengajaran yang

menekankan pelajaran agama Islam dan didukung asrama sebagai tempat tinggal santri yang bersifat permanen.

Pesantren sebagai lembaga dakwah Islamiyah yang memiliki persepsi yang plural. Pesantren dapat dipandang sebagai lembaga ritual, lembaga pembinaan moral, lembaga dakwah dan yang paling penting sebagai institusi pendidikan Islam yang mengalami

dinamika kehidupan dalam menghadapi tantangan internal maupun ekternal.[10]

Sebagai lembaga pendidikan, pesantren dari awal berdirinya hingga sekarang tetap eksis, menawarkan pendidikan kepada mereka yang masih buta huruf. Pesantren menjadi instsitusi satu-satunya yang menjadi milik masyarakat pribumi yang memberikan kantribusi besar dalam membentuk masyarakat melek huruf (literacy) dan melek

budaya (cultural literacy).

Kontribusi pesantren dalam sistem pendidikan di Indonesia: (1) melestarikan dan melanjutkan sistem pendidikan rakyat; (2) mengubah sistem pendidikan aristokratis menjadi sistem pendidikan demokratis.[11]

Pesantren merupakan lembaga pendidikan Islam paling otonom yang tidak dapat diintervesi pihak-pihak manapun kecuali kiai. Kiailah yang mewarnai semua bentuk kegiatan pesantren sehingga menimbulkan perbedaan yang beragam sesuai selaranya masing-masing. Variasi bentuk pendidikan ini juga yang diakibatkan perbedaan kondisi sosiokultural masyarakat yang mengelinginya.

Keunikan inilah yang menimbulkan kemenarikan dikalangan pengamat. Dari sudut esensinya yang dikaitan dengan konsidi sosiokultural masyarakat, pesantren sebagai ‘subkultur’dalam pengertian gejala yang unik dan terpisah dari dunia luar,[12] dan pesantren sebagai “institusi kultural”.[13]

Tiga elemen dasar yang menjadikan pesantren sebagai subkultur atau kultur yang unik.  Pertama, Pesantren memiliki pola kepemimpinan yang berada diluar kepemimpinan pemerintahan desa yakni; kiai. Kepemimpinan kiai di pesantren sangat unik, dalam arti mampu mempertahankan ciri-ciri pra-modern. Para santri sangat patuh kepada kiainya laksana pemimpin-pengikut. Ini didasarkan atas kepercayaan mereka pada konsep barakah, yang berdasarkan pada “doktrin emanasi” dari para sufi. Namun, hal ini tidak menutup kemungkinan atas pengaruh pra-Islam, yakni Hindu dan Budha, dalam hubungan guru-santri.

Kedua, Literatur universal yang terus dipelihara selama berabad-abad dan diajarkan dari generasi ke generasi. Cara inilah yang akan menjamin keberlangsungan ‘tradisi yang benar’ demi kelestarian ilmu pengetahuan agama sebagaimana yang diajarkan oleh para imam terdahulu.

Ketiga, Sistem nilai yang terpisah dari masyarakat luas. Secara garis besar sistem nilai yang unik ini tidak dapat dipisahkan dari elemen-elemen dasar lainnya. Peran serta Kiai-Santri menjalankan ajaran agama dalam kehidupan sehari-hari menjadi legitimasi. Sistem nilai ini mempunyai peranan penting dalam membentuk kerangka berpikir masyarakat secara luas.[14]

Kategori pesantren dapat dipandang dari berbagai perspektif; rangkaian kurikulum, tingkat kemajuan, keterbukaan dari segi perubahan dan dari sudut sistem pendidikannya.[15] Dari segi kurikulumnya, pesantren digolongkan menjadi Pesantren Modern, Pesantren Tahassus (tahassus ilmu alat, ilmufiqh/ushul fiqh, ilmu tafsir/hadits, ilmu tasawuf/thariqat, dan qira’at al-Qir’an) dan Pesanten Campuran.[16] Berdasarkan kemajuan muatan kurikulumnya, pesantren paling sederhana hanya belajar tulisan arab dan menghafal

beberapa surat dalam al Qur’an, pesanten sedang yang mengajakan berbagai kitab fiqh, ilmu akidah, tata bahasa arab (nahwu sharaf), dan pesantren paling maju yang mengajarkan kitab-kitab fiqh, aqidah, dan tasawuf yang lebih mendalam dan beberapa mata pelajaran tradisional lainnya.[17]

Dari perspektif keterbukan dibagi menjadi dua kategori yaitu pesantren salafi dan khalafi. Pesantrensalafi tipe mengajarkan kitab-kitab Islam klasik sebagi inti pendidikan, dengan menerapkan sistem pendidikan madrasah untuk memudahkan sistem sorogan dan tanpa

mengenalkan pelajaran umum.

Sedangkan pesantren khalafi telah memasukan pelajaran umum dalam madrasah yang dikembangkan atau membuat tipe sekolah umum di lingkungan pesantren.

Kategori pesantren dari sistem pendidikan yang dikembangkan. Pesantren dalam pandangan ini dikelompokkan menjadi tiga macam: (1) memiliki santri dan tinggal bersama kiai, kurikulum terantung kiai, dan penjaran secara privasi, (2) memiliki madrsah kurikulum tertentu, pengajaran bersifat aplikasi, kiai memberikan pelajaran secara umum

dalam waktu tertentu, santri bertempat tinggal di asrama, dan (3) hanya berupa asrama, santri belajar di sekolah, madrasah, bahkan peruruan tinggi umum agama di luar, kiai sebagai pengawas dan pembina mental.[18]

Pesantren atas dasar kelembagaannya yang dikaitkan dengan sistem pengajaranya, peantren dibagi dalam kategori: (1) pesantren yang menyelenggarakan sistem pendidikan formal dengan menerapkan kurikulum nasional, (2) pesantren yang menyelenggarakan pendidikan keagaman dalam bentuk madrasah dan mengajarkan ilmu-ilmu umum meski tidak menerakan kurikulum nasional, (3) pesantren yang mengarkan ilmu-ilmu agama dalam bentuk madrasah diniyah.[19]

Ada yang membuat kategori pesantren berdasarkan sepesifikasi keilmuan. Misalnya pesantren alat (mengutamakan penguasaan gramatikal bahasa Arab), seperti Pesantren Lirboyo, Pesantren Ploso, pesantren fiqh misalnya Tebuireng, Tambak Beras, Denanyar, Lasem, Pesantren Qira’ah al Qur’an seperti Pesantren Krapyak, Wonokromo dan Pesantren Tasawuf seperti Pesantren Jampes di Kediri sebelum Perang Dunia II.[20]

Dengan demikian, pesantren sesungguhnya terbangun dari konstruksi kemasyarakatan dan epistemologi sosial yang menciptakan suatu transendensi atas perjalanan historis sosial. Sebagai center of knowledge, dalam pendakian sosial, pesantren mengalami metamorfosis yang berakar pada konstruksi epistemologi dari variasi pemahaman di kalangan umat Islam. Hal yang menjadi titik penting ialah kenyataan eksistensi pesantren sebagai salah satu pemicu terwujudnya kohesi sosial. Keniscayaan ini karena pesantren hadir

terbuka dengan semangat kesederhanaan, kekeluargaan, dan kepedulian sosial. Konsepsi perilaku (social behavior) yang ditampilkan pesantren ini mempunyai daya rekat sosial yang tinggi dan sulit ditemukan pada institusi pendidikan lainnya.

Kemampuan pesantren dalam mengembangkan diri dan mengembangkan masyarakat sekitarnya ini dikarenakan adanya potensi yang dimiliki oleh pondok pesantren, di antaranya sebagai berikut; (1) pesantren hidup selama 24 jam; dengan pola 24 jam

tersebut, baik pondok pesantren sebagai lembaga pendidikan keagamaan, sosial kemasyarakatan, atau sebagai lembaga pengembangan potensi umat dapat diterapkan secara tuntas, optimal dan terpadu. (2) Pesantren mengakar pada masyarakat; pesantren

banyak tumbuh dan berkembang umumnya di daerah pedesaan karena tuntutan masyarakat yang menghendaki berdirinya pesantren. Dengan demikian, pesantren dan keterikatannya dengan masyarakat merupakan hal yang amat penting bagi satu sama lain. Kecenderungan

masyarakat menyekolahkan anaknya ke pesantren memang didasari oleh kepercayaan mereka terhadap pembinaan yang dilakukan oleh pesantren yang lebih mengutamakan pendidikan agama.[21]

Ada tiga karakteristik sebagai basis utama kultur pesantren di antaranya sebagai berikut. Pertama,Tradisionalisme, sebagaimana disinggung di atas bahwa lembaga pendidikan pada umumnya adalah milik atau paling tidak didukung masyarakat tertentu yang cenderung mempertahankan tradisi-tradisi masa lalu. Sementara itu, dengan tetap menyadari kemungkinan terjadinya kontroversial dalam segi tertentu, kelompok yang dimaksud adalah Nahdhatul Ulama (NU) dan Persatuan Tarbiyah Islam.[22]

Tradisionalisme dalam konteks pesantren harus dipahami sebagai upaya mencontoh tauladan yang dilakukan para ulama salaf yang masih murni dalam menjalankan ajaran Islam agar terhindar dari bid’ah, khurafat, takhayul, serta klenik. Hal ini kemudian lebih

dikenal dengan gerakan salaf, yaitu gerakan dari orang-orang terdahulu yang ingin kembali kepada al-Qur’an dan Hadits.[23]

Gerakan salaf ini dalam perjalanan sejarahnya telah memberikan sumbangan besar terhadap modernisasi Islam. Gerakan salaf secara sadar menolak anggapan bahwa Islam tidak cocok. Mereka mencari tahu faktor yang menyebabkan ketidakcocokan tersebut, yakni karena taqlid.

Kedua, Pertahanan Budaya (Cultural Resistance), mempertahankan budaya dan tetap bersandar pada ajaran dasar Islam adalah budaya pesantren yang sudah berkembang berabad-abad. Sikap ini tidak lain merupakan konsekuensi logis dari modeling. Ide

cultural resistance juga mewarnai kehidupan intelektual dunia pesantren. Subjek yang diajarkan di lembaga ini melalui hidayah dan berkah seorang Kai sebagai guru utama atau irsyadu ustadzin adalah kitab klasik atau kitab kuning, diolah dan ditransmisikan dari satu

generasi ke generasi berikut, yang sekaligus menunjukkan keampuhan kepemimpinan kiai. Isi kitab kuning menawarkan kesinambungan tradisi yang benar. Karena konsep cultural resistance pula, dunia pesantren selalu tegar menghadapi hegemoni dunia luar. Sejarah

menunjukkan bahwa saat penjajah semakin menindas, saat itu pula perlawanan kaum santri semakin keras. Penolakan Sultan Agung dan Diponegoro terhadap kecongkakan Belanda, ketegaran kiai pada masa penjajahan, serta kehati-hatian pemimpin Islam berlatar-belakang

pesantren dalam menyikapi kebijakan penguasa yang dirasakan tidak bijaksana atau sistem yangestablished sehingga menempatkan mereka sebagai kelompok ‘oposan’ adalah bentuk-bentuk cultural resistance dari dulu hingga sekarang.[24]

Ketiga, Pendidikan Keagamaan, pendidikan pesantren didasari, digerakkan, dan diarahkan oleh nilai-nilai kehidupan yang bersumber pada ajaran Islam. Ajaran dasar ini berkelindan dengan struktur sosial atau realitas sosial yang digumuli dalam hidup sehari-hari

Dengan demikian, pendidikan pesantren didasarkan atas dialog yang terus menerus antara kepercayaan terhadap ajaran dasar agama yang diyakini memiliki nilai kebenaran mutlak dan realitas sosial yang memiliki nilai kebenaran relatif.[25]

B. NILAI-NILAI PESANTREN

Pesantren memiliki nilai-nilai yang membentuk sistem nilai yang berkembang dan berasal dari ajaran Islam. Dakwah, pendidikan, kemandirian, kesederhanaan, persaudaraan yang amat kuat adalah nilai-nilai jati diri pesantren, yang menopang kebhinekaan,  melawan sektarianisme, ekstremisme, dan  terorisme. [26] Di pesantren ada hikmah, kebijaksanaan, kesederhanaan dan kemandirian.[27]

Ginandjar Kartasasmita menyatakan terdapat tujuh nilai-nilai yang ada pada pesantern, yaitu: (1) nilai keagamaan; (2) tradisi leilmuan; (3) semangat kewirausahaan; (4) etos kerja; (5) semangat kemandirin; (6) wawasan kebangsaan; dan (7) solidaritas sosial. [28]

K.H. Imam Zarkasyi, menyebut Panca Jiwa, yakni nilai-nilai yang menjiwai pesantren, yaitu: (1) jiwa keikhlasan; (2) jiwa kesederhanaan; (3) jiwa kesanggupan menolong diri sendiri (self help) atau berdikasi (berdiri di atas kaki sendiri); (4) jiwa ukhuwah dinniyah yang demokratis antara santri; dan (5) jiwa bebas (dalam arti positif).

Nilai-nilai pesantren dan jiwa-jiwa pesantren yang disebutkan di atas tidak sekedar dijadikan slogan atau teori-teori, tapi benar-benar dilaksanakan dalam bentuk tradisi atau sunnah-sunnah yang berjalan setiap hari di pondok pesantren. [29]

C. REAKTUALISASI KETERPADUAN NILAI-NILAI PESANTREN  DENGAN

SAINS, TEKNOLOGI , SENI, MASYARAKAT DAN LINGKUNGAN

MENUJU PERADABAN MUSLIM DI INDONESIA

Al-Quran menyatakan bahwa Islam adalah agama universal dan rahmat bagi semua alam. [30] Islam adalah agama perdamaian. Sebagai agama universal, Islam menawarkan hidup yang berkualitas yang mengatur hubungan antar semua manusia dalam: belas kasihan, kemurahan, toleransi, dan cinta. Islam menjadi kekuatan global ketika masyarakat Arab, Afrika, Eropa dan Asia dikagumi dan diikuti peradaban Islam dan budaya.

Kehadiran Islam telah memberikan kontribusi bagi kesejahteraan dan kemakmuran dari masyarakat.  Masyarakat beradab berkaitan erat dengan dasar-dasar doktrin Islam, etika, nilai-nilai, moral, hukum, dan lain-lain. Islam dan sejarah telah mengajarkan globalisasi pada tingkat yang paling umum, yang mengacu untuk suatu proses perubahan yang mempengaruhi seluruh wilayah di dunia dalam berbagai sektor termasuk ekonomi, ilmu pengetahuan dan teknologi dan sampai batas tertentu - politik, media, budaya dan lingkungan.

Meskipun Muslim mempertahankan bahwa ada satu yang diwahyukan oleh Allah dan diamanatkan Islam, banyak Muslim menginterpretasikan Islam. Ada dua cabang utama pendapat tentang politik dan agama kepemimpinan setelah kematian Muhammad: Sunni (85 persen dari Muslim Dunia) dan Syi’ah (15%). Ada beragam sekolah teologi, hukum dan tradisi mistis yang mencakup banyak sufi atau persaudaraan. Islam merupakan satu kesatuan dasar keyakinan dalam keragaman budaya yang kaya. Islam sendiri dalam praktek berbeda cara yang luas dari budaya yang membentang dari Afrika Utara ke Asia Tenggara, serta Eropa dan Amerika. [31]

Sebagai agama dunia, Islam dipraktekkan dalam berbagai budaya di Afrika, Timur Tengah, Asia, Eropa, dan Amerika. Seperti semua agama, Islam mengembangkan divisi, sekte, dan aliran pemikiran atas berbagai isu. Hukum Islam memberikan salah satu paling jelas dan paling penting contoh keragaman pendapat. [32]

Sementara semua muslim berbagi kepercayaan dan praktik tertentu, seperti keyakinan pada Tuhan, Al-Quran, Muhammad, dan Lima Rukun Islam, divisi telah muncul lebih dari pertanyaan-pertanyaan tentang kepemimpinan politik dan agama, teologi, interpretasi hukum Islam, dan tanggapan terhadap modernitas dan Barat. Mungkin tempat perbedaan dalam Islam lebih terlihat dari dalam respons terhadap modernitas. Karena abad kesembilan belas, umat Islam telah berjuang dengan hubungan tradisi keagamaan mereka berkembang di pra-modern waktu untuk tuntutan baru dari dunia modern (yaitu agama, politik, ekonomi, dan sosial). Isu-isu tidak hanya tentang akomodasi Islam untuk mengubah, tetapi juga tentang hubungan Islam ke Barat, karena banyak perubahan modern dikaitkan dengan ide-ide Barat, lembaga, dan nilai-nilai.

Tanggapan umat Islam terhadap isu-isu reformasi dan modernisasi telah membentang spektrum dari sekularisme [33], Islam modernis [34], konservatif [35] atau tradisionalis, “fundamentalis” [36], dan Islam reformis.[37]

Semua orang mendambakan kehidupan yang aman, damai dan sejahtera sebagaimana yang dicita-citakan masyarakat Indonesia, yaitu adil dan makmur bagi seluruh lapisan masyarakat. Untuk mencapainya berbagai sistem kenegaraan muncul, seperti demokrasi. Cita-cita suatu masyarakat tidak mungkin dicapai tanpa mengoptimalkan kualitas sumber daya manusia. Hal ini terlaksana apabila semua bidang pembangunan bergerak secara terpadu yang menjadikan manusia sebagai subjek.

Masyarakat madani atau civil society secara umum bisa diartikan sebagai suatu masyarakat atau institusi sosial yang memiliki ciri-ciri antaralain : kemandirian, toleransi, keswadayaan, kerelaan menolong satu sama lain, dan menjunjung tinggi norma dan etika yang disepakati secara bersama-sama. [38]

Sebenarnya masyarakat madani secara substansial sudah ada sejak zaman Aristoteles, yakni suatu masyarakat yang dipimpin dan tunduk pada hukum. Penguasa, rakyat dan siapapun harus taat dan patuh pada hukum yang telah dibuat secara bersama-sama. Bagi Aristoteles, siapapun bisa memimpin negara secara bergiliran dengan syarat ia bisa berbuat adil. Dan keadilan baru bisa ditegakkan apabila setiap tindakan didasarkan pada hukum. Jadi hukum merupakan ikatan moral yang bisa membimbing manusia agar senantiasa

berbuat adil.[39]

Dalam mendefinisikan istilah masyarakat madani ini sangat tergantung pada kondisi sosio-kultural suatu bangsa, karena bagaimanapun konsep masyarakat madani merupakan bangunan istilah yang lahir dari sejarah pergulatan bangsa Eropa Barat. Beberapa pakar di berbagai negara yang menganalisis dan mengkaji fenomena masyarakat madani.[40]

Menurut Zbigniew Rau, masyarakat madani merupakan suatu masyarakat yang berkembang dari sejarah, yang mengandalkan ruang dimana individu dan perkumpulan tempat mereka bergabung,bersaing satu sama lain guna mencapai nilai-nilai yang mereka yakini. Ruang ini timbul di antara hubungan-hubungan yang merupakan hasil komitmen keluarga dan hubungan-hubungan yang menyangkut kewajiban mereka terhadap negara. Lebih tegasnya terdapat ruang hidup dalam kehidupan sehari-hari serta memberikan integritas sistem nilai yang harus ada dalam masyarakat madani, yakni individualisme,

pasar dan pluralisme.

Han Sung-joo, merumuskan bahwa masyarakat madani merupakan sebuahkerangka hukum yang melindungi dan menjamin hak-hak dasarindividu, perkumpulan sukarela yang terbebas dari negara, suaturuang pablik yang mampu mengartikulasikan isu-isu politik, gerakanwarga negara yang mampu mengendalikan diri dan independen,yang secara bersama-sama mengakui norma-norma dan budaya yangmenjadi identitas dan solidaritas yang terbentuk serta pada akhirnyaakan terdapat kelompok inti dalamnya.

Menurut Kim Sunhyuk, masyarakat madani adalah suatu satuan yang terdiri dari kelompok-kelompok yang secara mandiri menghimpun dirinya dan gerakan-gerakan dalam masyarakat yang secara relatif otonom dari negara, yang merupakan satuan-satuan dasar dari reproduksi dan masyarakat politik yang mampumelakukan kegiatan politik dalam ruang publik, guna menyatakan kepedulian mereka dan memajukan kepentingan-kepentingan mereka menurut prinsip-prinsip pluralisme dan pengelolaan yang mandiri.

Dari berbagai batasan di atas, jelas merupakan suatu analisis dari kajian kontekstual terhadap performa yang diinginkan dalam mewujudkan masyarakat madani. Hal tersebut dapat dilihat dari perbedaan penekanan dalam mensyaratkan idealisme masyarakat madani. Akan tetapi secara global dari ketiga batasan di atas dapat ditarik benang emas, bahwa yang dimaksud dengan masyarakat madani adalah sebuah kelompok atau tatanan masyarakat yang berdiri secara mandiri dihadapan penguasa dan negara, memiliki ruang publik dalam mengemukakan pendapat, adanya lembaga-lembaga yang mandiri yangdapat menyalurkan aspirasi dan kepentingan publik.

Menurut Dawam Rahardjo, masyarakat madani identik dengan cita-cita Islam membangun ummah. Masyarakat madani adalah suatu ruang (realm) partisipasi masyarakat melalui perkumpulan-perkumpulan sukarela (voluntary association) melalui organisai-organisasi massa. Masyarakat madani dan negara bergantung mana yang dianggap primerdan mana yang sekunder. Sepertinya menurut pendapat tersebut, hak berserikat merupakan prinsip dalam kehidupan bermasyarakat. Kelompok-kelompok masyarakat tercipta tiada lain untuk terjadi integrasi dalam membangun manyarakat yang berperadaban.[41]  Sementara itu secara filosofis  Y. Yusuf memandang masyarakat madani membangun kehidupan masyarakat beradab yang ditegakkan di atas akhlakul karimah, masyarakat yang adil, terbuka dan demokratisdengan landasan ketaqwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa, Allah SWT. Kualitas manusia bertaqwa secara esensial adalah manusia yang memelihara hubungan dengan Allah SWT (habl min Allah) dan hubungannya dengan sesama manusia (habl min al-nas). [42]

Akhlakul karimah dapat terwujud manakala masing-masing individu dan kelompok masyarakat terjadi saling membelajarkan atau berperan sebagai pembawa ke arah kebenaran yang digariskan oleh Allah. Karena Tuhan tidak akan merubah nasib suatu kaum manakala mereka tidak berbuat ke arah perbaikan yang dikehendakinya.

Masyarakat madani jika dipahami secara sepintas merupakan format kehidupan sosial yang mengedepankan semangat demokratis dan menjunjung tinggi nilai-nilai hak asasi manusia. Dalam masyarakat madani, warga negara bekerjasama membangun ikatan sosial, jaringan

produktif dan solidaritas kemanusiaan yang bersifat non-govermental untuk mencapai kebaikan bersama. Karena itu, tekanan sentral masyarakat madani adalah terletak pada independensinya terhadap negara. Masyarakat madani berkeinginan membangun hubungan yang konsultatifbukan konfrontatif antara warga negara dan negara. Masyarakat

madani juga tidak hanya bersikap dan berperilaku sebagai citizen yang memiliki hak dan kewajiban, melainkan juga harus menghormati, equal right, memperlakukan semua warga negara sebagai pemegang hak kebebasan yang sama. [43]

Disinilah kemudian, masyarakat madani menjadi alternatif pemecahan, dengan pemberdayaan dan penguatan daya kontrol masyarakat terhadap kebijakan-kebijakan pemerintah yang pada akhirnya nanti terwujud kekuatan masyarakat sipil yang mampu merealisasikan dan mampu menegakkan konsep hidup yang demokratis dan menghargai

hak-hak asasi manusia. Masyarakat madani dipercaya sebagai alternatif paling tepat bagi demokratisasi, terutama di negara yang demokrasinyamengalami ganjalan akibat kuatnya hegemoni negara. Tidak hanya itu,masyarakat madani kemudia juga dipakai sebagai cara pandang untuk memahami universalitas fenomena demokrasi di berbagai negara.

Dalam membangun masyarakat madani, pesantren mempunyai potensi yang sangat besar dengan sistem nilai yang dimilikinya dengan upaya memadukan sains, teknologi, seni, dan lingkungan dalam proses membangun individu-individu pada masyarakat.

Melihat perkembangan dunia yang begitu cepat ini bagi banyak kalangan telah memunculkan respon dan spekulasi yang beragam. Tidak terkecuali bagi umat Islam, perubahan-perubahan yang terus muncul belakangan ini di dalamnya menyentuh hampir seluruh aspek kehidupan manusia, aspek ekonomi hingga aspek nilai-nilai moral. Secara sederhana, era global ini dapat di ilustrasikan dengan persaingan sengit dalam bidang

ilmu dan politik, kemajuan sains, dan teknologi, arus informasi yang cepat, dan perubahan sosial yang tinggi. [44]

Sebaliknya, berbagai upaya proteksi yang dilakukan oleh suatu pihak atau negara tertentu, bagi negara-negara yang telah lama melakukan proyek modernisasi, tentu hanya di pandang sebagai penentangan terhadap keterbukaannya. Sebagai implikasinya, wacana mengenai plurarisme akan menjadi pergulatan serius dalam mempertemukan antar peradaban yang yang berkeingianan untuk eksis di dunia. Dalam maknanya yang global, pluralisme di satu sisi mempunyai ‘keterbukaan’ dan di sisi lain bisa jadi muncul sebagai bentuk arena persaingan. Dalam kondisi seperti ini , umat manusia dihadapkan pada realitas, dimana tafsir mengenai ‘persaingan’ sangat erat kaitannya dengan siapa yang kuat dialah yang akan memenangkan arena perdebatan dan sebaliknya, pihak yang lemah akan menanggung kekalahan dan menerima system keterbukaan tersebut.

Oleh karena pengaruh abad industri ini tidak saja menyentuh aspek ekonomi, tetapi juga moral dan agama, islam dengan paradigma yang dimilikinya , yaitu rahmatan lil alamin, bertanggung jawab atas terjadi benturan-benturan peradaban atau implikasi negative dari perkembangan dunia, termasuk juga didalamnya adalah masyarakat pesantren yang menjadi bagian integral dari masyarakat secara kesuluruhan tidak bisa menutup mata dan menjauh dari realitas ini. Dengan doktrin-doktrin kepesantrenan yang dimilikinya, fenomena ini tidak laik diposisikan sebagai bentuk hambatan peradaban, akan tetapi menjadi ujian sekaligus tantangan eksistensi masa depan pesantren di era masyarakat global. Pertanyaannya adalah bagimana bentuk akomodasi pesantren dalam merespon modernitas sebagaimana fenomenanya telah di uraikan di atas, kiranya nilai-nilai apa sajakah yang dianggap akomodatif dan mampu menjawab tantangan zaman. [45]

Pemahaman terhadap ilmu dalam pandangan Islam sangat penting dan menjadi dasar bagi setiap aktivitas manusia. Dalam pandangan Islam, Allah SWT adalah sumber ilmu. Firman pertama memerintahkan manusia untuk ”membaca” dan Tuhan akan mengajarkan ilmu kepada manusia. [46]

Ahmad Sahirul Alim, mengajukan konsep ilmu terpadu yang merupakan produk dari berpikir terpadu, yaitu terpadunya logika penalaran dengan iman kepada wakyu agama, atau terpadunya pikir dan dzikirdari sumber-sumber yang harus dibaca, yaitu Al-Qur’an, As-Sunnah dan Al-Kaun (alam semesta). Dari anaeka ragam hasil ilmu yang dipelajari manusia dapat dibagi menjadi empat goongan besar, yaitu: syariat agama (Islam), sains

(science), teknologi dan engineering, dan seni (art). Skema kegiatan menimba ilmu terpadu digambarkan dalam bentuk skema sebagai berikut. [47]

Syari’at Islam                         Sains                             Teknologi                                  Seni (Art)

(Science)                      & Engineering

Kegiatan pencarian ilmu terpadu diiringi dengan berpedoman pada asas-asas yang terdapat dalam Al-Qur’an. [48]  Asas-asas yang dimaksudkan adalah: (1) asas keterbukaan bagi penalaran [49]; (2) asas tepatnya hukum sunnatullah [50]; (3) asas keseimbangan [51];

(4) asas kemudahan manfaat [52]; (5) asas qadar [53]; dan (6) asas larangan ilmu ghoib[54].

Keterpaduan syariat Islam, sains, teknologi dan seni dengan nilai-nilai pesantren dapat diaktualisasikan dengan upaya serius pesantren dalam mewujudkannya di lingkungan pesantren.

Mengutip Sayid Agil Siraj, ada tiga hal yang belum dikuatkan dalam pesantren. Pertamatamaddunyaitu memajukan pesantren. Banyak pesantren yang dikelola secara sederhana. Manajemen dan administrasinya masih bersifat kekeluargaan dan semuanya ditangani oleh kiainya. Dalam hal ini, pesantren perlu menata ulang dan terus berusaha berbenah diri.

Kedua, tsaqafah, yaitu bagaimana memberikan pencerahan kepada umat Islam agar kreatif-produktif, dengan tidak melupakan orisinalitas ajaran Islam. Salah satu contoh para santri masih setia dengan tradisi kepesantrenannya. Padahal zaman sudah menuntut mereka agar mereka bisa  akrab dengan komputer dan berbagai ilmu pengetahuan serta sains modern lainnya.

Ketiga, hadharah, yaitu membangun budaya. Dalam hal ini, bagaimana budaya kita dapat diwarnai oleh jiwa dan tradisi Islam. Di sini, pesantren diharap mampu mengembangkan dan mempengaruhi tradisi yang bersemangat Islam di tengah hembusan dan pengaruh dahsyat globalisasi dan terus berupaya menyeragamkan budaya melalui produk-produk teknologi. [55]

Manajemen pendidikan pesantren tidak lagi bisa dianggap sebagai manajemen sosialyang bebas dari keharusan pencapaian target dan dikendalikan oleh subyek yang berwawasan “sempit”, misalnya dengan pendekatan kekeluargaan seperti yang penulis jumpai di sebagian pesantren di IndonesiaSesuatu yang dapat dikembangkan mengenai peran madrasah, pesantren bahkan sekolah Islam sekalipun, adalah pada peran strategisnya dalam mengelola pola manajemen strategik yang dapatmenghasilkan rumusan (formulasi) dan pelaksanaan (implementasi) rencana-rencana untuk mencapai sasaran-sasaran perusahaan dalam hal ini disebut dengan Madrasah, Pesantren dan Sekolah Islam.[56]

Sesuatu yang dapat dikembangkan dalam pengelolaan pendidikan Islam ( pesantren, madrasah dan sekolah Islam) adalah pola manajemen srategik keputusan dan tindakan yang menghasilkan perumusan (formulasi) dan pelaksanaan (implementasi) rencana-rencana untuk mencapai sasaran sasaran perusahaan dalam hal ini disebut madrasah.

Dalam konteks pendidikan pesantren, madrasah dan sekolah Islam, apabila penerapan “manajemen instruksional” dirumuskan dalam pola-pola praktis yang kaku oleh pemegang kebijakan, akanmengakumulasikan kerawanan masalah. Seperti proses pembelajaran yang kurang memadai, pengembangan sumber daya manusia (SDM) yang tidak profesional dan lain sebagainya. Membiarkan pola seperti ini berkembang (tanpa ada solusi alternatif menuju perkembangan pesantren, madrasah dan sekolah Islam ke depan) pada saatnya akan mengancam eksistensi pesantren, madrasah dan sekolah Islam itu sendiri. Yang terpenting dari semua ini dalam melaksanakan pengelolaan manajemen madrasah terutama pada perannya yang seluruh potensi yang dimiliki stakeholder dan kemudian secarabersama menyusun program dan rencana pengembangan pesantren, madrasah dan sekolah Islam secara bertahap serta meneguhkan kembali komitmen stakeholder kepada pentingnya pendidikan Islam (madrasah) dalam rangka mempersiapkan subyek didik yang cerdas, bermoral dan memiliki ketrampilan, sehingga dapat memberikan kontribusi pemikiran perkembangan zaman. Sekilas apabila diperhatikan, era globalisasi yang dijumpai masyarakat ternyata lebih memperkuat perhatian orang terhadap pesantren.

Di antara penyebabnya adalah dimungkinkan karena adanya semangat untuk mencari pendidikan alternatif.

Era global seakan mengharuskan seseorang atau bahkan kepada komunitas masyarakat secara luas untuk mencari, menggali dan mengembangkan pendidikan alternatif tersebut dan sekaligus untuk memperbesar peluang keunggulan terutama yang terkait dengan peran pesantren, madrasah dan sekolah Islam yang ada di Indonesia ini.

Secara umum, diperlukan adanya dalam mentranformasi nilai-nilai pesantren dalam sains, teknologi, semi, masyarakat dan lingkungan, yakni: (1) unifikasi; (2) konkretisasi; dan

(3) objektifikasi. Unifikasi dalam arti bahwa Islam sebagai khazahah perlu dikenalkan dengan arus pemikiran, dengan metode dan substansi, yang secara universal dominan dan usaha memperkenalkan Islam ke dalam khazanah kekayaan dunia. Konktretisasi dalam arti bahwa, bahwa nilai-nilai Islam perlu diwujudkan dalam kehidupan nyata; dan objektifikasi dalam arti bahwa umat Islam harus objektif dalam berpikir sehingga Islam benar-benar menjadi rahmatan lil ’alamin dan tdak menjadi rahmat untuk orang Islam saja. [57]

D. PENUTUP

Islam sebagai agama dan pesantren sebagai media dakwah Islam yang tersebar ke seluruh penjuru Nusantara tampil secara kreatif berdialog dengan masyarakat setempat (lokal), berada dalam posisi yang menerima kebudayaan lokal, sekaligus memodifikasinya menjadi budaya baru yang dapat diterima oleh masyarakat setempat dan masih berada di dalam jalur Islam.

Dalam pandangan hidup santri, moralitas tradisi pesantren adalah pijakan yang jelas untuk mempertahankan tradisi kepesantrenan. Jadi dengan demikian moralitas yang terus di kembangkan adalah berdimensi pada agama dengan tetap berada pada tataran tradisi pesantren dan selalu melihat pada perubahan-perubahan yang terjadi terhadap system pendidikan pesantren. Moralitas itulah yang akhirnya membentuk pandangan hidup santri terhadap pesantrennya.

Dengan demikian, maka sistem pesantren di dasarkan atas dialog yang terus-menerus antara kepercayaan terhadap ajaran dasar ajaran agama yang di yakini memiliki nilai kebenaran muthlak dan realitas social yang memiliki nilai kebenaran relatif. Moralitas inilah yang kelak membentuk pandangan hidup santri.

Eksistensi pondok pesantren dalam menyikapi perkembangan zaman, tentunya memiliki komitmen untuk tetap menyuguhkan pola pendidikan yang mampu melahirkan sumber daya manusia (SDM) yang handal, kekuatan otak (berpikir), hati (keimanan), dan tangan (keterampilan), merupakan modal utama untuk membentuk pribadi santri yang mampu mengikuti perkembangan zaman.

Dalam konteks inilah, pendidikan pesantren sebagai media pembebasan umat dihadapkan pada tantangan bagaimana mengembangkan teologi multikultural sehingga di dalam masyarakat pesantren akan tumbuh pemahaman yang inklusif untuk harmonisasi agama-agama, budaya dan etnik di tengah kehidupan masyarakat.

Sebagai sebuah lembaga yang bergerak dalam bidang pendidikan dan sosial keagamaan, pengembangan pesantren harus terus didorong. Karena pengembangan pesantren tidak terlepas dari adanya kendala yang harus dihadapinya. Apalagi belakangan ini, dunia secara dinamis telah menunjukkan perkembangan dan perubahan secara cepat, yang tentunya, baik secara langsung maupun tidak langsung dapat berpengaruh terhadap dunia pesantren

Pembaharuan dan pengembangan pesantren dalam menjawab tuntutan perubahan zaman akan trelisasi apabila: (1) pengelolaannya tidak secara sederhana dan tradsional melainkan dengan pola manajemen strategik yang dapat menghasilkan rumusan (formulasi) dan pelaksanaan (implementasi)rencana-rencana untuk mencapai sasaran-sasaran pesantren; (2) Sistem pendidikan yang dilaksanakan harus melakukan pembenahan internal dan inovasi baru, di samping mempertahankan kurikulum yang berbasis agama, juga melengkapinya dengan kurikulum yang menyentuh dan berkait erat dengan persoalan dan kebutuhan kekinian umat agar tetap mampu meningkatkan mutu pendidikannya.

Keanekaragaman lembaga pendidikan Islam yaitu pesantren merupakan khazanah yang perlu dilestarikan. Setiap pesantren mempunyai ciri khas dan orientasi masing-masing, namun demikian harus ada satu komitmen, yaitu memberi pemahaman Islam

secara kaffah.[58]  Dan hal ini juga harus didorong oleh kemauan dari para pengelola pesantren itu sendiri untuk melakukan pembaharuan pada aspek teknis operasional-nya, bukan pada substansi pendidikan pesantren itu sendiri, dengan tetap memadukan empat komponen, yaitu: segi usia belajar santri, asrama (pondok), terprogram, dan sistem yang ketat.[59]

Pada akhirnya, sistem nilai terpadu yang terkandung dalam Islam dapat ditranformasikan pada setiapsantri di pesantren melalui pendidikan terpadu, sebagai implementasi penerapan dari ilmu terpadu dengan nilai-nilai pesantren. Produk pendidikan yang diharapkan dapat mewujudkan manusia yang tercerahkan secara spiritual, intelektual, moral dan sosial.

DAFTAR PUSTAKA

Abdurrahman Mas’ud, “Sejarah dan Budaya Pesantren” dalam Ismail S.M. (Ed.),

Dinamika Pesantren dan Madrasah (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2002).

Abdurrahman Mas’ud, Intelektual Pesantren, Perhelatan Agama dan Tradisi,

(Yogyakarta: LKiS, 2004).

Abdurahman Wahid, “Pesantren Sebagai Subkutur” dalam M. Dawan Rahardjo (ed),

Pesantren dan Pembaharuan, (Jakarta: LP3ES, 1995).

Abdurahman Wahid, Bunga Rampai Pesantren, (ttp: CU Darma Bakti, tt.)

Abu Hamid, “Sistem Pendidikan Madrasah dan Pesantren di Sulawesi Selatan” dalam

Taufik Abdullah    (Ed), Agama Perubahan Sosial, (Jakarta: Rajawali Pers, 1983),

Ahmad Qodri Abdillah Azizy, “Pengantar: Memberdayakan Pesantren dan Madrasah”,

dalam Ismail SM., Nurul Huda dan Abdil Kholiq (eds), Dinamika Pesantren dan Madrasah. (Yogyakarta: Kerjasama Fakultas Tarbiyah IAIN Walisingo Semarang dengan Pustaka pelajar, 2002),

Ahmad Sahirul Alim. Pengembangan Akademik yang Berwawasan Islam di Fakultas

Teknik UII. dalam Supardi (ed). 1997. Setengah Abad UII. UII Press.

Ali Anwar, Pembaharuan Pendidikan di Pesantren Lirboyo, (Kediri: IAIT Press, 2008),

Amin Haedari. dkk, 2005. Masa Depan Pesantren dalam Tantangan Modernitas, IRD

PRESS, Jakarta,

Amin Haedari dalam Jurnal Pondok Pesantren Mihrab, vol. II No. 1 Juli 2007

Azyumardi, Azra.2000. Menuju Masyarakat Madani (Gagasan, fakta, dan

Tantangan). Remaja Rosdakarya. Bandung

Clifford Greertz, Abangan, Santri, dan Priyayi dalam Masayarakat Jawa.Terjemahan

Aswab Mahasin dari The Religion of Java. (Jakarta: Pustaka Jaya, 1983), h. 268

Din Syamsuddin.1999, Etika Agama dalam membangun Masyarakat Madani, Jakarta :

Gramedia Pustaka Utama.

Hidayat Nataatmadja. Risalah Al-Qiyamah: Posisinya Dalam Strukturasi Pemikiran. Dokumen 08.2010. LASKEP. Yogyakarta, 2010.

Hadimulyo, “Dua Pesantren dua Wajah Budaya” dalam M. Dawan Rahardjo (ed),

Pergulatan Dunia Pesantren Membangun dari Bawah, (Jakarta: LP3ES, 1995).

Jalaluddin, Kapita Selekta Pendidian, (Jakarta: Kalam Mulia, 1990).

John L. Esposito, What Everyone Needs to Know about Islam, Oxford University Press,

2002.

Karel A. Steenbrink, Pesantren, Madrasah, Sekolah, (Jakarta: LP3ES, 1986).

Kafrowi, Pembaharuan Sistem Penddikan Produk Pesantren SebagaiUsaha Peningkatan

Prestasi dan pembinaan Kesatuan Bangsa, (Jakarta: Cemara Indah, 1978)

Kuntowijoyo, Paradigma Islam Interpretasi untuk Aksi,(Bandung: Mizan, 1991).

Kuntowijoyo. Agama, Budaya dan Transformasi Industrial, Ulumul Qur’an, No 2/VI/1995.

Lembaga Research Islam (Pesantren Luhur), Sejarah dan Dakwah Islamiyah Sunan Giri,

(Malang: Panitia Penelitian dan Pemugaran Sunan Giri Gresik, 1975).

Muhammad AS Hikam. 1999. Islam, Demokratisasi, dan Pemberdayaan Civil Society.

Penerbit Erlangga, Jakarta.

Mujamil Qomar, Mukodimah, Pesantren: Dari Transformasi MetodologiMenuju

Demokrasi Institusi,(Jakarta: Erlangga, tt).

Mastuhu, Dinamika Sistem Pendidikan Pesantren, (Jakarta: INIS, 1994).

Martin Van Bruinessen, NU Tradisi Relasi-Relasi Kuasa Pencarian Wacana Baru,

(Yogyakarta, LiKIS, 1994).

Mustafa Syarif, Suparlan S., dan Abd. R. Saleh, Administarsi Pesantren, (Jakarta: PT,

Paryu Barkah, tt).

Maulana, MSM Agus dalam Pearce Robinson,1997, Manajemen

Strategik, Formulasi ,Implementasi dan Pengendalian, Binarupa Aksara:Jakarta

Mochtar Buchori. 1995, , Transformasi Pendidikan, Jakarta: Pustaka Sinar Harapan

Kerjasama IKIP Muhammadiyah Jakarta, 1995.

M. Arifin, M.Ed., Kapita Selekta Pendidikan Umum dan Islam (Jakarta: Bina Aksara,

1991).

M. Dawam Rahardjo.1996. Masyarakat Madani: Agam , Kelas Menengah dan

Perubahan Sosial, Jakarta.:LP3ES, 1999.cet. ke.1.

Nurcholish Madjid. 1997. Bilik-bilik Pesantren, Paramadina, Jakarta.

Nurcholish Madjid. Menuju Masyarakat Madani.Ulumul Qur’an.No 2. VII/1996. h. 51-55

Sudjoko Prasodjo, dkk., Profil Pesantren, Cet. III (Jakarta: LP3ES 1982)

Suparlan Suryapratondo, Kapita Selekta Pondok Pesantren, (Jakarta: PT. Paryu Barkah,

tanpa  tahun)

Tim ICCE UIN Jakarta. 2003. Demokrasi, Masyarakat Madani.

Tim Penyusun Kamus Pusat Pembinaan dabanga Bahasa, Kamus Besar Bahasa Indonesia,

(Jakarta: Balai Pustaka, 1995).

Yusuf, Y.1998. Azas-azas Teologi dan filosofis Masyarakat Madani, Makalah Seminar

Pembanguan Akhlak Bangsa dalam ReformasiMenujuMasyarakat Madani, Padang

:28-29 November 1998.

Zamakhsyari Dhofier, Tradisi Pesantren, Studi tentang Pandangan HidupKiai, (Jakarta:

LP3ES, 1990)

Internet:

http://www.pesantren- ciganjur.org/page.php?lang=id&area= ZGluYW

1pY0RldGls&cid=Mg%3D%3D&idNya=213

http://www.pesantrenonline/artikel/detailartikel?.php=124

http://majalah-alkisah.com/index.php?option=com_content&view=article&id=516:prof-dr-

kh-said-agil-siradj-ketua-umum-pbnu-nu-membangun-peradaban&catid=44:tamu-

kita&Itemid=55

http://www.infodiknas.com/said-aqil-siradj-saatnya-kembali-ke-pesantren/

http://www.ginandjar.com/public/11ReaktualisasiNilaiKepesantrenan.pdf

http://pp-ummulquro.com/media.php?module=hakekat

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Ada “Tangan” Anjing Diborgol di Pasar …

Eddy Mesakh | | 18 December 2014 | 21:39

Konyolnya Dokumen Hoax Kementerian BUMN Ini …

Gatot Swandito | | 18 December 2014 | 09:24

“Share Your Dreams” dengan Paket …

Kompasiana | | 26 November 2014 | 11:24

Warga Hollandia Antusias Menyambut …

Veronika Nainggolan | | 18 December 2014 | 20:40

KOMiK Nobar Film Silat Pendekar Tongkat Emas …

Komik Community | | 17 December 2014 | 11:56



Subscribe and Follow Kompasiana: