Back to Kompasiana
Artikel

Edukasi

Yudi Hartanto

Program Manager College of Allied Educators

Esensi Bimbingan dan Konseling di Sekolah

OPINI | 13 February 2013 | 04:20 Dibaca: 1099   Komentar: 2   0

Sesuai peran dan fungsinya, layanan bimbingan konseling di sekolah diberikan oleh guru Bimbingan Konseling, atau biasa disebut guru BK, sebagai layanan kepada peserta didik yang bertujuan mengarahkan anak didik agar mampu mengenali diri sendiri, mengembangkan potensi dirinya, dan mengatasi permasalahan yang dihadapi sehingga mereka dapat mandiri dalam mengambil keputusan dan menjadi pibadi yang bertanggung jawab. Dengan demikian diharapkan guru BK berperan mendukung peningkatan mutu pendidikan di sekolah.

Untuk mencapai tujuan tersebut, Pemerintah telah mengeluarkan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional (Permendiknas) Nomor 27 tahun 2008 tentang Standar Kualifikasi Akademik dan Kompetensi Konselor. Standar ini dibuat agar guru BK betul-betul memiliki kemampuan dalam memberikan layanan yang maksimal kepada peserta didik di sekolah. Sayangnya, kenyataan di lapangan berbeda dengan harapan yang ditumpukkan di pundak guru-guru BK tersebut.

Pada banyak sekolah dari pelbagai jenis, jenjang, dan satuan pendidikan, guru BK dinilai kurang berperan aktif dalam mendukung terwujudnya pendidikan bermutu di sekolah. Boleh jadi ini disebabkan faktor masih minimnya kompetensi guru BK dalam hal penguasaan teori, teknik, dan metode konseling, hingga rendahnya pemahaman tentang esensi bimbingan dan konseling di tiap jenis, jenjang, dan satuan pendidikan.

Dari hasil penelitian tentang Uji Kompetensi Guru SMA dan SMK di DKI Jakarta tahun 2005 yang tidak dipublikasikan, kerja sama Dinas Pendidikan Menengah dan Tinggi DKI Jakarta dengan Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Jakarta, data menunjukkan kompetensi guru Bimbingan & Konseling (Konselor sekolah) menempati posisi paling rendah di antara guru-guru lain (guru mata pelajaran) di sekolah. Adapun rumpun kompetensi yang diujikan mencakup: (1) penguasaan konselor terhadap konsep/materi, kurikulum, metode dan evaluasi bimbingan; (2) kemampuan dalam menyelenggarakan dan mengelola pelaksanaan bantuan atau bimbingan kepada peserta didik, (3) pengembangan potensi diri; (4) sikap dan kepribadian.

Dari 385 responden guru BK di Jakarta, hanya 11 % (dua persen) guru BK yang memiliki keseluruhan rumpun kompetensi baik dan sangat baik. Sedangkan sisanya, 89 % guru BK memiliki kompetensi sedang hingga sangat kurang. Artinya, hampir semua Konselor sekolah di DKI Jakarta tidak memiliki kompetensi yang memadai untuk mendukung terwujudnya pendidikan bermutu!

Jumlah guru BK di sekolah juga menjadi persoalan serius yang menyebabkan tidak maksimalnya peran guru BK dalam mendukung siswa didik mengikuti kegiatan belajar yang bermanfaat bagi pengembangan dirinya. Asosiasi Bimbingan dan Konseling Indonesia (ABKIN) mengakui dunia pendidikan Indonesia kekurangan Konselor sekolah. Saat ini jumlah guru BK di Indonesia sekitar 33.000 orang. Padahal untuk melayani siswa didik pada sekolah tingkat menengah pertama dan menengah atas yang berjumlah sekitar 18,8 juta siswa, dibutuhkan setidaknya 125.572 guru BK. Perbandingan idealnya, setiap 150 siswa terdapat satu guru BK mendampingi. Tapi saat ini satu Konselor sekolah harus melayani lebih dari 500 siswa! Hal ini tentu saja membuat peran dan fungsi guru BK menjadi tidak maksimal mencapai tujuan yang diharapkan.

1. Untuk itu pemahaman setiap guru BK dan pimpinan sekolah akan pentingnya peran dan fungsi Konselor sekolah perlu dibangun dalam mendukung peningkatan mutu pendidikan di sekolah. Dengan demikian diharapkan satuan pendidikan atau sekolah mau mengupayakan peningkatan kompetensi dan profesionalisme guru BK. Guru BK juga perlu diperlengkapi dengan pengetahuan dan keterampilan dalam hal kepekaan, empati, dan toleransi keberagaman (diversity) siswa didik di sekolah. Dan akhirnya semua pihak bekerjasama untuk turut mendukung peningkatan kompetensi dan jumlah guru BK di sekolah-sekolah agar dapat memberikan pelayanan bimbingan dan konseling yang optimal kepada siswa didik.


3.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Andai Masyarakat Tangerang Selatan Sadar, …

Ngesti Setyo Moerni | | 28 November 2014 | 17:27

Dari (Catatan Harian) Kompasiana ke (Sudut …

Lizz | | 28 November 2014 | 16:22

Kampret Jebul: Rumah …

Kampretos | | 28 November 2014 | 15:50

Saran untuk Ahok Cegah Petaka Akibat 100 …

Tjiptadinata Effend... | | 28 November 2014 | 15:30

Tulis Ceritamu Membangun Percaya Diri Lewat …

Kompasiana | | 24 November 2014 | 14:07


TRENDING ARTICLES

Kongkalikong Dokter dengan Perusahaan Obat …

Wahyu Triasmara | 4 jam lalu

Hampir Saja Saya Termakan Rayuan Banci …

Muslihudin El Hasan... | 6 jam lalu

Lagu Anak Kita yang Merupakan Plagiat …

Gustaaf Kusno | 8 jam lalu

Edisi Khusus: Kompas 100 Halaman dalam …

Tubagus Encep | 9 jam lalu

Ahok Narsis di Puncak Keseruan Acara …

Seneng Utami | 10 jam lalu


HIGHLIGHT

Cinta Sejati …

Adhikara Poesoro | 8 jam lalu

Mengenal Air Asam Tambang …

Denny | 8 jam lalu

Afta dan Uji Kompetensi Apoteker …

Fauziah Amin | 8 jam lalu

Demo BBM vs Berpikir Kreatif …

Rumahkayu | 8 jam lalu

Revolusi dari Desa (Paradigma Baru …

Ikhlash Hasan | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: