Back to Kompasiana
Artikel

Edukasi

Miaelbugis

tak ada seorang pun yang bisa memaksaku untuk berbahagia menurut caranya sendiri...

Anak adalah Amanah Orang Tua

OPINI | 11 February 2013 | 17:44 Dibaca: 441   Komentar: 0   1

Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam yang telah menganugrahkan nikmat terbesar kepada kita baik itu nikmat kesehatan, terlebih lagi nikmat iman, yang masih melekat kepada kita. Salawat serta salam tercurahkan kepada junjungan nabi Muhammad Shallahu ‘alaihi Wa sallam sebagai suritauladan umat Islam, yang telah memasangkan jubah kehormatan untuk kaum wanita dan telah memberi perhatian besar terhadap pendidikan anak dengan penuh kasih sayang, kelembutan dan ketegasan.

Anak adalah tumpuan harapan, sekaligus amanat yang besar. Orang tua dan pendidik, serta lingkungan masyarakat bertanggung jawab, untuk mempersiapkan mereka sebaik-baiknya sehingga menjadi insan yang berhasil di dunia dan akhirat. Agar anak bisa mencapai masa depan yang gemilang; benar akidahnya, baik akhlaknya, kokoh imannya, kuat dan tepat ibadahnya dan terampil tangan untuk bekerja dan memberi manfaat bagi agama serta umat ini, perlu proses pendidikan yang tepat untuk mengantarkannya, kita perlu mengawal dan mengawasi mereka dengan sebaik- baik pengawasan. Tetapi pada saat yang sama, harus kita ingat bahwa kita tidak akan pernah sanggup untuk mengawasi mereka dengan sempurna dan terus menerus ada waktu dimana kita tidak mungkin mengawasi mereka meskipun kita sangat ingin. Ini berarti kita perlu model pendidikan yang memungkinkan anak-anak berkembang tanpa terus-menerus kita dampingi. Kita perlu cara mendidik yang menjadidkan anak senantiasa belajar tanpa harus kita marah-marah setiap hari, lebih- lebih, memerintah dengan cara marah-marah, kerap kali hanya efektif untuk saat itu saja. Agar senantiasa belajar dengan gigih, mereka harus memiliki motivasi yang sangat kuat. Motivasi ini terutama berasal dari diri sendiri (intrinsik). Bukan motivasi yang muncul karena adanya daya tarik dari luar. Semakin kuat motivasi intrinsik seseorang, maka ia akan semakin terpacu untuk bersungguh-sungguh, meskipun banyak tantangan dari luar. Rajin belajar saja tidak cukup, karena rajin belajar hanya membuat ia pandai dalam bidang yang ia pelajari, tetapi bukan membuatnya berakhlak baik, banyaknya pengetahuan tidak berhubungan langsung dengan perubahan perilaku kearah yang lebih baik. Misalnya; tahu bahaya rokok tapi tidak serta merta membuat orang berhenti merokok, kepandaian juga tidak serta merta membuat seseorang memiliki percaya diri yang kuat, citra diri positif dan penerimaan diri yang baik. Betapa banyak orang yang pandai secara akademik, tetapi harus menghabiskan banyak waktunya di rumah sakit jiwa karena jiwanya terganggu, betapa banyak remaja kita yang memiliki kepandaian luar biasa, tetapi percaya dirinya sangat rapuh

Kita bisa menempa anak-anak kita untuk memiliki keunggulan di bidang tertentu, apakah kemampun kognitifnya secara umum, hafalannya, kecakapan fisiknya dalam olahraga, kehalusan tutur katanya atau kepiawaian seninya, jenis- jenis kecakapan itu bisa kita tempa dengan mudah tetapi segala kecakapan itu bukan jaminan kebahagiaan, tidak terkait langsung dengan dengan akhlakul kharimah, apalagi terhadap keselamatan dunia akhirat. Apa yang dalam waktu singkat yang tampak baik, juga belum tentu membawa kebaikan untuk masa-masa berikutnya. Dengan demikian, mengingat berat dan besarnya peran pendidikan agama Islam, maka perlu diformulasikan sedemikian rupa, baik yang menyangkut sarana insani maupun non insani secara komperehensif dan integral. Formulasi yang demikian bisa dilakukan melalui sistem pengajaran agama Islam yang baik dengan didukung oleh sumber daya manusia yang berkualiats, metode pengajaran yang tepat, sarana dan prasarana yang memadai, terlebih lagi dengan sumbangsih dari keluarga dan masyarakat, karena ruang gerak anak banyak dihabiskan dilingkungan keluarga dan masyarakat, sehingga pola pemikiran mereka akan banyak terkonstruk oleh lingkungan. Apalagi dengan pesatnya teknologi sehingga membuka ruang kepada anak untuk mengadopsi budaya luar tanpa sepengetahuan para pendiidik. sehingga butuh tembok yang membentengi mereka di dalam keluarga, bagaimana keluarga muslim memberikan motivasi dalam mendidik anaknya, serta merespon perguruan Islam secara positif, dan menyadari pntingnya kecerdasan spiritual bagi seorang anak, dalam menyeimbangi langkahnya, dan dapat tercipta generasi yang rabbani, dan mengetahui hakikat hidup.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Baduy, Eksotisme Peradaban Ke XV yang Masih …

Ulul Rosyad | | 20 December 2014 | 23:21

Batita Bisa Belajar Bahasa Asing, …

Giri Lumakto | | 21 December 2014 | 00:34

5 Alasan Berhenti Menggunakan Styrofoam, …

Gede Surya Marteda | | 20 December 2014 | 12:17

Be a Role Model : Do it Now and Start From …

Fifin Nurdiyana | | 20 December 2014 | 14:14

Blog Competition Coca-Cola Sampai Akhir …

Kompasiana | | 24 November 2014 | 20:22


TRENDING ARTICLES

Konyol, @estiningsihdwi Bantah Sanggahannya …

Gatot Swandito | 17 jam lalu

Jangan Nodai Sukacita Natal Kami dengan …

Sahroha Lumbanraja | 19 jam lalu

Presiden Jokowi-Wapres JK Atasi Korban …

Musni Umar | 19 jam lalu

Dihina “Kampret”, Pilot Garuda …

Felix | 20 jam lalu

Salahkah Menteri Rini Menjual Gedung BUMN? …

Daniel Setiawan | 21 jam lalu


Subscribe and Follow Kompasiana: