Back to Kompasiana
Artikel

Edukasi

M. Rasyid Nur

M. Rasyid Nur, pendidik yang bertekad "Ingin terus belajar dan belajar terus". Silakan juga diklik: selengkapnya

Ustaz Jamaluddin Nur Menyiram Haji- Hajjah

REP | 11 February 2013 | 04:29 Dibaca: 449   Komentar: 0   0

MESKIPUN inti materi ceramahnya sudah lazim dan sering disampaikan namun penyampaian yang apik, bernas dibumbui lawakan sederhana, mengena sasaran kepada pendengar yang rata-rata berusia setengah baya ke tua, serasa siraman rohani itu tetap hangat dan up to date. Materi ceramah itu tetaplah mendidik dan memberi pembelajaran yang sangat baik dan berguna khususnya buat generasi setengah tua dan juga buat yang masih muda.

Itulah catatan penting saya untuk acara di Balai Pertemuan Haji Karimun, Ahad (10/02/13) semalam. Hadir dalam acara Pertemuan Bulanan Haji itu anggota IPHI (Ikatan Persaudaraan Haji Indonesia) Pulau Karimun yang untuk pertemuan kali ini disejalankan dengan peringatan Maulid Nabi Muhammad 1434. Saya menganggap kegiatan itu mengandung nilai-nilai edukasi untuk para haji-hajjah bahkan kita semua.

Tema yang diambil pengurus IPHI Kabupaten Karimun seperti tertera di spanduk adalah “Dengan Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW 1434 kita Teladani Karakter dan Kepemimpinan Nabi Muhammad SAW dalam Kehidupan Sehari-hari” dengan mendatangkan penceramah, Al-Ustaz Jamaluddin Nur dari Batam untuk mengupasnya. Isi ceramah ustaz itulah yang ingin saya tuliskan sedikiit di sini. Saya merasa kandungan tausiah sebagai siraman rohani untuk para haji-hajjah itu akan berguna juga buat pembaca lainnya.

Sebelum siraman ustaz Jamaluddin tentu saja acaranya dibuka dengan pembacaan ayat-ayat suci Alquran. Tampil mengumandangkan bacaan kitab suci itu adalah Nurul Khairani, qoriah tingkat kabupaten yang pernah menyabet juara ke-3 di MTQ Tingkat Provinsi Kepri. Lalu sambutan-sambutan (dari panitia dan dari Pemerintah Daerah) baru acara pokoknya: ceramah agama seputar peringatan kelahiran Rasulullah, Muhammad SAW. Para haji-hajjah yang hadir sangat khusyuk mendengar ceramah ustaz dari kota Batam itu.

Ustaz Jamaluddin memulai ceramah dengan menyebut promblema dekadensi moral yang menimpa dunia termasuk Indonesia saat ini. “Akibat bobroknya moral manusia, menyebabkan banyaknya masalah yang timbul sebagai ikutannya,” jelasnya membuka ceramah. Dia menguraikan dan memberi contoh dan bukti betapa moral manusia, khususnya di negeri kita, Indonesia sudah begitu rusak. Bukan rakyat biasa yang membuat malu bangsa, malah para pejabat yang menjadi wakil dan pemimpin rakyat sendiri yang merusak bangsa. Dengan menyebut hasil survey, ustaz itu mengatakan bahwa 76 persen anggota dewan di Indonesia bermasalah. Dia tidak pula menyebut pejabat pemerintahan yang terkena kasus hukum walaupun sangat banyak. Saya sendiri tidak tahu, dia memakai data survey yang mana. Yang saya tahu (dari berita) bahwa para wakil rakyat (DPR-DPRD) di Indonesia sangat banyak yang terlibat kasus hukum disamping para pejabat pemerintah (eksekutif) sendiri. Tidak hanya yang pensiun bahkan yang aktif saja tak terhitung yang harus istirahat di penjara.

Kata Ustaz Jamaluddin itu disebabkan oleh tidak diteladaninya karakter Rasulullah. Dalam memimpin, tidak mencontoh kepemimpinan Muhammad. Nah sebagai seorang haji- hajjah, sejatinya tidak perlu khawatir kita akan ikut terjerumus ke limbah kasus itu. Pegang dan amalkan saja perinsip dan filosofi haji yang sarat makna itu. Ketika seorang calon haji-hajjah berpakaian ihram, misalnya diingatkan betul untuk tidak berbuat rafats (berkata-kata kotor), fusuq (menentang Tuhannya) dan jidal (berbantah-bantahan) agar hajinya tidak tercemar. Artinya, seandainya filosofi berihram itu saja diterapkan dalam kehidupan, alangkah akan selamatnya seseorang dan akan menyelamatkan pula orang lain.

Perlambangan pakaian ihram juga menjelaskan kepada si pemakainya betapa manusia di hadapan-Nya tidak ada kuasa apa-apa yang harus disombongkan. Terlepas tanda pangkat di bahu atau di dada dan terlepas pula level jabatan yang disandang di luar berihram. Dengan memahami makna berihram dalam kehidupan, manusia akan cenderung saling memperhatikan, saling menolong karena manusia ternyata sangat kecil di hadapan Tuhan.

Menyinggung karakter Muhammad yang mesti diteladani, ustaz kocak ini mengutip sebuah hadits yang menjelaskan bahwa Rasulullah menjadikan solat sebagai hiburannya. “Seharusnya kita juga menjadikan solat sebagai tempat berhibur membahagiakan diri,” kata ustaz. “Tidak perlu mencari hiburan yang menyesatkan seperti ekstasi atau berjudi,” katanya lagi. Melanjutkan uraiannya perihal solat sebagai hiburan, ustaz menjelaskan bahwa dalam solat setiap kita sesungguhnya akan mendapat banyak sekali kelebihan dan kebahagiaan.

Paling tidak ada delapan hal yang akan kita dapatkan jika kita mau dan mampu menjadikan solat sebagai bagian hiburan kita. ┬áKe delapan keberuntungan itu adalah, 1) mendapat ampunan (ighfirli), 2) mendapat rahmat/ kasih sayang Tuhan (warhamni), 3) mendapat kecukupan atau terhindar dari aib (wajburni), 4) mendapat rezki (warzuqni), 5) dinaikkan derajat (warfa’ni), 6) mendapat hidayat (wahdini), 7) mendapat kebugaran atau kesehatan (wa’afini) dan 8) mendapat kemaafan (wa’fu’anni) dari Allah. Itulah bacaan berupa doa yang pasti kita tuturkan dalam solat.

Dengan uraian dan penjelasan yang gamblang, setiap doa yang diucapkan dalam solat itu mudah dipahami. Dan terasa benar betapa setiap orang solat itu akan mendapat banyak keberkahan. Tentu saja jika solatnya dilakukan dengan baik dan benar. Itulah karakter nabi yang mesti kita pahami dan kita teladani.

Kurang lebih satu jam Ustaz Jamaluddin Nur menyiram para haji dan hajjah dengan tausiah yang menyejukkan. Dia menutup siraman rohaninya dengan membacakan doa sekaligus. Tidak berlebihan pembelajaran keteladanan nabi yang diuraikan Pak Ustaz dapat menambah pemahaman dan pengetahuan para haji-hajjah yang mendengarnya dalam menjalani kehidupan dengan benar.***

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Laporan dari Kupang, Sambutan Sederhana …

Opa Jappy | | 20 December 2014 | 16:29

Pendekar Tongkat Emas, Karya Anak Bangsa …

Murda Sulistya | | 20 December 2014 | 15:53

5 Alasan Berhenti Menggunakan Styrofoam, …

Gede Surya Marteda | | 20 December 2014 | 12:17

Be a Role Model : Do it Now and Start From …

Fifin Nurdiyana | | 20 December 2014 | 14:14

Blog Competition Coca-Cola Sampai Akhir …

Kompasiana | | 24 November 2014 | 20:22


TRENDING ARTICLES

Konyol, @estiningsihdwi Bantah Sanggahannya …

Gatot Swandito | 14 jam lalu

Jangan Nodai Sukacita Natal Kami dengan …

Sahroha Lumbanraja | 16 jam lalu

Presiden Jokowi-Wapres JK Atasi Korban …

Musni Umar | 16 jam lalu

Dihina “Kampret”, Pilot Garuda …

Felix | 17 jam lalu

Salahkah Menteri Rini Menjual Gedung BUMN? …

Daniel Setiawan | 18 jam lalu


Subscribe and Follow Kompasiana: