Back to Kompasiana
Artikel

Edukasi

Ramdan Hidayat

Pendidikan untuk Semua

Akademi Komunitas Teknologi Garam Nagekeo

REP | 21 February 2013 | 15:08 Dibaca: 299   Komentar: 0   0

http://akn-teknologi-garam.ac.id

Kementerian Perindustrian RI mencatat, bahwa setiap tahun kebutuhan garam  nasional selalu meningkat sedangkan kemampuan produksinya sangat terbatas (Gambar 1). Hal ini menyebabkan Indonesia setiap tahunnya melakukan import garam.  Saat ini produksi garam nasional masih belum mencukupi untuk memenuhi kebutuhan konsumsi dalam negeri.  Dari sekitar rataan 3,04 juta ton kebutuhan garam per tahun, 1,7 juta ton diantaranya dipenuhi melalui import.  Kondisi ini sangat memperihatinkan ditengah kayanya sumber daya alam dan besarnya luasan pantai Indonesia.  Oleh karena itu, program pemerintah di bawah komando Kementerian Perindustrian  telah melakukan upaya akselerasi swasembada garam melalui pemutakhiran roadmap, pembentukan plasma dan penguatan sentra industri garam disertai dengan penguatan infrastruktur pendukungnya.  Selain itu, adanya program dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan melalui program pendirian Akademi Komunitas, akan sangat membantu dalam mendorong upaya percepatan target swasembada tersebut.  Rendahnya produksi Garam  nasional erat pula kaitannya dengan keterbatasan lahan Garam yang ada, sekaligus diperparah dengan rendahnya kemapuan teknologi pengolahan garam yang dimiliki.  Ini terjadi sebagai akibat belum adanya institusi yang secara khusus mencetak teaga ahli dibidang produksi dan pengolahan garam.

13614516771085403616

Gambar 1. Perkembangan produksi, kebutuhan, dan impor garam  nasional pada tahun 2009-2011. (Sumber: Kementerian Perindustrian, 2012)

Pada tahun 2012, Direktorat Kelembagaan dan Kerjasama Ditjen DIKTI - Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI menggulirkan suatu kegiatan berupa Hibah Pendirian Akademi Komunitas (AK).  Program ini digulirkan sebagai upaya dalam mewujudkan ketersediaan pendidikan tinggi Indonesia yang bermutu dan relevan dengan kebutuhan pembangunan nasional sehingga berkontribusi secara nyata kepada peningkatan daya saing bangsa.  Program ini ditujukan untuk :  (1) mengembangkan pendidikan vokasi jangka pendek (D1 dan D2) yang berorientasi pada penyiapan tenaga kerja yang dibutuhkan lapangan kerja di daerah maupun dunia usaha dan dunia industri sehingga diharapkan akan terjadinya link and match antara kebutuhan industri/pengguna dengan ketersediaan lulusan, (2) memperluas akses pendidikan tinggi di daerah dalam rangka meningkatkan Angka Partisipasi Kasar (APK) di daerah yang bersangkutan, dan (3) Meningkatkan dan mengembangkan potensi daerah.  Melalui pendirian AK di daerah-daerah, diharapkan  selain akan dapat  meningkatkan kemampuan lulusan SMA/SMK agar bisa mandiri, juga meningkatkan human capital secara nasional.

Mengingat di Indonesia sampai saat ini belum ada satupun perguruan tinggi yang menyelenggarakan pendidikan khusus dibidang produksi dan teknologi garam, maka peluang ini akan dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya oleh Pemerintahan Kabupaten Nagekeo melalui Dinas Pendidikan Pemuda & Olahraga dan bekerjasama dengan PT. Cheetham Garam Indonesia (Goup Cheetham Salt Ltd. – Australia) untuk mendirikan Akademi Komunitas. Akademi Komunitas yang diusulkan adalah Akademi Komunitas Teknologi Garam dengan nama Akademi Komunitas Teknologi Garam Nagekeo – NTT disingkat “AKTG Nagekeo – NTT.”  Apabila program ini disetujui, maka Kabupaten Nagekeo merupakan satu-satunya di Indonesia yang menyelengarakan pendidikan dan mencetak tenaga ahli tingkat menengah bidang produksi dan teknologi pengolahan garam.  Program ini sangat khas dan akan menjadi penciri sekaligus kiblat satu-satunya di Indonesia dalam hal Teknologi Produksi dan Pengolahan Garam Australia.

Australia merupakan negara yang paling terkenal di dunia dalam hal teknologi  pemurnian dan produksi garam.  Garam yang dihasilkan oleh negara ini merupakan yang terbaik di dunia.  Produksi garam yang dihasilkan negara ini merupakan kedua tertinggi di dunia setelah Amerika Serikat.  Dan sebagian besar  garam yang diproduksi Australia berasal dari Cheetham Salt Ltd. dengan kapasitas produksi per tahun untuk wilayah Australia saja mencapai 12,5 juta ton.  Berdasarkan pertimbangan itulah maka kerjasama Akademi Komunitas Teknologi garam akan dilakukan bersama dengan PT Cheetham Garam Indonesia, sebuah perusahaan PMA dari Group Cheetham Salt Ltd. – Australia.  Kerjasama ini akan memberikan keuntungan bagi kedua belah pihak terutama bagi Nagekeo sebagai kabupaten baru yang masih berkembang.

Nagekeo merupakan daerah yang sangat potensial sebagai ladang garam  karena secara klimatografi daerah ini merupakan daerah terbaik se-Indonesia dengan musim panas terpanjang (8 bulan/tahun dan curah hujan < 1.000 mm/tahun) sehingga kuantitas produksi garam yang dihasilkan akan lebih banyak per luasan area-nya dibandingkan dengan daerah manapun di Indonesia (Gambar 2 & 3).  Pada tahun ini, luasan area di Kabupaten Nagekeo yang telah dibuka untuk kepentingan ladang garam mencapai 1.500 Ha.  Luasan ini akan ditingkatkan secara bertahap sesuai kebutuhan nasional.  Bentuk kerjasama dengan pemerintahan Australia melalui Cheetham Salt Ltd. telah digagas dan  hasil produksi garam tersebut sebagian besar akan diserap oleh PT Cheetham Garam Indonesia untuk memenuhi kebutuhan garam dalam negeri.  Tidak hanya itu, PT Cheetham Garam Indonesia pun telah berkomitmen untuk membantu dalam hal penyediaan beberapa sarana pendidikan (intrumen lab. dan alat produksi) melalui kerjasama resource sharing dan komitmen untuk menyerap lulusan Akademi Komunitas Teknologi Garam.

1361451691550732067

Gambar 2. Curah hujan rataan antara 1989 sd 2009 – Nagekeo yang terbaik.

(Sumber: Kementerian Perindustrian, 2012)

1361451698867398945

Gambar 3. Rataan Curah Hujan (CH) dan Hari Hujan (HH) Kabupaten Nagekeo

pada 1975 sd 2010 – efektif kemarau 8 bulan. (Sumber: Cheetham Salt Ltd., 2012)

Upaya revitalisasi komoditi garam  di Indonesia demi tercapainya swasembada garam dilakukan secara bertahap melalui program intensifikasi dan ekstensifikasi komoditi garam. Program intensifikasi difokuskan terutama pada lahan eksisting di Jawa dan Madura  dengan meningkatkan kapasitas produksi melalui penerapan teknologi dan penyiapan SDM yang handal.  Sedangkan upaya ekstensifikasi ditempuh melalui upaya optimalisasi & pemanfaatan lahan yang berpotensi sebagai ladang garam melalui program pembukaan lahan baru di daerah-daerah potensial seperti di Nusa Tenggara Timur dan Nusa Tenggara Barat.

Langkah intensifikasi yang saat ini sedang dilakukan adalah: (1) clusterifikasi sentra produksi garam berdasarkan luasan area, dibagi berdasarkan luasan 10, 20, 50, dan 100 hektar.  Upaya ini dilakukan untuk memudahkan dalam implementasi grade teknologi yang akan diterapkan sekaligus memudahkan dalam mengkaji capaiannya. (2) Penataan lahan sepanjang waduk penampungan hingga meja kristalisasi termasuk didalamnya perbaikan saluran primer (dari air laut) dan sekunder. Kedua kegiatan tersebut saat ini sedang dilakukan secara bertahap pada sentra produksi Indramayu, Cirebon, Pati, Rembang, Demak, Sumenep,   Pamekasan, Sampang, Bima, dan Jeneponto.  Sedangkan upaya penyiapan SDM dan Penerapan Teknologi Salt Processing sederhana – telah mulai dilakukan Kementerian Kelautan dan Perikanan  sejak pada 2008 yang lalu melalui pelatihan-pelatihan pengolahan dan produksi garam dengan teknologi sederhana, sedangkan upaya penyiapan SDM melalui pembekalan dan upgrading skill menuju produksi berbasis alat-alat modern belum pernah dilakukan di Indonesia.  Kedepannya penerapan teknologi salt processing modern model seperti ini harus segera dilakukan mengingat penerapan teknologi modern akan meningkatkan kapasitas produksi hingga 5x lipat.  Dan keberadaan Akademi Komunitas Teknologi Garam Nagekeo – NTT bisa menjadi jawaban atas hal itu dengan menyiapkan SDM berkualitas yang siap beradaptasi dan memanfaatkan teknologi modern untuk menunjang dan meningkatkan kapasitas produksi garam Indonesia.

Proses produksi garam  di Indonesia umumnya dilakukan secara tradisional dengan hanya memanfaatkan panas matahari sebagai proses evaporasi alamiah tanpa menambahkan proses lainnya seperti purifikasi.   Air laut yang mempunyai kadar garam  rataan sekitar 2,5% (b/v) diuapkan secara berulang hingga mencapai kondisi jenuh dan mengkristal.  Kristal garam yang didapat tanpa sentuhan teknologi semacam ini memiliki grade harga yang paling rendah karena di dalam kristal garam tersebut  masih terdapat banyak pengotor.  Pengotor di sini umumnya adalah garam-garam selain NaCl seperti MgCl2, KCl, CaSO4, dan MgSO4. Semakin tinggi kandungan NaCl dalam kristal garam yang didapat, maka semakin murni garam itu, dan harga jual yang diperoleh pun semakin mahal.

Harga garam kualitas satu yang berlaku di petani garam adalah Rp 375/kg dan kualitas dua sebesar Rp 250/kg.  Garam kualitas satu (SNI) mesti mengandung NaCl>95% sedangkan kualitas dua terletak pada rentang 90-95% NaCl dan kualitas paling rendah mengandung NaCl antara 80-90% dengan harga yang lebih murah.

Saat ini proses produksi garam dengan teknologi konfensional hanya mampu menghasilkan rendeman garam dengan kandungan NaCl mencapai 80-90% dan pemanfaatan teknologi sederhana hanya mampu mencapai rendeman NaCl max di kisaran 94-95%. Jika saja peralatan, teknologi, dan kemampuan petani garam tersebut ditingkatkan tentu kandungan NaCl yang akan diperoleh dari garam hasil produksinya akan meningkat di atas 95%.  Dengan teknologi purfikasi bertahap seperti memanfaatkan proses pencucian berulang, penjerap ionik, dan proses pemampatan (vakum) maka akan dihasilkan garam dengan kandungan NaCl mencapai 98-99,9% dengan harga yang jauh lebih mahal.  Garam dengan tingkat kemurnian di atas 98% merupakan garam standar internasional dan biasa digunakan oleh banyak industri manufaktur dalam menunjang kegiatan produksinya.

Pendirian Akademi Komunitas Teknologi Garam Nagekeo – NTT akan memberikan dampak positif bagi peningkatan kualitas SDM melalui pengingkatan aksesibilitas dan kemudahaan untuk meningkatkan pendidikan bagi para lulusan SMA/SMK di NTT khususnya di Nagekeo, terutama ditujukan bagi mereka yang secara finansial kurang mampu.  Dengan semakin tingginya jumlah yang bersekolah di perguruan tinggi, maka nilai APK provinsi NTT (khususnya Nagekeo) diharapkan akan semakin meningkat.  Di sisi lain keberadaan Akademi Komunitas Teknologi Garam akan memfasilitasi penyebaran ilmu dan teknologi pemrosesan garam modern kepada para petani garam konfensional, sehingga secara bertahap akan terus dilakukan upaya perbaikan metode dan teknik produksi yang disesuaikan dengan kemampuan keuangan yang ada.  Upaya perbaikan berkesinambungan ini pada akhirnya akan turut meningkatkan kualitas dan nilai jual produk (garam) yang dihasilkan para petani ini dan pada akhirnya akan turut meningkatkan kesejahteraan para petani garam.  Selain itu keberadaan Akademi Komunitas Teknologi Garam akan menghasilkan tenaga kerja dengan kompetensi yang sesuai dengan apa yang dibutuhkan dalam suatu industri pemrosesan garam.  Shingga  rencana pemerintah untuk mendirikan sentra-sentra industri garam berbasis teknologi modern akan  terbantu dengan tersedianya SDM yang siap pakai.

Keterangan lebih lanjut kunjungi situs:

http://akn-teknologi-garam.ac.id

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

9 Mei 2014, Sri Mulyani Come Back …

Juragan Minyak | | 25 April 2014 | 10:12

Gitar Bagus Itu Asalnya dari Sipoholon, Lho! …

Leonardo Joentanamo | | 25 April 2014 | 11:08

Kesuksesan Kerabat Kepala Daerah di Sulawesi …

Edi Abdullah | | 25 April 2014 | 10:02

Selamat Hari Malaria Sedunia 2014 …

Avis | | 25 April 2014 | 11:08

Mengenal Infrastruktur PU Lewat Perpustakaan …

Kompasiana | | 21 April 2014 | 15:12


Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: