Back to Kompasiana
Artikel

Edukasi

Darul Azis

Mahasiswa Administrasi Negara di Sekolah Tinggi Ilmu Administrasi "AAN" Yogyakarta. Penyair, penikmat sejarah dan budaya. selengkapnya

Kesalahan Antara “Kita” dan “Kami”

REP | 16 February 2013 | 10:25 Dibaca: 254   Komentar: 0   0

Teman-teman mungkin sudah tak jarang lagi mendengar penggunaann kata “Kita” saat mereka membicarakan dirinya dengan orang lain. Padahal, dalam konteks pembicaraann itu kita bukanlah menjadi bagian dari pembicaraan itu ( kita tidak ikut serta). Misalnya dalam dialog singkat ini :

A = Kalian lagi dimana ? (si penanya sudah tahu perihal keberadaan mereka lebih dari satu (jamak)

B = Kita lagi di Mall nih! (padahal si penanya tidak sedang bersama orang yang ditanya, yakni tidak sedang bersama di Mall)

Kalimat-kalimat serupa pasti sering kita dengar dalam kehidupan sehari-hari, bahkan ironisnya para artis, seniman dan pelajar/mahasiswa pun menjadi pemeran utama dalam penggunaan kata-kata itu. Padahal, figur-figur tersebut akan menjadi bagian dari panutan masyarakat. Nah, kalau mereka saja tak memperhatikan pola tata bahasa yang digunakan, bagaimana dengan masyarakat kita? tentu akan jauh lebih ironis. Dan hal ini perlu adanya pembenahan-pembenahan agar kelak anak cucu kita tak mewarisi kesalahan-kesalahan yang diperbuat pada masa sekarang ini, dan tak ada lagi pembenahan dimasa depan.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, “Kita” memiliki pengertian Pronomina persona pertama jamak, yang berbicara dengan orang lain termasuk yang diajak bicara. Hal ini dapat kita analogikan bahwa antara pembicara dengan yang diajak bicara memanglah bersama, yakni orang yang diajak berbicara berada dalam keadaan yang sama. Sedangkan kata “Kami” memiliki pengertian ” yang berbicara bersama dengan orang lain, (tidak termasuk yang diajak bicara). Penggunaan kami biasanya digunakan sebagai salah satu pengucapan/penyampaian infromasi yang mewakili kelompok. Dalam konteks ini berarti pembicara dan kelompok yang diwakilinya memang berada dalam keadaan yang sama, sehingga orang yang diajak berbicara adalah penerima informasi yang disampaikan oleh pembicara yang mewakili kelompoknya tadi.

Saya sendiri terkadang merasa risih tatkala mendengar pengucapan yang salah kaprah itu, dan yang membuat saya semakin sedih adalah beberapa kali saya mengingatkan dan menjelaskan kepada mereka, hampir semuanya tidak mengerti dengan penggunaan kata tersebut, hampir 90 % diantara mereka nyaris tidak bisa membedakan peruntukan kata “Kita” dan “Kami” tersebut.

Dari fenomena tersebut, jelaslah bahwa sangat minim sekali perhatian kita terhadap penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar. Tentu hal ini akan sangat mengganggu, terutama dalam hal tulis menulis misalnya. Bagaimanapun juga seseorang akan dihadapkan dengan dunia tulis menulis dan komunikasi yang baik dan benar, jika pemilihan kata-kata tidak diperhatikan bisa saja yang terjadi justru salah pengertian/pemahaman ( Miss Understanding).  Jika hal tersebut dibiarkan, saya khawatir, kesalahan dalam penggunaan kata dan bahasa akan semakin merebak lebih luas, akibatnya bangsa ini akan kehilangan identitas kebahasaan yang baik dan benar. Pertanyaan kritis yang perlu diajukan adalah, kenapa hal tersebut bisa terjadi dengan begitu bebasnya, tidak adakah kontrol dari berbagai pihak ? Atau selama ini kita hanya disibukkan dengan mempelajari tata bahasa bangsa lain, sehingga bahasa sendiri menjadi terlupakan atau sengaja dilupakan?.

Ketertarikan masyarakat untuk mempelajari Bahasa Indonesia yang baik dan benar patut kita perhatikan, pasalnya saat ini bahasa asing jauh lebih menarik untuk dipelajari dan dikuasai. Kalau dalam satu generasi hal itu terus menerus berlangsung, bisa jadi dunia Sastra negeri ini akan memudar dan miskin peminat.
Padahal, ruang tersebutlah yang menjadi tumpuan Bahasa Indonesia berharap. Tak terbayangkan betapa sedihnya para Pemuda 1928 jika mengetahui keadaan sekarang ini, yakni banyak masyarakat/pelajar/mahasiswa/artis tidak lagi memperhatikan penggunaan tata bahasa yang baik dan benar. Bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan diharapkan dapat menjadi “penyama” antara kita yang berbeda ini. Jika pemilihan kata sampai dengan penggunaannya saja tidak diperhatikan, bisa jadi kita akan pecah karenanya.

Mari diluruskan.!

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Nangkring Bareng Pertamina …

Maria Margaretha | | 29 August 2014 | 23:37

BBM Naik Kenapa Takut? …

Mike Reyssent | | 30 August 2014 | 00:43

5 Polusi Rumah yang berbahaya selain Rokok …

Hendrik Riyanto | | 30 August 2014 | 04:53

Jokowi-JK Berhentilah Berharap Tambahan …

Win Winarto | | 29 August 2014 | 22:16

Blog Competition Smartfren: Andromax yang …

Kompasiana | | 18 August 2014 | 20:22


TRENDING ARTICLES

Jogja Terhina, France Tidak Perlu Minta Maaf …

Nasakti On | 13 jam lalu

Rising Star Indonesia, ‘Ternoda’ …

Samandayu | 13 jam lalu

Yogya, Kamar Kos, dan Segarnya Es Krim Rujak …

Wahyuni Susilowati | 18 jam lalu

Doa untuk Mas Vik …

Aiman Witjaksono | 20 jam lalu

Kejadian di SPBU yang Bikin Emosi… …

Ryan M. | 24 jam lalu


HIGHLIGHT

Lukisan Kabut …

Gunawan Wibisono | 7 jam lalu

Sepenggal Kisah dari Laut …

Adi Arwan Alimin | 8 jam lalu

Dian Sastrowardoyo dan Mantan ART Saya …

Ariyani Na | 8 jam lalu

Media Baru: Jurnalistik Online …

Adi Arwan Alimin | 8 jam lalu

Hotel Beraroma Jamu Tradisional …

Teberatu | 9 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: