Back to Kompasiana
Artikel

Edukasi

Alfons Dani

S-1 Jur. Sosiologi UGM (90), S-2 di Kajian Ilmu Religi dan Budaya Sanata Dharma (tdk selengkapnya

Pendidikan Perspektif sebagai Integrasi Pelajaran IPA dan IPS

OPINI | 12 February 2013 | 15:48 Dibaca: 728   Komentar: 0   0

Sebelum ramai dibicarakan secara meluas tentang penggabungan pelajaran IPA dan IPS di media massa beberapa waktu yang lalu, Romo Mangunwijaya sudah melakukannya di SD Eksperimental Mangunan dengan Pelajaran Perspektif sejak tahun 1994. Pelajaran perspektif merupakan sumbangannya untuk mengintegrasikan pelajaran IPA dan IPS.

Kunci dari pembelajaran IPA dan IPS adalah murid belajar mengamati, mengenal, memahami, mencatat dan pada khirnya menyelidiki serta menilai; mengambil sikap terhadap dunia lingkungan hidup mereka. Pembelajaran dimulai dari lingkup terkecil di rumah, sekolah, tetangga, RT, RW, dan selanjutnya ke lingkungan lokal, regional, sampai internasional.

Titik temu pelajaran IPA dan IPS itu pada satu perkara, yakni ajaran dan pendidikan yang mengajak murid untuk: memahami hidup yang ia jumpai di bumi, belajar menempatkan dirinya secara bermakna, dan berinteraksi dengannya. Dengan kata lain anak dibantu untuk belajar mengorientasikan atau mengiblatkan diri agar anak sesuai dengan ukurannya tidak mudah dikacaukan atau diperalat oleh pengaruh lingkungan di luar dirinya dan tetap kokoh dengan orientasi hidupnya sendiri.

Kunci Pelajaran Perspektif adalah orientasi akan ruang dunia fisik yang ia hayati (IPA, Ilmu Bumi, Ekologi) dan ruang dunia sosial (IPS dalam segi-seginya: sosial, politik, budaya-sosial, ekonomi) serta penghayatan akan waktu (sejarah). Apakah alur waktu itu siklis, progresif ataukah osilatif. Anak dapat memahami gejala-gejala alam yang dijumpai anak dalam kehidupannya sehari-hari di bumi serta mengkaitkannya dengan tatanan alami dari gejala-gejala itu. Dalam pembelajaran sejarah unsur-unsur pengetahuan alam juga dielaborasi dan juga mengetahui bagaimana manusia berusaha dalam budayanya mengolah alam untuk melangsungkan kehidupannya. Akan lebih lengkap lagi dengan pembahasan tentang etika, susila, moral, adat, kemasyarakatan, kenegaraan, moral, iman, yang menjadi ranah pelajaran IPS. Sebagai contoh masalah ekologi, lingkungan hidup, punya dasar pelajaran IPA tetapi akan lebih lengkap kalau dimunculkan dimensi pelajaran IPS yang berkaitan dengan sikap terhadap hidup dan alam, serta tanggungjawab terhadap orang lain serta generasi yang akan datang.

Pendidikan Orientasi Diri

Ilmu bumi dan Ilmu Sejarah atau Pengetahuan tentang Bumi dan Pengetahuan tentang Sejarah kedua-duanya menyangkut ruang maupun waktu. Perbedaannya pada letak titik-berat dan metode penyampainnya. Pokok-pokok pendidikan orientasi diri secara logis dapat dibagi dalam empat cabang besar:

· Pengetahuan alam, IPA yang lebih bersifat obyektif alami, namun sering tidak lepas dari sisi subyektivitas, yakni sisi kebudayaan manusia atau bangsa;

· Pengetahuan ruang dunia (ilmu bumi, bagian terpenting dari IPS);

· Pengetahuan sejarah (waktu), yang merupakan bagian dari IPS;

· Penataan hidup bersama/bermasyarakat.

Dari pelajaran IPS misalnya dapat dilihat dengan sudut pandang tertentu, misalnya:

· Sosial Politik: kerukunan, cara pergaulan, dan penataan hidup bersama;

· Sosial Budaya: kebiasaan adat, tata cara pergaulan, bahasa, agama;

· Ekonomi: mata pencaharian, arus barang, pola konsumsi;

· Ekologi: pemeliharaan dan perbaikan lingkungan yang sehat dan untuk semua orang, tumbuhan dan hewan.

Bhinneka yang Eka

Berangkat dari dunia kehidupan dan penghidupan kita sekarang, baik sebagai pribadi perorangan maupun sebagai anggota masyarakat atau warga negara (yang harus semakin menjadi warga dunia), si Anak semakin menjumpai hal-hal banyak yang bermacam-macam beraneka-ragam. Dalam segala bidang, fisik, ekonomi, budaya, dsb namun juga hal-hal pelik seperti suku, agama, ras, kelompok, lapisan atas, tengah, kekayaan, kemiskinan, kemajuan, keterbelakangan, dsb.

Dalam keberagaman dunia dan peristiwa yang melingkupinya anak akan mampu menemukan arah dan puncak pencarian pribadi yang semakin humanis/manusiawi. Di dalam bhinneka tunggal yang semakin rumit itu anak memerlukan dasar orientasi yang memadai. Anak harus belajar menerima dan mengolah kebanyak-ragaman aspek-aspek kehidupan, kebhinekaan (principum contradictionis). Namun sekaligus harus belajar juga unsur-unsur kesamaan serta pemersatunya (principium identitatis). Anak semakin hari semakin menemukan bahwa perbedaan-perbedaan bukan alasan untuk berpisah/berkonflik (divergence) tetapi menjadi sarana untuk bertemu (convergence) dan saling melengkapi (principium complementaristis).

Praksis Pembelajaran Perspektif

Pembelajaran sejarah janganlah hendaknya diberikan sebagai ilmu pengetahuan, tetapi dalam bentuk yang lebih naratif/cerita, seperti cerita seorang pelayar yang pulang dari mancanegara dan banyak berpetualang tentang pengalaman-pengalaman di negeri jauh secara mengasyikkan dan menggairahkan. Seperti seorang nenek bercerita tentang hal-ihwal serta peristiwa-peristiwa sangat menarik dari zaman nun dahulu kala ketika kakek nenek masih anak kecil. Sasaran pokoknya ialah anak diperluas horisonnya/cakrawalanya, digelitik dan dibangunkan rasa ingin tahunya, bergairah untuk lebih mencari dan eksplorasi mengenai peristiwa-peristiwa segala zaman kelak ketika mereka sudah tamat sekolah, dan terpadu dengan ilmu bumi dan ilmu alam.

Di TK, anak-anak ditunjukkan kepada pengalaman hidup mereka tentang realita waktu (pagi, siang, petang, malam, kemarin, esok, dsb). Anak juga mulai mengenali pertumbuhan fisiknya, orang-orang di sekitarnya (bapak, ibu, kakak, adik, kakek, nenek, dsb). Pengetahuan tersebut diperoleh melalui kemampuannya melihat, mendengar, meraba, mencium, makan, minum, berpakaian, berumah, berkawan, bermain, tidur, istirahat, pesta, tumbuh, hidup, juga berkaitan dengan perasaan-perasaan (gembira, sedih, takut, marah, nakal, memaafkan, berniat baik, ingin puas, berkorban, enggan mengalah, dicurangi, dsb).

Di Kelas I dan II, ditambahkan unsur baru yang lebih kompleks: keteraturan, komunikasi, menyelidik, membantu, bekerja, bergerak, transportasi. Kelas III, pada usia ini penting dan menentukan anak mulai belajar tentang masa lampau secara historis. Peristiwa yang berlangsung 100 tahun yang lalu cocok untuk dijadikan tema pembelajaran.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Manajemen Mudik …

Farida Chandra | | 25 July 2014 | 14:25

Quo Vadis Jakarta Baru? …

Shendy Adam | | 25 July 2014 | 14:41

Sensasi Rafting di Kali Oyo Gunungkidul …

Tri Lokon | | 25 July 2014 | 15:27

Keras, Tegas dan Tajam Suara Politik di …

Hendrik Riyanto | | 25 July 2014 | 12:45

Ikuti Lomba Resensi Buku Tanoto Foundation! …

Kompasiana | | 11 July 2014 | 16:12


TRENDING ARTICLES

Legitimasi Pilpres 2014, Gugatan ke MK dan …

Michael Sendow | 7 jam lalu

Risma dan Emil Lebih Amanah Dibanding …

Leviana | 7 jam lalu

Analisis Prosedur Sengketa Hasil Pilpres …

Muhammad Ali Husein | 8 jam lalu

Jokowi: The First Heavy Metal’s …

Severus Trianto | 10 jam lalu

Dilema MK …

Akhmad Yunianto | 13 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: