Back to Kompasiana
Artikel

Edukasi

Bagaimana Peluang Siswa SMK di SNMPTN 2013?

OPINI | 20 February 2013 | 14:15 Dibaca: 1150   Komentar: 1   0

Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi (SNMPTN) telah dimulai, diperkirakan hampir 1,5 juta calon mahasiswa akan ambil bagian dalam perburuan tiket SNMPTN 2013. Dalam hal ini, setiap peserta pastinya akan menemui beberapa pertanyaan didalam dirinya. Kelak saya akan memilih jurusan apa? Bagaimana peluang nilai saya di jurusan itu? Apa prospek kerjanya? Kalau saya tidak terpilih dipilihan pertama apakah mungkin bisa diterima dipilihan kedua? dan masih banyak pertanyaan didalam diri kita mengenai SNMPTN.

Jujur, saya pun merasakan hal yang sama dengan teman-teman yang lainnya. Saya merasa sulit untuk menentukan pilihan dalam SNMPTN karena saya hanya siswa SMK. Saya yang bersekolah di salah satu Sekolah Menengah Kejuruan Negeri di Jakarta dengan Program belajar 4 tahun harus menunggu 1 tahun lebih lama untuk merasakan bagaimana proses penyeleksian SNMPTN ini berlangsung. Tahun kemarin, disaat teman-teman saya yang bersekolah di sekolah dengan program belajar 3 tahun sedang galau memilih jurusan dan universitas, saya masih bisa bersantai-santai ria. Tetapi saat ini teman-teman saya sudah berhasil mengenakan jaket kuning, biru tua atau cream, barulah saya merasakan suatu proses yang telah berhasil teman-teman saya lewati. Yah, SNMPTN.

Semua siswa pasti berharap untuk bisa meraih tiket PTN dalam SNMPTN yang hanya menyertakan nilai raport dan prestasi-prestasi lain baik akademis maupun non akademis. Kemudian kita lihat, jatah tiket PTN hanya untuk 150.000 siswa. Secara matematis, peluang siswa untuk masuk ke PTN adalah menjadi yang terbaik dari setiap 10 siswa. Perhitungan itu adalah jika semua siswa memiliki tingkat minat yang rata dalam setiap prodi di universitas yang tersedia. Tapi bayangkan, jika anda ingin masuk ke jurusan favorit. Sebut saja Kedokteran-UI, Hubungan Interasional-UI, STEI-ITB, Kedokteran-UGM, dan masih banyak lagi prodi favorit. Butuh perencaan yang matang untuk masuk ke jurusan favorit tersebut.

Dan sekarang saya ingin menguraikan perasaan yang mungkin dirasakan oleh kebanyakan teman-teman saya di SMK. Bagi kami, SNMPTN dirasakan sangat tidak memihak dengan siswa SMK. Pasalnya PTN itu dihuni oleh kebanyakan siswa SMA. lalu bagaimana dengan SMK. SMK memang sekolah yang mengedepankan keahlian sehingga ketika siswa telah berhasil menempuh proses belajar di sekolah, siswa diharapkan melanjutkan karier nya ke dunia industri. Namun bukan berarti semua lulusan siswa SMK berpikiran untuk masuk ke dunia industri setelah lulus. Disini masih ada kami, siswa SMK yang ingin melanjutkan pendidikan sampai perguruan tinggi. Kami ingin menjadi manusia Indonesia yang berpindidikan. Katanya ingin membangun Indonesia, tetapi ketika manusianya ingin membangun, justru pemerintahnya sendiri yang mengenyampingkan siswa yang tergerak untuk membangun Indonesia. Bayangkan saja, Apakah semua lulusan SMK mau menjadi bawahan selamanya tanpa ada peningkatan jenjang karier di perusahaan. Siswa yang langsung terjun ke dunia industri biasanya akan malas untuk melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi. Hanya sebagian kecil yang tergerak hatinya untuk melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi. Ada peribahasa mengatakan, “belajar di waktu muda bagaikan mengukir diatas batu sedangkan belajar diwaktu tua bagai mengukir diatas air: Disini masih ada kami siswa SMK, yang merasa masa muda adalah waktu yang tepat untuk belajar, berkreasi dan berinteraksi dengan baik. Dan karena itu pula, kami ingin mengenyam pendidikan perguruan tinggi. Bila dibandingkan dengan PTS, PTN jauh lebih dipilih oleh siswa Indonesia. Karena biayanya yang lebih murah, juga terdapat banyak beasiswa didalamnya. Apalagi bila kita berhasil menjadi bagian dari PTN favorit.

Dan kini ketika pendaftaran SNMPTN dimulai, semua siswa berbondong-bondong untuk mendaftar, termasuk siswa SMK. dibawah ini adalah poin penilaian dari SNMPTN:

1. Nilai Raport

2. Nilai per mata pelajaran

3. Konsistensi

4. Prestasi di luar kelas.

5. Akreditasi/Prestasi Sekolah

6. Prioritas pilihan jurusan

7. Jumlah Alumni di PTN yang didaftarin

8. IPK/Prestasi Alumni

9. Pengembangan SDM Daerah

10. Aturan Khusus tiap PTN

Namun dari poin-poin penilaian diatas, saya pikir ada beberapa poin yang tidak memihak kepada siswa SMK. sebut saja poin:

1. Nilai raport.

Nilai raport anak SMK pastinya kalah jauh dibandingkan dengan anak-anak SMA, dilihat dari KKM saja sudah jelas perbedaannya. lalu mau bilang apalagi?

2. Nilai per mata pelajaran.

Mata pelajaran SMK berbeda dengan SMA. SMK lebih mengedepankan pelajaran prodktif sedangkan untuk teori normatif & adaftif tidak. sehingga nilai per mata pelajaran teori SMK pasti kalah jauh dibandingkan dengan anak SMA, sebut saja matematika, bahasa Indonesia, bahasa inggris, dll. Ditambah lagi teori produktif tidak dimasukkan kedalam poin penilaian. Kekuatan anak SMK yang ada di teori produktif pun hilang. karena SNMPTN tidak menilai nilai mata pelajaran produktif.

7. Jumlah alumni.

Bagaimana jumlah alumni nya mau banyak, wong kesempatan untuk masuk ke Univ nya aja kecil.

8. IPK/Prestasi alumni.

ini sangat miris, bagaimana nasib siswa SMK yang tidak punya alumni di universitas pilihannya.

Ini sangat tidak adil, SNMPTN yang memiliki jumlah tiket paling besar 50% dan khusus lulusan tahun 2013 diisi oleh kebanyakan siswa SMA. Lalu bagi kebanyakan siswa SMK yang ingin lulus ke universitas negeri apalagi yang favorit harus berjuang di SBMPTN dan Jalur mandiri yang jumlah tiketnya masing-masing hanya 30% dan 20%. Mereka harus bersaing dengan siswa yang belum lulus ujian masuk PTN dari tahun 2011.

Bapak/Ibu yang ada di pemerintahan tau motto SMK?

SMK BISA!!! lalu maksudnya bapak/ibu mengenyampingkan kami dalam SNMPTN itu apa?

di media massa yang beredar akhir-akhir ini, kalian disuguhkan dengan berita siswa SMK yang berhasil membuat mobil, pesawat, laptop, proyektor, robot pencuci air, dan masih banyak lagi karya siswa SMK. Bukan hanya lomba di bidang kejuruan saja, siswa SMK juga banyak menorehkan prestasi dibidang-bidang lain seperti, kewirausahaan, bisnis, debat, olahraga, dll. Itu adalah sebentuk teriakan semangat siswa SMK yang ingin merubah Indonesia menjadi bangsa yang mandiri. Saya rasa pernyataan ini sudah cukup meyakinkan potensi anak-anak SMK. Lalu apa anda masih ragu terhadap siswa SMK?

dan bagaimana peluang kami di SNMPTN ini? Apakah kami tetap di anak tirikan atau mendapatkan perhatian yang sama dengan siswa SMA pada umumnya dalam proses penyeleksian?

Baiklah, bagaimana jika pola SNMPTN kita rubah dengan ujian tulis saja? sehingga tidak ada lagi jalur undangan. jadi SNMPTN 100% melalui ujian tulis. lalu siapapun berhak ikut baik lulusan tahun sekarang maupun tahun sebelumnya. Saya rasa ini akan sangat adil bagi kami. Jika di negeri ini masih belum ada keadilan, maka apa arti dari sila ke-5 yang berbunyi, “keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia”. ?

Alfath Bagus Panuntun El Nur Indonesia

Siswa Teknik Elektronika Industri

SMKN 26 JAKARTA (STM PEMBANGUNAN JAKARTA)

Twitter: @alfathbpei

Facebook: Alfath Bagus Panuntun Elnur

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Belajar Tertib Anak-anak Jepang di Taman …

Weedy Koshino | | 01 September 2014 | 14:02

Karet Loom Bands Picu Kanker …

Isti | | 01 September 2014 | 20:48

Manajemen Pergerakan dan Arah Perjuangan …

Jamesallan Rarung | | 01 September 2014 | 22:12

Florence …

Rahab Ganendra | | 01 September 2014 | 19:09

9 Kompasianer Bicara Pramuka …

Kompasiana | | 01 September 2014 | 13:48


TRENDING ARTICLES

Ratu Atut [Hanya] Divonis 4 Tahun Penjara! …

Mike Reyssent | 7 jam lalu

Pak Jokowi, Saya Jenuh Bernegara …

Felix | 13 jam lalu

Dilarang Parkir Kecuali Petugas …

Teberatu | 14 jam lalu

Ini Kata Rieke Dyah Pitaloka …

Uci Junaedi | 15 jam lalu

Ini Pilihan Jokowi tentang Harga BBM …

Be. Setiawan | 15 jam lalu


HIGHLIGHT

Koalisi Merah Putih di Ujung Tanduk …

Galaxi2014 | 8 jam lalu

Pemuda Solusi Terbaik Bangsa …

Novri Naldi | 8 jam lalu

Rasa Yang Dipergilirkan …

Den Bhaghoese | 9 jam lalu

Kisah Rhoma Irama “Penjaga …

Asep Rizal | 9 jam lalu

Marah, Makian, Latah. Maaf Hanya Ekspresi! …

Sugiyanto Hadi | 9 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: