Back to Kompasiana
Artikel

Edukasi

Hukum Memaksa Anak untuk Menikah

REP | 19 February 2013 | 19:11 Dibaca: 606   Komentar: 0   1

Berbakti kepada orang tua adalah kewajiban seorang anak. Tatkala orang tua memerintahkan anaknya untuk melakukan perbuatan yang makruf, maka wajib bagi si anak untuk menaatinya. Namun, jika orang tua memaksanya untuk menikah dengan pria yang tidak ia cintai, apakah harus menaatinya juga?

السؤال: يا شيخ ما حكم من يغصب ابنته على الزواج من شخص لا تريده وماذا على البنت أن تفعل في هذه الحال؟ وجزاكم الله خير الجزاء ورزقنا وإياكم العلم النافع
الجواب: بسم الله والحمدلله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن تبه هداه وبعد ، هذا الأمر يختلف، أولاً ،ماذا تريد البنت؟،وما المواصفات التي لأجلها رفضت هذا الزوج الذي اقترحه الأب؟ ما اختيارات الأب؟ وهل الأب هو المستقيم والبنت ليست مستقيمة؟ فهذه ينبغي أن تتقي الله عز وجل ، فإن كان الوالد يبحث لها عن زوج فيه دين ، فهذا ينبغي طاعته؛لأنه أدرى وأعرف بالمصلحة وأدرى بالصدق في التدين وفي الأخلاق وغيرها من المرأة ، هذا هو الأصل ،أما إن كانت تعرف يقيناً أن أباها قد اختار لها ابن العشيرة أو ابن العم أو الرحم بغض النظر عن دينه وخلقه وتعرف أن هذا الزوج سيء الخلق ،سيء الدين، فلها أن ترفض ، والله أعلم .

Pertanyaan:
wahai Syaikh, apa hukum orang yang memaksa putrinya untuk menikah dengan seseorang yang tidak ia inginkan? Apa yang harus dilakukan si putri dalam keadaan seperti ini? semoga Allah membalas Anda dengan sebaik-baiknya dan menganugerahkan ilmu yang bermanfaat kepada kami dan juga Anda.

Jawaban:

Dengan nama Allah dan segala puji bagi Allah. Semoga shalawat serta salam tercurah atas Rasulullah, keluarganya dan para sahabatnya serta orang yang mengikuti petunjuknya. Wa ba’du:

Perkara ini berbeda antara satu orang dengan yang lain.
Pertama, apa yang diinginkan oleh si putri? Kriteria apa yang membuatnya menolak pria yang telah diusulkan oleh ayahnya? Dan apa pilihan si ayah? Apakah si ayah orang yang lurus dalam beragama sedangkan si putri tidak?

Hendaknya ia bertakwa kepada Allah عز وجل. Jika memang orang tua mencarikan untuknya suami yang baik agamanya, hendaknya ia menaatinya. Sebab, orang tua itu lebih mengerti dan lebih tahu kemaslahatan serta lebih mengetahui kejujuran dalam beragama, akhlak dan selainnya dibandingkan dirinya. Ini asalnya.

Akan tetapi jika seorang wanita mengetahui dengan yakin bahwa ayahnya memilihkan untuknya seorang pria yang masih keluarga, sepupu atau orang yang masih kerabat, tanpa melihat agama dan akhlaknya, sedangkan ia (wanita)tahu bahwa pria tersebut buruk akhlak dan agamanya, maka ia boleh untuk menolaknya.

Wallahu a’lam

Sumber: http://www.mandakar.com/Article.aspx?id=1414

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Ada “Tangan” Anjing Diborgol di Pasar …

Eddy Mesakh | | 18 December 2014 | 21:39

Konyolnya Dokumen Hoax Kementerian BUMN Ini …

Gatot Swandito | | 18 December 2014 | 09:24

Suka Duka Kerja di Pakistan …

Gaganawati | | 18 December 2014 | 23:19

Warga Hollandia Antusias Menyambut …

Veronika Nainggolan | | 18 December 2014 | 20:40

[UPDATE] Nangkring Parenting bersama Mentari …

Kompasiana | | 10 December 2014 | 17:59


TRENDING ARTICLES

Seorang Manager Menjadi Korban Penipu …

Fey Down | 6 jam lalu

Luar Biasa, Kasus Lapindo Selesai di Tangan …

Hanny Setiawan | 6 jam lalu

PSSI dan Kontradiksi Prestasi …

Binball Senior | 7 jam lalu

Mungkinkah Duet “Jokowi-Modi” …

Jimmy Haryanto | 9 jam lalu

Beli Indosat, Jual Gedung BUMN, Lalu? …

Erwin Alwazir | 13 jam lalu


Subscribe and Follow Kompasiana: