Back to Kompasiana
Artikel

Edukasi

Amin Enyong

Sering dikatai remason, mamarika, wahyudi, si onis, agen kontrasepsi, dll Twitter : @AFamin_ Blog : http://adigunaku.blogspot.com selengkapnya

Astha Brata, Kriteria Pemimpin dalam Budaya Jawa

OPINI | 20 February 2013 | 19:31 Dibaca: 953   Komentar: 0   1

2014 bangsa Indoensia akan kembali memilih presiden dan wakilnya. Sejak setahun sebelum tibanya masa itu, partai politik sudah mulai melakukan manuver untuk menarik suara masyarakat. Ada yang dilakukan dengan pencitraan diri atau bahkan merusak citra lawan. Dana juga disiapkan, baik dengan dana yang halal ataupun haram. Semuanya demi satu tujuan, yaitu memimpin negeri ini untuk memajukan negeri ini (katanya).

Bagi yang bingung kiranya sosok pemimpin seperti apa yang paling ideal menjadi pemimpin negeri, kiranya anda bisa melihat pada istilah Astha Brata. Astha Brata merupakan istilah dalam ilmu Jawa yang merujuk pada fungsi atau kriteria seorang pemimpin. Astha berasal dari bahasa sansekerta yang aslinya delapan, brata juga dari bahasa sansekerta prasetya atau mampu setia atau menjaga amanah. Jadi Astha Brata yaitu 8 kriteria pemimpin yang mampu menjaga amanah. Berikut isi dari Astha Brata :

1. Komandan. Kriteria pemimpin pertama mampu menjadi komandan atau pemimpin yang mampu memimpin jajarannya dan masyarakatnya untuk membangun bersama dan menciptakan kesejahteraan untuk kepentingan bersama.

2. Pelopor. Pemimpin harus punya kreativitas dan harus memiliki inisiatif dalam membuat kebijakan yang bermanfaat untuk kemajuan bersama.

3. Bapak. Seorang pemimpin haruslah bijaksana dan mampu mengayomi, tidak hanya mengayomi masyarakat, tapi juga mengayomi jajaran dibawahnya agar bisa bekerja bersama-sama.

4. Ibu. Seorang pemimpin harus punya sifat seperti ibu yang mampu menampung aspirasi atau curhatan anak-anaknya atau masyarakatnya. Pemimpin juga harus bisa memahami perasaan masyarakat dengan kasih sayang bukan dengan kekerasan dan kengototan.

5. Guru. Pemimpin harus mampu mendidik, mengajar, dan melatih jajarannya untuk bersama-sama membangun kesejahteraan, lebih baik lagi seorang pemimpin mampu memberikan suri tauladan yang baik, tidak hanya baik dari perkataanya saja, tapi juga perbuatan dan tindakannya.

6. Pandita. Pandita atau pendeta merupakan pemimpin agama hindu yang dulu banyak dianut masyarakat Jawa sebelum masuknya islam. Pemimpin sebagai pandita maksudnya seorang pemimpin harus mampu menjadi imam bagi jajaran dan masyarakatnya.

7. Sahabat. Pemimpin tidak boleh terlalu menjaga jarak dengan masyarakat dan jajarannya. Pemimpin jangan terlalu mengistilahkan dirinya sebagai atasan dan yang lainnya adalah bawahannya atau anak buahnya, akan lebih baik menganggap semuanya adalah sahabatnya. Dengan begitu rasa dekat dan saling memiliki akan selalu muncul.

8. Satria. Seorang pemimpin harus mampu menjadi kesatria bagi masyarakatnya. Pemimpin harus mampu melindungi dan mau berkorban demi kesejahteraan bersama, bukannya malah memperkaya diri dengan korupsi dan membiarkan masyaraknta terlantar kelaparan tak punya rumah dan tak bisa bersekolah.

Melihat kriteria diatas dan melihat stok politikus negeri ini saat ini memanglah susah (kalau tidak mau dikatakan tidak mungkin). Jikalau mungkin tidak ada yang benar-benar memiliki kriteria Astha Brata diatas, paling tidak semoga ada yang mendekati, sehingga diharapkan akan membawa negeri ini kejalan kemakmuran dan kesejahteraan yang sangat diidam-idamkan oleh bangsa ini semenjak pendeklarasian kemerdekaan. Semoga Allah memberikan Indonesia pemimpin tersebut. (Amin)

Sumber

Bratawidjaja, T. Wijaya. 1997. Mengungkap dan mengenal Budaya Jawa. Jakarta : Pradnya Pramita

Endah, Kuswa. 2008. Diktat Etika Jawa. FBS UNY

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Kompetisi Tiga Ruang di Pantai-Pantai Bantul …

Ratih Purnamasari | | 18 September 2014 | 13:25

Angkot Plat Kuning dan Plat Hitam Mobil …

Akbarmuhibar | | 18 September 2014 | 19:26

Koperasi Modal PNPM Bangkrut, Salah Siapa? …

Muhammad | | 18 September 2014 | 16:09

Tips Hemat Cermat selama Tinggal di Makkah …

Sayeed Kalba Kaif | | 18 September 2014 | 16:10

Nangkring dan Test Ride Bareng Yamaha R25, …

Kompasiana | | 09 September 2014 | 06:48


TRENDING ARTICLES

TKI “Pejantan” itu Jadi Korban Nafsu …

Adjat R. Sudradjat | 11 jam lalu

Penumpang Mengusir Petinggi PPP Dari Pesawat …

Jonatan Sara | 12 jam lalu

Modus Baru Curanmor. Waspadalah! …

Andi Firmansyah | 13 jam lalu

Bogor dan Bandung Bermasalah, Jakarta …

Felix | 13 jam lalu

Kejahatan di Jalan Raya, Picu Trauma …

Muhammad | 16 jam lalu


HIGHLIGHT

Pangeran Samudera …

Rahab Ganendra | 7 jam lalu

Menumbuhkan Budaya Malu antara Bersubsidi …

Van_nder | 8 jam lalu

“Ulah Meuli Munding …

Asep Rizal | 8 jam lalu

Dari Cerita Rakyat Ikan Tapa Malenggang, …

Muhammad Aris | 8 jam lalu

Awalnya Peduli, Lama-lama Mencuri …

Dina Agustina | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: